
Suasana ruangan rumah sakit seketika hening. Hanya isak tangis yang terdengar dari ketiga wanita yang ada di ruangan itu, membuat Sambo semakin serba salah.
Bagaimana mungkin ia harus membujuk Lidya yang enggan di sentuh sang putra, begitu juga Rina yang tak kuasa melihat Ibhen yang terbaring kaku dengan kondisi bibir miring ke kanan, sementara Olivia terlihat shock karena pertikaian dua wanita paruh baya yang membuatnya semakin bingung.
Sambo masih berdiri dihadapan Lidya, akhirnya bersimpuh dan menggenggam erat tangan sang Mama.
"Please Ma ... Wanita ini sangat baik, dan dia juga akan menjauhi Papa. Tolong mengerti akan perasaan ku!" jelasnya dengan nada pelan.
Lilyana yang mendengar penuturan Sambo, tersulut emosi. Bagaimana mungkin Sam akan menikahi Amel sang putri, sementara dia masih mengharapkan Ibhen untuk kembali dengannya.
Seketika Lilyana menepis permintaan Sam dengan cepat, "Jangan mimpi kamu! Amel tidak akan menikah dengan mu! Dia putriku, dan aku berhak dalam memberi restu dengan siapa ia akan menikah!" sesalnya dengan nafas yang semakin terasa sesak.
Sam menoleh kearah Lilyana, "Aku tidak akan meminta restu pada mu, jallang! Silahkan tinggalkan ruangan ini! Amel yang kau akui sebagai putrimu, adalah Rina wanita yang aku cintai saat ini! Aku akan melakukan apapun demi kebahagiaan kami!"
Lilyana bergidik ngeri, tak menyangka, bahwa laki-laki itu sangat menginginkan putrinya, "Tidak! Karena dia akan menikah dengan Sukenru! Pria itu sudah meminta pada ku, dan dia juga telah memberikan cek pada ku 10 bulan yang lalu!"
Mata Lilyana tertuju pada Rina yang masih berdiri di dekat tirai ruang perawatan rumah sakit, bergegas dia berdiri, dan menarik tangan putri kesayangannya, "Ikut dengan ku!" sesalnya.
Rina yang tak sudi mendapatkan penyerangan mendadak dari Lilyana, menghentakkan tangannya yang dikepal kuat oleh sang Mama.
"Lepaskan aku! Aku tidak akan menikah dengan Sukenru! Aku hanya menginginkan Sambo untuk menjadi suamiku! Silahkan kau saja yang menjual dirimu pada pria itu!" tegasnya.
Mendengar kalimat seperti itu dari bibir sang putri, membuat amarahnya semakin tak terbendung, seketika ...
PLAAAK ...!
__ADS_1
"Aaauugh ..."
Rina mengusap pipinya yang ditampar keras oleh Lilyana, membuat dadanya semakin terasa sesak. Air mata yang enggan mengering membuat dia tak kuasa untuk melawan semua keputusan sang Mama.
Lilyana menyunggingkan senyumannya, "Jangan pernah melawan padaku! Karena masa depanmu ada di tangan ku! Sukenru lebih pantas menjadi suami mu, daripada pria ini! Apa kau mau, tubuh mu di nikmati Papa-nya setelah menikah dengan anaknya?"
Lidya mendecih, mendongakkan kepalanya menatap lekat kearah Lilyana, "Ciiih ... Hebat sekali kalian ingin merebut kedua pria yang ada dalam hidup ku! Tinggalkan kami! Karena aku tidak membutuhkan kalian berdua ada di sini!" tegasnya.
Rina melihat reaksi Sambo, namun pria itu masih menggenggam erat jemari Lidya, tanpa mau menoleh kearah nya.
"Sam! Sayang! Apa yang kamu lakukan? Kenapa tidak ada pembelaan mu pada ku, Sam!"
Sambo masih tak bergeming, dia masih bersimpuh dihadapan Lidya, membuat Lilyana dengan mudah menarik tangannya.
Rina semakin berteriak keras, meminta pria itu melakukan sesuatu, "Sam! Sambo! Lakukan sesuatu! Aku tidak ingin menikah dengan Sukenru, Sam!"
Sementara Olivia hanya terus menangis sejak tadi, tampak tak diacuhkan lagi oleh Lilyana.
Lilyana pergi membawa serta Amelia Anandita Sunaryo bersamanya. Kali ini, dia tidak ingin janda cantik itu menikah dengan Sambo, karena akan berdampak pada hubungan dan bisnis yang tengah dia tangani saat ini bersama Ibhen.
Penyesalan ... Mungkin hanya itu yang ada dalam benak Sambo dan Rina kali ini. Mereka datang di waktu yang tidak tepat, membuat suasana semakin kacau, dan memisahkan mereka berdua.
Sambo yang tidak pernah bisa mengambil keputusan, jika sudah di hadapkan dengan Lidya, tiba-tiba menjadikan ia tampak tunduk jika sudah berada diantara dua pilihan, cinta atau orang tua.
Mereka memilih datang ke rumah sakit kali ini, hanya untuk melihat kondisi Ibhen yang Sambo dengar mengalami stroke ringan dari pihak rumah sakit saat mereka masih berada di kediaman Cluster Adem Sari.
__ADS_1
Jiwa kemanusiaan kedua insan yang saling mencintai itu seketika berubah, karena merasa khawatir pada kondisi Ibhen. Bergegas mereka menuju rumah sakit, namun harus mendapatkan kejadian seperti ini. Membuat mereka semakin berada di tepian jurang perpisahan.
Sambo menatap lekat mata Lidya yang masih menangis di hadapannya. Dengan penuh perasaan sayang, ia memeluk erat tubuh wanita yang telah melahirkannya.
"Tenanglah Ma ... Aku akan selalu ada buat Mama. Jangan menangis lagi. Karena aku tidak sanggup melihat Mama yang selalu mengalami tekanan-tekanan seperti ini dari wanita jallang itu. Kita akan merawat Papa bersama-sama," jelasnya.
Entah apa yang ada dalam benak Sambo kali ini. Dia berada diambang batas janjinya. Kenapa dia melakukan hal ini pada Rina? Janda cantik yang banyak menaruh harapan besar padanya, namun lagi-lagi Rina harus kecewa.
Melihat kejadian itu, Olivia menghampiri Lidya, duduk di samping wanita paruh baya itu. Matanya tertuju pada Sambo yang masih menundukkan kepalanya.
Olivia bertanya hanya untuk meyakinkan hal yang ia dengar dari pertikaian kedua wanita paruh baya yang ada dihadapannya barusan ...
"Nyonya, apa benar aku merupakan putri dari wanita tadi?"
Lidya mengusap wajah cantik Olivia dengan satu senyuman, "Ya ... Dia ibumu. Tapi aku tidak yakin bahwa kamu merupakan anak dari suamiku. Jadi aku telah memutuskan untuk melakukan test DNA pada mu. Jika kamu bukan anak kandung suamiku, aku akan memberikan kamu pada putra ku, Sam! Karena aku tidak ingin Sam memperebutkan janda yang telah tidur dengan banyak pria! Walau putra ku sangat mencintai janda itu, aku tidak akan pernah mengizinkan putra ku menikah dengan wanita yang telah tidur dengan suamiku!"
Sam yang mendengar penuturan Lidya, mendongakkan kepalanya, dia tidak menyangka bahwa sang Mama akan semurka ini padanya ...
"Ma ... Tidak mungkin aku menikah dengan wanita yang masih dibawah umur! Aku tidak mencintai nya! Aku mencintai Rina!" tegasnya.
Sementara Olivia yang mendengar keputusan Lidya, hanya ternganga, tak sanggup untuk berkata-kata. Walau dia mencintai Sam, namun dia tidak akan menikah dengan pria yang tidak mencintainya.
Olivia menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan bahwa semua keputusan Lidya itu tidak baik untuknya, "Ti-ti-tidak Nyonya ... Aku tidak akan melakukan apapun yang menjadi perintah mu! Aku tidak ingin menikah dengan pria yang tidak mencintai aku, walau aku bukan anak dari Tuan Ibhen, ataupun darah dagingnya, aku tetap tidak akan melakukan hal segila ini! TIDAK AKAN PERNAH NYONYA!"
Bergegas Olivia beranjak dari kamar rumah sakit, untuk mengejar Lilyana serta Amel ataupun Rina.
__ADS_1
"Sial! Aku tidak akan membiarkan wanita itu membawa kekasih Tuan Sam! Aku yakin Tuan Sam tidak mau mengejar jandanya, karena menghargai perasaan Nyonya Lidya ..." geramnya dengan tangan kedua tangannya mengepal kuat.