GILA! TAPI AKU CINTA!

GILA! TAPI AKU CINTA!
Minta Tolong


__ADS_3

"Sya,, memang aku yang salah. Tapi aku gak sengaja." Via bercerita dengan mata yang berkaca-kaca.


"Coba ceritakan dari awal gimana ceritanya Vi." Ucap Lisya sambil mengelus pundak Via.


Via terpaksa menceritakan semuanya, dari mulai kejadiannya saat mabuk, sampai kejadian saling tindih di lantai dasar studio tadi. Via yakin, Teo marah karena terlalu banyak kesalahan dan keteledorannya.


Lisya yang mendengar hanya menggelengkan tak percaya. Ia tak menyangka, jika sahabatnya itu sudah benar-benar menguji kesabaran si asisten suaminya. Lisya juga baru mengetahui, jika Via satu apartemen dengan milik suaminya.


"Ya ampuuun Viaa. Kamu tu ya benar-benar." Lisya menutup mulutnya.


"Pantas saja tadi si Teo marah besar. Karena ternyata kamu sudah bikin ulah dengannya sebelumnya!" Ucap Lisya.


"Ditambah tadi,, tu si Teo marah pasti karena malu banget dilihat orang-orang." Lisya semakin membuat Via merasa bersalah.


"Itulah Sya. Makanya aku gak bisa nahan nangis. Soalnya tatapan mas cut eh mas Teo benar-benar menyeramkan." Via menunduk takut, saat mengingat tatapan Teo tadi.


"Yasudah, kamu minta maaf gih sama Teo secara baik-baik." Ucap Lisya


"Gimana caranya? Tau sendiri tadi marah-marah gitu." Tanya Via bingung. Lisya ikut memikirkan bagaimana caranya.


"Ah, aku tahu. Hihihi." Lisya menemukan cara, lalu berbisik pada Via.


"Hah? Serius? Apa berhasil pakai cara itu?" Tanya Via tak percaya. Membayangkannya saja sudah merinding.


"Insha Allah berhasil Vi. Sering bareng Teo, jadi sedikit tahu karakternya. Aku yakin, dia pasti mudah memaafkan. Jika kamu memintanya dengan tulus dan cara yang benar." Jelas Lisya.


"Oke deh. Aku akan mencobanya. Kabari aku jika berhasil membujuk mas Brew." Ucap Via sambil tersenyum.


"Yasudah, lanjutkan pekerjaanmu. Nih, pacar aku telpon teruus. Sepertinya sudah rindu banget sama aku. Ahahahh" Lisya sambil menunjukkan layar ponselnya yang sedang ada panggilan masuk dari Gathan.


"Issh, Sombong amaat.! Yasudah sono. Thanks banget ya seyeng.!" Via memeluk Lisya.


"Hahah. Sama-sama. Bye!" Lisya membalas pelukan Via sesaat, lalu melepaskannya. Lisya melambaikan tangannya.


"Hallo kak??....... Iya iya, aku kesana sekarang." Lisya berjalan keluar ruangan.


** Brams Studio Lantai 1 **


Cekrek,


Cekrek,


"Coba miring sedikit tuan.. Oke. Tahan."

__ADS_1


Cekrek


Cekrek


"Oke bagus."


Ya, saat ini Gathan sedang melakukan pemotretan bersama Bram.



"Good. Saya suka." Ucap Gathan saat Bram menunjukkan hasil jepretannya.


"Baik, Apa sudah cukup untuk kostum ini tuan?" Tanya Bram memastikan.


"Cukup. Kerja bagus." Gathan tersenyum puas.


Sedangkan di lain tempat, Lisya yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Gathan senyum-senyum sendiri, pipinya merona. Ia benar-benar melihat jika suaminya itu sangatlah tampan, jambang dan bibirnya yang seksi tak luput dari pandangannya. Sekelebat muncul pikiran kotornya saat sedang berolahraga panas dengan Gathan. 😂


Namun secara bersamaan rasa bangga dan khawatir muncul dalam benaknya. Rasa bangga karena ternyata dia yang hanya kaum rengginang bisa mendapatkan cinta yang tulus dari sang CEO tampan dan sangat sukses. Sedangkan rasa khawatir karena pastinya banyak sekali perempuan toxic alias pelakor diluar sana yang begitu menginginkannya. Yang tentu secara derajat, dan kecantikan jauh lebih segalanya darinya, sehingga senyum yang sejak tadi bertengger di bibirnya tiba-tiba hilang begitu saja. Karena ia merasa insecure dengan dirinya sendiri.


"Hey, kamu kenapa? hem?" Gathan melihat raut kesedihan di wajah Lisya. Ia duduk di samping istrinya itu karena tim Bram sedang mempersiapkan tema lain untuk pemotretannya.


" Apa sedang terjadi sesuatu? Atau ada yang kamu pikirkan?" Gathan mengelus puncak kepala Lisya.


"Trus kamu kenapa terlihat sedih gitu?" Gathan masih penasaran. Ia yakin jika ada yang dipikirkan Lisya.


"A-aku gak sedih sayang." Lisya berusaha mencairkan suasana. Tangannya mencubit pelan pipi sang suami.


"Aw, mulai berani nakal ya kamu?" Gathan menarik tangan Lisya yang berada di pipinya. Sehingga wajah keduanya saling berdekatan.


"Ck, alay banget sih kak. Gak sakit juga." Lisya mencebikkan bibirnya.


"Jangan memancing singa yang selalu kelaparan ya!." Seringai licik muncul di bibir Gathan.


"Ih, siapa juga yang man,,,,,,, Embbbbhh". Gathan sudah membungkam Lisya dengan bibirnya.


"Hah,,, Kak!" Lisya melepaskan ciumannya. Ia mendelik lalu melihat sekelilingnya. Untung saja yang lain pada sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Hanya satu yang tidak, dia adalah Teo. Laki-laki itu berdiri tepat dibelakang kursi yang diduduki Lisya dan Gathan. Namun anehnya laki-laki itu seolah tak menghiraukan kedua majikan absurdnya itu. Tatapannya lurus ke depan, seperti pasukan yang sedang latihan baris berbaris.


"Heheh, makanya jangan memancingku dengan wajah yang menggemaskan seperti itu." Ucap Gathan tanpa rasa bersalah. Sedangkan Lisya semakin mengerucutkan bibirnya karena kesal.


"Kak,, Nanti aku boleh minta tolong gak?" Ucap Lisya dengan ragu-ragu.


"Tolong apa sayang?" Gathan menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Soal Via." Jawab Lisya singkat dan pelan. Lalu ia membisikkan rencananya pada Gathan agar tak terdengar satpam yang ada dibelakangnya, yang tak lain adalah sang asisten, Teo.


"Hem begitu. Baiklah. Apapun yang kamu minta sayang. Selama aku bisa, akan aku kabulkan. Meski harus mengorbankan asistenku sekalipun.! Hahaha." Gathan sengaja memperkeras suaranya, agar Teo mendengarnya. Gathan sudah mengetahui tentang apa yang sudah terjadi dengan asisten sekaligus sahabatnya itu dengan Via. Sehingga ia tidak keberatan jika harus dimintai pertolongan oleh istrinya untuk membantu sahabatnya yaitu Via.


Sedangkan Teo, saat ini benar-benar bingung dan penasaran dengan ucapan Gathan. Dahinya mengerut memikirkan apa yang akan dilakukan bos absurdnya itu. Bulu kuduknya seketika merinding, ia merasa tidak enak. Ia tahu jika kedua bosnya itu merencanakan sesuatu mengenai dirinya.


Setelah hampir 2 jam, proses pemotretan akhirnya selesai. Gathan meminta Lisya untuk pulang bersamanya.


-


"Teo.!" Panggil Gathan yang saat ini sedang duduk disamping Lisya di kursi penumpang.


"Ya bos?" Teo menjawab dengan tetap fokus menyetir.


"Saya minta nanti malam pulanglah ke apartemenku!" Ucap Gathan enteng.


"Eh, kenapa bos?" Teo mengernyitkan dahinya heran.


"Memangnya aku menyuruhmu harus pakai alasan?" Tanya Gathan balik.


Hishhh,, Harus dong. Kan menyangkut hidup gue itu! Hah, sepertinya ini ada kaitannya dengan pembicaraan absurdnya tadi!


Gumam Teo dalam hati, bibirnya berkomat-kamit.


"Kamu keberatan?" Gathan melihat ekspresi Teo dari spion atas.


"Tentu saja tidak, hanya saja malam ini saya ingin pulang ke rumah orang tua saya bos. Bagaimana jika besok saja?" Tawar Teo. Sebenarnya dia tidak masalah jika bermalam di sana, jaraknya pun lebih dekat dari mansion maupun kantor. Namun karena tahu jika Via juga tinggal di apartemen yang sama, membuat Teo malas jika harus bertemu lagi disaat suasana hatinya masih kurang bagus. Ia tidak ingin semakin sial dan akhirnya membenci Via, jika terus-menerus bertemu dengan cara yang tidak umum. 😂


Gathan melirik Lisya meminta pendapat. Namun Lisya justru menggelengkan kepalanya.


"Tidak bisa! Ini perintah! Bukan penawaran! Jadi istirahatlah disana nanti malam! Aku tidak ingin jika apartemen ku menjadi semakin berdebu karena tidak pernah ditempati." Tolak Gathan.


"Hah." Teo menghela nafas berat dengan pelan.


"Baiklah bos." Teo pasrah saja.


To Be continued 🖤


- Annyeong pembaca yang budiman 💕-


Apa ya kira-kira yang bakal dilakukan Via? Apakah berhasil? Atau malah berujung sial lagi?. 😂


-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! 🙏 supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --

__ADS_1


Salam cium dan peluk jauh. 🤗


__ADS_2