
Mobil Mini Cooper milik Rina pemberian Sam sehari lalu, terparkir di loby pusat perbelanjaan.
Sam memilih turun lebih dahulu, memberi kunci pada valet parking. Dia membuka kaca mata hitamnya, menunjuk kearah security mall, agar membukakan pintu mobil dari arah penumpang untuk janda cantik yang menemani siang itu.
Rina menunduk hormat pada security yang berbuat baik padanya.
Namun Sam hanya berbicara lewat mata, tanpa mengeluarkan suara, tapi mampu membuat pihak pekerja mall tersebut, menunduk hormat padanya.
"Selamat siang Bang Sam," goda seorang gadis yang sengaja membusungkan dadanya agar terlihat menggoda di hadapan pria tampan yang berdampingan dengan Rina.
Rina melirik aneh, pada pria yang ada di sebelahnya, sedikit berbisik, "Eeeh ... Kok orang-orang mall ini pada patuh sama kamu? Aneh ..."
Sam hanya tersenyum saja, tanpa mau menjawab, pertanyaan janda cantik itu.
Mall yang terletak di arah Utara kota metropolitan tersebut, merupakan milik Sam pribadi, sehingga semua pekerja sangat mengenalnya.
"Eeeh, budek! Jawab, kok mereka pada senyam-senyum gitu sama kamu? Apakah kamu mengenal mereka?" geram Rina mencubit kecil perut Sam yang masih memilih merangkul bahunya.
Sam hanya menjawab singkat, "Enggak penting!"
Rina memilih diam, dia tidak ingin bertanya atau bahkan mencari tahu, karena pada dasarnya dia tipe orang yang tidak pernah mau tahu.
Mall yang hanya memiliki tiga lantai, khusus interior design apartemen dan rumah, juga terdapat mini food court yang berada di lantai dua, membuat Rina merasa nyaman saat berada di sana.
Rina sibuk memilih beberapa perlengkapan rumah tangga, seperti mesin cuci, dan mesin cuci piring otomatis. Kemudian dia membeli beberapa peralatan pecah belah untuk perlengkapan dapur, karena menyukai dunia masak-masak.
Sam hanya menemani wanita itu, memilih beberapa bantal, untuk dia letakkan di ruang keluarga, dan bingkai foto kecil yang unik untuk meletakkan gambar mereka berdua, memberi kesan, bahwa pemilik kediaman itu merupakan dua insan yang masih belum memiliki status.
Tanpa sengaja, mereka melihat sofa yang cukup menarik, untuk di letakkan di ruang keluarga, sebagai kursi santai saat menonton telivisi.
Rina melihat isi troli belanjaan Sam, yang hanya berisikan bermacam-macam bantal, dan bingkai foto.
Sementara di troli belanjaan Rina, berisikan perkakas dapur, seperti piring, gelas, dan beberapa pernak-pernik layaknya mereka pasangan suami istri yang akan hidup bahagia selamanya.
__ADS_1
Sam berdiri di meja kasir, meminta para pekerja tidak menyapanya, karena dia tidak ingin statusnya di ketahui oleh Rina.
"Ada lagi Bu?" tanya seorang kasir bernama Dina.
Rina menggeleng manja, tanpa sengaja dia memeluk tubuh Sam sembari melihat-lihat kearah lain.
"Mau apa lagi hmm?" tanya Sam sedikit mengejutkan Rina.
Rina merenggangkan pelukannya, menggelengkan kepala, memberi kartu debit yang dia miliki.
Bergegas Sam memberikan black card pada kasir, meminta Rina untuk menyimpan kartu debit yang berwarna biru, bertuliskan tabungan silver dengan gerakan cepat ...
"Jangan buat malu! Besok tolong urus semua identitas kamu! Aku tidak mau kamu di anggap pendatang gelap di kota ini!" tegasnya.
Rina menaikkan kedua alisnya, sedikit mengerenyit masam, karena tidak mengerti maksud pria yang masih berada dalam pelukan nya.
Sam menuliskan alamat rumah mereka, dan memerintahkan barang pesanan nya datang lebih kurang tiga jam lagi.
Namun lagi-lagi, Sam di kejutkan dengan kehadiran sosok seorang wanita paruh baya yang menatap kearah nya.
Bergegas dia menarik lengan Rina, untuk menyembunyikan janda cantik itu, di salah satu toko roti yang terletak di pojokan mall.
Lidya yang secara tiba-tiba muncul di hadapannya, membuat dia sport jantung, karena tidak ingin di ketahui oleh sang Mama ada wanita asing ada bersamanya saat ini.
"Ooogh Sam. Kamu kemana saja sih? Tadi malam Sheila menemui Mama, Nak. Katanya kamu membelikan mobil mini cooper untuk seorang wanita yang tidak jelas statusnya. Apa kamu bersama dia?" tanya Lidya mencari keberadaan wanita yang bersama putranya.
Sam menarik nafas dalam, melirik kearah toko roti memberi kode pada Rina agar bersabar sedikit.
"Hmm, Mama terlalu percaya sama cewek kayak gitu! Sudah aaagh, aku banyak kegiatan. Lain waktu kita ketemu yah?" kecupnya pada pipi sang Mama yang selalu hadir di pusat perbelanjaan tersebut, tanpa ada yang memberi kabar padanya.
Sam menghilang secepat kilat, dari pandangan Lidya seperti di sulap.
"Hmm, siapa wanita yang di bilang Sheila itu? Aaagh, aku akan mencari tahunya sendiri. Dia pikir lama-lama menipu Mama-nya enggak kualat apa! Walau aku hanya ibu rumah tangga, tapi aku sangat mengetahui bagaimana kelakuan anak dan suamiku di luar sana ...! Masak seorang pengusaha sukses di usia muda, mesti menjalin hubungan dengan pendatang gelap yang tidak memiliki identitas. Sheila benar-benar pembohong, akan aku sobek-sobek bibirnya. Emang Sam pria bodoh, mau sama wanita yang tidak selevel dengannya. Mantan istrinya saja Karenina, pengusaha garmen yang tidak meminta sedikit pun harta Sam. Tapi dia membawa cucu ku ..." tangisnya pecah, segera berlalu menuju pintu belakang.
__ADS_1
Sementara itu, Rina dan Sam telah meninggalkan pusat perbelanjaan tersebut, dengan perasaan penuh tanda tanya.
Rina menautkan kedua alisnya, mengingat-ingat siapa wanita paruh baya yang mendekati Sam barusan.
"Hmm emang wanita tadi itu Ibu kamu, yah?"
Sam sedikit kikuk, karena tidak ingin seorangpun tahu siapa dia dan keluarganya.
"Kenapa? Kalau dia Ibu aku kenapa? Kalau dia mantan Ibu mertua ku kenapa?"
Rina hanya menaikkan kedua bahunya.
"Hmm aku seperti pernah melihat wanita itu di handphone milik Mama, tapi aku lupa-lupa ingat. Kali aja aku salah orang," tawanya mencoba mengingat kembali.
Sam berusaha mengalihkan pikiran Rina, dia menghela nafas berat, tersenyum tipis menoleh sebentar, dan kembali fokus pada stir kemudi.
"Kamu menikah di usia berapa tahun?" tanyanya.
Rina mencoba untuk mengingat, "Hmm sama Boni usiaku 23 tahun, terus cerai. Sama Bambang 25 tahun, cerai lagi. Kamu?"
Sam mengangguk-angguk bak burung balam, "Hmm aku usia 25 tahun, terus cerai. Sekarang usia ku 28 tahun. Luisa masih berusia 2 tahun. Baru putusan cerai tiga bulan lalu," jelasnya.
Rina tersenyum tipis, "Ternyata kita merupakan orang gagal dalam pernikahan. Pantas saja kita cocok!" tawanya mencubit pipi Sam.
Sam hanya bisa pasrah, menahan rasa sakit di cubit tangan wanita selembut Rina.
"Emang kenapa cerai?" lanjut Sam.
Rina memajukan bibirnya, "Pernikahan itu aneh. Giliran kita baik, mertua caci maki keluarga ku. Padahal yang penyebab kematian Papa ku itu karena serangan jantung. Eeeeh, malah nuduh Mama ku selingkuh, nikah sirih, bla-bla-bla ... Walau pada dasarnya bener sih, tapi seenaknya saja mereka menghasut anaknya agar segera menceraikan aku. Yaaah ... Begitulah!" rundungnya dengan mata berkaca-kaca.
Sam menautkan kedua alisnya, sedikit mengingatkan kejadian Papa-nya yang ketahuan selingkuh sama istri orang beberapa tahun silam oleh Mama Lidya ...
"Sial ... Kok sama ceritanya dengan cerita Mama? Apakah Rina ini anak Tante Lilyana ...? Yang merupakan istri sirih Papa ...?"
__ADS_1