Gairah Janda Rebutan

Gairah Janda Rebutan
Ceroboh ...


__ADS_3

Benar saja, pagi menjelang siang ... Kediaman Lidya didatangi oleh Maria yang ingin mencari keberadaan putrinya Olivia. Wanita paruh baya itu, merupakan teman lama sejak dulu.


Namun, karena pertikaian Ibhen dan Thamrin saat memperebutkan Lilyana, membuat mereka menjaga jarak, agar tidak dekat demi ketenangan keluarga mereka.


Akan tetapi, sangat berbeda semenjak Maria mengetahui dari pihak rumah sakit tentang hasil test DNA Olivia.


BRAAK ...!


Maria membanting keras meja di ruang keluarga kediaman Lidya.


"Berani sekali kau menikahkan putri Thamrin, Lid! Kau tahu, aku tidak memiliki keturunan, tapi kau tega pada ku!" sesalnya.


Lidya tersenyum lirih, matanya menatap nanar kearah Maria, "Ini yang aku rasakan selama mereka melakukannya. Aku tidak peduli dengan semua yang akan aku jalani walau sangat menyakitkan. Bagiku Sambo telah tenang, tidak mengingat janda itu lagi. Lebih baik Sam tidak menikah, daripada harus menikah dengan wanita yang pernah meniduri suamiku!"


Maria terkenang sesuatu, "Sambo? Sambo putra mu? Mengapa kau tidak pernah membawa dia ke gereja, atau pertemuan lainnya? Aku seperti pernah mendengar nama itu hmm, apakah Sambo itu pengusaha yang baru masuk dalam tranding topik pria sukses di usia muda itu? Ooogh, berarti dia yang mengambil uang perusahaan ku sebesar 1,5 milyar, Lid! Apa maksudnya anak mu mengambil uang ku hah?" cecarnya pada Lidya.


Tentu Lidya tampak kebingungan, tuduhan yang di berikan Maria pada putranya tentunya tidak masuk akal, karena aset dan tabungan Sambo saja lebih dari 1,5 milyar.


"Maksud mu?"


Maria menceritakan semua dari awal, sehingga mereka menerima kejutan, seorang pria berkulit hitam mengantarkan uang sebesar 1,8 milyar tersebut di kediamannya.


"Sampai sekarang, aku tidak tahu ... Siapa yang mengantarkan uang tunai ke kediaman ku! Aku rasa Sam putra mu yang mengantarkan uang tersebut, hanya untuk sekedar meminta maaf. Bukan begitu Lidya?"


Lidya mengehela nafas dalam-dalam, hanya menjawab singkat, "Entahlah ... Yang pasti saat ini kita sudah menjadi besan. Anak Thamrin sudah menikah dengan anak ku. Aku mohon kamu, tidak usah pikirkan yang aneh-aneh. Kamu benahi suami mu, agar tidak tergoda janda liar lagi di luar sana. Aku sudah merasa aman, karena Ibhen sudah lepas dari dua janda yang sengaja memeras keuangan keluarga ku saja. Tidak tahu mereka, bahwa sesungguhnya yang kaya itu kita sebagai istri, mereka hanya menikmati hidupnya sebagai suami, ternyata selingkuh. Emang enggak ada otaknya, kan? Kayak besar kali lah perkututnya!" tawanya bersama Maria.


Di sela-sela tawa kedua wanita ini, tanpa disadari oleh Lidya, Sambo hadir kekediaman mereka menggandeng Olivia.

__ADS_1


Sontak pemandangan romantis itu membuat Lidya dan Maria saling menatap. Bagaimana mungkin anaknya Sambo akan kepincut beneran dengan Olive.


"Selamat siang Ma ..."


"Sam ..." sambut Lidya berlari menuju putranya, kemudian memeluk tubuh kekar itu.


Lidya mengusap lembut wajah, kepala, dan melirik kearah Oliv yang berdiri menunduk hormat padanya.


Wanita paruh baya itu menautkan kedua alisnya, kembali menoleh kearah Sam, bertanya penuh selidik ...


"Jangan bilang, kalau kalian saling jatuh cinta? Mama melihat tangan mu tidak melepaskan genggaman dari gadis in-- ..."


Ucapan Lidya langsung dipotong oleh Sambo, "Ya Ma ... Olive lebih baik, dan dia sangat menyenangkan. Hari ini aku hanya ingin mengantarnya makanan ini buat Papa, sekalian aku akan menjemput Luisa."


Penuturan itu sangat mengejutkan bagi Lidya, karena dia tidak ingin Sambo mencintai Olivia. Pernikahan itu hanya untuk sekedar pelampiasan hasrat, bukan mencintai seperti yang ia lihat saat ini.


Olivia bergidik ngeri, bagaimana mungkin suami istri akan di buat saling menyakiti. Apalagi dirinya sangat percaya pada Sam tidak akan pernah menyakitinya.


Saat melihat wajah garang sang Mama, membuat Sam mendekati Olive yang tengah mengobrol dengan Lidya.


"Ma ... Maaf, aku kesini hanya mengantarkan makanan untuk mu. Salam buat Papa, dan aku akan pergi membawa istri ku!"


Mendengar penuturan itu Lidya semakin berang, dia tidak ingin Sam mencintai Oliv, karena gadis kecil itu merupakan anak dari Lilyana, serta adik tiri dari Amelia alias Rina.


"Sam! Sambo!" pekik Lidya namun tak dihiraukan oleh Sam.


Sambo tetap berlalu, tanpa menoleh kearah Maria yang masih ternganga melihat murkanya Lidya.

__ADS_1


"Apa maksud mu, Lidya? Jika kau tidak ingin putramu mencintai putri ku, jangan kau nikahi mereka! Aku kecewa atas sikapmu! Aku akan menuntut mu, jika berani menyakiti putri ku!" tegas Maria, memilih berlalu meninggalkan kediaman Lidya.


Tentu ini menjadi awal yang baru bagi Lidya, untuk memisahkan Sam dan Olivia. Baginya, pernikahan itu hanya misi balas dendam, namun ia terjebak dalam permainan.


"Aku tidak terima ini! Aku tidak ingin anak ku jatuh hati dengan keturunan Liliyana! Wanita brengsek, berani-beraninya dia menggoda putra serta suami ku ...!" geramnya.


Ibhen yang masih belum pulih sepenuhnya, hanya bisa mendengar umpatan sang istri untuk putra kesayangan mereka.


"Aaagh ... Lidya, kenapa kau begitu ceroboh menikahkan Sam dengan gadis itu. Sementara aku sudah berusaha untuk menutupi semua aib ini. Ternyata dirimu sangat licik, sehingga membuat anak ku memainkan perannya sebagai suami, sehingga membuat semua jadi hancur berantakan ...!" sesalnya menggeram di kursi roda elektrik.


.


Sangat berbeda dengan Rina, yang mendapatkan perhatian lebih dari Ken.


Setelah melakukan pemeriksaan terhadap istrinya malam itu, Ken benar-benar memperhatikan semua kondisi tentang Rina.


Cinta ... Ken memberikan kenyamanan pada wanita yang akan menjadi ibu dari anaknya, dengan penuh kasih sayang. Berkali-kali ia mengecup punggung telanjang Rina, hanya sekedar membangunkan istrinya untuk sarapan.


Ken bertanya dengan lembut, "Sayang, bangun. Hari ini Koko ada pertemuan dulu, dan mungkin kita akan kembali ke Melbourne nanti malam. Apa kamu mau ikut dengan Koko?"


Rina mengerjabkan matanya, kali ini dia benar-benar mengantuk karena semalaman tidak tidur. Rasa mual yang membuatnya lemah tak berdaya, membuat ia tampak kelelahan ditambah permainan lembut yang di ciptakan Ken atas permintaan Rina.


Delapan minggu usia kandungan Rina, membuat hormonnya sedikit meningkat, dan meminta pada Ken untuk melakukan hal itu, secara perlahan.


Antara tega dan tidak, membuat Sukenru pusing tujuh keliling, karena permintaan Rina yang terlalu banyak, bahkan mengatur semua permainan mereka.


Ken yang terbiasa melakukannya dengan sangat baik, kali ini Rina lebih ingin ia yang mendominasi membuat perasaan pria oriental itu bercampur aduk. Rasa khawatir akan kehamilan istrinya yang baru memasuki trimester pertama, membuat dia harus tetap menjaga kewarasannya, tanpa mengikuti semua keinginan Rina ...

__ADS_1


"Ooogh sayang ... Kamu benar-benar memabukkan ..."


__ADS_2