
Keesokan Harinya.
Karena merasa berat pada bagian perutnya, Lisya terbangun dari tidurnya. Ia membuka matanya yang masih sangat lengket untuk melihat beban apakah yang berada diatas perutnya itu. Betapa terkejutnya si Lisya saat melihat tangan kekar Gathan melingkar manis diatas perutnya. Karena seingatnya, sebelum tidur posisinya tidak seperti itu. Keduanya memang dalam posisi miring dan saling pandang, namun tak saling bersentuhan, apalagi berpelukan.
Saat ini Lisya masih dalam posisi terlentang dan tak bisa berkutik, karena tangan kekar Gathan begitu berat untuk ia pindahkan. Karena Lisya ingin segera ke kamar mandi, perlahan namun pasti Lisya berusaha mencoba mengangkat tangan kekar itu kembali, agar tak membangunkan Gathan yang masih terlelap dalam tidurnya.
Saat tangan kekar itu berhasil terangkat dari perutnya, Lisya bangun dari tidurnya dan hendak turun dari kasur. Namun belum sempat Lisya menurunkan kakinya dari kasur, tiba-tiba tangannya ditarik Gathan dengan cepat. Sehingga Lisya terjatuh pada pelukan Gathan yang masih dalam posisi tidur. Membuat Lisya terkejut dan salah tingkah.
"Ehhhh,, Kak.. Ka-kak.??" Ucap Lisya pelan karena takut mengganggu Gathan yang terlihat masih memejamkan matanya.
"Kamu mau kemana?" Ucap Gathan dengan suara serak khas bangun tidur sambil mata masih terpejam dan tangannya semakin erat memeluk Lisya.
"A-aku mau ke kamar mandi kak. Mau pipis." Jawab Lisya polos.
"Hemmmmm,, tunggu 10 detik lagi." Ucap Gathan yang tak beranjak dari posisinya.
"I-iya kak." Jawab Lisya pasrah. Karena ia tidak ingin membantah Gathan yang sekarang sudah menjadi suaminya.
Cup.
"Good Morning. Have a nice day istriku Qaleesya El Barra." Gathan mengecup puncak kepala Lisya yang saat ini berada dibawah ceruk lehernya. Matanya masih terpejam karena terasa masih lengket.
"Morning. Have a nice day too su-suamiku Gathan Galuh El Barra." Jawab Lisya malu-malu saat memanggil Gathan dengan sebutan suami.
"Akhirnya setelah belasan tahun, kamu mengingat namaku, bahkan nama lengkapku." Ucap Gathan dengan bahagia.
"Mulai sekarang, aku minta kegiatan ini akan menjadi ritual wajib kita setiap bangun tidur ya Ra. Lebih bagus lagi jika ditambah saat sebelum tidur. Hehehe." Pinta Gathan yang sudah mulai membuka matanya. Namun posisinya masih memeluk Lisya.
"Iya kak. Boleh." Jawab Lisya dengan pipi yang memerah karena malu dengan permintaan Gathan.
"Aku ingin supaya hubungan kita semakin dekat dan jelas." Jelas Gathan.
__ADS_1
"Aku mengerti kak." Jawab Lisya sambil mendongakkan kepalanya melihat ke arah Gathan dan tersenyum memperlihatkan gigi rapihnya.
Entah mengapa bagi Gathan, senyuman itu terlihat sangat manis. Bahkan menurutnya wajah polos khas bangun tidur itu semakin menambah kecantikan Lisya. Ditambah bibir mungil yang terlihat merah merona membuat dirinya semakin gemas dan ingin melahapnya.
"Kenapa kamu terlihat sangat cantik sayang." Ucap Gathan sambil menatap lekat mata Lisya.
"Apalagi bibir mungil ini. Kenapa begitu menggoda?" Ucapnya lagi yang kemudian matanya berganti menatap bibir mungil Lisya dengan penuh arti.
Melihat Lisya yang tak menjawab perkataannya namun justru menatapnya lekat, membuat Gathan yang memang sudah tergoda, dengan cepat mencium bibir mungil itu. Dan tanpa Gathan duga, Lisya justru membalas ciumannya tanpa harus menunggu lama. Sehingga membuat Gathan semakin menggencarkan aksinya dengan mulai mel*mat bibir mungil itu dengan lembut yang semakin lama berubah semakin menuntut karena keduanya terbawa suasana. Pertukaran saliva pun tak terhindarkan, suara cecapan kedua bibir terdengar di seluruh penjuru ruangan.
Setelah beberapa menit, Gathan melepaskan ciumannya. Karena tahu jika Lisya sudah mulai kehabisan nafas. Serta ia juga tak ingin kehilangan kendali jika terlalu lama terbawa gejolak gairah yang semakin memanas. Apalagi saat ini ia sudah merasakan sesak namun bukan nafasnya dibawah sana.
Sedangkan Lisya, dengan cepat menghirup nafas sebanyak-banyaknya. Pipinya kembali memerah, dadanya berdegup kencang. Untuk sesaat, matanya saling pandang dengan Gathan. Lalu dengan cepat ia bangun dari pelukan Gathan yang sudah melonggar dan segera turun dari kasur untuk menuju ke kamar mandi.
"Aku kekamar mandi dulu kak. Permisi." Ucap Lisya yang kemudian berlari kecil ke arah kamar mandi sambil merutuki kebodohannya barusan.
"Iya, hati-hati. Jangan lari, nanti kepleset." Jawab Gathan sambil tersenyum karena gemas melihat tingkah istrinya itu. Ia juga bahagia karena Lisya membalas ciumannya dengan cepat tanpa harus dipaksa.
"Hah, Apa benar ini rasanya cinta??" Gumam Gathan pelan sambil terus menatap punggung Lisya yang saat ini sudah masuk dalam kamar mandi.
Mereka berdua sarapan didalam kamar hotel, karena Gathan tidak ingin terganggu dengan kebisingan diluar. Serta ia tidak ingin Lisya merasa tidak nyaman jika sarapan di restoran hotel itu, karena pasti akan banyak pelayanan hotel yang akan setia menunggunya saat sarapan berlangsung.
Setelah sarapan usai, keduanya segera bersiap untuk meninggalkan hotel untuk mampir menjenguk ayah Hasan sebelum berangkat ke bandara, karena Gathan diberi tahu oleh dokter Roy, jika lusa ayah Hasan sudah diperbolehkan pulang.
** Rumah Sakit Aaa Surabaya **
Gathan dan Lisya sudah sampai di rumah sakit setelah diantar oleh Rudi yang nantinya juga akan mengantarkan ke bandara.
"Assalamualaikum" Ucap Gathan dan Lisya bersamaan saat masuk dalam ruangan ayah Hasan.
"Waalaikumsalam." Jawab Ayah dan ibu Hasan bersamaan.
__ADS_1
"Eh, pengantin barunya bapak sama ibuk to. Masuk nak" Ucap ayah Hasan sambil menggoda Gathan dan Lisya.
"Iihh, bapak apa an sih. Bagaimana keadaannya pak?" Tanya Lisya mengalihkan pembicaraan sambil mencium tangan ayah Hasan yang kemudian diikuti oleh Gathan.
"Alhamdulillah baik nak. Ayah semakin sehat. Lusa ayah sudah boleh pulang. Nak Gathan pasti sudah diberi tahu dokter Roy kan." Jawab ayah Hasan.
"Iya yah, Kemarin dokter Roy mengirimkan pesan ke Gathan, beliau mengatakan jika lusa ayah sudah boleh pulang. Ya meski nanti masih harus kontrol secara rutin. Tapi karena saya tidak ingin ayah dan ibu bolak balik ke rumah sakit, saya meminta dokter Roy mengirimkan perawat kepercayaannya untuk datang ke rumah setiap jadwal kontrol ayah. Dan juga saya meminta satu perawat lagi khusus untuk menangani segala kebutuhan ibu Humaira untuk proses pemulihan setelah sakit kemarin." Jelas Gathan dengan tersenyum.
"Wahhh,, sebetulnya tidak perlu sampai begitu nak. Ayah dan ibu tidak ingin merepotkan nak Gathan. Kasihan juga perawatnya, nanti harus bolak balik ke rumah." Jawab ayah Hasan.
"Sama sekali tidak merepotkan yah, Sekarang ini, ayah dan ibu sudah menjadi orang tua saya. Jadi saya ingin memberikan yang terbaik untuk kesembuhan ayah Hasan dan ibu. Ayah tenang saja, perawat yang bertugas akan saya beri fasilitas yang memadai selama merawat ayah Hasan dan ibu Umaira dirumah."
"Oh ya, Saya juga sudah meminta Rudi untuk mencarikan ART yang akan tinggal di rumah ayah dan ibu. Supaya saya dan terutama Lisya, tidak begitu khawatir saat kita berdua sudah kembali ke Jakarta." Jelas Gathan yang membuat Lisya terharu dengan kepedulian suaminya itu kepada keluarganya. Untuk kesekian kalinya ia melihat bahwa Gathan sangat menyayangi orang tuanya seperti halnya orang tuanya sendiri. Terbukti, Gathan rela meninggalkan pekerjaannya yang tak kalah penting di Jakarta, selama dua pekan lebih demi ayah Hasan yang sedang sakit di Surabaya.
"Makasih ya kak." Ucap Lisya pelan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Tak perlu berterimakasih sayang." Jawab Gathan pelan sambil tersenyum dan tangannya mengusap punggung Lisya.
Setelah puas berbincang-bincang, Gathan dan Lisya pamit kepada ayah dan ibu Hasan untuk melanjutkan perjalanan ke Bandara karena waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang.
Keduanya diantarkan oleh Rudi ke Bandara. Segala perlengkapan dokumen dan lainnya yang dibutuhkan oleh Gathan dan Lisya selama honeymoon nanti sudah dipersiapkan oleh Rudi yang tentunya sesuai dengan arahan Teo di Jakarta sana.
Setelah hampir satu jam menempuh perjalanan, akhirnya keduanya sampai di Bandara Juanda. Tak lama, Gathan dan Lisya sudah berada didalam pesawat pribadi BR Group yang akan mengantarkan ke Maldives. Dan setelah menuggu beberapa menit, akhirnya pesawat yang ditumpangi Gathan dan Lisya lepas landas.
To Be Continued đ¤
- Annyeong pembaca yang budiman đ--
Heemmm,, Othor jadi pengen ikutan haminun di Maldives niih. Babang suamiiikk, ajak ayang othor ini haminun (lagi) kesono donggg, Biar gak halu ajaaa. đ
-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! đ supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --
__ADS_1
Salam cium dan peluk jauh. đ¤
Â