
Keesokan Harinya.
"Hemmmmm....." Lisya menggeliat karena merasakan geli-geli nikmat di dagian dadanya. Ia enggan membuka matanya karena masih terasa begitu lengket.
Gathan yang sudah lebih dulu bangun, sedang asyik memainkan spot favoritnya. Saat pertama kali ia membuka mata, tak sengaja tangannya bertengger di dua gunung gantung milik Lisya. Sehingga naluri kelakiannya tidak bisa diam begitu saja. Bahkan saat ini, ia sengaja menempelkan jambangnya pada dua gunung gantung Lisya supaya sang empu terbangun dari tidurnya.
Benar saja, tak berapa lama Lisya membuka matanya karena Gathan semakin gencar melakukan aksinya.
"Emmhhh, kak. Geliii." Ucap Lisya dengan suara parau khas bangun tidur. Yang justru suara itu terdengar semakin seksi menurut Gathan.
"Sayang,, nambah boleh?" Gathan mendongakkan kepalanya menatap Lisya dengan tatapan memohon.
"A-apaa??? Yang kemarin belum puas??" Lisya terbelalak. Ia tak percaya jika suaminya itu memintanya lagi. Sedangkan ia merasa tubuhnya sudah remuk redam, apalagi pagi ini ia harus ke kampus karena masih ada ujian.
"Tentu saja puas sayang. Tapi, semua yang ada pada dirimu ini membuatku candu." Tatapan Gathan semakin berkabut, karena gairahnya yang perlahan memuncak.
"Ta-tapi kak. A-aku harus mandi, aku harus segera berangkat ke kampus." Elak Lisya karena ia takut jika terlambat ujian.
"Kalau begitu, biar aku mandikan supaya lebih cepat." Gathan bangun dari posisinya dengan seringai licik, lalu menarik tangan Lisya supaya segera bangun juga.
"Ehh, kakk. Emmmmbhh.." Lisya terperanjat kaget karena tiba-tiba tubuhnya digendong oleh Gathan ala bridal saat ia sudah bangun dari tidurnya. Lalu dengan cepat Gathan membungkam bibir Lisya dengan bibirnya.
Lisya yang hanya bisa pasrah, semakin mengalungkan tangannya pada leher Gathan. Tak lama, keduanya sampai di dalam kamar mandi dan melanjutkan aktivitas mandi-mandiannya, sesuai yang diinginkan readers.
-
Setelah hampir satu jam bermain mandi-mandian, keduanya keluar dari kamar mandi dengan wajah sumringah mawadah warahmah. Namun, wajah sumringah itu berubah menjadi panik saat Lisya melihat jam yang ada di kamarnya.
"Ya ampuuuunnn. Ini semua gara-gara kakak. Main emboh (nambah) teruuss.! Tu udah jam 7 kak. Sedangkan aku masuk jam 7.45 ! Aku kesiangan ini.!" Lisya cepat-cepat berganti baju didepan Gathan tanpa rasa malu lagi, karena panik.
"Hehehe, maaf sayang. Habisnya kamu hot banget tadi." Gathan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Bagaimana tidak, berkat permainan fullnya kemarin, membuat Lisya semakin bisa mengimbangi Gathan. Bahkan Lisya seringkali mengimprovisasi gaya baru, yang membuat gairah Gathan semakin terpacu untuk semakin menggerakkannya.
"Mana ada! Aku biasa aja kok!" Elak Lisya sambil terus melanjutkan aktivitasnya. Pipinya memerah, karena sebenarnya ia mengakuinya. Entah mengapa ia bisa berubah liar saat sudah terbawa dalam permainan Gathan.
__ADS_1
"Iya-iya biasa aja. Nanti malam kita pakai gaya yang kamu ajari tadi ya. Hihihi." Gathan menowel dagu Lisya untuk menggodanya.
"Eehh?? Apa sih kak!" Lisya semakin salah tingkah karena kembali mengingat gaya barunya tadi yang entah dari mana ide itu bisa muncul.
"Hahaha aku menyukainya sayang. Kerasa banget tadi." Gathan semakin mesum.
"Pokoknya ogah ya! Kakak main sendiri aja.! Aku capek!" Lisya berjalan menuju meja riasnya sambil mencebikkan bibirnya.
"Yaaaaaah, ayolah sayang!" Gathan merajuk.
"Ya ampuuunnnn!" Teriak Lisya.
"Ada apa sayang?" Gathan berjalan menghampiri Lisya dengan posisi masih bertelanjang dada, sedangkan bagian bawahnya masih terlilit handuk sebatas pinggang.
"I-iniii apa-apa an kak?? Banyak bangeet. Ah, makin lama deh ini buat nutupinnya." Lisya kaget karena melihat banyak sekali tanda merah di sekitar leher dan dadanya.
"Hehehe, kalau tidak sempat tak perlu ditutup sayang. Biar semua tahu, kalau kamu itu milikku!" Gathan tersenyum tanpa rasa bersalah.
"Tuman kamu kak! Tau dari mana mereka kalau ini adalah hasil karya kakak? Yang ada teman-temanku mengira aku habis bercocok tanam sama sugar daddy. Kan mereka gak ada yang tahu, kalau aku sudah menikah." Lisya mengerucutkan bibirnya, sambil tangannya menotolkan foundation pada area yang penuh tanda.
"Aku sarapan di mobil aja deh kak. Aku sudah telat banget soalnya. Minta tolong sampaikan ke pak San ya, buat bawain bekal. Heheh" Ucap Lisya.
"Siap istriku sayang. Muah." Gathan mengecup pipi Lisya lalu beranjak dari posisinya untuk menelpon pak San.
Lalu, tak berapa lama Gathan ikut berganti baju karena Lisya terlihat sudah siap untuk berangkat.
"Kak, aku berangkat dulu ya. Maaf, gak bisa bantuin dan temenin kakak buat ganti baju. Assalamualaikum." Lisya mencium tangan Gathan, sedangkan Gathan dengan cepat menarik tangan Lisya kemudian memberikan kecupan hangat bahkan berubah menjadi ******n pada bibir Lisya. 'Ekheem, readers gak boleh iri! Harap maklum mereka lagi bucin-bucinnya. đ
"Hah,, hah,, Kakak ih. Aku sudah telat!" Lisya melepaskan pagutannya, lalu segera meninggalkan Gathan yang masih tersenyum tak bersalah.
" Assalamualaikum." Lisya berjalan keluar kamar.
"Waalaikumsalam, Jangan lupa bekalnya nanti di makan sayang." Gathan meninggikan suaranya karena Lisya sudah melewati pintu kamar.
"Oke.." Lisya kembali mundur, dan menunjukkan wajahnya saja dari balik pintu sambil tangannya ia bentuk seperti tanda metal.
__ADS_1
Lalu ia benar-benar meninggalkan kamarnya untuk segera turun ke lantai 1, dan mengambil bekalnya pada pak San.
"Hah, Menggemaskan sekali! Aku jadi makin jatuh cinta padanya." Gumam Gathan pelan sambil tersenyum bahagia.
Kemudian Gathan melanjutkan memakai pakaiannya hingga akhirnya terlihat sangat rapi seperti biasanya.
Setelahnya Gathan meninggalkan kamarnya, lalu turun ke lantai satu untuk sarapan bersama Teo yang sudah menunggunya sejak beberapa menit yang lalu.
Tak lama, Gathan juga meninggalkan mansionnya bersama Teo. Keduanya menuju gedung BR Group pusat.
-
Satu minggu telah berlalu, tandanya ujian akhir semester Lisya telah usai. Peralihan dari semester 4 ke semester 5, membuat Lisya dan teman-temannya disibukkan dengan persiapan magangnya.
Saat ini Lisya berada di kampus bersama Via dan Bram untuk meminta surat pengantar yang digunakan sebagai pengajuan dimana mereka akan magang.
Sesuai perintah Gathan, Lisya magang di kantor BR Group. Sedangkan Via, lebih memilih magang bersama Bram di Brams Studio, karena ia sudah terlanjur bekerja di sana. Via juga sudah mulai menyesuaikan diri dengan pekerjaannya. Sehingga ia tak ingin terlalu repot untuk menyesuaikan diri dengan pekerjaan baru lagi. Hah memang dasar Via, sukanya yang instan-instan saja kalau kata othor. đ
Setelah surat pengantar mereka dapatkan, ketiganya lanjut menuju Brams Studio, namun Lisya berangkat bersama Ujang sang supir pribadinya. Sedangkan Bram dan Via berangkat bersama, karena Via tidak membawa mobilnya saat berangkat ke kampus.
Ya, Lisya ikut mampir ke Brams Studio karena Gathan sedang ada pemotretan disana. Pemotretan yang beberapa kali sempat tertunda karena hal yang tak terduga. Gathan meminta Lisya untuk menemaninya hingga proses pemotretan selesai.
To Be Continued đ¤
- Annyeong pembaca yang budiman đ-
Anu,,, mandi-mandian itu seperti apa ya readers?? Othor gak paham? Othor masih terlalu polos. đ¤
-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! đ supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --
Salam cium dan peluk jauh. đ¤
__ADS_1