GILA! TAPI AKU CINTA!

GILA! TAPI AKU CINTA!
Kamu Harus Jadi Milikku!


__ADS_3

"Sya, yuk bareng-bareng ke studionya! Siang ini juga kakak loe yang kemarin bakal ke studio kan?" Ajak Bram kepada Lisya saat kelasnya telah usai.


Bram mengetahui dari Bela jika client VVIP nya itu akan melakukan pemotretan yang sempat tertunda kemarin.


"Ehh.. I-iyaa Bram." Lisya segera berjalan keluar kelas mengikuti Bram.


"Via kemana Sya?" Tanya Bram kembali saat keduanya berjalan beriringan menuju parkiran motor yang searah dengan halaman depan kampus.


Lisya tidak memberitahu Bram, jika ia akan dijemput oleh Gathan.


"Tadi bilang sama gue, kalo mau nyalon sama si anak manajemen b." Jelas Lisya, sedangkan kelas mereka manajemen A.


"Ha? berarti gaikut matkul terakhir dong ini tadi?" Tanya Bram terkejut karena tidak menyadari jika Via tidak ada dikelas saat matkul terakhir.


"Ho oh. Dia nekat berangkat lebih awal, supaya pulang nya enggak terlalu malem." Jelas Lisya


"Lah, tumben banget tu anak takut pulang malem." Ucap Bram tak percaya.


"Iyaa, soalnya sekarang di kosan kita ada peraturan baru, yang memberlakukan jam malam. Jadi gak boleh keluar terlalu malam ataupun terima tamu malam-malam." Jelas Lisya


"Wahh, kok bisa ada aturan kayak gitu sekarang? bukannya ibu kos loe orangnya loss banget ya?" Tanya Bram, karena ia juga biasanya main ke kos Lisya dan Via bareng beberapa teman lain untuk nugas sampai malam, dan itu tak dipermasalahkan oleh ibu kosnya.


"Hah.. Entahlah. Gue belum sempat ketemu sama bu Rodiah. Jadi belum sempat tanya soal itu deh. Tapi ada baiknya juga sih sebenarnya, cuma yaa, kita jadi gabisa nugas bareng disana sampai malam." Tutur Lisya sambil melihat hpnya bingung, karena ia lupa tak meminta nomor Gathan terlebih dahulu saat keluar dari mobil tadi.


"Yaaahhh ga seruu ih.! Kan waktu kita cuma pas malam aja. Terus kalo ada tugas kelompok gimana Sya? Ogah gue kalo enggak satu kelompok sama loe." Rajuk Bram sambil menggoyang lengan Lisya.


"Sekali lagi tangan itu nangkring di lengan mulus itu, aku pastikan tangan itu tak akan bisa memotret lagi.!" Suara bariton itu memecah perbincangan keduanya. Sontak membuat Bram melepaskan pegangannya pada lengan Lisya.


"Ha..?? Bos gi.... Ahh maksud aku kak Gathan?!" Ucap Lisya terkejut karena ternyata Gathan sudah berada di depannya.


"Kenapa? kamu kaget ternyata aku memergokimu bermesraan dengan keong racun ini!?" Jawab Gathan dengan tatapan tajamnya kepada Bram.


"Apa?? Keong racun?? Maksud anda saya??" Tanya Bram yang tak habis pikir dengan client VVIP nya itu.


"Memangnya ada laki-laki lain disamping dia selain kamu?!" Jawab Gathan enteng.


"Wah,, bisa-bisanya anda menyebut saya keong racun! Memangnya apa yang saya lakukan?" Tanya Bram kembali.


"Ciiih, pura-pura hilang ingatan! Kamu lupa bagaimana tangan kamu nangkring di lengan dia? dan bagaimana kemarin kamu menikmati pose seksinya?" Ucap Gathan dengan geram.


"Bramm,, cukup!" Ucap Lisya mengingatkan sambil menggelengkan kepalanya karena tahu jika Gathan tidak akan bisa dilawan.


"Hah.. Dasar.!! Cuma pegang begitu saja! Lagi pula yang kemarin itu sudah jadi pekerjaan saya!. Kalau saya keong racun? bagaimana dengan anda? Yang main gendong teman sekaligus karyawan saya saat dia masih bekerja? Memang anda siapanya? Pacar? Suami?? Bukan kan?!" Ucap Bram yang berhasil membuat Gathan emosi.

__ADS_1


"Apa!! Asal kamu tau, aku adalah kakaknya!" Jelas Gathan dengan wajah yang menahan amarah. Entah mengapa, jika berhubungan dengan Lisya ia dengan mudah tersulut emosi.


"Hanya 'kakak' di masa lalu kan? Kalian bahkan tidak ada hubungan darah sama sekali.! Jadi sama halnya anda tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Lisya! Kenapa anda begitu posesif kepadanya?! Anda itu tidak ada hak terhadap Lisya !" Ucap Bram dengan penuh penekanan, sambil tersenyum sinis.


"Br*ngsek!! Berani sekali kamu!" Ucap Gathan yang sudah tak dapat menahan emosinya.


Bugh!


Gathan memukul wajah Bram sembarangan dengan sangat keras, sehingga membuat Bram jatuh tersungkur di tanah.


"Aaaahhhh..!! Bram!" Teriak Lisya karena terkejut dengan apa yang terjadi, sontak Lisya menghampiri Bram yang masih tersungkur di tanah itu.


"Ya ampun, darah!" Ucap Lisya saat melihat darah keluar dari sudut bibir Bram. Membuat Lisya semakin panik sambil reflek memegang bibir Bram.


Mahasiswa dan mahasiswi yang lewat disekitar mereka sungguh terkejut melihat kejadian yang menegangkan itu. Mereka penasaran , mengapa mahasiwa dan mahasiswi famous di kampus nya itu saling bersitegang, apalagi ada laki-laki tampan yang tiba-tiba memukul Bram sang mahasiwa famous dikampus itu. Ya, Bram dan Lisya memang famous di kampusnya. Karena tentu berkat ketampanan dan kecantikan mereka. Selain itu, Bram juga dikenal sebagai mahasiswa yang mandiri dan sukses karena telah memiliki usaha sendiri yang sudah terkenal. Sedangkan Lisya juga dikenal sebagai mahasiswi yang mandiri, serta pintar. Hal itu terbukti, jika Lisya sering mendapatkan beasiswa dari kampusnya.


Melihat Lisya yang khawatir dengan Bram, apalagi menyentuh bibirnya dengan lembut membuat Gathan semakin geram. Tangannya mengepal erat, dadanya bergemuruh hebat. Pikirannya sudah kalap.


"Aira! Lepaskan tanganmu dari bibir itu!" Teriak Gathan sambil menghampiri Lisya yang sedang terduduk membantu Bram.


"Cukup kak!!!!! Hentikan semua tingkah anehmu itu! Kamu telah melukainya! Kamu lihat ini!" Ucap Lisya yang tak kalah emosi karena tingkah laku Gathan yang menurutnya sudah sangat keterlaluan.


"Kamu membelanya?? Kamu tahu, dia itu pantas menerima bogeman itu akibat ucapannya yang kurang ajar!" Ucap Gathan sambil menarik tangan Lisya agar segera menjauh dari Bram.


"Oh, jadi kamu ingin kita ada hubungan? Oke! kalau kamu ingin buat aku mempunyai hak lebih kepadamu, Akan aku kabulkan!"


"Kamu harus jadi milikku!! Menikahlah denganku!!" Teriak Gathan ditengah kerumunan mahasiswa dan mahasiswi yang ada di sana.


"Bos gila!!!" Teriak Lisya sambil memanggil Gathan dengan sebutan khasnya karena sangat geram.


"Jangan bercanda di situasi seperti ini!" Ucap Lisya kembali.


"Kali ini aku tidak bercanda Aira! Didepan mahasiswa dan mahasiswi disini, Aku minta kamu menikahlah denganku! Supaya keong racun itu tidak akan bisa menyentuh mu.!" Ucap Gathan dengan lantang agar semua orang disekitarnya bisa mendengar perkataannya.


Prok .. Prok.. Prok...Prok


Suara tepuk tangan dari beberapa mahasiswa/i yang baru saja datang karena mendengar ucapan Gathan tanpa tahu cerita sesungguhnya, membuat ketegangan diantara mereka bertiga sesaat sirna. Mahasiswa/i itu menganggap bahwa laki-laki tampan yang berdiri disamping Lisya itu sangatlah gentle karena dengan berani dan lantangnya melamar sang bunga kampus mereka di khalayak umum.


"Cuiwiitttttt terima aja lamarannya!" Teriak beberapa mahasiswa/i disekitar mereka.


"Hah..!! Kamu memang benar-benar ya!! Bikin kita berdua malu!' Ucap Lisya lalu menghampiri Bram yang sudah berdiri.


"Sekali kamu melangkahkan kakimu mendekatinya, Akan aku hancur kan keong racun itu!" Ancam Gathan.

__ADS_1


"Bos gilaaa!!" Teriak Lisya tanpa memperdulikan sekitarnya.


"Bos... Bos Gathan, Hah.. hah.. Gawat.. Ada kabar buruk mengenai kondisi pak Hasan, ayahanda nona Lisya bos!" Ucap Teo yang tiba-tiba datang, dengan nafas yang sedikit tersengal akibat berlari menghampiri Gathan.


"Apa kamu bilang? Ada kabar apa?" Tanya Gathan terkejut.


Lalu kemudian Teo membisikkan sesuatu ditelinga Gathan.


"Kak Teo, ah Bango...! Aku dengar tadi kamu nyebut nama ayahku? Memangnya ada kabar buruk apa tentang ayahku?" Tanya Lisya yang langsung menghampiri Teo dengan panik, karena masih mendengar samar ucapannya tadi.


"Ikut denganku sekarang juga!" Gathan menarik tangan Lisya karena terkejut dengan kabar yang disampaikan oleh Teo.


"Tungguu, memangnya ada apa dengan ayahku?" Lisya masih menarik tangannya karena ingin penjelasan.


"Nanti setelah dipesawat , akan aku jelaskan! Sekarang ikut lah denganku!" Jawab Gathan.


"Hah..?? Pesawat? Memangnya kita mau kemana?" Tanya Lisya yang semakin terkejut dengan jawaban Gathan.


"Hah... Tuhan, kenapa keras kepala sekali perempuan ini!" Gerutu Gathan.


"Aahhhhh, Turunin Bos gi,,, Eh Kak.!" Teriak Lisya saat tubuhnya sudah digendong paksa oleh Gathan ala bridal style.


"Gimana dengan Bram??" Tanya Lisya disela teriakannya. Ia masih merasa bersalah dengan teman sekaligus bos-nya itu.


"Kondisi ayahmu jauh lebih penting ketimbang keong racun itu! Teo.. Siapkan penerbangan kita sekarang juga!" Gathan sudah berjalan meninggalkan Bram dan mahasiswa/i yang ada di sana.


"Baik bos!" Ucap Teo


"Ayaah?? kenapa dengan kondisi ayah??" Tanya Lisya dengan wajah yang pucat karena khawatir. Namun Gathan hanya diam sambil terus menggendong Lisya dan berjalan menuju mobil dengan langkah cepat karena tak dapat dipungkiri, ia juga mengkhawatirkan sang mantan supirnya itu.


"Maaf pak Bram, pemotretan hari ini terpaksa kami batalkan kembali, karena ada kondisi darurat mengenai ayah nona Lisya. Kami permisi!" Pamit Teo, kemudian menundukkan badannya kepada Bram.


"Ada apa dengan ayah Lisya??? Wooyyy???!" Teriak Bram namun Teo sudah terlanjur menjauh darinya.


To Be Continued 🖤


 


-- Annyeong pembaca yang budiman 💕--


Wah,, Gathan kalo ngajak nikah, kayak ngajak main yaa!! Ga pake mikir 🙈 Trus kira-kira ada apa dengan ayah Hasan ya?


-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! 🙏 supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --

__ADS_1


Salam cium dan peluk jauh. 🤗


__ADS_2