Gairah Janda Rebutan

Gairah Janda Rebutan
Melupakan Sambo ...


__ADS_3

Sudah lebih dari satu minggu Rina berada di Singapura, bersama Sukenru dan tinggal di apartemen mewah pria oriental tersebut.


Sejak pagi, Rina merasakan pusing yang teramat sangat. Membuat Sukenru tampak khawatir, dan bergegas membawa wanita itu ke rumah sakit Mount Elizabeth Singapura, hanya untuk memeriksa kondisi calon istrinya.


"Besok hari pemberkatan kita Mel. Koko tidak ingin kamu kenapa-napa." peluknya pada tubuh Rina yang masih berada di ranjang kamar apartemen mereka.


"Ya. Bisa tolong ambilkan baju ku? Karena kalau duduk dunia ku seperti diputar-putar," rengeknya di pelukan Sukenru yang sangat telaten merawatnya selama tinggal bersama.


Sukenru melihat tubuh Rina yang masih berbalut piyama lengan panjang, tak mengindahkan permintaan janda cantik tersebut.


Seperti biasa, Sukenru langsung menggendong tubuh ramping janda cantik itu, dan membawanya ke parkiran mobil, kemudian bergegas menancapkan pedal gas menuju rumah sakit yang terletak tidak begitu jauh dari apartemen mereka.  


Setibanya di rumah sakit, Sukenru memanggil suster agar segera memberikan pertolongan pada Rina yang terus-menerus meringis menahan sakit yang membuat bumi ini berputar-putar.


Setelah mendapatkan keterangan dari Rina, tentu di temani Sukenru, dokter spesialis meminta agar pasien di segera dibawa ke ruangannya.


Tanpa pikir panjang, Rina menuruti semua perintah pihak rumah sakit, kini mereka tiba di dalam ruangan dokter spesialis kandungan.


Dada Rina terasa semakin berdegup kencang, dia mengira-ngira kapan terakhir kali dirinya mengalami masa periode. Sama sekali Rina tidak mengingat masa periode setiap bulannya, dan tidak pernah meminum obat-obatan apapun untuk menunda kehamilannya.


Kedua kaki Rina sengaja di buka atas perintah dokter wanita tersebut, dan di letakkan pada besi sebagai topangan ibu-ibu yang hendak melahirkan, dengan selimut tipis tertutup di bagian perut hingga bawah.


Perasaan yang bercampur aduk, membuat Rina benar-benar menggigil ketakutan, akan hasil USG yang dilakukan melalui bagian dalam intinya.


Sukenru berdiri di samping kanan Rina, untuk memberikan kekuatan pada janda cantik itu, tanpa meninggalkannya.


Dokter kandungan meletakkan karet yang seperti balon, menyemprotkan gel pada ujung alat USG sebagai pelumas saat akan memeriksa kondisi rahim Rina.


Benar saja, saat alat yang tak begitu besar itu memasuki bagian intinya, Rina meringis. Tangannya meremas kuat jemari Sukenru karena merasakan ngilu yang teramat sangat.


"Aaagh ... Hmmfh ... Bisahh pelanhh dokter ..."


Dokter yang bernama She tersebut, hanya mengangguk, memperbesar layar yang ada di hadapannya.


Tek ... Tek ... Tek ...

__ADS_1


Layar rahim Rina bagian dalam terlihat sangat jelas, dari pencahayaan dan tekhnologi yang semakin canggih membuat Sukenru dan Rina sama-sama cemas dan takut.


"Tidak ada tanda-tanda kehamilan Nyonya. Anda hanya stress dan mengalami pembengkakan karena darah yang menggumpal yang akan menjadi janin tidak berhasil. Mungkin dua hari lagi Anda akan mengalami periode. Jadi semua baik-baik saja. Hindari makanan daging ataupun sayuran mentah. Lebih baik mencoba mengkonsumsi makanan-makanan organik. Saya akan memberi beberapa resep dan vitamin agar Nyonya tidak merasakan pusing lagi," jelasnya panjang lebar.


Entah mengapa, air mata Rina jatuh dengan sendirinya. Dia bersyukur tidak hamil karena perbuatan gilanya beberapa waktu lalu.


Sukenru yang mendengar penuturan Dokter, tersenyum sumringah, mengecup lembut kening Rina ...


"Besok kita akan menikah, ada atau tidak ada cinta, selama kita masih bisa bicara jujur, Koko akan selalu menjaga kamu ..." bisiknya lembut.


Rina hanya bisa tersenyum, merangkul punggung Sukenru yang masih menatap iris mata indahnya dihadapan dokter serta suster. 


Sukenru bertanya lebih meyakinkan diri lagi pada dokter spesialis kandungan, "Berarti tidak ada masalah pada rahim istri saya, dokter?"


Sekali lagi dokter menggelengkan kepalanya, meyakinkan Sukenru.


Dokter spesialis hanya memberikan vitamin melalui infus, di ruangan perawatan khusus yang berada dilantai dua rumah sakit. Semua itu diberikan hanya untuk menghilangkan rasa mual, dan membangkitkan nafsu makan Rina kembali seperti semula. 


Sukenru tersenyum lega, kali ini dia bebas dari pemikirannya tentang Sambo.


Begitu juga Rina, akan melepaskan segala sesuatu yang menyangkut dengan Sambo berakhir sudah. Ia dapat menjalani kehidupan selayaknya pasangan pengantin baru, menata masa depan yang indah dengan Sukenru dalam ikatan pernikahan.  


Entahlah, Rina tak pernah berkata-kata kasar lagi pada Sukenru, ataupun membentak pria oriental tersebut, hanya untuk melampiaskan rasa kecewanya, selama berada di Singapura.


Bagi Rina, Sukenru benar-benar serius ingin hidup bahagia bersamanya, walau tidak pernah mengungkapkan secara romantis tentang perasaannya selama ini.


Perhatian pria oriental itu, sangat berkesan bagi Rina. Membuat dirinya dapat melupakan Sambo dalam waktu yang sangat singkat.


Kini mereka tengah berdiri didepan pintu lift yang akan terbuka sebentar lagi. Entah mengapa, jantung Rina berpacu dua kali lebih cepat, dan darahnya mendesir saat pintu lift terbuka lebar, dan beradu tatap dengan pria yang pernah mengisi hari-hari bahagia bersamanya.


Rina menatap lekat mata Sambo yang berada di belakang Ibhen, dengan posisi pria paruh baya itu duduk di kursi roda. Dengan sangat kuat jemari Rina menggenggam tangan Sukenru yang berdiri di sampingnya.


Rina mengalihkan pandangannya, dia tidak ingin melihat kedua pria itu ada dihadapannya saat ini, yang hanya akan menghancurkan seluruh harapan kecilnya bersama Sukenru.


Jujur dadanya bergemuruh, ingin sekali Rina menjambak rambut Sambo yang masih menatapnya penuh harap ... Sementara Ibhen menatap memohon belas kasih atas stroke yang dia alami.

__ADS_1


"Ko, kita pakai lift yang lain saja!" ucapnya lirih dengan nada bergetar.


Suster yang mendengar penuturan dari pasien yang ada dihadapannya, bergegas memencet tombol lift yang lain, dan membiarkan kedua pria itu enyah dari pandangan mereka.


Sama sekali Sam tidak melakukan apa-apa demi Rina. Dia hanya terdiam dan tidak menyangka, bahwa janda yang dia cintai itu kini berada di negara yang sama dan di rumah sakit yang sama pula.


Hati wanita mana yang tidak akan hancur, saat janji yang terucap jelas akan memperjuangkan hubungan mereka, ternyata tidak pernah melakukan apapun untuk Rina Amelia.


Mata Rina kembali berkaca-kaca, dadanya bergemuruh bahkan terasa sangat menyesakkan relung hatinya. Cinta yang dia pupuk selama ini untuk seorang Sambo harus berakhir seperti ini.


Sukenru hanya mengusap lembut punggung calon istrinya, dia tidak ingin Rina kembali bersedih mengenang Sambo yang hanya mementingkan kepentingan pribadinya.


"Kamu mau makan apa, Mel? Koko minta pelayan untuk membuatnya untuk kamu," ucap Sukenru mengalihkan pikiran Rina.


Rina hanya menggeleng pelan, mengusap lembut tangan Sukenru yang ada di lengannya dengan sangat lembut.


Lagi-lagi Sukenru mengecup lembut puncak kepala janda cantik itu ... Kali ini dia benar-benar ingin Rina bangkit dari bayang-bayang Sambo.


"Kita akan segera meninggalkan Singapura setelah pemberkatan pernikahan selesai. Kamu tenang saja, yah?"


Rina hanya mengangguk patuh, kembali tersenyum lebar saat mendengar keputusan Sukenru yang akan membawanya pergi meninggalkan semua kepahitan yang pernah ia rasakan di dua negara tersebut.   


"Terimakasih Ko ..."


_____


Hai hai hai reader ...


Salam Oktober ceria, mumpung author bulan ini kembali bersemangat ... author akan bagi-bagi give away sesuai yang diacak berdasarkan top fans ...


Untuk give-nya othor pemes akan memberikan 'Jilbab ataupun Daster' agar mempermudah para reader mencari posisi terindahnya membaca karya Tya Calysta.


Periode ketiga ini berakhir pada tanggal 28 Oktober 2022 ...


Oya, jangan lupa juga untuk mampir di karya othor Perjaka untuk Janda dan Merebut Hati Suami Mayor ...

__ADS_1


Dua cerita itu juga ada give yang sama, semoga bermanfaat dan salam sehat ...


Terimakasih ...😘😍🌹


__ADS_2