Gairah Janda Rebutan

Gairah Janda Rebutan
Membeli mulut mantan suami


__ADS_3

Rina hanya diam mematung, dia harus keluar dari apartemen pria muda itu, sebelum benar-benar terhipnotis oleh pesona tubuhnya.


Sam mendekati Rina, sementara janda muda itu mundur perlahan. Entah kenapa, keberaniannya yang tadi penuh semangat, kini surut seketika melihat dada bidang itu semakin mendekat.


Tubuh Rina tersandar di dinding, dia terdiam mematung, bahkan jantungnya bergemuruh bahkan sangat berbeda saat nafas pria itu semakin terasa hangat di samping telinganya.


Rina menutup wajahnya dengan kedua tangan halusnya. Jemari yang lentik itu bergetar saat wajah Sam semakin mendekat.


"Please jangan lakukan ini pada ku! Aku minta maaf karena telah berani menyelinap masuk kedalam apartemen mu. Aku mohon jangan lakukan hal yang tidak baik pada ku ..." ucapnya pelan.


Sam tertawa mendengar celotehan wanita di hadapannya. Dia menghela nafas panjang, mengusap lembut wajah tampannya, "Maaf Nona, malam ini aku sedang tidak tertarik padamu. Pergilah ... Tinggalkan apartemen ku!"


Rina membuka telapak tangannya, dengan dada berdebar-debar dia menatap wajah pria tampan itu.


"Baik, terimakasih!"


Bergegas Rina menggeser pintu kaca yang ada di samping kanannya, memanjat kursi untuk kembali ke apartemen nya. Seketika ...


BHUUUUG ..."


"Aaaagh ...!"


Rina tergelincir, saat akan menginjakkan kakinya di kursi apartemen nya dan tubuhnya seketika terjerembab jatuh ke lantai.


Sam yang mendengar suara seperti orang terjatuh, bergegas memanjat tembok pembatas mereka, melihat Rina yang masih meringis kesakitan di lantai.


"Sssthh ... Sakit sekali!" rintih nya menyentuh pergelangan kaki kanan yang terasa sangat nyeri ...


Sam berusaha membantu Rina, menggendong tubuh janda cantik itu tanpa melihat.


Rina sedikit tersenyum culas, dia merasa nyaman saat pemuda itu menggendongnya.


'Setidaknya aku dapat menyentuh dada hangat ini, dan merasakan bulu halusnya menyentuh kulit ku ...'

__ADS_1


Sam meletakkan Rina di dalam kamar, mencari balsem untuk membantu janda cantik itu menghilangkan rasa nyerinya.


"Kamu tidak memiliki balsem, atau minyak angin, gitu?" Sam sibuk mengacak-acak meja rias yang hanya ada alat-alat kosmetik Rina.


Rina menggeleng manja, memajukan bibirnya, terlihat sangat menggemaskan.


Justru Sam tidak memperdulikan wajah Rina yang tengah asyik mencari perhatiannya.


Sam bergegas kembali ke apartemen nya, untuk mengambil minyak angin, dan kembali secepat kilat ke kamar simpanan sang Papa.


Tubuh yang tidak mengenakan baju, hanya menggunakan boxer, membuat Rina tak berkedip mengagumi ketampanan pria tersebut.


"Aduh-duh-duh, ssshh, pelan-pelan dong! Ini kaki cewek! Bukan kaki cowok! Kasar banget tangannya. Sakit tahu!" rungutnya.


Mendengar rintihan dan celotehan Rina, Sam mengehentikan pijatannya.


"Hei, aku ini hanya membantu mu! Jika kamu merasa tidak nyaman, lebih baik aku pergi! Lagian siapa suruh menyelinap ke apartemen orang lain seperti maling. Saat orang nya tidak ada lagi! Kamu pikir aku suka sama perlakuan kamu? Kalau kamu bukan wanita, sudah aku habisi sejak awal!" tegasnya.


Rina terdiam, dia menelan ludahnya susah payah, menyunggingkan bibirnya dengan sinis, "Hmm, ternyata kamu pria yang sangat angkuh! Pantas saja, tinggal sendiri di apartemen seluas itu!" ucapnya membuat Sam benar-benar menghentikan pijatannya.


Sam menutup pintu kamar dengan keras, berlalu kembali ke apartemennya. Untuk mencari keberadaan Luisa putri kesayangannya.


Sementara Rina hanya termangu memandangi pintu yang tertutup keras, berharap pria itu kembali agar menemaninya malam itu.


.


Burung berkicau, matahari bersinar terang menyinari kota besar itu, para penghuni apartemen kota telah sibuk dengan kegiatan mereka yang online 24 jam bahkan tidak pernah berhenti.


Rina, janda muda yang tidak bekerja sebagai secretaris plus-plus Thamrin lagi, masih berselimut tebal di dalam kamar apartemen yang luas.


Semenjak Ibhen pergi meninggalkan apartemen, tidak pernah sedikit pun pria paruh baya itu menghubungi nya. Tentu sebagai simpanan profesional Rina sedikit sedih, karena tidak mendapatkan perhatian dari pria.


"Hmm ... Kemana Bang Ibhen? Aku sangat merindukan nya pagi ini. Ingin sekali kaki ku yang sakit ini, di pijat oleh Bang Ibhen ..."

__ADS_1


Seketika iya di kejutkan dengan deringan telepon yang memekakkan telinga.


Rina melihat nama 'Bang Tham' yang tertera di sana. Dengan nada malas dia mengangkat telepon dari pria yang sudah lama tidak menanyakan kabar padanya.


["Hmm ..."]


["Sayang ... Maafkan Abang mu ini! Tidak bisa mengirimkan uang gaji mu! Karena akses keuangan di sita oleh Maria. Kamu dimana sayang? Bisa kita bertemu? Abang mau memberikan uang cash pada mu, sayang ... Please, jangan marah sama Abang, yah?"]


["Hmm, dimana?"]


["Abang tunggu di food court dekat mall kota yah? Kamu naik taksi saja. Abang akan memberikan bonus pada kamu. Oya, sayang ... Invoice sebesar 1,5 milyar dimana kamu tarok? Itu sudah tinggal pencairan saja. Dan Abang mencari-cari di meja kerja kamu tidak menemukan apa-apa. Dimana kamu tarok, sayang?"]


["Nantilah Rina cari yah, Bang! Setahu Rina invoice itu ada di bagian keuangan. Coba cek saja! Aku masih ngantuk. Nanti kabari saja, jam berapa mau bertemu!"]


Tut ... Tut ... Tut ...


Thamrin melihat layar handphonenya yang gelap, mengusap lembut layar handphone, "Bah ... Di matikan nya telepon ku? Masih marah lah si Butet ini karena Maria ...! Butet, Butet ..."


.


Rina mendengus dingin, melihat layar handphone yang sengaja dia matikan karena sudah sekian lama baru sekarang Thamrin menghubungi nya.


"Invoice, invoice, mana ada invoice sama aku ...!" geramnya, beranjak ke lemari untuk memeriksa invoice yang di tanyakan Thamrin.


Rina memeriksa dengan wajah malas, karena kakinya masih terasa sangat nyeri. Dia melihat selembar invoice dan selembar cek bertuliskan nominal yang di sebutkan Thamrin barusan.


Jantungnya berdebar-debar, melihat invoice dan cek yang sudah di tanda tangani oleh pria mapan tersebut.


Otak Rina berpikir seketika, "Bagaimana jika aku mencairkan dana ini! Tapi ke rekening siapa aku mencairkan nya. Ini sebagai bayaran Bang Tham karena telah menyia-nyiakan aku selama beberapa minggu. Woooowh ... Aku kaya! Dan aku bisa membeli rumah juga mobil. Membeli mulut mantan suami ku dan keluarganya, termasuk Mama ..."


Rina meletakkan tangannya di dagu, seketika dia menemukan ide untuk mencairkan dana 1,5 milyar tersebut.


"Hmm ... Aku memang wanita yang paling beruntung! Hari ini aku akan menemui Bang Tham, selayaknya berpura-pura miskin dan mengeruk uangnya, tanpa harus menyentuh tubuh ku ..."

__ADS_1


Tawanya menyeringai bak devil wanita yang akan memangsa musuhnya seperti Thamrin, "Hari ini kamu akan menerima semua caci-maki mu dari Maria yang tidak tahu diri itu ...!"


__ADS_2