
Setelah satu jam lebih, pesawat jet pribadi milik Gathan telah mendarat dengan sempurna di Bandara Juanda. Dengan segera Lisya meminta Gathan untuk mengantarkannya pada rumah sakit tempat ayah Hasan dirawat. Ia bangun dari tempat tidur dengan terburu-buru, kemudian berlari menuju pintu kamar. Lalu tidak sengaja tubuhnya menabrak tembok sebelah pintu kamar karena langkahnya yang masih gontai. Saat hendak melangkah kembali menuju pintu kamar, tubuhnya langsung digendong kembali oleh Gathan. Gathan tak kuasa saat melihat Lisya berjalan seperti itu.
Lisya yang pikirannya sudah tidak fokus, sama sekali tak menolak saat Gathan menggendongnya. Kemudian ketiganya turun dari pesawat dan segera menemui Rudi yang sudah standby menunggu kedatangan mereka untuk mengantarkan ke rumah sakit xxx Surabaya.
Setelah empat puluh menit menempuh perjalanan, akhirnya mobil yang dikendarai Rudi sampai di rumah sakit xxx tempat pak Hasan dirawat.
Lisya yang sudah tidak tenang sejak dari pesawat, dengan segera membuka pintu mobil lalu berlari ingin menuju tempat informasi dengan langkah kaki yang masih gontai. Gathan yang melihat Lisya yang sudah menjauh darinya, ikut berlari menyusul Lisya.
"Aira, tunggu.. Kamu mau kemana?" Ucap Gathan saat berhasil meraih tangan Lisya.
"Aku mau lihat ayah kak. Huhuhu" Tangis Lisya pecah.
"Iya ini kita kan mau lihat ayah kamu." Ucap Gathan sambil memeluk Lisya agar kembali tenang.
"Tubuhmu itu masih lemas, jangan berlari seperti itu. Atau kamu aku gendong lagi.?" Tanya Gathan. Kemudian Lisya menggeleng.
"Yasudah kita jalan bareng aja ya, Rudi yang tahu dimana ruang operasi ayah kamu." Jelas Gathan lalu dijawab anggukan oleh Lisya.
Kemudian, mereka berjalan ke ruang tunggu operasi. Sesampainya di sana, Lisya disambut oleh ibu Umaira yang terlihat sangat lemas. Ibu Umaira sempat pingsan dirumahnya saat mendengar kabar dari ibu Arofah. Nino yang melihat ibunya pingsan segera membopongnya didalam kamar. Tak lama, setelah ibu Umaira sadar, keduanya dijemput oleh Ari atas perintah Rudi.
" Ibuk.." Ucap Lisya sambil berlari ke arah ibunya.
"Airaa anakku. huhuhuhu" Tangis ibu Umaira pecah saat tubuhnya dipeluk erat oleh Lisya.
"Gimana ayah buk?? Ayah baik-baik aja kan?" Tanya Lisya karena masih belum bisa menerima kenyataan.
"Kita doakan semoga operasi ayahmu lancar ya nak." Ucap ibu Umaira saat setelah mengurai pelukannya.
"Ini den Gathan nak?" Tanya Ibu Umaira saat matanya melihat ke arah Gathan yang berdiri disamping Lisya.
" Iya bu Umaira, Saya Gathan." Jawab Gathan sambil mencium punggung tangan ibu Umaira.
__ADS_1
"Masha Allah.. Den Gathan sudah dewasa. Ibu pangling." Ucap ibu Umaira kembali sambil mengelus lengan Gathan.
"Iya bu." Jawab Gathan sambil tersenyum.
Ckleek..
Pintu ruang operasi terbuka, tak lama dokter Roy keluar dari ruang itu.
"Dokter, bagaimana kondisi ayah saya?" Tanya Lisya dengan panik saat ia telah berada didepan dokter Roy.
"Alhamdulillah operasi pak Hasan berjalan dengan lancar. Tapi ... akibat pendarahannya itu, membuat kesadarannya belum bisa kembali dengan cepat. Serta, beberapa bagian tubuhnya seperti tangan, kaki, dan bibirnya mengalami kelumpuhan sebagian karena terkena gejala stroke yang disebabkan oleh pendarahan itu ." Jelas dokter Roy.
"Ya Allah, ibuu.. Ayah bu." Ucap Lisya sambil memeluk Ibu Umaira saat mendengar penjelasan dari dokter Roy.
"Dok, Jika sementara berarti bisa pulih kembali ya dari kelumpuhannya?" Tanya Gathan.
"Oh Pak Gathan? Bisa pak, dengan terapi. Tapi untuk saat ini, kami fokus pada kesadaran beliau terlebih dahulu." Jawab dokter Roy yang sudah mengenal Gathan.
"Baik pak, saat semuanya sudah stabil, akan saya pindah ke rumah sakit aaa."
Ya, dokter Roy adalah salah satu dokter bedah saraf senior yang terbaik di Surabaya. Ia bekerja pada rumah sakit aaa tempat dimana Gathan menjadi pemegang saham terbesar di rumah sakit itu. Jadi tidak heran jika dokter Roy mengenal Gathan.
Tidak lama kemudian, pak Hasan dipindahkan pada ruang rawat inap VVIP yang diikuti oleh semua orang yang ada disana.
Lisya duduk disamping brankar pak Hasan. Air matanya tiada henti membasahi pipi mulusnya karena melihat sang ayah yang masih belum sadarkan diri. Sedangkan Gathan berdiri disamping Lisya dengan tatapan sendunya. Ibu Umaira juga duduk di samping sisi lainnya, tangannya mengelus tangan suaminya itu dengan lembut. Sedangkan Nino berdiri disamping ibu Umaira dengan mata yang berkaca-kaca karena melihat ayahnya yang terbaring lemah.
Ibu Arofah telah diantar pulang oleh Ari menggunakan mobil Rudi. Sedangkan Teo dan Rudi masih setia menunggu diluar kamar tempat dimana pak Hasan dirawat.
Gathan yang melihat Lisya dan keluarganya bersedih, membuat hatinya ikut teriris. Karena mau bagaimana pun juga, keluarga itu telah berjasa dikehidupan masa lalunya. Terutama pak Hasan yang dulu selalu menjadi pelindungnya saat keluarganya sedang terpuruk. Sedangkan Lisya menjadi penghiburnya disaat dirinya merasa sepi dan bersedih.
Dada Gathan bergemuruh, saat melihat Lisya menangis tiada henti. Seakan tak rela jika air mata itu keluar. Seketika rasa ingin menjaganya tumbuh dalam benaknya. Entah perasaan apa yang saat ini ia rasakan terhadap Lisya. Namun satu hal yang Gathan ketahui, yaitu rasa peduli dari sang kakak terhadap adik kecilnya yang dulu pernah mengisi hari-harinya.
__ADS_1
Gathan ingin menjadi sosok yang dapat diandalkan oleh Lisya dan juga keluarganya disaat mereka sedang terpuruk seperti halnya yang dulu pernah mereka lakukan terhadapnya, sebagai bentuk balas jasa atas kebaikan keluarga itu di masa lalu.
Gathan izin keluar dari ruangan itu, karena ingin menelepon seseorang.
Ceklek.
"Bos, anda mau istirahat di hotel sekarang?" Tanya Teo yang juga khawatir jika bosnya akan kelelahan. Mengingat hari sudah malam.
"Tunggu, sebentar lagi." Ucap Gathan kemudian berjalan menjauh dari Teo dan Rudi.
"Hallo Dad, Bisa daddy ke Indonesia sekarang??" Ucap Gathan saat sambungan teleponnya mendapat jawaban.
Ya, seseorang yang ditelepon Gathan adalah daddy Barra yang sedang berada di Amerika.
"Dad, ada kabar buruk mengenai kondisi pak Hasan." Tutur Gathan.
Daddy Barra sebelumnya pernah diingatkan kembali tentang pak Hasan dan keluarganya oleh Gathan saat sehari setelah ia berkunjung pada panti itu. Betapa senangnya saat putranya kembali dipertemukan dengan keluarga itu. Daddy Barra sangat antusias mendengarkan cerita Gathan saat itu, bahkan dirinya ingin berkunjung ke Indonesia saat semua urusannya di Amerika selesai hanya untuk menemui mantan supir yang sudah dianggapnya sebagai keluarga itu.
"Dad,, Aku juga ingin melamar Aira disaat pak Hasan sudah sadar. Jika perlu aku ingin langsung menikahinya." Ucap Gathan menggebu-nggebu.
Daddy Barra yang tahu jika putranya memiliki statement tidak akan pernah menikah sejak dulu, merasa sangat bahagia. Serasa ada keajaiban yang terjadi pada putra semata wayangnya itu. Namun disisi lain, ia juga sangat sedih saat mendengar tentang kondisi sang mantan supirnya. Dengan segera daddy Barra meninggalkan segala urusannya yang ada di Amerika. Kemudian memberikan perintah kepada uncle Jo untuk mempersiapkan penerbangannya ke Indonesia hari itu juga.
To Be Continued đ¤
-- Annyeong pembaca yang budiman đ--
- Akhirnya Gathan minta dikewongin! đ
-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! đ supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --
Salam cium dan peluk jauh. đ¤
__ADS_1