
** Apartemen Belmont Residence **
Sesuai perintah Gathan, saat ini Teo telah sampai di apartemen milik bosnya. Jarak dari mansion ke apartemen memang lebih dekat, dibanding dengan tempat tinggalnya. Untuk itu Teo menyetujui perintah Gathan, karena saat ini ia benar-benar sangat lelah setelah melakukan perjalanan bisnisnya dengan Gathan. Rasanya ia ingin segera merebahkan tubuhnya untuk menghilangkan rasa kantuknya.
Dengan segera Teo menuju lift terdekat dari tempat mobilnya terparkir. Tak berapa lama, pintu lift terbuka setelah ia menekan tombol naik pada lift itu. Teo melangkahkan kakinya untuk segera masuk kedalam lift.
Namun baru satu langkah kakinya masuk, ia dikagetkan dengan pemandangan yang tidak seharusnya, namun enak dipandang. (Entah maksud othor piye π€).
"Alamakjan!!!!!" Teo terperanjat kaget saat melihat sosok perempuan sedang berjongkok didalam lift dengan mata yang terpejam, dan bibirnya dimonyongkan.
"Ehh, kayak gak asing sama perempuan ini." Gumam Teo pelan sambil berfikir saat ia melihatnya dari dekat, tubuhnya sedikit menunduk.
"Apa!!!!" Racau Via saat ia mendengar langkah kaki mendekatinya. Suaranya melengking, matanya menatap dengan tatapan sadis. Membuat Teo yang mendengar dan melihatnya terperanjat kaget untuk kedua kalinya. Hingga tubuhnya reflek terpental kebelakang.
"Allahuakbar.!!" Teo mengelus dadanya, karena masih syok dengan pergerakan dan suara Via yang begitu tiba-tiba.
Ya, perempuan itu adalah Via. Seperti biasa, ia baru saja pulang dari acara party malamnya. Saat ini, ia sedang dalam kondisi mabuk, sehingga tak sadar jika sudah hampir setengah jam ia tak beranjak dari dalam lift. Sedari tadi ia hanya memencet tombol lantai secara acak, tanpa berniat keluar dari lift karena ia lupa dimana letak unitnya berada.
Via terpaksa pindah ke apartemen beberapa hari yang lalu. Selain karena tak ada Lisya, juga beberapa hari yang lalu, ayahnya telah mengetahui jika selama ini putrinya hanya tinggal di kos sempit dan kumuh. Saat itu, ayahnya berniat mengunjungi Via secara mendadak karena kebetulan ada perjalanan bisnis di Jakarta. Ayahnya itu sengaja tak memberi tahu Via jika sedang ada dikota yang sama dengan putrinya, beliau hanya menanyakan jam berapa kuliahnya akan berakhir. Ayahnya sengaja menunggu Via didepan kampus hingga jam kepulangan Via tiba. Beliau ingin tahu bagaimana kelakuan putrinya itu selama hidup di Jakarta.
Tak berapa lama, ayahnya melihat mobil Via keluar dari kampus. Tanpa basa basi ayahnya membuntuti Via hingga akhirnya sampai di kos tempat Via tinggal. Betapa kagetnya saat melihat putri kesayangannya tinggal di tempat yang jauh dari kata layak menurutnya.
Dengan segera ayahnya menghampiri Via, lalu berakhir dengan ceramah dan ancaman. Ayahnya mengancam akan mencabut segala fasilitas yang diberikannya jika Via tidak segera pindah dari kos itu. Akhirnya, dengan terpaksa ia mengikuti permintaan ayahnya. Ayahnya memilih apartemen Belmont Residence karena terkenal dengan keamanan dan fasilitasnya, serta letaknya yang strategis dengan manapun. Via juga tak tahu, jika apartemennya sama dengan milik suami Lisya, karena Lisya tak pernah menyebutkan nama apartemen milik suaminya itu karena tak pernah mengingatnya sebelumnya.
"Nona Via??" Ucap Teo saat menyadari jika perempuan aneh didepannya itu adalah sahabat dari istri bosnya.
"Anda sedang apa malam -malam disini?" Tanya Teo heran, karena setahunya Via tinggal di kos dekat kampusnya.
"Ck, cerewet!. Eh tunguu,!" Via menatap Teo, kemudian berdiri dari posisinya. Berjalan gontai mendekati Teo.
Teo yang didekati mundur perlahan hingga tubuhnya menabrak pada dinding lift.
"Sepertinya kamu mirip seseorang." Via mendekatkan wajahnya sambil menyipitkan matanya.
"Aaahh, kamu mirip seperti mas cute! Ya, mas cute yang gantengnya kayak oppa korea itu. Hahahaa!" Via tertawa lebar dengan posisi tubuhnya semakin mendekati Teo.
Rupanya perempuan ini sedang mabuk. Pantas saja semakin aneh sikapnya. ckckck
__ADS_1
Gumam Teo dalam hati saat hidungnya mencium bau alkohol dari nafas Via.
"Tapi, masih ganteng mas cute aku itu. Kamu mah lewat!" Tangannya dihempaskan seperti mengusir nyamuk, dihadapan Teo.
"Nona, anda sedang apa disini?" Tanya Teo berusaha menyadarkan Via. Tangannya sedikit mendorong tubuh Via agar menjauh darinya.
"Aku??? Tentu saja aku mau pulang." Racau Via dengan senyum manisnya.
Teo yang melihat senyum manis Via, sesaat matanya tak berkedip.
"Ehemmm,, " Teo berdehem mengumpulkan konsentrasinya yang sempat hilang.
"Bukankah tempat tinggal anda bukan disini?" Tanya Teo kembali sambil mengalihkan pandangannya.
"Sok tau,! Aku juga tinggal disini tau!" Racau Via yang tiba-tiba tubuhnya limbung ke belakang.
"Eeehh!....." Ucap Teo,
Srak,,
Baju bagian lengan Via robek karena tarikan paksa Teo yang reflek ingin mencegah Via supaya tidak terjatuh ke belakang.
"Aduuh mampus gue, bajunya robek!" Gumam Teo pelan. Saat ini tubuh Via berada di pelukannya, karena tarikannya yang begitu keras.
"Awwww,,,! " Racau Via saat kepalanya menabrak dada bidang Teo.
"Shiit.!!!" Umpat Teo yang tiba-tiba tubuhnya menegang.
"Stop nona, apa yang anda lakukan?!" Teo mendorong tubuh Via dengan keras hingga membuat tubuh Via kembali limbung ke belakang.
Namun sialnya, Via yang kaget dengan dorongan Teo, justru menarik baju Teo sekenanya, saat tubuhnya hendak jatuh kebelakang. Sedangkan Teo yang juga sama-sama tak siap dengan tarikan Via yang mendadak, tak dapat menahan tubuhnya.
Brukkk,
Cup,
Keduanya jatuh saling tindih dengan posisi Teo diatas dan Via dibawah.
"Sial!" Umpat Teo dalam hati sambil matanya terbelalak karena tak sengaja bibirnya menempel pada bibir Via.
Ting,
Pintu lift terbuka.
__ADS_1
"Ah, maaf pak. Saya tidak lihat! Tadi saya merem kok." Seorang OB salah tingkah saat melihat pemandangan yang tidak seharusnya. Dengan segera sang OB kembali menekan tombol lift, agar segera menutup kembali.
Teo hanya mematung saat menoleh kearah sumber suara tadi. Sesat matanya hanya berkedip-kedip tanpa ada pergerakan sama sekali pada tubuhnya.
"Uuukk,, uukkkk,,," Suara Via menyadarkan Teo yang tadi masih mematung.
"No.. No. Noo.!!" Teo segera berdiri dari posisinya karena tahu jika Via ingin muntah. Ia tak ingin menjadi korban seperti bosnya dulu.
"Ueeekkk,, uuekkkk, uuuuk!" Via memuntahkan segala isi perutnya pada sepatu Teo, setelah ia berhasil duduk dari posisinya.
"Oh god! Perempuan ini!" Umpat Teo sambil mengeratkan giginya karen begitu kesal.
"Haik, heheheh" Via bersendawa setelah puas mengeluarkan isi perutnya. Wajahnya tersenyum tak bersalah saat mendongak ke arah Teo.
"Nona!! Hah, anda..!!" Teo semakin mengeratkan giginya. Kakinya ia goyang-goyangkan agar kotoran dari isi perut Via segera enyah dari sepatunya.
Ting,
Pintu lift kembali terbuka. Karena sudah sampai di lantai 21. Dengan segera Teo keluar dari lift, karena tak ingin semakin sial jika bersama perempuan aneh itu. Karena bukan baru pertama kali ini dirinya terkena sial saat bersama Via.
Dengan langkah sedikit pincang, karena jijik melihat salah satu sepatunya yang sangat kotor dan bau, Teo meninggalkan Via yang masih terduduk disana sambil cengar-cengir tak bersalah.
Namun, baru beberapa langkah ia meninggalkan lift. Ia berhenti, memikirkan nasib Via yang tak mungkin ia tinggalkan begitu saja saat kesadarannya masih setengah-setengah. Ia takut jika Via dalam bahaya jika dibiarkan sendirian disana. Ia yakin pasti banyak keong racun yang akan memanfaatkan kondisi Via.
"Hah,,,, Ck Nona,,, Kenapa anda... Hissh!!" Racau Teo sambil mengacak rambutnya kasar.
Dengan cepat Teo berlari ke arah lift, karena melihat pintu lift akan tertutup. Tangannya ia julurkan di tengah-tengah pintu lift, supaya kembali terbuka.
"Eh, mas cute! Kamu ada disini juga?" Racau Via sambil cengar-cengir.
"Eh, aku terbang! Hahah" Racau Via kembali saat tubuhnya digendong ala bridal oleh Teo.
Terpaksa Teo menggendongnya, karena akan membutuhkan waktu lama jika meminta Via untuk berjalan sendiri. Keburu pintu lift akan menutup kembali pikirnya.
Lalu Teo segera keluar dari lift, dan menuju unit milik Gathan. Karena sudah sering Teo keluar masuk unit itu, ia sudah hafal dengan kode passwordnya yang jarang diganti oleh Gathan sang pemilik sekaligus bosnya.
To Be Continued π€
Β
- Annyeong pembaca yang budiman π-
Dasar si Via gak ada akhlak ya. Tak ada Gathan, Teo pun jadi. Kedua babang tampan jadi tempat pembuangan isi perut Viaπ
__ADS_1
-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! π supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --
Salam cium dan peluk jauh. π€