
Jangan sampai kelewatan episode 46 ya readers. Judulnya 'Benar-benar Milikku Seutuhnya'. Karena kesalahan teknis, episode itu updatenya telat, sesudah episode 47. Yang judulnya 'Pingsan'.
Dan silahkan di skipp episode 48 yang judulnya 'Pingsan', karena terupload dua kali. Mohon maap ya readers atas ketidaknyamanannya, setelah ini bakal balik normal lagi. đ
** Ruang Kerja Mansion **
"Teo, menurutmu apa yang aku rasakan kepadaku istriku ini bisa dikatakan cinta?" Tanya Gathan saat keduanya sudah berada di ruang kerja. Ia sengaja memanggil Teo untuk sesi curhat maksudnya. đ
"Perasaan seperti apa yang bos maksud?" Tanya Teo memastikan.
"Rindu saat berjauhan, sepi saat tak bersama, Jantung berdebar keras saat hanya memikirkan wajahnya, Ingin melindunginya di manapun dia berada, disaat melihat senyumannya membuatku bahagia, hati memanas saat melihatnya bersama laki-laki lain diluaran sana, Dan, apapun akan kulakukan demi kebahagian dan keselamatannya." Ucap Gathan cepat, sambil terus memandangi foto Lisya yang ada di ponselnya.
Foto itu ia dapatkan saat mereka sedang honeymoon di Maldives. Gathan mengambil foto Lisya saat dirinya tidak sengaja melihat wajah sang istri yang begitu cantik sedang menatapnya dengan intens.
"Tentu saja itu cinta, bahkan saya sudah melihat rasa cinta itu sejak pertama kali bos bertemu dengan nona Lisya di mall dulu." Jawab Teo enteng. Sambil bibirnya menahan tawa. Ia benar-benar tak habis pikir mengapa bosnya itu begitu tidak peka.
"Bagaimana bisa? Sedangkan saat itu aku belum mengetahui siapa dia sebenarnya." Tanya Gathan heran.
"Tentu saja bisa. Karena bos ingin menikahi nona Lisya bukan hanya karena nona adalah peri kecilnya bos. Tapi karena ada sesuatu didalam diri nona Lisya yang mampu membuat bos tertarik dan ingin memilikinya sejak pertama kali melihatnya. Hanya saja, bos menepis rasa itu karena masih terbayang dengan kebencian di masa lalu bos. Akhirnya, dengan sekuat tenaga bos membenci nona Lisya untuk menutupi rasa ketertarikan bos. Ditambah, cara pertemuan anda berdua yang sungguh unik, membuat bos menjadikan alasan itu untuk semakin membencinya. Namun didalam lubuk hati yang paling dalam, bos tertarik dengan nona Lisya." Jelas Teo yang sejak awal sudah mengawasi gerak-gerik bosnya.
"Benarkah? Bagaimana bisa aku tak menyadarinya?" Tanya Gathan masih tidak percaya.
"Tentu saja. Sebenarnya anda menyadarinya, namun lagi-lagi anda menepisnya. Anda lupa, bagaimana anda menatap matanya saat diruang meeting mall? Dan apa anda lupa, bagaimana anda menanyakan nona Lisya disaat malam setelah anda berdua bertemu?"
"Bukankah anda orang yang sama sekali tidak peduli dengan perempuan manapun? Apalagi dengan perempuan asing yang anda temui secara tidak sengaja. Tapi berbeda saat dengan nona Lisya, anda justru mengingatnya dan menanyakannya disaat saya tidak menceritakan kembali kepada anda." Teo tersenyum penuh arti. Ia sengaja ingin membuka mata hati bosnya yang telah lama tertutup akibat kebenciannya terhadap perempuan di masa lalu.
Gathan hanya terdiam, mencerna setiap kata-kata yang diucapkan Teo. Perlahan hati dan pikirannya membenarkan semua perkataan asisten sekaligus sahabatnya itu. Kepalanya manggut-manggut, menandakan jika ia telah mengingat semua kenangan saat pertama kali bertemu dengan istrinya.
"Dan sepertinya takdir berpihak kepada anda berdua, sehingga dipertemukan kembali dengan cara yang lebih unik. Cara yang akhirnya membuat anda geram, sehingga menjatuhkan suatu hukuman yang justru membawa anda berdua kembali pada masa lalu yang tak sengaja terlupakan." Jelas Teo kembali.
"Anda juga pasti tak menyadarinya, jika masa lalu itu terungkap, bermula dari rasa penasaran anda yang begitu besar terhadap nona Lisya." Teo sambil tersenyum penuh arti.
"Penasaran? Benarkah aku seperti itu?" Gumam Gathan pelan. Namun masih didengar oleh Teo.
"Iya, silahkan anda lihat video rekaman CCTV yang anda minta untuk mengancam nona Lisya saat melamarnya." Teo menyodorkan tab nya.
Dengan sangat teliti Gathan kembali melihat rekaman CCTV itu. Rekaman saat Gathan menjegal kaki Lisya, hingga membuat keduanya terjatuh dilantai lobby gedung BR Group.
" Anda lihat, bagaimana tangan anda melindungi kepala nona Lisya saat itu." Teo menjeda video rekaman itu.
Gathan memperhatikan dengan serius video yang dimaksud Teo.
"Jika anda mau, anda bisa membiarkan nona Lisya jatuh dilantai tanpa harus melindungi kepalanya." Jelas Teo.
__ADS_1
"Silahkan anda melihat video yang ini." Teo kembali menekan tombol 'play' pada video itu.
Gathan kembali melihat video yang menunjukkan saat Gathan melarang Teo, dan beberapa security untuk tidak membawa Lisya keluar lobby.
"Bukankah jika memang anda tidak tertarik dan penasaran dengan nona Lisya, anda bisa saja memerintahkan kami untuk melaporkannya pada pihak berwajib saat itu juga? Tapi nyatanya ??? Anda justru lebih penasaran dengan apa yang akan dikatakan nona Lisya saat itu. Lalu kemudian anda melepaskannya begitu saja. Dan yang lebih diluar dugaan, anda mencabut hukuman itu setelah melihat foto nona Lisya yang sedang kesusahan." Teo benar-benar masih mengingat betul bagaimana sikap aneh bosnya saat itu.
"Jadi, aku memang ingin memiliki dan menikahinya bukan karena dia adalah peri kecilku dulu? Tapi karena aku telah jatuh cinta padanya sejak awal?" Tanya Gathan kembali.
"Betul bos. Masa lalu nona Lisya hanyalah sebagai kunci dan bumbu." Jawab Teo enteng.
"Kunci dan bumbu?" Gathan semakin bingung. Ia mengernyitkan dahinya.
"Iya bos. Kunci untuk membuka hati dan pikiran bos yang telah memiliki perasaan lebih kepada nona sejak awal. Dan bumbu yang membuat perasaan bos semakin jelas, karena meyakini jika nona Lisya berbeda dengan perempuan lain diluaran sana. Hal itu karena anda memiliki hubungan baik dengan nona Lisya sebelumnya". Jelas Teo.
Gathan diam sambil terus memikirkan perkataan Teo. Entah mengapa, penjelasan asisten sekaligus sahabatnya itu masuk diakal.
"Bos ingat? Saat di Bram's Studio bos marah-marah tidak jelas? Itu karena bos cemburu. Bos cemburu karena nona Lisya menjadi tontonan laki-laki lain disekitarnya. Bos tidak terima jika perempuan yang bos cintai, dengan mudah disentuh oleh laki-laki lain. Sehingga bos mengamankannya dengan membawanya keluar dari sana." Jelas Teo kembali.
"Tidak lupa, bos juga mengawasi keluarga nona Lisya dari jauh. Supaya mereka semua tetap aman. Hingga akhirnya bos rela meninggalkan semua kepentingan bos demi nona Lisya sekeluarga, tak peduli seberapa lama."
"Semua yang telah bos lakukan untuk nona Lisya selama ini, sudah jelas menjadi bukti jika bos benar-benar mencintainya. Karena rasa cinta itu akan menuntun naluri kita untuk selalu melakukan apapun demi kepentingan orang yang kita cintai. Meski harus mengesampingkan kepentingan diri sendiri." Jelas Teo yang terbawa suasana. Ia jadi teringat dengan masa lalunya.
"Kamu benar Teo. Semua yang kamu katakan itu benar-benar membuka hati dan pikiranku. Aku benar-benar buta soal ini, karena aku sebelumnya tidak pernah merasakannya."
Gathan baru menyadari jika ternyata rasa yang selama ini menghantuinya adalah rasa cinta kepada Lisya yang sekarang menjadi istrinya. Bukan hanya sebatas rasa simpati kepada peri kecilnya dulu.
"Sama-sama bos." Teo tersenyum manis.
"Istirahatlah di mansion ini. Kamu pasti lelah." Gathan sadar jika saat ini hari sudah malam.
"Tidak perlu bos. Saya pulang saja" Jawab Teo.
"Baiklah, tapi untuk malam ini pulanglah ke apartemen ku. Supaya tidak terlalu jauh. Sering-seringlah kesana." Perintah Gathan, karena ia tahu jika jarak rumah orang tua Teo dengan mansionnya lumayan jauh.
"Baik bos." Jawab Teo patuh.
"Satu lagi, tolong besok buat janji dengan dokter kandungan melalui dokter Rita. Aku ingin memeriksakan istriku yang sudah terlanjur meminum pil itu." Ucap Gathan dengan raut wajah yang kecewa.
"Laksanakan bos. Kalau begitu, saya permisi dulu. Sepertinya nona Lisya sebentar lagi akan sadar." Teo melihat jam tangannya.
"Yasudah, pergilah." Gathan berdiri dari duduknya.
Keduanya keluar dari ruang kerja Gathan, kemudian menuju ke lantai yang berbeda.
** Kamar Utama Mansion **
Cup
Gathan mengecup lembut kening Lisya yang masih setia memejamkan mata.
__ADS_1
"Sadarlah sayang." Bisik Gathan sambil mengecup tangan halus Lisya.
"Maaf, maafkan akuu.. Aku benar-benar b*doh. Hikss" Gathan tiba-tiba menangis karena melihat Lisya yang belum juga sadar dari pingsannya.
"Aku mencintaimu. Sekarang aku yakin, aku benar-benar mencintaimu." Bisik Gathan tepat di telinga Lisya.
Beberapa menit setelahnya,,,
"Emmmmmmhh" Lenguhan Lisya keluar dari bibirnya. Dahinya mengernyit tanda ia akan sadar.
"Sayang, Alhamdulillah. Akhirnya kamu sadar juga." Gathan mengusap air matanya, bibirnya tersenyum senang. Tangannya mengusap lembut rambut istrinya.
"Ahh,, pusing kak. Awwww,, perih." Lisya memegang kepalanya setelah berhasil membuka matanya, ia melihat sekitar lalu hendak bangun dari tidurnya. Namun ia merasakan nyeri yang teramat sangat dibawah sana sehingga kembali pada posisi sebelumnya.
"Sayang, jangan banyak bergerak dulu. Kamu tiduran dulu yaa. Kamu pingsan lumayan lama, jadi jangan langsung bangun. Ini ya yang perih?" Tanya Gathan panik, sambil meraba bagian bawah Lisya yang hanya tertutup bad cover.
Hah?? Aku pingsan?? Pantas saja tubuh ku tadi begitu lemas.
Gumam Lisya dalam hati.
Lisya mengangguk malu. Lalu ia kembali mengingat perlakuan Gathan kepadanya yang begitu kasar, sehingga ia mengalihkan pandangannya kesamping karena enggan melihat wajah suaminya yang telah merenggut kesuciannya dengan paksa dan kasar.
"Sayang, aku minta maaf. Jangan seperti ini." Gathan menyadari perubahan raut wajah Lisya. Tangannya menolehkan wajah istrinya itu untuk menghadapnya.
"Kakak jahat. Kakak tega membuatku kesakitan seperti ini." Tangis Lisya pecah.
"Iya, aku sadar aku salah Ra. Aku minta maaf. Aku janji tidak akan menyakitimu lagi." Gathan memohon.
Lisya hanya terus menangis. Tubuh dan hatinya benar-benar terasa sakit.
"Pak San, tolong bawakan kotak P3K kekamar. Sekalian makan malam untuk istriku. Ah satu lagi, bawakan kembali air hangat yang baru." Perintah Gathan diseberang telepon.
Gathan berniat untuk melepaskan infus Lisya sendiri. Karena ia terbiasa merawat daddy Barra dulu, saat sakit. Ia dan daddy Barra juga sering melakukan infus vitamin untuk menjaga kebugaran dan daya tahan tubuhnya yang tentu sesuai resep dokter.
Tak lama, pak San datang kekamar dengan membawa apa yang diminta Gathan. Lisya yang melihat kedatangan pak San, dengan cepat mengusap air matanya. Lalu dengan segera Gathan melepas infus Lisya dengan sangat hati-hati dan lembut. Setelahnya pak San keluar kamar karena sudah tidak ada kepentingan. Melihat pak San sudah keluar kamar, Gathan tiba-tiba menggendong tubuh Lisya ala bridal dengan sangat hati-hati.
"Eh, kak mau kemana?" Lisya terkejut dengan perlakuan Gathan. Tangannya reflek mengerat pada leher Gathan.
"Bukankah sebelum pingsan, kamu ingin kekamar mandi?" Gathan yang sebelumnya paham tujuan Lisya.
"Aku akan menggendongmu kemanapun, selama 'itu' masih sakit dan perih." Gathan menunjuk bagian bawah Lisya dengan dagunya.
"Gak perlu kak, a-aku bisa sendiri." Jawab Lisya malu.
"Aku akan bertanggungjawab..Jadi menurutlah." Ucap Gathan sambil memandang lekat mata Lisya.
Sedangkan yang digendong hanya mengangguk pasrah. Ia tidak ingin membuat suaminya itu emosi, karena takut akan hilang kendali seperti sebelumnya.
To Be Continued đ¤
__ADS_1