Gairah Janda Rebutan

Gairah Janda Rebutan
CCTV di tiap-tiap sudut koridor


__ADS_3

Rina memasuki apartemen, mencari keberadaan handphone miliknya, hanya sekedar menanyakan keberadaan pria bernama Sambo tersebut.


Dia menuju balkon, menggeser pintu kaca, mendongakkan kepalanya kearah kanan, melihat cahaya lampu yang sudah menyala. Melirik kearah lain area apartemen, mencari keberadaan pria muda nan tampan dan baik hati tersebut.


Lagi-lagi tubuhnya bertumpu pada pijakan batu yang tersedia, 'Kemana anak itu? Kenapa sejak tadi malam tidak terlihat tanda-tanda kehidupan nya ...?'


"Eeeh, ada orangnya ternyata ..." tawanya menyeringai kecil kembali turun dari tempat dia berpijak.


Akan tetapi, Rina kembali di kejutkan dengan suara bariton Sam yang mulai terbiasa di telinganya ...


"Apaan ngintip-ngintip! Kangen sama aku? Atau jangan-jangan enggak puas sama Pak tua itu tadi malam. Dessah enggak pake otak yaah begini," sesal Sam yang tengah menyandarkan kepalanya di tembok pembatas apartemen mereka.


Rina kembali menaiki kursi, menundukkan kepalanya ke bawah, beradu tatap dengan Sam yang mendongakkan kepalanya keatas.


"Iiighs, emang kamu tahu apa? Orang kami berkencan di kamar kok," sungutnya membela diri.


Sam berdiri, membuang pandangannya kearah pemandangan yang luas di hadapannya ...


"Ck ... Aku lihat kalian mesum di dapur! Suara dessahan orang tua itu membuat aku muak! Coba itu aku, pasti kamu sudah jungkir balik, sampe-sampe aku buat kamu kejang dan enggak bisa jalan!" ucapnya asal.


Rina bergidik ngeri, "Idiih, suka-suka kami dong. Mau kencan di mana saja! Emang pria itu Bapak kamu apa, kesel! Sudah siap-siap, kita jalan-jalan. Aku pengen beli perlengkapan rumah baru kita! Ingat, di luar itu kamu suami ku, kalau di sini kamu selingkuhan ku!" tawanya terbahak-bahak.


Sambo menatap lekat wajah cantik janda yang ada di hadapannya, 'Mau jujur salah, enggak jujur aku sakit hati ...! Brengsek juga nih cewek aku di jadiin selingkuh. Awas saja, ku bikin merem-melek baru tahu rasa ...!' kesalnya bergumam dalam hati.


Sam sedikit melunak, "Emang mau kemana? Aku lagi banyak kerjaan. Dan mood ku hilang dari tadi malam, semenjak melihat kamu berciuman dengan Pak Tua itu! Denger suara dessahan lagi," rungutnya teriris tipis ...


Rina hanya tersenyum dingin, "Udah deh, enggak usah pake perasaan dekat sama aku! Aku mah cuek aja. Toh dia sudah pergi dua minggu ke luar negeri. Kita bisa jalan-jalan, menginap di rumah baru kita. Cepetan, aku pengen beli jam dinding, dan perhiasan. Sudah lama banget aku enggak fuya-fuya!"


Rina masih menatap wajah Sam yang tampan, menunggu jawaban dari pria itu untuk berkata 'oke'.

__ADS_1


Sam memangku tangannya, "Hmm, kebetulan aku ada rapat virtual hari ini. Takutnya aku enggak bisa temanin kamu shopping, karena enggak mungkin aku virtual di mall, kan? Bagaimana setelah aku meeting saja kita jalan. Tiga jam lagi," senyumnya.


Rina mendengus kesal, sedikit manyun, "Ya udah deh. Aku masak saja, nungguin kamu meeting. Kesel ..." rungutnya, memilih turun dari kursi tempat dia berdiri.


Sam sedikit berteriak, "Jangan marah yah bebeb. Nanti aku cium lagi bibirnya. Eeeh, kamu sudah mandi belum? Takutnya masih ada sisa Pak tua, jadi ilfil aku!" tawanya berlalu menuju ruangannya.


Rina hanya tertawa, mengejek kecil pria tampan itu, "Ternyata dia pria yang spontan ... Aku suka ..."


Rina melanjutkan kegiatannya, sebagai wanita yang lebih suka makanan rumahan, dari pada jajan di restoran yang akan menguras kantong sekaligus usus 12 jarinya.


Menu siang ini sedikit praktis, dia hanya memasak udang balado, dan tumis tahu cina di campur dengan potongan bakso dan sosis. Yang menjadi makanan kesukaannya selama tinggal bersama Lilyana sebelum dia menyandang status janda.


Dia merenung sendiri di meja makan, mengenang almarhum Papa-nya yang meninggal mendadak karena mengetahui pernikahan haram sang Mama dengan pria bernama Ibhen Santoso.


Matanya kembali berkaca-kaca, karena tidak menyangka secepat itu cinta pertamanya pergi untuk selama-lamanya. Wajah mulus itu kembali terisak dan menunduk ...


Rina membersihkan semua perkakas alat-alat dapur apartemen Ibhen, menutup makanan yang masih tersisa, bersiap-siap setelah melihat jam dinding yang hanya tinggal satu jam lagi ...


"Hmm, meeting lama banget. Jangan-jangan Sam itu mijet yang penting-penting kali ..." celotehnya seorang diri di apartemen yang sangat luas dan mewah itu.


Bergegas dia masuk ke dalam kamar, mencari pakaian yang akan menjadi wanita bebas, setelah mendapatkan transferan dari pria tua yang menjadikan nya simpanan.


Dia melihat-lihat kaos apa yang cocok untuk di padukan nya dengan celana pendek jeans yang menjadi pilihan hari ini.


Rina yang sedari gadis lebih menyukai pakaian yang santai dan sedikit kurang bahan, agar lebih nyaman sebagai wanita cantik yang selalu di elu-elukan para sahabat semasa sekolah.


Perlahan Rina melepas semua yang menempel di tubuhnya, segera masuk ke dalam kamar mandi dan mengguyur tubuh indahnya.


Tak menunggu lama, kini tubuh propesional itu, telah terbalut celana jeans pilihannya, yang sangat minim, di padu-padan kan dengan baju kaos berwarna biru dongker untuk menutup lekuk dadanya yang sungguh terlihat besar.

__ADS_1


Dia mengambil sendal bertali rendah, yang menjadi hobinya sejak dulu. Penampilan kasual, tanpa make up, hanya di poles sedikit lipstik berwarna navi, di beri pemerah pipi agar terlihat cerah.


Kecantikan Rina memang sangat alami, dia hanya terbiasa dengan penampilan yang sangat sederhana, sehingga mampu memikat hati seorang Ibhen dan Thamrin selaku pria hidung belang.


Saat Rina telah berdandan selayaknya wanita yang hanya hobi menggunakan baju kaos, dia di kejutkan dengan penampilan Sambo yang sangat sulit dia mengerti.


Rina celingak-celinguk ke arah pintu utama, juga ke pintu kaca balkon apartemen, mengerenyitkan keningnya terlihat kebingungan.


Melihat kagum kepada Sam yang di balut, kemeja hitam dengan tangan di lipat hingga lengan, di padu celana jeans hitam yang sangat membingungkan.


"Kamu masuk dari mana? Terus kamu ngapain pakai baju kayak mau pergi ke rumah duka gini? Emang ada yang meninggal?" tanyanya menatap penasaran.


Sam hanya tertawa kecil, menjawab dengan enteng, "Kan pintu kaca enggak kamu tutup, makanya aku masuk saja. Aku lihat ke kamar, kamu lagi mandi, ya udah aku makan masakan kamu. Enak, besok masakin lagi yah? Lumayan juga buat jadi istri kedua," godanya di puncak hidung Rina.


Rina memajukan bibirnya, dia sudah terbiasa dengan rayuan pria seperti Sam.


Mereka bergegas akan keluar dari apartemen melalui pintu utama, namun langkah Sam kembali terhenti, melihat penampilan janda cantik yang ada di hadapannya.


"Hmm, pakai celana panjang deh! Jangan celana pendek. Aku lewat pintu sebelah saja. Takut kalau Pak tua itu mengaktifkan CCTV di apartemen!" perintahnya segera berlalu ...


Rina tertegun sesaat. Baru menyadari, bahwa apartemen ini memiliki CCTV di tiap-tiap sudut koridor.


Bergegas Rina mengikuti saran Sam, mengganti celana panjang yang dia miliki, dan menunggu pria itu di depan pintu lift seperti beberapa waktu lalu.


"Ternyata kamu bandit, yah!!" sesal Rina saat bertemu kembali dengan Sam ...


"Kita cari aman saja! Pak tua itu banyak mata-mata jika mencintai seorang wanita ...!" tegasnya.


Rina menaikkan kedua alisnya, "Kok mereka saling mengenal ...?" gumamnya dalam hati sedikit curiga.

__ADS_1


__ADS_2