GILA! TAPI AKU CINTA!

GILA! TAPI AKU CINTA!
The Day 'Sah.!'


__ADS_3

**Rumah Sakit Aaa Surabaya **


"Saya terima nikah dan kawinnya Qaleesya Humaira binti bpk Hasanuddin dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Ucap Gathan lantang dan jelas hanya dengan satu tarikan nafas.


"Bagaimana saksi?" Tanya bapak penghulu.


Sah..


Sah..


Sah..


"Alhamdulilah" Ucap Gathan pelan. Kemudian ia dengan khusyuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan oleh sang penghulu.


Ya, akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu Gathan telah tiba. Saat ini diruangan rawat inap VVIP tempat dimana pak Hasan dirawat baru saja menjadi saksi bisu prosesi ijab qobul atas pernikahan Gathan dan Lisya yang dilakukan tepat pada pukul 10 pagi.


Prosesi ijab qobul itu berlangsung secara khidmat dan lancar. Acara tersebut dihadiri oleh beberapa keluarga dekat Lisya dan juga tetangga terdekatnya untuk ikut menyaksikan acara sakral itu. Tak ketinggalan Via sahabat Lisya yang sudah sampai bersama Teo sejak pagi, juga ikut menyaksikan dengan rasa haru dan bahagia. Meski awal hubungan kedua insan yang baru saja sah menjadi suami istri itu seperti air dan minyak yang tak pernah menyatu, namun Via yakin bahwa Gathan bisa menjadi suami yang bertanggung jawab untuk Lisya. Karena hal itu dapat dilihatnya dari perlakuan Gathan satu minggu lalu sebelum adanya kabar buruk dari pak Hasan. Via melihat jika Gathan sangat posesif terhadap sahabatnya itu, ia yakin itu adalah bukti bahwa Gathan benar ingin menjaga Lisya dari laki-laki tak bertanggung jawab di luaran sana.


Sedangkan Lisya duduk disamping ibu Umaira yang tak jauh dari tempat Gathan mengucap Qobulnya tadi, kemudian tanpa sadar ia menitihkan air matanya. Rasa sedih dan haru bercampur aduk dalam hatinya. Entah mengapa baginya, Gathan terlihat sangat keren saat ini. Hatinya berdebar kencang, saat mendengar suara Gathan yang dengan lantang dan jelasnya mengucap qobul atas dirinya dihadapan semua orang yang ada disana, terutama dihadapan kedua orang tuanya. Suara itu seolah menunjukkan bahwa Gathan benar-benar tanpa ragu untuk meminangnya. Seketika ia merasa jika apa yang sudah dikatakan Gathan kemarin memang benar-benar dari hatinya. Namun, ia juga sedih karena ternyata pernikahannya tidak dilandasi dengan cinta darinya, melainkan karena ancaman dari Gathan.



Sontak Lisya langsung memeluk tubuh Ibu Umaira yang ada disampingnya saat mendengar kata 'sah' telah diucapkan oleh beberapa saksi yang hadir dalam prosesi ijab qobulnya. Ia tak kuasa menahan gejolak rasa yang ada dihatinya.


Begitupun dengan Ibu Umaira, beliau membalas pelukan Lisya dengan erat. Beliau merasa terharu karena kini putri mungilnya yang dulu dilahirkan dan dirawatnya dengan penuh kasih telah sah menjadi seorang istri. Beliau juga bahagia, karena akhirnya Lisya telah dipertemukan oleh jodohnya disaat usianya yang semakin menua, dan kesehatannya yang sudah menurun.


Tak berapa lama, Lisya dituntun ibu Umaira untuk menghampiri keberadaan suaminya yang tak lain yaitu Gathan yang saat ini masih berada satu meja dengan bapak penghulu. Gathan berdiri menyambut kedatangan istrinya yang terlihat sangat cantik dengan balutan make up tipisnya itu.



Sesuai arahan tim dokumentasi, Lisya mencium punggung tangan Gathan sebagai tanda kepatuhan istri terhadap suaminya dengan kaku dan malu-malu. Setelahnya Gathan yang tak sabar, tanpa menunggu arahan dengan cepat tangannya menarik pinggang Lisya supaya mendekat kearahnya. Lalu mencium kening istri sahnya itu dengan lembut dan sahdu. Matanya terpejam, menikmati moment hangat itu hingga beberapa detik tanpa beralih dari posisinya. Membuat semua orang yang berada disekitar ruangan termasuk kedua orang tua Lisya dan daddy Barra tetawa sambil menggelengkan kepalanya saat melihat kelakuan pengantin laki-laki yang menurutnya sangat tidak sabaran itu.

__ADS_1


"Nak, tunggu.. Sabar dulu. Acaranya belum selesai." Bisik daddy Barra yang berada di samping Gathan.


Gathan yang mendengar bisikan daddynya membuat dirinya tersadar. Ia membuka matanya dengan cepat lalu menjauhkan bibirnya dari kening istrinya itu. Sedangkan Lisya jangan ditanya, pipinya merah merona melebih blush on yang dipakainya. Ia malu mendapat perlakuan mendadak yang memalukan dari Gathan, meski tak dapat dipungkiri jika ciuman beberapa detik pada keningnya tadi terasa sangatlah hangat.


Melihat Lisya yang malu, dan salah tingkah membuat Gathan segera menuntun istrinya itu duduk dikursi untuk prosesi penandatanganan buku nikahnya.


Bram yang melihat ke agresifan klien VVIPnya yang sekarang telah sah menjadi suami temannya itu menggerutu pelan.


"Ck,,, Belum juga gue kasih arahan, udah main nyosor aja. Resiko emang kalo nikah sama om-om. Gue jadi kasihan sama si Lisya." Gerutu Bram pelan sambil tetap mengabadikan moment sakral mereka berdua.


Ya, tim dokumentasi yang saat ini sedang sibuk mengabadikan prosesi ijab qobul Gathan dan Lisya adalah Bram's Studio yang tak lain adalah milik Bram Pratama.


Saat dua hari sebelum acara pernikahan dilaksanakan, Gathan diam-diam memerintahkan Teo untuk meminta Bram's Studio mengabadikan moment pentingnya dengan dalih jika itu hanyalah sebuah momen peresmian seperti yang biasanya dilakukan. Sehingga Bram tak mengetahui sama sekali mengenai acara pernikahan dadakan itu.


Selain karena Bram's Studio sudah menjadi tim dokumentasi untuk BR Group sejak satu tahun yang lalu, Gathan sengaja mengundang Bram pada saat itu. Agar nantinya menyaksikan secara langsung, jika Lisya teman sekaligus karyawan Bram telah sah menjadi istrinya. Bagi Gathan, itu akan dapat membuktikan pada laki-laki itu bahwa dirinya telah memiliki hak penuh atas Lisya. Sehingga supaya Bram tidak dapat lagi ikut campur terhadap Lisya dan dirinya, apalagi dengan berani menyentuh Lisya walau hanya seujung kukupun.


Bram bersama tim sampai di Surabaya tepatnya rumah sakit Aaa tempat dimana pak Hasan dirawat dan acara ijab qobul dilaksanakan, dua jam sebelum acara dimulai. Sehingga Via yang lebih dulu sampai rumah sakit sejak pukul enam pagi, tidak mengetahui jika Bram juga ikut ke Surabaya ditempat yang sama pula.


πŸŒ€ Flashback On πŸŒ€


Gathan melakukan panggilan telepon kepada Teo saat Lisya keluar ruangan. Ia izin sedikit menjauh dari ibu Umaira yang sejak tadi berada disampingnya.


" Teo, aku ingin Bram's Studio menjadi tim dokumentasi acara pentingku.!" Ucap Gathan saat sambungan teleponnya mendapat jawaban.


"Baik bos. Siang ini akan aku sampaikan ke mereka." Jawab Teo.


"Bagus, tapi aku ingin kamu tidak memberitahu jika acara penting itu adalah acara pernikahanku dengan Aira. Aku ingin kamu memberitahunya jika acara itu, adalah acara peresmian seperti yang biasa ia dokumentasikan." Jelas Gathan sambil tersenyum penuh arti.


"Siap bos. Apapun yang bos mau." Jawab Teo yang sudah paham betul dengan maksud Gathan.


"Dan,,, satu lagi. Saat kamu berangkat kesini, ajak sahabat Aira yang satu kamar kos dengannya itu. Namanya, emmm siapa ya lupa...." Ucap Gathan terhenti sambil memikirkan nama sahabat Lisya yang dilupakannya.

__ADS_1


"Nona Via bos." Potong Teo.


"Aahh iyaa itu, sorry ingatanku hanya ada nama calon istriku saja. Hahahah" Ucap Gathan kemudian tertawa lepas, membuat semua yang ada diruangan dibuatnya kaget dan heran. Apalagi daddy Barra yang tidak menyangka jika putranya yang dingin itu bisa tertawa lepas dan wajahnya terlihat jika saat ini sedang bahagia. Daddy Barra juga ikut tersenyum bahagia, karena akhirnya putranya kembali menjadi sosok yang hangat seperti dulu saat bersama Lisya waktu kecil.


"Ah ini juga, kamu harus ingat jangan beritahu perempuan itu tentang acara pernikahan ku dengan Aira. Dan... Jangan beritahu jika Aira yang meminta dia datang ke sini." Perintah Gathan lagi yang sedikit ia lebihkan. Karena sebenarnya Lisya hanya meminta tidak memberitahukan kabar pernikahannya, namun tidak melarang jika menyebut namanya saat mengajak Via nanti. Agar temannya itu tidak bingung.


"Terus, saya harus bagaimana bos? Apa yang saya katakan kepada nona Via jika tidak ada alasan yang jelas." Tanya Teo bingung. Mana mungkin ia bisa mengajak teman dari calon istri bosnya itu tanpa memberitahukan maksud sebenarnya apalagi tanpa menyebutkan nama Lisya sahabatnya.


"Itu terserah kamu, aku tidak mau tahu. Pokoknya, pastikan jika kedua teman Aira itu tidak mengetahui acara sesungguhnya sebelum mereka melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.!" Perintah Gathan dengan tegas.


"Baik bos." Jawab Teo tak semangat. Jika urusan Bram, mungkin ia bisa mengatasinya. Tapi kali ini menyangkut seseorang yang tidak begitu ia kenal, ia masih belum bisa menemukan alasan yang tepat untuk mengajak Via nantinya.


"Oh iya,, kamu berangkat pakai jet pribadi ku saja bersama teman Aira itu. Sedangkan tim Bram's Studio, siapkan penerbangan komersial untuk mereka!" Ucap Gathan dengan senyum penuh kemenangan, karena berhasil mengerjai Teo.


"Ha??? Kok begitu bos?" Jawab Teo kaget.


" Kenapa? kamu menolak perintahku?" Tanya Gathan tegas.


"Ahh... tidak bos. Maaf." Jawab Teo pasrah.


"Yasudah ku percayakan semuanya padamu." Ucap Gathan lalu menutup teleponnya dengan perasaan bahagia.


πŸŒ€Flashback Off πŸŒ€


To Be Continued. πŸ–€


-- Annyeong pembaca yang budiman πŸ’•--


Maafkeun othor yang baru sempat update, karena masih sibuk dengan persiapan pindahan dari Lombok ke Jawa hihi.


-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! πŸ™ supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --

__ADS_1


Salam cium dan peluk jauh. πŸ€—


__ADS_2