
Matahari bersinar semakin tinggi, kedua insan itu masih enggan untuk beranjak dari ranjang peraduan mereka. Kadang terjaga, kadang terlelap, begitulah perasaan mereka berdua hingga waktu menunjukkan pukul 12.00 waktu setempat.
"Sayang ... Kamu mau makan apa? Aku buatin untuk makan siang kita ..."
Sam membuka matanya, kembali menoleh kearah Rina yang masih berada dalam tangan kekarnya.
"Apa saja yang kamu masak, aku tidak pernah menolak. Aku mandi dulu, jika kamu mau menyiapkan makanan."
Rina mengangguk tersenyum, wajah cantik terlihat sembab, membuat Sam tidak ingin memaksakan wanita itu untuk melakukan aktivitas seperti biasa.
Rina yang menyadari, bahwa tubuhnya tak mengenakan sehelai benangpun, dia melenggang mendekati laci underwear, kemudian mencari daster tipis yang biasa ia kenakan jika di rumah pribadi mereka.
Rina menatap wajahnya di cermin, hanya untuk memastikan mata yang masih terasa panas juga bengkak.
Kembali Sam meraih tubuh ramping jandanya, mengecup lembut kepala Rina. "Jika kamu tidak ingin melakukan apapun, istirahat saja. Aku akan mempersiapkan semua untuk mu?"
Lagi dan lagi Rina mendekap erat tubuh kekar Sam, "Aku ingin menjadi wanita yang beruntung ada di dekatmu. Lebih baik aku berantem sama teflon dan spatula, daripada aku harus melihat kamu meninggalkan aku!"
Sam menarik nafas dalam-dalam, "Lakukanlah apapun yang ingin kamu lakukan. Aku mandi dulu ..."
Rina melepaskan tangannya dari tubuh Sam, menuju dapur. Ia melihat ayam bakar kacang madu bersisa dua potong yang masih berada didalam oven.
Bergegas ia menyalakan oven, mencari bahan sayuran dan sambel terasi yang akan dia olah, untuk menjadi menu makan siang mereka.
Rina yang sangat menyukai tahu cina dimasak tumis yang dicampur pokcay, dengan penuh perasaan cinta dia menghidangkan dengan berbagai macam perlengkapan yang dia susun di meja makan.
Kebahagiaan sesederhana itulah yang menjadi harapan juga impian Rina selama ini. Ia ingin menjadi wanita rumahan tanpa memikirkan bagaimana sulitnya mencari uang dan pekerjaan di luar sana.
.
__ADS_1
Sangat berbeda dengan Lidya dan Olivia yang mengetahui keadaan Ibhen dari Sambo. Perasaan khawatir istri pertama Ibhen membuat wanita paruh baya itu bergegas meninggalkan kediamannya, menuju rumah sakit bersama Olivia.
Murkanya Lidya tadi malam, saat mendengar nama Lilyana yang menemani sang Papa dari bibir putra kesayangannya.
Betapa remuknya perasaan Lidya, saat mendengar Ibhen di temani Lilyana, yang enggan beranjak dari samping Ibhen, membuat Sam memilih meninggalkan pak tua tersebut.
Hari ini, Lidya tidak peduli. Bagaimanapun ia sebagai istri sah Ibhen, harus menemani sang suami yang akan melakukan tindakan operasi pemasangan ring pada jantungnya.
Langkah Lidya terhenti saat tiba di ruangan rumah sakit tempat suaminya dirawat. Melihat sosok Lilyana masih menggenggam erat jemari Ibhen yang sudah siuman dari masa kritisnya.
Sontak pemandangan itu, membuat darah Lidya mendidih, menggelegak bahkan tak kuasa menahan rasa sakit pengkhianatan yang mereka lakukan selama ini di belakangnya.
"Selamat pagi. Kenapa kau masih di sini jallang? Bukankah suami ku ini memiliki istri dan kau hanya wanita simpanan yang tidak memiliki perasaan! Pergi tinggalkan ruangan suami ku! Karena kau bukan keluarga kami!" hardik Lidya dengan dada naik turun, karena tak mampu menahan amarahnya.
Lilyana yang tidak pernah takut pada siapapun, justru tersenyum tipis, menyunggingkan senyumnya, agar Lidya mau berbagi suami dengannya.
Lidya mendecih, "Cih ... Hebat sekali perasaan sayang mu pada suamiku. Cukup enam tahun kalian bermain di belakang aku! Sekarang, mau bermain lagi? Ingat hei ... Wanita jallang, anakmu itu ada di luar sana! Jangan lupa pada kodrat mu yang memiliki anak perempuan selain siapa itu, ooogh Amel! Lupa aku. Emang enak, anak mu meninggalkan mu, hingga akhirnya kau tinggal sebatang kara di Bandung sana. Makanya pake otak mu itu!" sergahnya.
Lilyana hanya bisa menahan rasa sakit yang teramat, saat menerima penghinaan dari Lidya.
Bagaimanapun, Lidya berhak atas Ibhen. Namun kali ini, Lilyana juga berhak atas Ibhen, karena tidak ingin terjadi sesuatu pada aset kedua-nya.
Lidya mendekati Ibhen, yang masih sulit bicara, karena mengalami stroke ringan, membuat bibirnya miring ke kanan.
Tangan kanan yang mengepal, membuat Lidya tak memiliki perasaan iba sedikitpun pada pria yang terus menatapnya.
"Hmm ... Enak? Makanya, punya perkutut itu di jaga! Jangan di lepas kesembarang sarang. Tadi Mama sudah menghubungi ahli therapist yang biasa menangani muka miring kayak wajah Papa, jadi setelah operasi, Papa sudah bisa therapi. Jangan banyak melawan, apalagi selingkuh. Karena cuma Mama yang ada buat Papa," sindirnya menatap jijik kearah Lilyana.
Ibhen berusaha menggerakkan bibir dan mengeluarkan suaranya, "Sa-sa-sam ma-na ... Dia mem-ba-wa calon istriku ..."
__ADS_1
Lidya yang mendengar penuturan Ibhen seperti itu, hanya bisa mendongkol dalam hati, "Sial ni orang tua. Sudah mau matipun, masih memikirkan istri muda yang di larikan Sam ..."
Lidya mencolek Ibhen, berkata dengan gerakan bibir yang sangat pelan, "Biarkan saja Sam melarikan kekasih muda mu itu! Biar pintar anak kita, Pa! Biar ditiru nya, perkutut nya terbang melayang menembus awan. Tapi Mama rasa Sam tidak akan seberani kamu Papa, sayang!" tawanya menyeringai kecil, mengisyaratkan ketidaksukaannya pada Lilyana.
Lilyana tak mampu berkata-kata, dia hanya menahan hati, dari sindiran-sindiran kecil yang di utarakan oleh Lidya.
Lilyana membuang pandangannya kearah lain, dia tidak ingin melihat Lidya yang dengan sangat baik melatih jemari tangan kaku suaminya. Perasaan cemburu, bahkan terasa sangat perih, saat melihat Lidya telaten memberikan perhatian kecil pada Ibhen.
Bergegas Lilyana memilih meninggalkan ruangan Ibhen, hanya untuk menghembuskan nafasnya yang semakin lama semakin terasa sesak.
Seketika matanya tertuju pada Olivia, yang duduk di bangku ruang tunggu, tengah memainkan handphone pintarnya.
Lilyana melihat lekat, hatinya berdetak, saat melihat sosok Olivia yang sangat cantik tumbuh remaja dengan perawatan yang telaten. Kulit bersih juga halus, memberi kesan bahwa gadis belia itu tumbuh ditangan yang tepat.
Lilyana tampak kebingungan, dia berdiri, gelisah, sesekali mengintip dari kaca kecil, hanya untuk menanti Lidya.
"Apakah gadis ini yang dikatakan Lidya sebagai anak ku? Aaagh Tuhan, ternyata dia tumbuh besar, menjadi sosok yang cantik. Tampak seperti Amel, bahkan lebih menawan dari Amel ..."
Kembali Lilyana duduk di kursi koridor, hanya untuk sekedar melihat sekali lagi wajah gadis yang sibuk bermain game.
Olivia tersadar, bahwa ada seseorang yang memperhatikan nya sejak tadi. Dia menoleh kearah Lilyana, tersenyum tipis kemudian menunduk hormat, dan kembali mengalihkan pandangannya ke layar handphone miliknya melanjutkan permainan.
Lilyana mencoba untuk menyentuh lengan gadis itu, dengan tangan bergetar hebat ...
Saat Olivia kembali menoleh dan menatap kearah nya ...
Lilyana menelan ludahnya, "Hmm apakah kamu keluarga Ibhen Santoso atau Ibu Lidya?"
Olivia hanya bisa tersenyum lirih, karena tidak ingin mengatakan bahwa ia merupakan anak asisten rumah tangga yang diperlakukan baik oleh Lidya, seperti yang selalu diucapkan oleh wanita paruh baya itu padanya.
__ADS_1