
Lisya kembali melajukan motornya untuk segera pulang ke kosannya dengan perasaan penuh kemenangan.
Tak lama setelah beberapa menit, Lisya tiba di kosannya. Terlihat pintu kosan masih terkunci rapih menandakan jika sahabatnya belum pulang dari kampus. Ya, karena siang itu Via masih ada satu mata kuliah yang sebelumnya sudah pernah Lisya ambil di semester sebelumnya.
Lisya merebahkan dirinya diatas kasur karena lelah akibat perjalanannya. Saat sibuk memikirkan langkah apa yang akan dilakukan selanjutnya, rasa kantuk yang datang tak dapat lagi ia tahan. Matanya semakin sayu dan tak berapa lama ia sudah terbawa mimpi.
'Terpesonaa.. Akuu terpesonaa.'
'Memandang (mandang) wajahmu yang manis'
Suara dering telpon Lisya yang berada didalam tas, yang ia letakkan sembarangan di sampingnya, membuat mimpinya sirna. Tangannya meraba-raba mencari keberadaan handphone nya sambil mata yang masih terpejam.
"Hemm....?" Jawab Lisya dengan suara khas bangun tidur, sambil mengelap iler yang menetes dilengannya akibat posisi tidurnya yang miring. Sedangkan matanya masih tetap terpejam.
"Kamu dimana sih Lissyyaaa?" Suara Via yang meninggi karena emosi telepon nya tidak diangkat sejak tadi siang.
"Viaa!. Ada apa sihh.. Kupingku budek nih kena suara cempreng mu!" Ucap Lisya sambil membuka matanya karena kaget mendengar suara Via yang melengking di seberang telepon.
Ya, Lisya mengangkat telponnya tanpa melihat nama yang menelponnya karena matanya serasa masih lengket. Karena ia hafal dengan suara sahabat nya itu, sontak membuat nya membuka mata dan memastikan kembali nama yang tertulis di layar handphone nya.
"Abis nya dari tadi aku telepon ga ada jawaban terus! Kamu abis dari mana sih? Gitu ya uda main delik-delikan (rahasia-rahasia an) sama aku?!" Ucap Via kesal dibalik telepon karena merasa ada yang disembunyikan darinya.
"Ckk, Ada apa sih. Kamu ganggu aku tidur tau gak! Aku capek abis show!. Ga usah tanya show apa. Ntar bakal aku critain kalo uda dikos. Cepet katakan ada apa, aku masih ngantuk!" Lisya berdecak kesal karena tidurnya terganggu.
"Iihhhh, dasar!. Temen keplek! Ntar juga kamu bakal makasih sama aku!. Ni aku mau kasih kabar bagus buat kamu. Tuh di studionya si Bram lagi butuh karyawan tambahan. Kamu mau gak? Harusnya sih mau. Karena dia khusus buka lowongannya hanya buat kamu!" Jelas Via diseberang telepon.
Ya, setelah Bram menanyakan kepada karyawan kepercayaannya. Akhirnya ia memberi tahu kepada Via jika memang studionya sedang kekurangan karyawan. Mengingat project nya sedang banyak. Bram dengan cepat menghubungi Lisya untuk memberitahukan kabar baik itu. Namun nyatanya tidak satupun telepon darinya ada jawaban. Hingga Via ikut menelepon si Lisya beberapa kali juga, namun masih sama tidak ada jawaban.
Wajar jika saat sambungan teleponnya mendapat jawaban dari sang empunya yaitu Lisya, membuat Via keprucut untuk mengeluarkan suara cempreng nya.
Lisya yang mendengar kabar bahagia itu sontak membuka matanya lebar-lebar dan dengan cepat langsung bangun dari posisinya lalu duduk di atas kasur. Seolah ia menemukan setitik cahaya di tengah-tengah kegelapan nya.
"What?? Sumpah!! Kamu ga goro (bohong) kan!?." Tanya Lisya memastikan.
__ADS_1
"Ck. Ngapain juga sih aku goro. Pokonya besok kamu bisa langsung kerja sepulang kuliah. Soal kejelasan jam kerjanya dan lain-lainnya kamu bicarain aja sama Bram langsung. Dia uda pulang barusan soalnya lagi ada pemotretan.
" Udah ah, aku pulang dulu. Pokoknya nanti ceritain semua ke aku, dari mana aja kamu! dan apa yang terjadi.! Bye love you!."
Tutt..
Via mematikan sambungan telponnya tanpa menunggu jawaban dari Lisya. Ia tergesa-gesa karena ojol yang dipesan sudah datang dan menunggunya didepan kampus.
Via tidak membawa mobil hari ini karena ia sudah sangat kesiangan tadi. Sehingga berangkatnya nebeng si Lisya naik motor.
Tak lama Via sampai di kosan, dengan heboh menagih janji sahabatnya untuk menceritakan apa yang terjadi. Lisya juga tak kalah heboh menanyakan bagaimana bisa tiba-tiba Bram menawarkan sebuah lowongan pekerjaan, sedangkan ia tidak pernah menceritakan tentang dirinya yang sedang menjadi 'pengacara' hingga sampai saat ini.
Akhirnya keduanya saling bertukar cerita dengan apa yang terjadi saat siang tadi. Dan sudah dipastikan si Via sangat heboh bin alay mendengar cerita yang tidak pernah disangkanya. Menurutnya apa yang terjadi dengan sahabatnya itu seperti yang terjadi di novel yang berjudul "Gila! Tapi Aku Cinta!" yang sedang ia baca. 'eehh promosii adak eee' đ
Via juga geram kenapa Lisya tidak mengajaknya saat show tadi. Ia bahkan sudah membayangkan apa yang akan dilakukannya apabila berada di sana. Via merutuki kebodohan Lisya mengapa harus menyerang bagian atasnya. Sedangkan akan sangat lega dan puas jika Lisya berhasil memberi tendangan madun pada 'batang berurat' sang bos gila itu.
Keduanya saling tertawa geli membayangkan bagaimana reaksi bos gila itu jika 'batang berurat' nya terkena samplukan sikil. 'biyuuhhh othor linu dewe mbayanginnya'. đ
Keesokan Harinya.
Saat ini Lisya dan Via berangkat ke kampus sendiri-sendiri. Karena Lisya akan mulai bekerja dengan Bram.
Setelah beberapa jam, kuliahpun berakhir. Dengan segera Lisya menghampiri Bram yang duduk tidak jauh darinya dan Via. Untuk saat ini Lisya duduk bersebelahan dengan Via. Sedangkan Bram duduk di bawahnya satu tingkat. Ya model tempat duduk kelas mereka seperti anak tangga dengan kursi yang sudah satu paket dengan mejanya untuk masing-masing mahasiswa/i nya.
"Hai Bram!" Sapa Lisya dengan senyum ramahnya.
"Eh Sya, Gimana udah siap?" Jawab Bram menoleh saat mendengar panggilan Lisya.
Dijawab anggukan yang penuh semangat oleh Lisya.
"Ciye yang sudah ga jadi 'pengacara' lagi." Goda Via sambil menowel dagu Lisya.
__ADS_1
Lisya yang digoda hanya bisa tersenyum malu.
Tak lama Bram dan Lisya menuju studio tempat mereka bekerja, dengan motor mereka masing-masing. Sedangkan Via, entah akan kemana. Yang jelas ia akan mencari mangsa untuk diajak ngukur dalan (jalan-jalan) untuk mencuci matanya.
Ya, Bram sudah resmi menerima Lisya untuk menjadi pegawai part time nya. Mengingat Lisya masih harus membagi waktunya untuk kuliahnya, yang sama dengan dirinya. Sebelumnya mereka berdua sudah berkomunikasi mengenai pekerjaan tersebut sebelum mata kuliah dimulai.
Tidak ada ketentuan untuk jam masuk kerja Lisya. Namun Lisya harus segera datang ke studio saat jadwal kuliahnya telah usai. Waktu jam kerja Lisya sama dengan karyawan lainnya yaitu delapan jam. Perhitungan jam kerjanya berdasarkan saat ia telah tiba di studio. Karena rata-rata Lisya akan selesai kuliah di siang hari, maka sudah dipastikan jika ia akan pulang hingga pukul delapan malam bersamaan dengan tutupnya studio itu. Sedangkan karyawan yang full time akan masuk dengan jadwal 2 shift , yaitu shift pagi dan siang.
Tak berapa lama, Bram dan Lisya sampai di tempat studio yang hanya membutuhkan waktu 15 menit dari kampusnya.
Bram segera memberikan perjanjian kerjanya, sebagai formalitas kerja pada umumnya. Kemudian Bram menjelaskan tentang beberapa job disk untuk Lisya dengan dibantu sang asistennya yaitu karyawan kepercayaannya yang bernama Bela.
Secara garis besar, Lisya hanya akan membantu mempersiapkan segala keperluan yang dibutuhkan saat proses pemotretan serta syuting baik untuk majalah ataupun iklan televisi. Mengingat Lisya tidak memiliki skill maupun pengetahuan dalam bidang fotografi.
Bram percaya Lisya akan mudah menyesuaikan diri dan belajar tentang bidang itu seiring berjalannya waktu. Bram juga tak segan-segan memberikan gaji kepada Lisya dengan jumlah yang cukup lebih besar dari gaji saat ia menjadi SPG Event. Sungguh dirinya merasa bersyukur atas musibah yang telah terjadi. Dan untuk pertama kalinya secara tidak sadar, Lisya berterimakasih dalam hati kepada bos Gila itu. Karena berkatnya ia mendapatkan pekerjaan ini. 'Ciyee sing mulai ga sadar merasa eheemm eheemmm sama si bos kayaknya ini'. đ
** Gedung BR Group **
"Baguus! Segera kirimkan semua bukti informasi itu ke email saya!" Jawab Teo sambil tersenyum tipis lalu menutup telponnya.
Ya, Teo baru saja menerima telepon dari orang suruhannya. Ia mengatakan bahwa telah mendapatkan informasi lengkap mengenai panti asuhan dan perempuan yang bernama Lisya itu.
"Hah.. Sungguh suatu kebetulan yang tak terduga.". Gumam Teo pelan sambil terus tersenyum tak percaya.
Ekspresi Bang Teo saat mengetahui informasi dari orang suruhannya. Senyum sitik tapi muaaaniiissss đ
-- Annyeong pembaca yang budiman đ--
--Kiro-kiro ono Informasi opo to bang Teo.. Bikin penipsirin readers deh--
Mon maaf telat update nya. Othor lagi fokus bagi waktu buat di kehidupan nyatanya. Si mamas bojo, suka merajuk nangis kalo othor anggurin. wkwkw
__ADS_1
-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! đ supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --
Salam cium dan peluk jauh. đ¤