Gairah Janda Rebutan

Gairah Janda Rebutan
Pendatang gelap


__ADS_3

Gadis itu melirik kearah Rina yang tengah mengagumi mobil berwarna merah di hadapannya.


Sejenis city car yang sangat cukup untuk dirinya sendiri, namun bernilai fantastis.


Gadis itu sedikit berbisik pada Sam, menunjuk kearah Rina yang tengah duduk di stir kemudi, dengan pintu mobil terbuka lebar.


"Sam, siapa wanita itu? Jangan bilang dia pengganti Karenina! Karena setahu aku, kamu pria yang sulit jatuh cinta pada seorang wanita ..." bisik gadis bernama Sheila tersebut.


Sam menautkan kedua alisnya, menoleh kearah Rina yang tengah menikmati keindahan saat berada di dalam mobil buatan Eropa tersebut.


"Berapa harganya? Sepertinya dia sangat menyukai sekelas Mini Cooper ..." senyum Sam.


Sheila mengerenyit masam, sedikit mengiris hatinya, karena dia mengagumi Sam sejak dulu.


"Kalau dia bukan wanita spesial kamu ngapain sih kamu beliin dia mobil semahal itu? Lebih baik kamu membuka hati untuk mencari pengganti Karenina, Sam!" sesalnya sedikit cemburu.


Sam tidak memperdulikan ucapan wanita sales yang dia kenal sejak beberapa tahun lalu. Dia memilih menghampiri Rina, karena ingin mengetahui janda itu menyukai mobil tersebut atau tidak ...


"Bagaimana sayang? Apakah kamu menyukai mobil ini?" tanya Sam selayaknya seorang pria penyayang dan perhatian.


Rina mendongakkan kepalanya, sedikit terkejut karena mendengar suara bariton Sam yang sangat mengejutkan ...


"Hmm ..."


"Suka enggak?"


"Hmm ... Emang ini berapa harganya? Aku suka sih, tapi pasti mahal, kan? Gimana aku bayarnya, coba? Aku enggak kerja, maintenance pasti besar, belum bensin dan pajaknya," rungutnya ngedumel sendiri ...


Sam menundukkan kepalanya, mendekatkan bibir seksinya ketelinga janda cantik itu, "Aku akan membelikan untuk mu, tapi dengan syarat kamu harus jadi pem ... Hasrat ku!"

__ADS_1


Rina bergidik ngeri, sedikit menjauh karena perasaan takut akan penawaran pria semesum Sam.


"Jangan gila yah? Aku sedang menjalin hubungan dengan pria lain! Aku tidak mau kamu mengambil kesempatan untuk memanfaatkan aku!" tegasnya.


Sam tersenyum lebar, menyematkan anak rambut ke kuping kanan Rina, "Jangan pernah menyebut Pak tua itu, kita bisa melakukannya jika dia tidak ada. Aku rasa, kamu juga tidak begitu terpuaskan oleh nya!" tawanya ...


Rina tertegun sejenak, dia membenarkan ucapan Sam. Milik Ibhen memang tidak sebesar milik Sam, yang pernah dia lihat beberapa waktu lalu.


"Hmm, come on Rin ... Enjoy saja! Aku akan mencukupi semua kebutuhan mu, sayang. Apalagi di rumah yang baru kita beli, aku merupakan suami mu, kepala keluarga! Jadi kita bisa tinggal bersama, melakukan apapun yang sangat menyenangkan. Sambil mencari keberadaan Luisa yang di larikan oleh mantan istri ku, Karenina," tunduknya.


Rina menelan salivanya, memikirkan bagaimana caranya agar dia dapat memanfaatkan ketiga pria ini.


'Hmm, bagaimana jika ada perasaan? Atau apakah mungkin kami akan saling jatuh cinta? Aaagh, mana mungkin aku jatuh hati pada pria muda! Hebat sekali dia membuat seorang Rina Amelia jatuh hati pada pria muda yang bernama Sambo ...!'


Rina menggelengkan kepalanya, dia tahu bahwa Sam menunggu jawabannya.


Tanpa menolak, Rina menerima kecupan manis dari bibir Sam, karena perasaan penasaran sejak malam itu. Ciuman lembut dengan tangan yang masih berada pada posisi awal.


Sam melepaskan ciumannya, "Bagaimana? Kamu setuju dengan penawaran aku? Aku tidak akan menggangu hubungan mu dengan Pak tua itu. Lagian kamu bisa datang ke apartemen ku, kapan kamu membutuhkan aku," jelasnya pelan.


Rina mengangguk tersenyum, wajah cantik itu memerah seketika karena merasa malu. Walau ia berstatus janda, tidak semudah itu untuk segera mengatakan 'iya'. Apalagi dengan pria yang baru dia kenal beberapa hari.


Sam memanggil Sheila, sales mobil mewah tersebut.


"Kirimkan mobil ini ke apartemen ku! Aku tidak ingin menunggu! Kamu mengerti?" tegas Sam.


Sheila yang sejak tadi menyaksikan adegan romantis tersebut, sedikit penasaran siapa wanita yang di bawa Sam, dan semudah itu pria tampan tersebut membelikan mobil seharga satu milyar tersebut.


Sheila berbisik ketelinga Sam, "Siapa sih dia, Sam? Sepertinya aku baru melihat kamu membawa gadis itu! Apa enggak sayang duitnya? Kayaknya dia wanita yang materialistis, dan hanya ingin memeras uang kamu saja ...!"

__ADS_1


Sam tersenyum lebar, "Dia itu istri ku! Cepat selesaikan surat-suratnya! Aku sudah ingin melanjutkan pekerjaan ku!" tegasnya.


Sheila merungut, terpaksa meninggalkan kedua insan yang masih terlihat salah tingkah, bahkan Rina masih belum dapat keluar dari mobil kecil tersebut.


"Dasar wanita jallang! Aku yakin status dia itu janda dan mau menerima menjadi simpanan om-om ..." geramnya merasa iri.


Sam menoleh kearah Rina, membantu wanita itu untuk keluar dari mobil mewah tersebut, merangkul pinggangnya bak gitar spanyol, untuk melakukan pembayaran.


Sam kembali membisikkan kata-kata indah ditelinga janda cantik itu, "Apakah kamu siap kita melakukannya malam ini? Tapi di apartemen ku, dan aku akan memberikan password apartemen ku, agar kamu tidak perlu memanjat tembok pembatas lagi," kecupnya kecil pada telinga Rina.


Rina hanya bisa termangu, menahan rayuan maut dari Sam, yang sangat menggairahkan bahkan mampu membuat bulu kuduknya meremang.


"Apakah mesti malam ini? Bagaimana kalau mobil ini tidak jadi datang ke apartemen kita malam ini? Rugi dong aku? Udah capek-capek kerja, buat kamu bahagia, ternyata bayarannya hanya terima kasih ..." sungutnya membuat Sam tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan janda muda yang sangat lucu di telinganya.


Sam menghentikan langkahnya, membalikkan posisi mereka agar saling bertatapan dan menatap.


"Oke, aku tidak akan memaksa mu kali ini. Tapi aku akan membuka akses untuk mu, sehingga kamu dapat masuk dengan mudah ke apartemen ku. Aku menunggu mu, sayang ..."


Sam kembali merangkul bahu Rina, menuju kasir untuk melakukan pembayaran, dan meminta pihak showroom agar mengantarkan mobil itu malam ini juga. Tanpa lecet, tanpa ada kerusakan, bahkan Sam memberanikan diri mencantumkan nama Rina di STNK dan BPKB.


Akan tetapi, lagi-lagi Rina tidak dapat mengeluarkan identitas dirinya, karena dia merupakan pendatang.


Rina tersenyum, saat Sam mengeluarkan identitas diri untuk ke-tiga kalinya.


Tentu alasan Rina yang tidak memiliki identitas itu, menjadi bahan baru untuk Sheila mencari tahu siapa Rina sebenarnya.


"Identitas dia saja tidak ada, aku yakin wanita ini merupakan pendatang gelap! Aku harus menyampaikan pada Mama-nya Sam! Bahwa dia menyimpan wanita di apartemen nya. Pasti Tante Lidya akan melarang keras Sam dekat dengan wanita yang tidak berkelas seperti Karenina ..." gumamnya dalam hati.


Sheila lagi-lagi memperhatikan Rina secara seksama, "Baju kaosnya bermerek, handphone-nya juga bagus. Pasti uang Sam udah banyak habis karena perawatan kecantikannya yang palsu ..." sungutnya lagi karena perasaan iri.

__ADS_1


__ADS_2