
Ibhen menghubungi Rina, hanya untuk mengatakan bahwasanya dia akan kembali ke apartemen. Namun, sama sekali tidak ada jawaban dari wanita simpanan yang diam-diam telah membuatnya jatuh hati.
"Kemana anak itu? Aaagh ... Aku lupa kalau, dia kembali ke kampungnya. Hmm, lebih baik aku menghubungi Sam ..."
Ibhen menghubungi Sam, untuk menanyakan keberadaan putra keras kepalanya saat ini.
["Kamu dimana? Bisa kita ketemu? Mama bilang kamu memiliki hubungan dengan wanita yang tidak jelas identitasnya!"]
["Aku lagi di luar kota, lusa pulang. Kita bicarakan di rumah!"]
["Hmm ..."]
Ibhen menutup telfonnya, meletakkan benda pipih itu di samping dalam saku tas tangannya.
Entah mengapa, perasaan Ibhen sedikit tidak tenang, pikirannya berkecamuk bercampur aduk, bahkan ingin sekali dia menyusul janda cantiknya tersebut.
Ibhen menanyakan pada sopir pribadinya, "Apakah kamu mengetahui daerah Cianjur? Bisa kita kesana?"
Asep mengerenyit keningnya, menoleh lewat kaca spion mengarahkan pandangan pada majikannya.
"Bukankah kita sudah ada janji dengan Nyonya Lidya akan kembali sore ini Tuan?"
Ibhen menepuk keningnya sendiri, "Ooogh iya. Aku melupakan janji pada istri ku. Apakah barang-barang Nyonya sudah kamu siapkan? Sesuai permintaan ku? Aku tidak ingin dia curiga aku memiliki wanita lain!"
Asep mengangguk, "Sudah Tuan. Semua sudah saya siapkan. Oya, gadis yang tinggal di apartemen Tuan itu, pernah saya lihat di mall interior berjalan bersama Tuan Muda Sam. Mereka tampak dekat, tapi mungkin saya salah melihat, Tuan."
Sontak saja ucapan Asep membuat dada Ibhen bergemuruh di landa perasaan cemburu dan curiga.
"Apa kamu yakin? Wanita itu yang tinggal di apartemen ku?"
Ibhen bertanya penuh selidik namun ragu.
Asep kembali menegaskan, "Mungkin Tuan. Bisa saja mirip, karena sama seperti yang saya lihat saat berada di basemen beberapa waktu lalu, saat Tuan bertemu dengan Tuan Muda Sam!"
Ibhen merasa tidak yakin, Rina akan mengenal Sam.
"Tidak-tidak-tidak, Rina tidak mungkin kenal dengan putra ku! Apalagi Sam saat ini tinggal di rumah miliknya yang berada di mall interior itu!"
Sejujurnya Ibhen sedikit curiga pada Rina, karena perubahan janda cantik itu saat menghabiskan waktu dengannya.
"Apa mungkin Rina menjalin hubungan dengan Sam? Aku akan mencari tahu sendiri. Jika benar, aku akan membuat perhitungan dengannya. Kalau perlu aku akan menikahinya secara resmi meski tanpa persetujuan Lidya. Wanita nakal kamu, Rin ..." geramnya.
__ADS_1
.
Rina yang sedang mereguk keindahan surga dunia bersama Sam, dengan bermacam-macam gaya, mereka terus melakukan lagi dan lagi, sehingga keduanya terkulai lemas di meja makan tanpa melepas penyatuannya, membuat janda kembang tersebut tersadar ...
Rina mengusap lembut punggung kekar pria sehebat Sam, yang masih sibuk mellumat punuk kenyalnya dengan sangat lembut, bertanya pelan.
"Siapa yang menelepon mu, sayang?" bisiknya pelan.
Sam enggan untuk menjawab, dia masih terus merremas sambil menikmati dua benda kenyal yang sangat indah itu dengan penuh gairah yang menyatu dalam hangatnya surga.
"Aaaagh Samhh ... Lebih baik kita pindah ke kamar. Aku juga masih mau ..." rengeknya manja, membuat Sam tak mampu untuk menolak permintaan janda cantik yang mampu memberikan kenyamanan luar biasa padanya.
Dengan sangat mudahnya Sam menggendong tubuh Rina yang ramping, untuk melanjutkan permainan mereka di kamar indah tanpa kenal lelah.
Entah keindahan apa yang mereka rasakan saat bersama, sehingga mampu melupakan semua permasalahan yang ada di depan mata.
Sam yang benar-benar jatuh hati pada simpanan sang Papa membuat dia lupa akan semua janji untuk makan malam bersama keluarganya.
Keduanya ambruk dalam pelukan, setelah pertempuran yang tak ada kata lelah bahkan tampak senyuman kepuasan di bibir Rina juga Sam.
"I love you, beb! Aku akan selalu membuat mu memohon pada ku! Hingga bibir mu mengucapkan kata cinta untuk ku ..." kecupnya pada kening Rina, saat melepas penyatuan mereka.
Rina tersenyum sumringah, memeluk erat tubuh kekar pria di sampingnya, menjawab pelan, "I love you too sayang. Aku mencintaimu ..."
.
Suasana pagi yang indah. Burung-burung berkicau sangat merdu, dua insan masih saling berpagutan dalam dunia mimpi mereka berdua.
Rina seketika terjaga, mengusap lembut wajahnya, melihat Sam yang masih ternganga. Perlahan dia mengecup bibir pria itu, yang masih mengeluarkan aroma pagi hari dengan tawa canda yang sangat lucu.
Sam tersadar, mengusap lembut punggung wanitanya, mengecup kening Rina selayaknya istri yang berada di sampingnya.
"Pagi sayang, kamu mau aku buatkan apa hmm?"
"Menikahlah dengan ku, beb! Hanya itu yang ingin aku ucapkan pada mu pagi ini ..."
Rina menatap penuh cinta, "Are you serius? Bawa aku menemui keluarga mu!! Dan belikan aku rumah kos Bu Inggit yang pernah mengusir ku dari sana, dengan harga yang dia sebutkan, tanpa ada tawar-menawar. Itu syaratnya untuk menjadi suami ku ..."
Sam menaikkan kedua alisnya, "Apa kamu yakin hanya dua itu syaratnya untuk menikah dengan mu wanita ku?"
Rina menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Oke, kapan kamu mau? Bawa aku bertemu dengan wanita yang telah mengusir mu! Kita akan membeli rumah kos itu, dan aku akan membawa mu untuk bertemu keluarga ku!" tegasnya meyakinkan Rina.
Rina mengangguk tersenyum manis, "Baik ... Kita akan melakukannya secepatnya!"
Kedua insan itu saling berpelukan mesra, selayaknya mereka tengah berbahagia pagi itu.
Beberapa saat kemudian, mereka menghabiskan waktu untuk sarapan bersama, Rina kembali memeriksa handphone miliknya yang tak di acuhkan nya karena sibuk melayani hasrat Sambo yang sangat memabukkan nya.
Keningnya mengkerut jengkel, karena melihat 20 kali Ibhen menghubungi nya sejak kemaren dan hari ini.
Rina tertegun sejenak, melihat layar handphone kembali menyala. Dia meminta pada Sam agar tidak bersuara ...
"Ssssht ..."
Sam menganggukkan kepalanya, melihat wanita nya memainkan peranan sebagai seorang simpanan.
["Ya Bang ..."]
["Kamu di mana sayang? Abang kebetulan sudah berada di kantor. Bisa kamu ke kantor hari ini, sayang?"]
Rina menjawab dengan suara manja dan mendayu-dayu.
["Ooogh, kan aku sudah bilang Ibu mau operasi! Jadi belum bisa pulang sekarang Bang ..."]
["Ya, Abang lupa. Salam buat Ibu, yah? Kamu jangan lupa makan dan hati-hati? Abang lanjut ke proyek saja kalau kamu masih di kampung. Nanti kabari Abang jika kamu sudah kembali ..."]
["Iya Bang ...! Abang juga baik-baik, yah? Jangan nakal!"]
Mendengar suara wanitanya, Ibhen sangat yakin bahwa Rina merupakan wanita lugu yang sangat baik dan juga perhatian pada keluarga.
["I love you, Rin."]
Rina terdiam. Dia melirik kearah Sambo yang pura-pura mendengarkan musik melalui earphone miliknya.
["Ya, too ..."]
Rina menutup wajahnya, menggeser lambang merah untuk mematikan sambungan telepon mereka, meletakkan handphone di atas meja.
'Kenapa kedua pria ini sangat memahami bagaimana perasaan aku? Mereka terlalu memanjakan aku!! Aku harus menentukan sikap aku harus menghentikan permainan ini. Karena sudah cukup menjadi simpanan Bang Ibhen. Aku jatuh hati pada pria ini ...'
Tunduk Rina menopang wajahnya di meja makan sambil menatap Sambo.
__ADS_1
Sambo tersenyum tipis hanya bisa berucap, "I love you ... Menikahlah dengan ku ..."