
Di kamar yang indah kediaman Cluster Adem Sari, berkali-kali tubuh Rina mengejang nikmat, sentuhan Sam membuat janda kembang itu tak mampu menahan rasa geli bercampur aduk, bahkan semakin menggairahkan.
Nafas menderu hebat kala tubuh Rina kembali merasakan kebahagiaan itu hadir saat Sam menghentakkan pinggulnya, mencapai puncak kebahagiaannya.
Seketika kaki jenjang itu hanya bisa menjepit kuat, dan meremas lengan Sam yang tengah menikmati keindahan punuk kenyalnya, dan masih menggesek-gesekkan sesuatu di bawah sana, membuat tubuh Rina semakin menggeliat liar untuk kesekian kalinya.
Sam tersenyum lebar, saat dia melihat tubuh indah itu kembali merespon dengan sangat cepat, membuat keduanya kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju keindahan surga dunia ...
.
Pagi menjelang, saat membuka mata, dan meraih handphone miliknya yang berada di nakas. Rina lagi-lagi di kejutkan dengan kabar yang dia lihat dari status sang Mama.
Rina mengerenyitkan keningnya, melepaskan tubuhnya dari pelukan Sam, duduk di bibir ranjang bergumam dalam hati ...
"Ngapain Mama ke Jakarta? Bukankah dia tidak akan menginjakkan kaki lagi kesini ...?"
Bergegas Rina, membersihkan diri dari pertempuran dahsyat nya tadi malam, untuk melakukan aktivitas seperti biasa.
Namun, langkah kakinya terhenti, saat melihat panggilan telepon dari handphone milik Sam, yang tertuliskan 'Papa Ibhen' ...
Darah Rina seketika mendesir saat melihat handphone pipih itu lagi-lagi menyala.
Jantungnya berdegup kencang, seketika akan berhenti berdetak, bahkan wajahnya tampak memerah namun tak ingin merusak suasana hati nya pagi itu.
Rina masih menoleh kearah Sam yang masih setengah sadar, saat tangannya meraih handphone kemudian mengeser lambang panggilan telepon menyapa dengan suara serak.
["Hmm ..."]
["Kamu bisa ketemu Papa siang ini? Ada yang mesti kita bicarakan ..."]
["Ya ... Nanti aku kabari Papa ..."]
Sam melempar handphone miliknya di ranjang peraduan mereka, belum menyadari bahwa Rina sedang menatap kearah nya.
Rina tertegun sejenak, tak mampu berkata-kata, namun dia sangat yakin bahwa Papa Ibhen yang tertera di layar handphone milik Sam itu merupakan Bang Ibhen yang selama ini memberikannya uang banyak, bahkan mengizinkan dia tinggal di apartemen mewah pribadi pria paruh baya tersebut.
Perlahan Rina mendekati ranjang kembali, tangan halus nya meraih handphone milik Sam pelan, hanya untuk memastikan nomor yang tercantum di sana, dan mencocokkan dengan nomor yang ada di handphone miliknya.
Tubuh Rina bergetar hebat, saat melihat nomor yang sama, ada di dua handphone yang berbeda.
"Ooogh ... Ternyata Sam putra Bang Ibhen! Haaah ..."
__ADS_1
Tangannya mengepal kuat, bahkan kakinya tak mampu untuk berpijak, setelah melihat semua yang dia saksikan pagi ini ...
"A-a-a-aku harus bagaimana Tuhan! Kenapa aku berada di lingkaran mereka ...? Karena mereka aku kehilangan Papa, dan semua kebahagiaan yang awalnya menjadi keluarga utuh, kini harus menelan pil pahit lagi ..."
Rina menahan rasa sesak di dada. Air mata yang mengalir dia usap kasar, setelah melihat sendiri siapa Ibhen, dan siapa Sam.
Kemiripan dari raut wajah keduanya semakin terpancar, membuat Rina semakin yakin, bahwa Sam putra kesayangan Bang Ibhen.
"Apa yang telah aku lakukan pada dua pria ini? Mereka ternyata menjebak aku! Brengsek ...!"
Rina masih belum mampu untuk berdiri tegak, bahkan tubuhnya yang masih terbalut selimut tipis itu hanya bisa pasrah meratapi nasibnya yang akan di hancurkan oleh kedua orang anak dan bapak tersebut.
"Aku harus mengatur strategi ... Aku akan masuk dalam permainan mereka, dan akan aku balas lebih sakit dari ini ..."
Lagi-lagi dia menangis yang tertahan, karena tidak ingin Sam terjaga dari tidurnya.
Rina menguatkan kakinya untuk tetap tegak, agar dapat melakukan ritualnya membersihkan diri, berbuat seperti biasa walau saat ini hati dan perasaannya hancur.
Kebohongan yang di ciptakan Ibhen dan Sam sangat menyayat perasaannya, bahkan dia terlena dan masuk dalam permainannya sendiri, hanya itu yang menari-nari di benak Rina.
"Mereka menjebak ku! Mereka telah berencana untuk menyakiti aku! Sehingga Mama Liliyana kini berada di kota ini untuk menyeret ku masuk ke dalam drama mereka! Dasar laki-laki brengsek kamu, Sam ..."
Rina membasahi tubuhnya, di bawah guyuran shower, dia ingin sekali menyerang Sam habis-habisan, namun belum dia lakukan, karena saat ini dia merasa kecewa pada pria yang sangat baik dan lembut memperlakukan nya sebagai wanita yang berstatus janda.
Rina menangis sejadi-jadinya, di dalam kamar mandi yang cukup luas, bahkan semua rencana untuk menikah dengan Sam buyar seketika.
Hati Rina hancur, kembali terkenang akan sosok almarhum sang Papa yang sangat menyayanginya, memberikan kasih sayang yang sangat besar dalam hidupnya.
Tubuhnya ambruk, di bawah guyuran shower, tanpa mau mendengar penjelasan pria itu lagi nantinya, yang ternyata perlahan telah membuatnya jatuh hati.
Tak selang berapa lama, Rina yang telah menata hatinya, masih melihat tubuh Sam terlelap dalam tidurnya.
Hanya satu yang membuatnya berat untuk membenci seorang Sam, lembut, bahkan sangat romantis, sangat setia dan mampu menenangkan jiwa serta perasaannya.
Tanpa mau melihat masa lalu seorang Rina yang hanya mau di jadikan sebagai simpanan sang Papa.
Rina mengusap lembut air matanya yang terus menggenang di pelupuk mata, membuat dia sulit untuk berpikir jernih.
"Bagaimana aku harus meninggalkan pria ini? Aku benar-benar jatuh cinta padanya ..."
Rina melihat jam dinding yang berdetak seakan lambat, perlahan kakinya melangkah mendekati dapur, mencari bahan yang akan di masak untuk sarapan pagi mereka berdua.
__ADS_1
"Setidaknya ini akan menjadi kenangan terindah untuk kita, Sam ..."
Seperti biasa Rina mempersiapkan semua, tanpa merubah kebiasaannya sebagai wanita manja terhadap Sambo.
Benar saja, lebih dari 45 menit Rina berjibaku dengan spatula dan teflon, Sam keluar dari kamar indah mereka berdua.
Sam tersenyum sumringah, menghampiri wanita cantik itu, dengan penuh perasaan bahagia.
Tangan kekarnya melilit di perut ramping Rina, membuat janda cantik yang memendam kesedihan itu sendiri, membalikkan tubuhnya dengan wajah sembab yang tak mampu dia sembunyikan.
Sam mengerenyit keningnya, berfikir sejenak, 'Kenapa dengan Rina ...? Ada apa dengannya ...?'
Sam mengusap lembut wajah mulus wanita itu, sedikit berbisik ketelinga Rina, "Kenapa hmm? Ada apa sayang? Kenapa wajahmu terlihat sembab? Padahal baru tadi malam kita menghabiskan malam yang indah, kenapa pagi ini kamu terlihat sangat berbeda? Cerita sama aku ..."
Rina berusaha tersenyum, menahan genangan air mata yang tak kuasa dia bendung. Seketika janda kembang itu memeluk erat tubuh Sam. Mencium aroma tubuh pria yang sangat khas di penciuman nya ...
Hanya gelengan manja yang dapat dia utarakan, dalam dekapan Sam.
Sam mengecup lembut puncak kepala wanita yang sangat dia cintai ...
"Mama ku meminta kamu untuk membuatkan masakan spesial dari tangan kamu. Kita akan menikah, dan hari ini kita membeli kosan yang kamu sebutkan kemaren, sebagai syarat untuk menikahi mu ..."
Rina menutup matanya perlahan, dia enggan memberi jawaban pada Sam tentang permintaannya, juga membahas tentang pernikahan.
"Ehm bisakah hari ini kamu memanjakan aku, sayang ...?"
_____
Hai hai hai ...
Terimakasih atas dukungannya para reader tercinta ...
Silahkan tinggalkan vote dan hadiahnya dong...
Author akan mengirimkan sesuatu yang menjadi kenangan untuk para reader ...
Mungkin kerudung, atau bahkan daster motif bunga, agar suami semakin sayang...😂❤️🙏
Berdasarkan top fans ... Dan ini berlaku hingga tanggal 30 September 2022 ...
Jangan lupa mampir juga di kisah baru Author Tya Calysta ... 'Merebut Hati Suami Mayor' ... Yang menjadi awal dari kisah My Wife is Militery ...
__ADS_1
Terimakasih ... Sehat untuk kita semua ...
Wassalam ...