
"Makasih ya kak, Sudah mau bantuin aku." Lisya bergelayut manja pada lengan Gathan saat keluar dari lift menuju kamar utama mansion.
"Sama-sama sayang. Sudah seharusnya kamu bergantung padaku." Ucap Gathan bangga sambil sesekali mengecup puncak kepala Lisya.
Tak lama, keduanya sudah berada di dalam kamar. Lisya duduk santai di sofa depan kasurnya sambil bertelepon ria dengan Via. Membahas apa saja yang akan dilakukan Via saat bertemu dengan Teo.
Sedangkan Gathan fokus mengecek laporan perkembangan setiap projeknya yang tengah berjalan. Gathan duduk di kursi yang ada di dekat jendela kamar. Ya, karena adanya jadwal pemotretan tadi membuat Gathan enggan kembali ke kantor meski hari masih sore. Ia lebih memilih melanjutkan pekerjaannya di mansion, supaya bisa berduaan dengan istrinya, pikirnya. Ia begitu fokus memperhatikan laptop yang ada dipangkuannya hingga tak memperhatikan Lisya beberapa saat.
Sehingga untuk beberapa saat keduanya sama-sama sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Namun fokus Gathan teralihkan saat mendengar Lisya tertawa lepas sambil masih asyik bertelepon tanpa menyadari posisinya. Lalu mata Gathan terbuka lebar saat melihat pemandangan indah dan menggoda didepannya. Pemandangan yang terlihat menyembul dibalik rok istrinya.
Entah sejak kapan istrinya itu sudah berpindah tempat diatas kasurnya, dengan posisi terlentang dan kakinya terbuka lebar menghadap jendela kamar. Ya, dengan kata lain, goa itu mengarah tepat di depan Gathan.
Lisya masih terus berbincang sambil terus membuka dan menutup kakinya, sehingga paha mulus dan goanya yang masih terbungkus celana dal*m semakin terekspos. Gathan yang sedari tadi melihatnya semakin susah menelan salivanya. Dadanya bergemuruh, tubuhnya memanas, daann,, jangan ditanya lagi. Si selang yang berada dibawah sana juga ikutan heboh minta dikeluarkan.
Karena tak mampu lagi menahan sesuatu yang begejolak didalam tubuhnya, Gathan menutup laptopnya dan meletakkannya diatas meja. Dengan cepat Gathan berdiri dari posisinya, kemudian berjalan menghampiri sesuatu yang telah berhasil membangunkan kelakiannya.
"Aaaaa!!! Kakak?? Ngapain.!?" Teriak Lisya kaget, sambil mengangkat kepalanya. Gathan dengan cepat menarik celana dal*m milik Lisya yang sedari tadi sudah terpampang nyata.
"Eh, Sya?? Kamu kenapa?" Tanya Via panik dari seberang telepon.
"Kakak? Apa-apaan sih??" Lisya berbisik sambil mengangkat kepalanya. Tangannya menutup microphone teleponnya agar Via tak mendengar percakapannya dengan Gathan.
"Kamu harus tanggung jawab! Karena lagi-lagi memancing singa yang selalu lapar.!" Mata Gathan sudah dipenuhi kabut gairah, suaranya memberat menahan sesuatu di bawah sana. Sesuatu yang semakin nyut-nyutan saat melihat goa Lisya yang polos.
"Eh, Aku memancing apa kak??" Bisik Lisya lagi.
"Mmmhhh, Kak! Aku masih telepon." Gathan mulai bermain di goa Lisya. Lisya berusaha menyadarkan Gathan.
"Lanjutkan teleponannya sayang. Aku tak akan mengganggumu." Gathan semakin menenggelamkan wajahnya dibawah sana.
"Tak menganggu bagaimana,,,,,,, mmmmhh." Lenguhan Lisya lolos.
"Aahh,, sshhh kakkh." Lisya mendesah, tangannya reflek meremas pada seprei saat Gathan semakin gencar bermain di goa Lisya. Handphone yang tadi dipegangnya, terlepas begitu saja.
"Ehh kamu ngapain sih Lisya." Suara Via masih terdengar dari seberang teleponnya.
"Syaa?? Lisyaa???" Via semakin mengeraskan suaranya.
"Kakhh, Tungguhhhh.. Aahh." Lisya mengambil ponselnya, karena mendengar suara Via.
"Sya? Kamu ngapain sih?? Ah em ah em.! Eh, Tunggu? Jangan bilang kamu lagi.??" Via baru menyadari dari desahan yang keluar dari mulut Lisya.
"Heheh, Sorry Vi. Mmmhhh.. Ada serangan fajar mendadak, sshh ahhhh. Ntar di lanjut lagiiihh yahhh." Suara Lisya semakin tersengal, desahannya kembali lolos saat Gathan mulai mengarahkan senjatanya di bawah sana. Ya, Gathan sudah tak dapat menahannya. Apalagi merasakan jika goa itu sudah sangat basah. Gathan dengan cepat menyerang goa itu dengan sangat bergairah.
"Sialan lo! %}{}{{{\=!!" Berbagai umpatan diucapkan Via sebelum benar-benar menutup teleponnya.đ
Sedangkan Lisya sudah tak memperdulikannya. Keduanya melanjutkan pergumulan panasnya hingga beberapa kali puncak. Entah berapa ronde, hanya mereka yang tahu. đ¤
-
** Apartemen Belmont Residence **
"Hah, Sialan tu si Lisya.! Bisa-bisanya skidibabab pas lagi teleponan sama aku! Benar-benar ya tu anak! Mesum!" Racau Via sambil berjalan mondar mandir untuk menetralkan detak jantungnya akibat suara luknut Lisya. đ
"A-apa aku bakal seperti itu juga kalau sudah nikah?? Apa bakal se mesum itu?" Via menggelengkan kepalanya. Kemudian berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh dan otaknya yang kotor.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, tandanya Teo sudah pulang dari kantor. Ya, setelah mengantarkan Gathan, Teo kembali ke kantor karena ada pertemuan dengan beberapa klien. Sesuai perintah Gathan, Teo pulang ke apartemen milik bosnya itu. Dengan langkah gontai, Teo menuju ke unit teratas.
Kali ini ia benar-benar merasa lelah, karena pinggang dan kepalanya nyut-nyutan akibat insiden di studio tadi siang. Dengan segera Teo masuk kedalam apartemen karena ingin segera mandi dan merebahkan tubuhnya.
Namun, langkahnya terhenti saat mendengar pergerakan seseorang di area dapur. Dengan penuh kewaspadaan, Teo berjalan mengendap-endap tanpa menyalakan lampu untuk memastikan siapa orang asing yang telah berani masuk apartemen bosnya. Dalam hatinya bertanya-tanya bagaimana bisa apartemen mewah bosnya itu kebobolan maling? Padahal dia tahu, keamanan apartemen milik bosnya itu sangatlah ketat. Bahkan tidak ada orang lain yang mengetahui kode password pintunya selain dirinya dan bosnya tentunya.
Teo mengambil tongkat golf yang ada di ruang keluarga untuk berjaga-jaga. Lalu langkahnya terhenti saat melihat bayangan yang mendekatinya dari arah dapur.
Teo bersembunyi di balik dinding pembatas, lalu dengan cepat ia memukulkan tongkat golf yang dipegangnya ke arah tengkuk orang asing itu.
Bukk,
__ADS_1
"Awww!!! Teo memukulnya dengan lumayan keras. Sehingga membuat orang asing itu terjatuh di lantai.
"Suara perempuan??" Gumam Teo pelan.
"Sepertinya tidak asing dengan suara itu?" Teo menyalakan lampu disekitarnya.
"Hah???? Nona Via??!!!" Teo terbelalak saat melihat Via tergeletak di lantai.
"No-nona?? Anda masih bisa dengar saya??" Teo menepuk pelan pipi Via.
"Hmmmmm,, Mas cute?? Maaf...... yang tadi....." Suara Via terdengar begitu lemah, lalu benar-benar kehilangan kesadarannya.
Teo panik, dengan segera ia menggendong tubuh langsing Via kedalam kamar tamu yang sempat dipakai Via saat mabuk.
Teo mengambil kotak P3K yang ada di dalam kamar itu, lalu membalurkan minyak angin disekitar leher dan tengkuk Via. Tak lupa minyak angin itu juga ia arahkan ke hidung Via supaya cepat sadar.
Beberapa menit kemudian, perlahan Via membuka matanya. Dahinya mengerut karena merasakan pusing di kepalanya. Terutama tengkuknya, yang terasa begitu nyut nyutan.
Tangannya memegang kepalanya sambil mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Ia merasa jika tidak asing dengan tempat itu, pikirnya.
"Nona,? Nona Via??" Panggil Teo dengan wajah bersalahnya.
"Hah, mas cute! Eh mas Teo?? Awww!" Via memekik kesakitan saat berusaha bangun dari tidurnya secara tiba-tiba karena terkejut melihat Teo sudah dihadapannya.
"Nona, jangan bangun dulu. Tidurlah. Anda pingsan tadi." Teo menidurkan tubuh Via kembali dengan hati-hati.
Meski kesadarannya belum sepenuhnya kembali, namun jantungnya sangat cepat merespon perlakuan lembut dari laki-laki imut yang dikaguminya itu. Bagaimana tidak, saat ini jantungnya berdebar, karena wajah yang imut itu begitu dekat dengannya. Pipinya merona, Via mengalihkan pandangannya.
"Apa masih sakit nona?" Tanya Teo khawatir saat melihat pipi Via memerah. Ia mengira jika saat ini perempuan itu sangat kesakitan. Tanpa sadar tangannya memegang tangan Via.
Sedangkan Via, ia semakin salah tingkah. Ia hanya menganggukkan kepalanya karena kenyataannya memang masih terasa sakit di bagian tengkuknya.
"Maafkan saya nona. Saya tidak tahu jika tadi itu nona. Saya pikir, anda itu maling. Karena setahu saya, tidak ada yang mengetahui kode password apartemen ini kecuali saya dan bos Gathan." Jelas Teo dengan tatapan bersalahnya.
"Pantas saja, tadi aku merasa seperti ada yang memukulku dari belakang." Ucap Via setelah kesadarannya benar-benar kembali. Dan detak jantungnya kembali normal.
"A-akuu emm,, i-itu ka-karena...." Via menunduk takut. Tangannya meremas bad cover yang menyelimutinya.
"Jangan takut nona. Saya tidak akan marah." Teo tersenyum manis. Ia tahu jika saat ini Via sedang ketakutan.
"A-aku mau minta maaf sama mas cute eh mas Teo atas kejadian tadi siang dan malam itu." Via tetap menunduk.
"Aku bisa masuk kesini, karena dikasih tahu kode password-nya sama Lisya. Yang tentu sudah acc suaminya ya." Terang Via dengan posisi yang sama.
"Lalu? Apa yang anda lakukan tadi nona?" Tanya Teo penasaran.
"Niatnya tadi aku kesini buat antar makanan dan kue sebagai bentuk permintaan maafku. Tadinya aku mau nunggu sampai mas Teo datang."
"Tapi,,,, karena aku masih terlalu takut buat ketemu mas Teo secara langsung, jadinya aku minta kode aksesnya ke Lisya. Supaya bisa aku taruh di meja makan dan kulkas di dapur." Jelas Via kembali.
"Eh, gak tahunya saat aku mau keluar apartemen, malah dapet pukulan dari belakang." Via mengelus tengkuknya.
"Hah,, Maafkan saya nona. Saya benar-benar tidak sengaja. Saya antar ke dokter ya??" Ajak Teo.
"Gak usah mas Teo. Buat tidur juga nanti hilang nyut-nyutannya." Via menolak karena tak ingin masalahnya lebih heboh.
"Jadi,, saya diperintahkan untuk bermalam disini juga karena itu?" Tanya Teo memastikan.
Via mengangguk merasa bersalah.
"Hah, sudah kuduga." Gumam Teo pelan.
"Sekali lagi maafkan kesalahanku. Mas Teo gak perlu merasa bersalah. Aku tak akan melaporkan pemukulan tadi ke pihak berwajib kok,, anggap saja kita impas. Ya??" Via menatap Teo, memohon.
Teo menghela nafas panjang. Bibirnya tersenyum tipis mendengar ucapan polos Via.
"Saya sudah memaafkan anda nona. Tapi, saya harap kejadian yang sudah-sudah tidak terulang lagi." Ucap Teo tegas.
__ADS_1
"Iya. Pasti itu mas cute!! Eh mas Teo.! Hishhh,, Maaf suka keceplosan terus. Udah kebiasaan panggil mas cute soalnya." Via menepuk bibirnya pelan.
Teo semakin tersenyum memperlihatkan gigi rapihnya sambil menggelengkan kepalanya karena tak habis pikir dengan kelakuan polos Via. Sedangkan Via, ia berkali-kali mengucek matanya untuk memastikan apa yang sedang dilihatnya.
Si mas cute yang datar ini beneran tersenyum?? Wah, pemandangan langkah!. Muaaaniiissss. Wes to gak salah kalau aku panggil dia mas cute.!
Gumam Via dalam hati. Ke absurdannya kembali lagi. đ
"Ekheemm. Nona sudah makan?" Teo baru menyadari jika dirinya sempat terbawa suasana. Dengan cepat ia kembali memasang wajah seriusnya.
"Su-sudaaahhhhhh." Jawab Via.
Kruuuukkkk,
Via menepuk perutnya, karena tak bisa diajak kompromi.
"Hissh, dasar perut! gak bisa apa berwibawa dikit depan orang manis!" Gumam Via pelan sambil menatap tajam perutnya sendiri.
"Yasudah, kita makan bersama. Kita makan, makanan dari anda tadi." Ajak Teo. Karena sebenarnya ia juga belum makan, karena terlalu lelah sehingga malas untuk memesan makanan.
"Nona tunggu disini." Teo berdiri lalu berjalan keluar kamar.
Tak lama, Teo kembali membawa meja kecil yang terdapat beberapa makanan yang dibawakan oleh Via beserta kue yang ada tulisan kata 'Maaf'
Saat awal melihat kue itu, Teo tersenyum haru. Entah mengapa perempuan yang selalu membuatnya sial itu, tanpa disadarinya justru mampu menarik perhatiannya.
Sebelumnya, Teo membantu Via bangun dari tidurnya. Lalu menaruh meja kecil itu dihadapan Via.
"Terimakasih atas makanannya nona." Teo tersenyum tipis. Via hanya mengangguk malu, karena salah tingkah melihat senyum manis Teo.
Keduanya makan bersama didalam kamar. Karena Teo tidak tega jika membiarkan Via sendirian. Bagaimanapun juga, Via kesakitan hingga jatuh pingsan karena ulahnya.
"Malam ini, istrihatlah disini dulu nona. Minumlah obat pereda nyeri ini supaya besok pagi lebih enakan, dan nyut-nyutannya hilang." Pinta Teo setelah aktivitas makanannya selesai.
"Terimakasih mas Cu,,,,, eh mas Teo.!" Jawab Via cepat.
Hah, kenapa ni mulut omesh banget sih!
Gumam Via dalam hati sambil menunduk.
"Jika anda perlu sesuatu, saya ada dikamar sebelah. Saya permisi dulu nona." Via mengangguk tanda mengerti.
"Oh ya, Jika anda masih juga kesulitan, anda boleh panggil saya dengan panggilan yang sudah biasa anda sebutkan." Teo menghentikan langkahnya lalu menoleh menatap Via.
"Haa?? Ma-maksudnya aku boleh panggil mas cute lagi??" Tanya Via tak percaya.
Teo hanya tersenyum, kemudian kembali berjalan meninggalkan Via.
Via tersenyum senang sambil memegangi tengkuknya yang masih terasa sakit. Rasanya usahanya tak sia-sia.
"Kalau tau bakal begini, Mau dipukul berapa kali pun, adik siap bang. Aaahahahah." Via kumat..
--
To Be Continued đ¤
- Annyeong pembaca yang budiman đ-
Waah,, Apa jangan-jangan si mas cute mulai tertarik ya sama Via?? đ
-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! đ supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --
Salam cium dan peluk jauh. đ¤
__ADS_1