GILA! TAPI AKU CINTA!

GILA! TAPI AKU CINTA!
Dilamar dengan Ancaman


__ADS_3

🌀 Flashback On 🌀


** Rumah Sakit Aaa Surabaya **


"Assalamualaikum .." Ucap daddy Barra saat setelah membuka pintu ruangan pak Hasan.


"Waalaikumsalam,, Eh tuan..Silahkan masuk." Jawab pak Hasan.


"Bagaimana kondisi anda sekarang ini pak?" Tanya daddy Barra.


"Alhamdulillah sudah jauh lebih baik tuan. Ya meskipun tangan dan kaki kiri saya masih belum kembali normal." Jelas pak Hasan.


"Tuan, saya jadi tidak enak jika tuan harus bolak-balik ke rumah sakit untuk mengunjungi saya." Ucap pak Hasan kembali.


"Ah tidak apa-apa pak Hasan. Anggap saja saya sedang liburan disini. Apalagi kita berdua kan sudah sangat lama tidak bertemu, masa iya saya langsung pulang setelah hanya beberapa kali bertemu." Jelas daddy Barra dengan senyum tulusnya.


"Maaf ya tuan, saya kemarin masih sibuk menjalani terapi. Jadi belum bisa ngobrol banyak dengan tuan." Ucap pak Hasan.


"Sudah lah, bukankah memang tujuan anda disini supaya bisa terapi dan bisa segera pulih.? So, tidak perlu minta maaf begitu pak. Saya sangat mengerti dengan kondisi pak Hasan saat ini." Ucap daddy Barra.


"I-iya tuan." Ucap pak Hasan yang sudah tidak bisa berkata-kata karena memang semua ucapan tuannya itu benar.


"Emmmm, pak Hasan. Mumpung anda sedang tidak menjalani terapi dan juga kita berkesempatan ngobrol kayak gini, saya jadi ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan bapak." Ucap daddy Barra yang mulai membuka pembicaraan seriusnya.


"A-apa itu tuan?" Tanya pak Hasan yang tiba-tiba gugup karena melihat wajah tuannya berubah sangat serius.


"Mengenai anak kita." Jawab daddy Barra singkat.


"Anak kita?? Memangnya ada apa dengan anak kita tuan?" Tanya pak Hasan kembali.


"Emmm, terus terang saja ya pak. Putra saya Gathan, memiliki perasaan lebih dengan putri anda Aira. Maksud saya, perasaan lebih itu adalah perasaan cinta. Hanya saja, Gathan sepertinya belum mengerti arti dari perasaannya itu. Anda tau sendiri jika Gathan memiliki trauma dengan mommy nya dulu kan? Jadi semenjak saat itu, ia bilang ke saya kalau tidak akan pernah menikah atau menjalin hubungan spesial dengan perempuan manapun. Sangat wajar jika saat ini Gathan tidak mengerti dengan perasaannya itu."


"Saya sendiri sebenarnya tidak tahu persis, sejak kapan perasaan itu tumbuh dihatinya. Namun satu hal yang saya tahu, sejak mereka dekat waktu kecil dulu, saya melihat bahwa Gathan memang tertarik dengan Aira. Anak bapak itu telah berhasil meluluhkan hatinya disaat dia sedang terpuruk saat itu. Terbukti kan, Gathan mau membuka hatinya untuk orang yang baru dikenalnya hingga menjadi sangat dekat saat itu. Ya mungkin dulu ia mengira perasaannya itu hanya sebatas rasa sayang dan simpati antara kakak dan adik."


"Tapi,, setelah dipertemukan kembali saat dewasa begini, mungkin ya pak.. itu membuat perasaan Gathan dulu kembali tumbuh menjadi perasaan yang lebih. Dulu saat awal-awal Gathan pindah di Amerika, ia kembali menjadi anak yang murung pak, jarang sekali bercerita. Berbeda sekali saat masih bersama dengan putri bapak. Dan mungkin karena aktifitas nya disana yang begitu padat membuat ingatannya di Surabaya perlahan memudar. Apalagi semenjak ia saya tugaskan ke Jakarta untuk mulai mempelajari perusahaan di saat ia akan naik kelas dua SMA, itu membuat ia benar-benar semakin tidak memperdulikan dengan sekitarnya. Yang ia pikirkan hanyalah BR Group dan sekolahnya."


" Melihat perubahan sikap anak saya seperti itu, saya hanya bisa berdoa supaya kelak ia akan dipertemukan dengan jodohnya. Karena mau bagaimana pun ia tidak bisa terus sendirian. Ia butuh pasangan yang bisa mendampinginya disaat senang dan susah. Karena kita sebagai orang tua tidak bisa selalu mendampinginya kan?" Ucap daddy Barra yang dijawab anggukan oleh pak Hasan.


"Lalu,, beberapa hari kemarin saya dikejutkan dengan kabar tentang kondisi pak Hasan, ditambah permintaan Gathan yang tiba-tiba ingin melamar bahkan menikahi putri bapak saat anda sudah sadar. Betapa campur aduknya perasaan saya saat itu. Dengan cepat saya langsung terbang ke sini tanpa memikirkan urusan saya yang disana. Karena urusan disini jauh lebih penting buat saya."


"Jadiiiii,, bagaimana pak Hasan. Apa anda tidak keberatan jika anak saya ingin meminang putri bapak?"


"Maaf jika saya terlalu panjang lebar bicaranya, karena saya terbawa suasana heheh" Jelas daddy Barra dengan senyum.


"MashaAllah,, saya tidak menyangka jika den Gathan menyukai anak saya Aira tuan. Saya sungguh sangat merasa terhormat tuan, mendengar ucapan tuan yang ingin meminang putri saya untuk den Gathan. Saya merasa seperti orang yang tidak tahu diri. Bagaimana tidak, saya yang hanya mantan supir anda dan juga kami yang hanya dari keluarga biasa saja, bisa mendapatkan perlakuan istimewa dari tuan, dan den Gathan yang sungguh derajatnya jauh diatas kami... Saya.... " Ucap pak Hasan terpotong.


"Pak, saya dari dulu tidak pernah membeda-bedakan derajat seseorang hanya karena statusnya. Bagi saya, kita semua sama. Yang menjadi pembeda hanyalah akhlak dan perilaku kita. Saya melihat jika anda sekeluarga memiliki akhlak dan perilaku yang sangat baik. Untuk itu, saya yakin jika Aira pantas untuk menjadi pendamping anak saya." Potong daddy Barra, karena memang benar adanya jika daddy Barra selama ini tidak pernah mempermasalahkan status seseorang.


" I-iyaaa tuaan,, Sekali lagi terimakasih atas lamaran yang telah anda sampaikan kepada saya. Terus terang, saya sangaaaat bahagia mendengar ini. Karena sebenarnya, sejak lama juga saya berharap Aira segera dipertemukan dengan jodohnya. Saya ingin ia ada yang menjaganya di manapun ia berada. Apalagi melihat kondisi saya saat ini, yang tentu sudah tidak bisa lagi menjaganya seperti dulu lagi. Tapi,, semua kembali lagi kepada anak saya Aira tuan, biar dia yang memutuskan. Saya tidak ingin memaksa dia untuk menerima kehendak kita semua. Saya hanya bisa membantu untuk membuat pikiran dan hatinya terbuka. Soal keputusannya nanti seperti apa, semua apa kata Aira ya tuan." Jelas pak Hasan memohon.


"Iya pak Hasan, saya mengerti. Saya paham dengan pemikiran anda. Kita sebagai orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak kita. Bagaimana jika nanti sepulang mereka makan siang, kita bicarakan bersama? Lebih cepat lebih baik kan?" Ucap daddy Barra.


"Boleh tuan." Jawab pak Hasan sambil tersenyum.

__ADS_1


🌀 Flashback Off 🌀


"Bagaiman Ra??" Tanya Gathan memohon.


"Emmm, Aku....."


"Aku apa?" Potong Gathan tak sabar.


"Sabar nak, biarkan Aira berbicara dulu." Ucap daddy Barra sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Daddy Barra tak habis pikir ternyata putranya yang dingin selama ini bisa se posesif itu jika sudah menyukai perempuan.


"Aku belum bisa kasih jawaban sekarang kak... Aku.." Ucap Lisya terpotong lagi.


"Kenapa?? Kamu gak percaya sama ucapanku?" Potong Gathan tanpa mempedulikan ucapan daddynya.


"Bukan kak,, Bukan masalah percaya atau tidak, tapi aku butuh..." Ucapan Lisya terpotong untuk kesekian kalinya.


"Butuh apa Ra? Kamu butuh bukti? Kamu mau aku melakukan apa agar......??" Ucap Gathan yang juga terpotong.


"Gathan!!!! Daddy bilang diamlah dulu. Beri kesempatan Aira untuk berbicara!" Potong daddy Barra dengan tegas dan menatap tajam Gathan.


Gathan yang ditatap langsung diam tak bersuara. Entah mengapa wibawanya hilang seketika saat terkena sentakan daddy Barra. 😂


"Maaf dad, Iyaa." Jawab Gathan patuh.


"Silahkan nak Aira, lanjutkan bicaranya." Perintah daddy Barra.


"Terimakasih tuan, ehh dad. Jadi maksud Aira itu, Aira butuh waktu untuk memikirkan matang-matang. Karena mau bagaimanapun juga ini menyangkut masa depan Aira dan kak Gathan. Aira juga butuh pendapat dan restu dari ibu Umaira. Emmm tolong beri Aira waktu... eemmm... ti-tiga hari untuk memikirkan jawabannya." Ucap Lisya namun ia sambil menunjukkan kelima jarinya.


"Jadi yang benar tiga atau lima hari nak Aira?" Tanya daddy Barra sambil tersenyum.


"Tiga hari" Ucap Lisya dan Gathan bersamaan.


"Tiga hari saja dad, itu sudah sangat lama bagi Gathan. Oke Aira? Tiga hari atau sekarang juga!" Ucap Gathan sambil matanya menatap tajam kearah Lisya.


Haaahh,, aku pikir dia melunak karena takut dengan daddy Barra akan berlangsung lama. Ternyata hanya beberapa detik saja. Bahkan sekarang sudah berani mengancamku.


Baru tau ini deh, dilamar dengan ancaman seperti ini. Haahh.


Gumam Lisya dalam hati.


"Bagaimana nak Aira?" Tanya daddy Barra yang sudah tidak bisa membelanya karena tahu jika sang putra sudah menginginkan sesuatu tidak akan bisa dihalangi.


"Ba-baiklah tiga hari.". Jawab Lisya pasrah.


" Baiklah nak, pikirkan matang-matang yaa selama tiga hari itu. Jangan sampai menyesal dengan pilihanmu nantinya. Ingat, ucapan ayah tadi. InshaAllah den Gathan bersungguh-sungguh atas ucapannya." Jelas pak Hasan.


"Iya ayah." Jawab Lisya sambil mengangguk pelan.


"Pak Hasan, dad, kami izin keluar sebentar. Ada yang mau aku bicarakan dengan Aira. Daddy jangan lupa makan ini." Ucap Gathan sambil menyodorkan nasi padang yang telah ia beli tadi. Kemudian ia menghampiri Lisya , dan menuntunnya ke luar ruangan.


"Iya den. Silahkan." Jawab pak Hasan.


"Ingat nak, jangan gupuh-gupuh (tergesa-gesa)" Ucap daddy Barra mengejek.

__ADS_1


"Issh daddy apaan siih." Sahut Gathan kemudian hilang dari pandangan daddy Barra dan pak Hasan.


******


"Kak, sakiiit. Suka banget sih narik-narik tanganku." Racau Lisya saat mereka sudah menjauh dari ruangan pak Hasan.


"Maaf, Aku terbawa suasana.." Ucap Gathan singkat.


"Ada apa lagi?" Tanya Lisya sinis.


"Aku gak bisa Ra nunggu jawaban kamu tiga hari lagi. Aku maunya sekarang.! Aku ingin kamu segera menjadi milikku!" Ucap Gathan menggebu-gebu.


"Ya Allah kak, kan tadi aku uda jelasin!" Jawab Lisya tak percaya dengan ucapan Gathan.


"Tapi aku minta jawabanmu sekarang! Apa yang kamu pikirkan lagi? Semua yang aku katakan didepan ayahmu tadi benar-benar tulus Ra." Jelas Gathan dengan mata sendunya.


"Sekarang?? Yasudah aku menolak! Puas!" Tantang Lisya kemudian ingin berjalan meninggalkan Gathan.


Gathan yang tadinya ingin berbicara baik-baik jadi semakin emosi karena Lisya yang keras kepala menurutnya.


"Gabisa! Kamu gak boleh menolak lamaranku!"Ucap Gathan sambil menarik paksa tangan Lisya supaya kembali di hadapannya.


"Kenapa? Kakak gak ada hak kan untuk mengatur keputusanku!" Tanya Lisya yang juga mulai emosi karena menurutnya Gathan sama sekali tidak memikirkan perasaannya.


"Tapi aku ada alasan untuk membuatmu mau tidak mau menerima lamaranku!" Jawab Gathan enteng dengan senyum sinisnya. Ia sudah memikirkan cara ini dari beberapa hari yang lalu, jika Lisya menolaknya.


"Alasan?? Apa itu??" Tanya Lisya heran.


"Kamu lupa dengan ini?" Tanya Gathan sambil menunjukkan potongan rekaman cctv saat dimana Lisya membuat keributan di gedung BR Group. Dalam rekaman itu juga terdengar jelas suara Lisya yang mengatakan bahwa dirinya sudah kehilangan keperawanannya akibat ulah Gathan.


Seketika Lisya membelalakkan matanya karena tak percaya, jika perbuatan dan perkataannya akan menjadi boomerang untuknya saat ini.


"Jika kamu menolak, aku akan menunjukkan rekaman ini kepada ayah kamu. Mungkin kamu bisa mengelak, tapi dengan cara apa? Kamu akan memberitahukan jika gunung gantungmu itu telah ternodai oleh ku? Dan lagi, menurutmu apa ayahmu tidak syok saat mendengar ucapanmu nanti?? Dalam rekaman itu juga terlihat jelas, kalau kamu dengan lantang dan berani mengatakan itu semua didepan banyak karyawanku, seolah memang kamu meminta pertanggungjawaban dariku." Jelas Gathan.


"Sudah dipastikan, ayah kamu dan daddy pasti akan marah besar terhadapku, namun sudah dipastikan juga, mereka akan tetap memintaku untuk menikahimu sebagai bentuk pertanggungjawaban ku kepadamu."


"Trus, aku tinggal menambahkan sedikit bumbu-bumbu cerita deh, supaya bisa membuat mereka lebih percaya padaku."


"Sekarang tinggal kamu pilih menikah denganku, dengan cara baik-baik atau dengan cara yang lebih heboh?" Tanya Gathan dengan senyum kemenangannya.


Ekspresi Gathan saat melihat Lisya tak dapat berkutik. Ada rasa bahagia karena akhirnya bisa membuat Lisya menjadi miliknya, namun ada juga rasa bersalah, karena menggunakan pak Hasan untuk mengancamnya. Namun itu semua terpaksa ia lakukan.



'Kamu salah lawan Lisya, Gathan rajanya bernegosiasi. Wes to purun aee ketimbang ayah Hasan sedih. Enak kok nantinya. Othor aja mau meski tanpa dipaksa'. 😀


To Be Continued 🖤


-- Annyeong pembaca yang budiman 💕--


-- Melamarnya gak aesthetic banget ya mbebs.. Gak ada romantis-romantisnya. 😂


-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! 🙏 supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --

__ADS_1


Salam cium dan peluk jauh. 🤗


__ADS_2