Gairah Janda Rebutan

Gairah Janda Rebutan
Sejak hari itu ...


__ADS_3

Mereka tiba di rumah yang telah menjadi milik dua insan tanpa status tersebut.


Sam meminta para petugas pengantar barang, agar menyusun semua perabotan sesuai arahan Rina. Bagaimanapun, rumah itu merupakan milik janda cantik itu seutuhnya.


Rina tersenyum sumringah, melihat barang-barang yang tampak sempurna ada di hadapannya kini. Dia memberi tepuk tangan untuk diri sendiri, tanda kesuksesan nya untuk memanfaatkan kedua pria itu berhasil.


Rina duduk di meja makan, tengah mencatat, bahan-bahan apa yang akan dia beli untuk stock di rumah minimalis modern tersebut. Mengisi kulkas agar terlihat rapi dan penuh.


Akan tetapi, Sam tengah sibuk dengan dunianya sendiri. Dia tengah menyelesaikan pekerjaannya menuliskan beberapa memo untuk perusahaan tambang nya.


"Hei," sapa Rina ingin bertanya.


"Hmm, panggil saja aku bebeb Sam, atau ayang. Jangan hei ... Karena nama ku Sambo!" ucapnya menegaskan.


Rina menggeleng sedikit tertawa kecil, "Baiklah, jika di sini kamu aku panggil bebeb, tapi di apartemen kamu aku pang-- ..."


Sebelum Rina meneruskan ucapannya Sam sudah mendekati janda cantik itu, mengecup lembut puncak kepala wanita yang kini sudah ada dalam rangkulannya.


Sam melihat catatan Rina, kemudian bertanya, "Kamu catat apa cantik?"


Rina sedikit tersenyum tipis, mendongakkan kepalanya menatap ketampanan Sam dari duduknya.


"Temani aku ke supermarket depan. Aku akan membeli beberapa perlengkapan makanan, dan kita bisa menginap di sini untuk beberapa hari. Sambil mencari-cari keberadaan putri mu," jelasnya manja.


Sam termangu memandangi wajah cantik Rina, "Apa kamu yakin akan menginap di sini? Apakah tidak ada yang mencari mu? Aku khawatir kamu akan menjadi bulan-bulanan Pak tua itu nantinya ..." rungutnya.


Rina menggelengkan kepalanya, "Aku tidak memiliki perasaan apapun padanya. Misi ku hampir rampung, dan mungkin aku akan menghilang dari pria tua itu, memulai hidup ku yang baru-- ..."


Lagi-lagi Sam memotong pembicaraan Rina ...


"Menjadi istri ku yang kedua!" senyumnya menyeringai kecil.


Rina hanya mengangguk tanpa mau menjawab lanjutan pria itu. Tapi ada sedikit rasa penasaran di hatinya untuk kembali menggoda Sam.


"Emang mau menikahi janda seperti aku? Tidak cantik, tidak kaya, juga tidak memiliki apa-apa. Rumah dan mobil ini juga hanya milik mu yang suatu saat akan kamu ambil dengan mudah, jika sudah muak dengan ku! Apalagi aku kesini hanya untuk balas dendam, bukan yang lain. Aku senang bisa bertemu dan berteman dengan mu! Walau menyebalkan, tapi kamu sangat baik," jelasnya dengan nada pelan.

__ADS_1


Sam menyunggingkan senyuman, memilih duduk di sebelah Rina ...


"Dengar yah, apa selamanya kamu mau hidup dalam dendam? Kini dendam mu sudah terbalas, dan kamu bisa melanjutkan hoby mu sebagai koki di rumah ini. Kita menikah, dan mencari Luisa ... Bagaimana?"


Rina menggeleng, lagi-lagi dia menangis dengan wajah menunduk di meja makan.


"Tidak semudah itu sayang! Pria itu telah menghancurkan kebahagiaan ku sebagai seorang anak perempuan. Dia penyebab Papa ku meninggal, karena mengetahui perselingkuhan mereka kala itu. Sakit banget, sampai saat ini masih teringat jelas, Papa ku meregang nyawa," ceritanya jujur.


"Bebeb, bagaimana jika pria itu tahu, kalau kamu putri dari wanita yang di selingkuhi nya?"


Rina tersenyum sumringah, "Bagus dong! Jika dia mengetahui siapa aku, dan dia juga tahu apa tujuan ku telah merelakan untuk tidur dengan nya," tawanya.


Sam mengambil jemari Rina, mengecup lembut punggung tangan yang terasa lembut dan halus.


"Berhentilah bermain dengannya sayang! Aku janji akan memenuhi semua permintaan mu!" mohon nya.


Rina tertegun, dia menatap mata Sam, tidak ada kebohongan di sana.


"Are you serius? Apa kamu sedang menggoda ku?" tanyanya penuh selidik.


"Aku jatuh hati pada mu! Tapi aku tidak ingin melihat mu bermain-main dengan pria itu. Aku akan memberikan apapun yang kamu mau, asal kamu berhenti menjadi simpanan dia!"


Rina melepaskan tangannya perlahan, menggeleng tak menyangka bahwa Sam benar-benar jatuh hati padanya. Dia menelan ludahnya sendiri, menikmati debaran jantung yang tiba-tiba semakin kencang.


Rina menghembuskan nafasnya panjang, jujur saat ini dia ingin bertanya banyak hal, tapi bibirnya tidak mampu berkata-kata.


"Apa kamu mabuk? Atau jangan-jangan kamu gila mau sama wanita matre kayak aku? Sudah jangan bercanda, aku tidak suka lelucon mu ..." sesalnya namun ada yang menyentuh hati terdalamnya.


Sam menaikkan kedua alisnya, mengecup pipi Rina agar janda itu percaya padanya.


"Aku serius, dan aku tidak akan pernah memintanya lagi!"


"Hei! Kamu mencuri!" usapnya pada pipi mulusnya, namun tidak menoleh.


Sam sengaja menggoda janda cantik itu, agar tidak fokus pada catatan yang seketika berantakan di atas meja, karena pria itu dengan mudah menggelitik tubuh indah itu hingga tanpa sadar mereka sudah saling menatap.

__ADS_1


Rina sudah merebah pasrah di atas meja, sementara Sam berada di atas gundukan kenyal yang terasa sangat kencang, dengan tangan kekar menopang tubuhnya sendiri.


Sam mendekatkan wajah tampannya, menyatukan bibirnya dengan bibir wanita di bawahnya dengan sangat lembut.


Rina memejamkan matanya, menyambut bibir Sam, membuka bibirnya yang seksi, agar mereka saling mengenal dan menyapa.


Dengan mudahnya Rina mengusap lembut punggung Sam, mengalungkan tangannya keleher pria gagah dengan menautkan lidah yang masih mendecaap mesra.


Saliva saling menyapa, deccapan kedua insan itu saling bercerita, ada setitik kerinduan yang dapat mereka rasakan.


Sam melepaskan ciumannya, menatap wajah merah merona yang terbakar api gairah.


"Apakah kamu menginginkan ku hari ini, sayang ...?"


Rina tak perlu menjawab, dia kembali mellumat bibir tipis Sam yang mampu memberikan sensasi yang berbeda saat mengabsen satu-satu rongga mulut yang ternganga pasrah.


"Hmmfh ..."


"Aku tidak akan melepaskan mu kali ini ..." bisiknya.


Tanpa menunggu jawaban Rina, Sam menggendong tubuh indah itu seperti koala, tanpa melepaskan ciuman mereka, dengan tangan semakin aktif untuk segera membuka dan melihat tubuh indah itu tanpa sehelai benangpun.


Sam dengan mudah melepaskan baju kaos ketat yang Rina gunakan, membawanya ke ranjang peraduan mereka untuk pertama kali melakukan hal itu di sana.


Rina benar-benar terlena saat Sam menciumi leher indahnya, dan meninggalkan beberapa tanda merah tanpa peduli dengan siapa saat ini janda cantik itu menjalin hubungan.


Baginya gairah Rina sungguh indah, geliat janda yang pantas untuk menjadi rebutan.


Sam segera melepaskan segala yang menjadi penghalang mereka, dengan tangan kanannya bermain di gundukan kenyal yang sangat menggairahkan dan terlihat besar bahkan sungguh sangat menghangatkan.


"Sayang, bolehkah aku meletakkan milik ku di sini?" kecupnya saat menyaksikan benda kenyal itu sangat indah.


Rina yang telah di kuasai gairah yang membara hanya mampu berucap ...


"Aku menginginkan mu sejak hari itu ..."

__ADS_1


__ADS_2