
"Vi?? Kamu dengar aku kan?" Bram menggoyang lengan Via, karena tak mendapati jawaban dari pertanyaan abusurdnya.
"Eh,,, ya? Gimana?" Via mengerjapkan matanya, menghilangkan pikiran mesumnya đ
"Hish, sekarang ganti kamu kan yang bolot." Bram mengacak rambut Via dengan gemas.
"Heheh,," Via salah tingkah.
"Gimana? Hem??" Tanya Bram lagi.
"Apanya Bram?" Via pura-pura tidak paham dengan maksud pertanyaan Bram.
"Gimana kalau kita menikah langsung, seperti Lisya dan tuan Gathan dulu." Bram mengulangi pertanyaannya.
"Mau aja, aku juga penasaran. Tapi,," Gumam Via pelan.
"Eh, kamu ngomong apa?" Bram tak begitu mendengarnya.
"Hah,? Egak. A-aku belum ngomong apa-apa kok." Via terbata.
"Kalau kamu mau, sepulang dari sini aku akan langsung melamarmu ke Malang sama ayahku." Ucap Bram enteng.
"Hah!? Gundulmu Bram!" Via mencebikkan bibirnya. Tangannya memukul keras bahu Bram karna kesal dengan ucapan pacar barunya. Ciye pacar baru. đ
"Aww,,! Vi sakit!" Bram mengusap pundaknya yang terasa panas.
"Sorry! Habisnya kamu aneh-aneh saja." Via ikut mengusap pundak Bram.
"Lah aneh dari mana. Kan bener Vi, aku mengajak kamu nikah masa hal yang aneh sih.?" Bela Bram.
"Iya menikah memang tidak aneh. Yang aneh itu kamu. Memang sih, aku penasaran gimana rasanya menikah. Eh,,," Via menunduk malu, menutup mulutnya.
"Tuh kan, yasudah kita menikah saja. Biar kamu tidak penasaran." Bram tetap kekeh mengajak Via.
"Hissshhh,,, Tuman! Ajak nikah kayak ajak makan. Gampang banget." Via ganti mencubit lengan Bram dengan sangat kecil.
"Awwwww Viaa!." Racau Bram sambil meringis kesakitan.
"Habisnya,,! Lagian ya, meskipun aku penasaran tetep aja ayahku gak bakal merestuinya." Ucap Via.
"Loh, kenapa? Kan ayah kamu belum pernah lihat aku Vi. Aku tampan loh. Aku juga lumayan tajir ya meski gak setajir suami Lisya." Tanya Bram dengan raut wajah kecewa.
"Bukan masalah dengan siapa aku akan menikah Bram, tapi aku sama ayahku sudah bersepakat kalau aku harus menyelesaikan kuliah dulu baru menikah. Jadi kalau kamu mau ajak aku menikah, tunggu kita lulus kuliah dulu." Jelas Via..
"Yahhh,, Lama dong." Bram tidak bersemangat
"Enggak lama lah, bentar lagi kan kita lulus. Ya anggap saja jeda waktu sampai kita lulus itu, kamu pakai untuk memastikan perasaanmu padaku. Dan, bikin aku benar-benar jatuh cinta sama kamu. Kalau kita berjodoh, pasti bakal ada jalannya." Ucap Via meyakinkan.
"Hem,, Baiklah. Aku akan segera memastikan perasaanku, dan aku pasti bisa membuatmu jatuh cinta padaku. Saat kita lulus nanti, aku akan segera melamar mu." Ucap Bram dengan tatapan yang entah mengapa menurut Via sangat serius dan terlihat sangat muaanisss. Tahu sendiri Via paling suka dengan yang manis-manis dan imut. đ
Cup,
Bram mengecup kening Via singkat. Lalu segera kembali ke posisinya. Memasang seat beltnya dan melanjutkan perjalanannya. Sedangkan Via, ia masih mematung akibat perlakuan tiba-tiba dari Bram.
"Menggemaskan." Bram kembali mengacak rambut Via dengan tangan kirinya saat menoleh ke arah Via yang masih diam membisu.
"Hisshh,,," Via mengalihkan pandangannya ke arah jendela, karena pipinya sudah sangat merah. Sedangkan Bram hanya menggeleng tak percaya sambil bibirnya terus tersenyum bahagia.
__ADS_1
-
** Katamaran, Hotel and Resort Lombok **
Mobil yang dikendarai Teo dan juga Bram telah sampai di resort tempat mereka menginap. Sesuai permintaan Gathan, pelayan resort sudah menyiapkan beberapa menu mewah untuk makan siang di dalam restoran resort itu.
Tak lama Gathan dan yang lainnya makan bersama sambil diselingi perbincangan hangat diantara Lisya dan Via tentunya.đ
"Eh, Sya. Kamu sakit? Kenapa terlihat pucat begitu?" Tanya Via saat melihat sahabatnya tidak seperti biasanya.
"Ah masak sih?" Lisya menautkan alisnya karena tidak merasakan jika saat ini sedang sakit.
Gathan yang mendengar ucapan Via, dengan segera menoleh ke arah Lisya. Dan benar, Gathan baru menyadari jika wajah istrinya itu terlihat pucat. Ia tadi mengira jika bibir istrinya pucat, hanya karena kedinginan saat snorkeling.
"Sayang kamu sakit?" Gathan dengan sigap menempelkan punggung tangannya pada dahi Lisya.
"Eh, Enggak kak. Aku merasa baik-baik saja. Hanya saja memang sedikit lemas, mungkin karena setelah snorkeling tadi. Terus juga belum makan. Hehehe." Jawab Lisya yang memang setelah snorkeling merasa sedikit lemas.
"Hah, ya sudah. Makanlah yang banyak. Setelah ini harus istirahat full. Ingat, tidak boleh jalan-jalan dulu sampe benar-benar kamu merasa lebih baik." Perintah Gathan karena tidak ingin jika istrinya itu sakit gara-gara moment liburannya.
"Siap sayang." Lisya menowel dagu Gathan dengan senyum yang dibuat secentil mungkin. Entah mengapa dirinya mulai suka menggoda suaminya itu.
"Sayang,, Kamu harus istirahat setelah ini. Jadi jangan mengganggu....."
"Singa yang selalu lapar." Potong Lisya sambil terkekeh geli. Begitupun dengan Gathan yang tertawa sambil mengacak rambut Lisya.
"Ekhemm,, nyamuk nih." Sindir Via dengan berdehem begitu keras.
"Ck, kaum jomblo dilarang iri!." Sahut Lisya sambil melanjutkan makannya.
"Eh, sorry. Sekarang aku bukan lagi jomblo.!" Jawab Via dengan pede.
Deg.!
Apa itu tandanya mereka berdua sudah resmi berpacaran?
Gumam Teo dalam hati yang semakin penasaran.
"Eh,, Via!!!! Kamu??!!! Kalian?!" Tunjuk Lisya ke arah Via dan Bram secara bergantian.
"Hohohoho,," Via mengibaskan rambutnya dengan bangga.
Jadi benar. Mereka sudah...... Eh, kenapa gue jadi kepo gini sih sama urusan mereka.
Gumam Teo kembali didalam hatinya. Ia menggelengkan kepalanya pelan untuk mengusir pikirannya yang tidak masuk akal.
"Ihh,, dasar. Gimana ceritanya?!" Tanya Lisya heboh.
"Segera habiskan makananmu, agar kamu bisa segera istirahat." Bisik Gathan tepat di telinga Lisya dengan tatapan yang tajam.
"Eh, i-iya kak." Jawab Lisya patuh.
"Via! Kamu berhutang cerita padaku." Ucap Lisya pelan. Lalu hanya diberi anggukan oleh Via, karena takut melihat wajah suami sahabatnya itu sedang mengintimidasi Lisya dan juga dirinya.
Beberapa menit kemudian, Gathan dan lainnya telah menyelesaikan sesi makan siangnya. Tanpa basa basi, Gathan langsung menggendong Lisya untuk dibawa kedalam kamarnya. Karena menurut Gathan, wajah istrinya itu terlihat semakin pucat meski sudah makan sekalipun.
"Saya duluan. Sepertinya istriku benar-benar kelelahan." Pamit Gathan yang diangguki oleh Via, Bram dan juga Teo. Sedangkan Lisya hanya pasrah tak bisa menolak apa yang sudah diputuskan suaminya.
Setelah kepergian Gathan dan Lisya, Teo berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Mas cute mau kemana?" Tanya Via asal.
"Via,,!" Potong Bram sambil memegang tangan Via dengan tatapan tajamnya.
"Ke-kenapa Bram?" Tanya Via yang masih belum peka dengan situasi sekitar.
"Saya permisi dulu nona Via, dan tuan Bram." Teo pamit lalu meninggalkan mereka berdua, karena entah mengapa untuk kesekian kalinya hatinya terasa berdenyut saat melihat kedekatan mereka berdua.
"Jangan panggil dia mas cute! Panggil dia dengan namanya saja!" Pinta Bram datar setelah melihat kepergian Teo.
"Eh, tapi kenapa?" Tanya Via yang masih belum juga paham.
"Hah,,, Aku tidak suka mendengar panggilan itu. Ingat, aku pacarmu.!" Ucap Bram tegas.
"Ohh, ya ya ya. Aku lupa heheh." Jawab Via tanpa rasa bersalah.
Hah, bisa-bisanya cengar-cengir kayak gitu tanpa rasa bersalah. Sepertinya aku harus ekstra sabar menghadapi pacar yang memang mudah sekali membaur dengan orang lain.
Gumam Bram dalam hati sambil menghela nafasnya panjang.
"Kamu bisa jalan sendiri?" Tanya Bram mengalihkan pikirannya. Serta ia juga ingin memastikan kondisi Via. Ya, sejak turun dari parkiran resort, Via meminta untuk berjalan sendiri tanpa digendong. Karena merasa kakinya sudah tidak begitu bengkak setelah diberi suntikan dari rumah sakit tadi.
"Tenang saja Bram. Aku bisa kok." Jawab Via meyakinkan.
"Baiklah. Setelah ini jangan lupa minum obat. Terus istirahat. Ayo aku antarkan ke kamarmu." Ajak Bram.
"Siap mas pacar baru." Jawab Via menggoda.
"Dasar ...." Bram mengacak rambut Via karena gemas.
-
Epilog
"Emmmbb,," Lisya berlari ke dalam kamar mandi karena merasa mual saat tubuhnya direbahkan diatas kasur oleh Gathan.
Gathan yang melihat Lisya tiba-tiba mual, panik mengikuti Lisya dibelakangnya.
"Huek,, Huekk,," Lisya mengeluarkan segala makanan yang baru saja ia makan.
"Sayang,, kamu kenapa?" Gathan memijat tengkuk Lisya dengan wajah yang sangat khawatir.
"Gak tahu kak, tiba-tiba mual. Sepertinya aku kekenyangan. Terus kakak langsung menidurkan aku. Jadi isi perutku ikut naik." Jelas Lisya sambil mengelap bibirnya dengan air.
"Sekarang bagaimana? Sudah enakan? Aku bawa ke rumah sakit ya?" Tanya Gathan panik.
"Gak perlu kak. Ini aku sudah lega setelah muntah. Heheh. Saatnya kita istirahat." Lisya menghadap ke arah Gathan dengan merentangkan kedua tangannya.
"As you wish sayang." Gathan yang paham dengan maksud Lisya, dengan senang hati menggendong istrinya itu. Lalu dibawanya kembali ke tempat tidur.
Lisya mengalungkan tangannya erat pada leher Gathan. Sedangkan kakinya melingkar pada pinggang Gathan. Setelahnya, keduanya benar-benar beristirahat karena merasa lelah.
To Be Continued đ¤
Â
- Annyeong pembaca yang budiman đ-
Marhaban ya Ramadhan readers. Selamat menjalankan ibadah puasa. Hayo siapa yang sudah bolong puasanya?? Heheh
__ADS_1
-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! đ supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --
Salam cium dan peluk jauh. đ¤