Gairah Janda Rebutan

Gairah Janda Rebutan
Pengaman


__ADS_3

Suasana hening seketika, Sam bersusah payah mencari akal agar Ibhen mengurungkan niatnya untuk menikahi janda cantik, yang kini menjalin hubungan diam-diam dengannya.


Sam kembali menatap kearah Ibhen, tampak gelisah karena pria paruh baya itu memperhatikan kegelisahan nya yang tengah memikirkan Rina.


Ibhen bertanya dengan santai dan tenang, "Kata Mama kamu menjalin hubungan dengan seorang wanita yang tidak memiliki identitas? Apa benar?"


Sam tersentak, dia tahu kemana arah pembicaraan pak tua yang sengaja menjebak nya.


Ia berpangku tangan, mengalihkan pandangannya, "Ck, Sheila yang bicara? Gadis sales itu di percaya. Aku saat ini menjalin hubungan dengan wanita yang cukup unik menurut ku. Aku menemui Papa, agar pulang ke rumah dua hari lagi, dan aku akan mengenalkan wanita itu pada Papa dan Mama. Agar Olivia juga hmm ... Tidak menggangu ku! Ya, tidak menggangu aku ..."


Ibhen mengangguk setuju, "Baiklah, aku akan pulang malam ini. Tapi ingat, wanita itu harus lebih cantik dari Karenina mantan istri mu!" tegasnya.


Sam bergidik, menyunggingkan senyuman tipis namun penuh arti, "Tenang saja Pa. Dia wanita yang sangat baik, cantik, pintar juga piawai di dapur dan ranjang. Yaaah ... Walau dia memiliki masa lalu, bagi ku dia sangat menarik! Aku rasa kita akan bertemu dua hari lagi, yang pasti akan kita lihat, siapa laki-laki beruntung itu ..."


Sam berdiri, memanggil waiters untuk membayar bill Ibhen, dengan gaya angkuhnya.


Ibhen mengerenyit keningnya, sedikit penasaran wanita yang akan di bawa putranya dua hari lagi.


"Jangan macam-macam Sam! Aku tidak ingin kupu-kupu malam yang menjadi pengganti Karenina. Karena kita ini keluarga terpandang, dan kamu pengusaha sukses di usia muda!"


Sam menaikkan kedua alisnya angkuh, berlalu meninggalkan Ibhen sendirian di restoran gedung perkantoran, setelah membayar bill yang tidak seberapa.


Ibhen mendengus dingin, melihat punggung gagah putranya menghilang. Dia menyunggingkan senyuman tipis, merasa wanita yang menjadi pilihan Sam kali ini tidak akan kalah dari Rina, yang akan menjadi istri sahnya.


.


Sementara di kamar yang sejuk, Rina tengah asyik menikmati semangkuk sop daging sapi buatannya, sambil menunggu kabar dari Sam.


"Kenapa sayang ku belum kembali ...? Sudah sore, tapi dia tidak memberi kabar sama sekali pada ku ..." rungutnya dalam hati.


Rina mencari nomor telepon Sam, mencoba menghubungi pria yang telah berhasil merebut hatinya.


["Hmm ..."]


["Iiighs, kok gitu jawabnya? Apa salahnya, 'iya bebeb' gitu ..."]


Rina merengek manja.

__ADS_1


Sam tertawa terbahak-bahak di seberang sana, mendengar rengekan manja sang pujaan hati.


["Iya bebeb, kamu sedang apa? Mau di bawain makanan apa? Aku masih ada pertemuan satu rute lagi. Nanti selesai beres dari situ, langsung pulang. Kita kangen-kangenan lagi, yah?"]


["Ehm ... Iya. Bawain martabak telor aja, sama martabak keju. Just it! Kamu hati-hati yah sayang!"]


["Iya ..."]


Keduanya menutup telfon, tersenyum sumringah, mencium telpon berkali-kali karena perasaan bahagia.


"Ooogh Sam! Kamu benar-benar pria yang paling beruntung mendapatkan hati aku ..."


Rina tersenyum sumringah, melanjutkan kegiatannya, menikmati televisi dalam kesendirian.


"Andai dari dulu bertemu dengan Sam, mungkin aku akan selalu setia dengan pria sehebat dia ... Aaaaagh ..."


Rina meletakkan mangkuk sop di nakas, melanjutkan tidurnya sambil memandangi foto Sam yang tengah menciumnya beberapa waktu lalu.


Rumah indah yang mereka ciptakan, membuat kenyamanan yang tiada tara, sehingga membulatkan tekad Rina untuk segera menerima pinangan Sam.


.


Gadis yang tumbuh di tangan Lidya, juga mereka akui sebagai anak dari Bi Narsih yang menjadi asisten rumah tangga di sana.


Olivia melihat mobil mini cooper milik Sam, terparkir di halaman depan.


Bergegas gadis itu berlari untuk menyambut duda tampan pujaan hatinya.


"Hai sayang ..." sambutnya dengan suara manja.


Sam yang sudah terbiasa dengan godaan gadis kecil itu, hanya memeluk Olivia sebagai adik kecilnya selama ini.


Berbanding terbalik dengan Olivia, gadis itu, sengaja mendekap tubuh kekar itu dengan sangat kuat, bahkan naik dalam pelukan Sam, membuat Lidya menghardik putri yang dia ketahui anak Ibhen dan Liliyana.


"Oliv! Kamu itu sudah besar! Tidak baik seperti itu dengan majikan!" sesalnya.


Olivia turun perlahan, mencium pipi Sambo, berlalu meninggalkan Lidya juga pria yang dia cintai selama ini.

__ADS_1


Sam menggeleng-geleng sendiri, melihat gadis kecil itu berlalu karena ketakutan dengan sang Mama.


Pria tampan yang penuh kehangatan itu, memeluk tubuh sang Mama, mencium kening wanita yang telah melahirkannya dengan penuh perasaan sayang.


Lidya mengusap lembut punggung putranya, mengusap wajah tampan yang sangat dia rindukan selama ini.


"Kamu enggak mau pulang? Nginap di rumah dong ..." rungutnya membawa putra kesayangannya ke ruang keluarga.


"Enggak bisa, Ma. Sam ada keperluan, dan tidak bisa nginap di sini. Kalau nginap, nanti adik kesayangan Sam itu memperkosa bagaimana?" tawanya menggoda sang Mama.


Lidya hanya geleng-geleng kepala, sambil menghela nafas panjang ...


"Kapan Pak tua itu akan kembali? Dia pikir dengan dia perbanyak simpanan di luar sana, hidupnya akan bahagia? Bagaimana jika dia sakit? Apa mau Lilyana itu mengurus nya?" sesalnya berapi-api.


"Kata Papa, dia pulang hari ini. Aku rasa sudah saatnya Papa berhenti ..."


Lidya mendecih, "Ciiih, mana pernah dia bertobat. Kemaren saja masih mengirim uang pada wanita lain sebesar 400 juta, kata Maya secretarisnya. Dia enggak pikir apa uang sebanyak itu bisa dia gunakan untuk sekolah Oliv? Dasar tua bangka enggak tahu diri! Kalau Mama enggak sabar, sudah Mama tinggalkan Papa mu itu!"


Sam sangat memahami bagaimana sifat sang Mama. Sejujurnya dia sangat ingin menetap di kediaman keluarganya. Namun, dia benar-benar menjaga sifat adik tirinya yang sungguh meresahkan.


Keberanian yang di miliki Olivia, sangat menggoda imannya sebagai pria normal. Tapi Sam sangat mengetahui bagaimana dia harus bersikap.


Lidya membawakan beberapa makanan ringan untuk putra kesayangannya, sedikit bermanja-manja karena perasaan rindu yang dia rasakan, setelah beberapa hari tidak melihat sang putra.


"Bagaimana hmm? Apakah wanita impian kamu sudah ketemu, selain Luisa?" tanyanya melirik kearah Sam.


Sam mengangguk, dia mengecup lembut kepala Lidya, "Aku sudah menemukan pengganti Karenina. Dan dua hari lagi kita bertemu, untuk sekedar makan malam. Aku harap, Mama tidak banyak tanya, karena dia wanita yang sederhana."


Lidya melepaskan tangan Sam dari bahunya, "Apakah dia wanita yang di katakan Sheila?"


Sam tersenyum lebar, "Mama belum mengenalnya, tapi setelah mengenal wanita itu, Mama akan tertarik dengan masakan nya yang sangat lezat. Aku berencana membukakan satu bisnis untuknya, agar dia punya kesibukan dan bisa menjadi teman Mama di dapur ..." godanya pada puncak hidung Lidya.


Lidya mengangguk mengerti, "Baiklah, jika memang masakan dia enak, Mama request buatan yang paling lezat. Harus dari tangannya. Mama enggak mau kamu punya istri yang enggak bisa masak!"


Sam mengangguk patuh, "Dia sangat terampil di dapur juga ranjang ..." bisiknya nakal.


Lidya membelalak kedua bola matanya, memukul keras bahu serta mencubit kecil perut Sam.

__ADS_1


"Ooogh shiiit ... Sakit Ma ... Auugh!" rungut Sam.


"Kamu jangan macam-macam yah? Pakai pengaman kalau mau nakal, jangan kayak pak tua itu. Anak di lahir kan, terus di antar kesini. Kayak kita panti asuhan saja!"


__ADS_2