GILA! TAPI AKU CINTA!

GILA! TAPI AKU CINTA!
Honeymoon (Part 2)


__ADS_3

Sore hari menjelang malam, Gathan dan Lisya menikmati pemandangan laut di sepanjang jalan resort tuan Amar karena Gathan bosan jika harus di dalam kamar saja. 'Maksudnya mungkin karena tidak ada kegiatan panas seperti yang diinginkan oleh readers' 😂



Keduanya berjalan beriringan sambil bergandengan tangan menyusuri jalanan yang di desain layaknya jembatan ditengah hamparan laut yang luas. Sepanjang berjalan, Lisya tersenyum lebar sambil menikmati angin yang berhembus kencang. Gathan yang melihat tingkah laku Lisya ikut tersenyum senang sambil menggelengkan kepalanya karena sesekali Lisya mengangkat tangannya yang sedang digenggam Gathan sambil berteriak singkat.



"Aahhh,, Indah sekaliiiiiii." Teriak Lisya yang sebelumnya sudah memastikan jika sekitarnya aman dari pengunjung lain.


"Senang banget sih kelihatannya sayang." Ucap Gathan sambil merapikan rambut Lisya yang menutupi wajah cantiknya karena terkena hembusan angin.


"Heheheh,, iya kak. Indah banget pemandangannya. Sunsetnya bikin mata silauuuu. Ahh, makasiih kak sudah mengajakku kesini." Ucap Lisya yang kemudian memeluk perut Gathan tanpa sadar karena begitu bahagia.


Gathan yang dipeluk Lisya secara tiba-tiba begitu terkejut. Ia tak menyangka jika sedang senang, Istrinya itu suka bertingkah agresif.


Gathan tak mau menyia-nyiakan moment itu, dengan segera ia menangkup kepala Lisya yang kemudian ia memberikan kecupan lembut berulangkali pada puncak kepala istrinya itu.


Lisya yang tersadar begitu salah tingkah. Ia merutuki keagresifannya kepada Gathan akibat suasana hatinya yang begitu bahagia.


Gathan yang melihat Lisya salah tingkah semakin gemas. Ia mengusap lembut kepala Lisya sambil terus tersenyum.



"Ehhh, pak Gathan. Anda disini juga?" Sapa seorang laki-laki bersama anak dan istrinya.


"Oh, iya pak." Jawab Gathan hanya menganggukkan kepalanya pelan.


"Ini???" Tanya seorang laki-laki itu kembali sambil matanya menatap penasaran ke arah Lisya yang berada disamping Gathan.


"Dia sepupu saya." Jawab Gathan singkat yang tentu membuat Lisya terkejut.


"Oh sepupu. Saya kira anda kesini bersama istri anda untuk berbulan madu. Hehe... Tapi setahu saya anda belum menikah kan?" Ucap laki-laki itu lagi.


"Iya, kalau begitu kami permisi dulu." Ucap Gathan singkat lalu hendak meninggalkan ketiga orang didepannya itu.


"Ah, maaf pak tunggu. Perkenalkan ini putri saya yang dulu pernah saya bicarakan dengan anda. Namanya Cathy. Dia baru saja lulus dari pendidikan S 2 nya di Universitas Harvard. Usianya baru 24 tahun. Dan..."


"Ah, salam kenal. Senang bertemu dengan anda disini. Karena hari sudah mulai gelap, kami permisi dulu ya pak." Potong Gathan yang memang sudah tahu arah pembicaraannya. Kemudian dengan segera Gathan menarik tangan Lisya untuk kembali ke kamarnya.


Lisya yang masih terkejut dengan pernyataan Gathan, hanya diam dan mengikutinya dari belakang. Sambil tangannya masih digandeng Gathan erat. Sedangkan entah mengapa hatinya terasa sakit saat mendengar pernyataan Gathan.


Sesampainya di kamar, Lisya hanya diam tak bersuara. Ia dengan segera masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci tangan dan kakinya. Lalu setelahnya, Lisya merebahkan tubuhnya di atas kasur. Sedangkan Gathan berganti masuk kedalam kamar mandi untuk melakukan hal yang sama.


Tak lama, Gathan menyusul Lisya yang tidur membelakanginya. Dengan segera Gathan memeluk tubuh Lisya dari belakang. Ia sadar, bahwa dirinya telah membuat kesalahpahaman.


"Ra, kamu marah??" Tanya Gathan.


"Enggak, jangan gini deh kak." Jawab Lisya sambil menyingkirkan tangan Gathan yang memeluknya. Kemudian menghapus air mata yang tak dapat dibendungnya.


"Ra, aku tahu kamu marah. Dengarkan aku dulu." Ucap Gathan yang kemudian membalikkan tubuh Lisya. Sedangkan dirinya duduk menatap Lisya yang masih dalam posisi tidur menghadapnya.


"Dengar Ra. Laki-laki tadi itu adalah CEO Xx Group, yang merupakan saingan bisnis BR Group. Aku tahu jika dia CEO yang licik. Dia akan menghalalkan segala cara untuk menghancurkan saingan bisnisnya. Tapi karena aku dan Teo sudah paham betul dengan karakternya, untuk berjaga-jaga kita mencari tahu titik kelemahan perusahaan dia, lalu sekarang kita berhasil mendapatkannya. Dan diapun sudah mengetahui jika kita telah memegang kelemahan itu . Makanya dia berambisi untuk mencari tahu apa yang menjadi titik kelemahanku, karena dia tidak bisa menemukan dimana titik kelemahan BR Group." Jelas Gathan sambil menghapus air mata Lisya yang masih mengalir di pipinya.


"Dan kenapa aku segera mengajakmu kembali kesini, karena aku tahu arah pembicaraannya tadi. Dia pasti berusaha menjodohkan anaknya kepadaku. Karena sebelumnya kita juga pernah bertemu di beberapa tempat, saat itu juga dia selalu ingin memperkenalkan anaknya kepadaku. Namun tak pernah aku gubris. Aku tahu jika tujuannya itu hanya ingin menggunakan anaknya untuk mencari tahu tentang kehidupan pribadiku." Jelas Gathan kembali.


"Aku tidak ingin siapapun mengetahui tentang kehidupan pribadi ku. Untuk itu, kenapa aku tidak mengakuimu, karena aku tidak mau jika kamu dalam bahaya gara-gara aku. Aku akan melindungi semua privasi keluargaku. Terutama kamu sebagai istriku yang saat ini dan sampai kapanpun sangat berarti bagiku."


"Itu juga yang menjadi alasan utama, mengapa aku menyetujui permintaanmu kemarin yang tidak ingin menggelar acara pernikahan kita dengan mewah. Jadi aku harap kamu jangan salah paham lagi ya sama aku." Jelas Gathan sambil memohon.


"Maafkan aku kak. Aku salah paham sama kakak tadi." Ucap Lisya sambil terbangun kemudian memeluk Gathan.


"Iya gak papa, wajar jika kamu marah tadi. Yang penting sekarang kamu jangan marah lagi ya. Apalagi nangis kayak gini." Ucap Gathan menenangkan Lisya yang masih menangis.


"Tapi, kalau orang tadi tanya ke tuan Amar gimana kak?" Tanya Lisya penasaran sambil mengurai pelukannya.


"Kamu tenang saja, daddy Barra sudah mengatasi semuanya. Teo juga sudah aku perintahkan untuk mengamankan semua identitasmu beserta keluargamu di semua database kependudukan di negara kita. Mereka tidak akan mudah menemukan data kalian, sebelum mendapat persetujuan dariku." Jelas Gathan.


"Makasih banyak kak. Ternyata kamu begitu protect kepadaku dan keluargaku." Ucap Lisya.

__ADS_1


Cup.


Lisya mengecup pipi Gathan dengan singkat. Kemudian saat Lisya ingin memundurkan wajahnya, dengan cepat Gathan menarik tengkuk Lisya supaya kembali mendekat kearahnya.


"Sekarang kamu mulai berani membangunkan singa lapar?" Ucap Gathan dengan senyum penuh arti.


"Maaf kak, a-aku emmmmbbbhhhh......." Ucap Lisya terpotong karena telah dibungkam oleh bibir Gathan.


Keduanya kembali larut dalam ciuman panas seperti yang diinginkan oleh para readers dan othor. Namun berakhir begitu saja saat tiba-tiba pelayan resort mengetuk pintu untuk mengantarkan makan malamnya.


Lalu akhirnya Gathan dan Lisya makan malam dengan suasana yang sangat romantis. Karena desain eksterior kamar itu terdapat lampu hias yang memancarkan cahaya remang-remang yang memang didesain khusus untuk pasangan pengantin baru.



Setelah selesai makan malam, keduanya berbincang hangat didalam kamar karena udara diluar yang semakin dingin.


Lalu karena hari semakin larut, keduanya sudah mulai mengantuk. Tak lupa Gathan melakukan ritual wajibnya yang telah disepakati bersama. Ia mengecup singkat hampir seluruh area wajah Lisya kemudian memberi ucapan hangat sebagai pengantar tidur. Begitupun Lisya yang mulai berani membalas semua ritual wajibnya itu.


Keesokan Harinya.


Saat menjelang siang, Lisya mengajak Gathan untuk snorkeling. Namun Gathan tak mengizinkannya karena tidak ingin membahayakan istrinya. Disamping itu, Gathan tidak ingin jika istrinya itu memakai pakaian ketat yang bisa menunjukkan lekukan tubuh seksinya didepan khalayak umum.


Akhirnya, Lisya hanya diperbolehkan berenang di dalam kolam yang sudah menjadi fasilitas di dalam kamarnya. Lisya hanya menuruti perkataan Gathan, karena menurutnya alasan suaminya itu sangatlah masuk akal.


Lalu, Lisyapun berniat akan berenang terlebih dahulu saat Gathan masih didalam kamar mandi. Karena ia sangat malu, saat mengetahui jika pakaian renang yang disiapkan untuknya begitu seksi dan terbuka. Sehingga, saat keluar dari kamar mandi Lisya memakai handuk kimononya agar menutupi pakaian yang sedang dipakai.


Saat melihat Gathan telah memasuki kamar mandi, dengan cepat Lisya melepaskan handuk kimononya. Namun karena panas, Lisya mengambil topi pantainya agar wajahnya tidak terlalu terkena sinar matahari. Lalu ia melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum berenang sambil duduk di kursi menghadap ke lautan.


Sedangkan di lain tempat, saat Gathan keluar dari kamar mandi begitu terkejut melihat pemandangan indah yang menurutnya lebih indah dari pemandangan laut. Matanya terus menatap lekat gerak gerik istrinya dari dalam kamar. Ia tak menyangka jika pakaian renang yang dipakai istrinya akan se seksi itu.



"Kalau itu mah bikini. Aku kira hanya sebatas baju dan celana pendek saja." Gumam Gathan pelan.


Entah mengapa semakin dilihat, semakin membuat Gathan susah menelan salivanya. Tubuhnya memanas saat melihat lekukan tubuh istrinya yang padat aduhai itu. Yang bawah jangan ditanya lagi, semakin sesak dan semakin meronta. 😅



"Eh, kak.. Sejak kapan??" Tanya Lisya yang baru menyadari kehadiran Gathan. Matanya terpaku dengan roti sobek yang ada didepannya. Lalu dengan cepat Lisya mengalihkan pandangannya karena belum terbiasa.


"Sejak mataku melihat pemandangan indah ini." Jawab Gathan sambil menatap tubuh Lisya dengan penuh gairah. Apalagi saat melihat dua gunung gantungnya menyembul dibalik bikini yang dipakai Lisya.


"Eh,, maaf kak. Aku gak berniat menggoda kakak. Tapi memang hanya ini baju yang ada di koper." Ucap Lisya sambil menunduk karena merasa tidak enak sudah menggoda suaminya. Meski yang digoda semakin senang 😀.


"Tak perlu minta maaf. Justru aku yang harus berterimakasih kepada mereka." Jawab Gathan dengan senyum penuh arti.


"Kamu seksi sekali sayang." Mata Gathan semakin berkabut karena menahan gairah yang sudah memuncak.


"Aku malu kak. Jangan menatapku seperti itu." Ucap Lisya menundukkan kepalanya lagi karena pipinya sudah bersemu merah.


"Tak perlu malu, nanti jika waktunya tiba aku juga akan melihat tubuhmu lebih dari ini." Jawab Gathan enteng. Kemudian dengan kecepatan kilat, bibirnya meraup bibir Lisya yang sudah menjadi candunya.


Karena sudah bergairah, lum*tan Gathan begitu menuntut. Bibir Lisya ia lahap habis. Hingga tak memberi kesempatan Lisya untuk bernafas.


Suara decapan bibir yang saling berpagut terdengar jelas. Lenguhan yang lolos dari bibir keduanya terdengar secara bergantian. Tangan Lisya ia kalungkan pada leher Gathan. Sedangkan salah satu tangan Gathan semakin menarik pinggang Lisya supaya semakin menempel dengan tubuhnya.


Tubuh Lisya yang basah semakin membuat Gathan bergairah, sehingga salah satu tangannya kembali melalang buana mencari gunung gantung tempat persinggahan singkatnya.


Tanpa melepas pagutan bibirnya, Gathan meraba kedua gunung gantung itu secara bergantian.


"Engggggghhhhhh Emmbbhhh" Lenguhan Lisya kembali lolos saat merasakan tangan Gathan mulai merem*s pelan kedua gunung gantungnya.


Kali ini Gathan melakukan dengan lembut agar Lisya tak terkejut dan menolaknya. Karena Lisya juga sudah terbawa gairah, ia semakin menikmati pijatan demi pijatan yang dilakukan Gathan. Tubuhnya semakin belingsatan saat tangan Gathan semakin lincah bermain di atas gunung gantung itu.


"Uuugghhh" Lenguhan Gathan lolos saat tangannya merasakan tombol kecil yang sudah menegang di tengah gunung gantung itu.


Bikini yang tipis dan sudah basah, semakin membuat Gathan merasakan tombol itu dengan jelas. Tangannya mencoba memainkan tombol itu dengan pelan.


"Aaahhhh,, Kakhh." Lisya melepas pagutannya karena merasakan sesuatu yang aneh, tapi nikmat kalo kata readers.

__ADS_1


"Kenapa sayanghh?" Tanya Gathan dengan nafas yang masih tersengal dan suaranya yang parau.


"A-akuuu..... Emmmmbbbbbhhhh." Gathan kembali membungkam bibir Lisya dengan bibirnya. Karena entah mengapa melihat raut wajah Lisya yang polos semakin membuatnya tergoda. Tangannya kembali aktif bermain di gunung kenyal dan tombolnya itu.


Semakin lama tangan Gathan semakin lincah mencari celah untuk bisa merasakan gunung gantung itu tanpa halangan apapaun. Akhirnya tak lama setelah menyusuri jalan tikus, tangannya berhasil merasakan kekenyalan gunung itu secara langsung. Ia semakin aktif merem*s gunung itu secara bergantian.


"Eggghhhhhhhhhh. Kakhh,,,,," Racau Lisya saat merasakan tombolnya dimainkan oleh tangan Gathan secara langsung tanpa ada satu helai pakaian yang menghalanginya.


"Sayanggghhhhh,, aku sudah tidak tahanhh." Racau Gathan yang sudah tak dapat berpikir jernih karena tubuh dan pikirannya sudah dipenuhi dengan gairah.


"Boleeehh yaaaahhhhh?" Tanya Gathan dengan wajah memohon dan suara yang semakin parau. Entah mengapa tubuhnya sangat menginginkan istrinya saat itu juga.


Sambil tangannya masih terus memainkan gunung yang mulai saat itu menjadi spot favorit tangannya.


Lisya yang juga sudah dipenuhi gairah dan merasa tak enak melihat raut wajah suaminya yang memohon seperti itu, akhirnya ia hanya menjawab permintaan Gathan dengan anggukan pelan.


Gathan yang mendapat persetujuan dari Lisya, dengan cepat mengangkat tubuh istrinya itu dari kolam renang. Gathan menggendong tubuh Lisya, kemudian ia turunkan diatas kasur. Gathan tak peduli jika kasurnya akan basah.


Dengan cepat Gathan beralih posisi, tubuhnya diatas tubuh Lisya. Sehingga tubuh Lisya berada dalam kungkungannya. Ia kembali mel*mat bibir Lisya dengan penuh gairah.


Setelah puas berpagut dengan bibir mungil itu, bibirnya berganti turun kearea leher jenjang milik istrinya. Bibirnya mencecap dan menghisap sehingga meninggalkan tanda kepemilikan dileher jenjang nan mulus itu yang membuat sang empu semakin belingsatan.


Setelah puas menyesap bagian leher, tangan Gathan membuka paksa bikini tipis yang membalut tubuh istrinya itu. Tak membutuhkan waktu lama, bagian atas bikini itu berhasil ia robek. Sehingga memperlihatkan gunung gantung yang padat dan kenyal dengan jelas. Matanya menatap penuh arti. Naluri kelakiannya menuntut untuk segera melahap gunung gantung itu.


Secepat kilat Gathan melahap gunung itu secara bergantian. Sedangkan tangan satunya ia gunakan untuk merem*s salah satu gunung yang menganggur.


"Aahhhhhhh, Enggghhhhh kakkhh..." Racau Lisya yang semakin tak karuan sambil kepalanya sesekali ia angkat.


Gathan yang mendengar suara Lisya yang begitu seksi, semakin menggencarkan aksinya. Lidahnya semakin bermain aktif saat merasakan tombol yang sudah menegang disana. Serta tak lupa Gathan menyesap gunung itu hingga meninggalkan tanda kepemilikan lagi.


Setelah puas bermain di gunung gantung istrinya, Gathan menarik paksa bikini yang masih terlepas dibagian atasnya saja.


Srak.


Bikini itu berhasil lepas dari tubuh Lisya, kemudian dilemparkannya ke sembarang arah. Sehingga saat ini tubuh Lisya hanya terbalut satu lapis celana yang menutupi mahkotanya.


Gathan melanjutkan aksinya dengan menyusuri setiap inchi tubuh Lisya. Cecapan demi cecepan bibirnya ia layangkan pada tubuh Lisya. Hingga akhirnya bibir itu sampai di celana yang menjadi satu-satunya penutup mahkota istirnya. Dengan tidak sabaran, Gathan menarik celana itu karena gairahnya sudah sampai di ubun-ubun. Sebenarnya ada rasa takut dan bingung, karena ini baru pengalaman pertamanya. Namun gairah yang sudah memuncak lebih mendominasi tubuh dan pikirannya.


Setelah berhasil menarik celana itu, mata Gathan terbelalak. Betapa terkejutnya ia melihat ada noda merah di balik celana itu.


Lisya yang sempat menutup matanya karena malu dan takut, perlahan membuka matanya karena merasa tidak mendapat sentuhan dari Gathan.


"Ehh, ada apa kak?" Tanya Lisya heran saat melihat raut wajah Gathan.


"Darah??" Tanya Gathan polos.


"Benarkah??" Tanya Lisya kemudian bangun dari posisinya dan melihat kearah celana yang belum terbuka sepenuhnya.


"Yaa ampunnn, Iya.. Maaf kak, aku lupa kalau minggu ini tanggal aku haid." Ucap Lisya yang semakin merasa bersalah.


Shiiitttttttttt.! Sabun lagiiii!


Racau Gathan dalam hati.


"Yasudah tak apa. Aku mau ke kamar mandi dulu. Nanti baru ganti kamu bersihkan tubuhmu." Ucap Gathan kemudian dengan lemas melangkahkan kakinya ke kamar mandi.


'Dasar Othor gak ada akhlak' Mungkin itu batine Gathan. 😅🙏


To Be Continued 🖤


- Annyeong pembaca yang budiman 💕--


Maafkan othor ya mbebs Gathan.. Kamu masih belum beruntung kali ini. Sabaar ya,, sama sabun dulu aja.


Oh ya, updatenya molor. Karena mata othor tak sanggup lagi menahan kantuk. Mohon maap. 🙏


-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! 🙏 supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --


Salam cium dan peluk jauh. 🤗

__ADS_1


 


__ADS_2