GILA! TAPI AKU CINTA!

GILA! TAPI AKU CINTA!
Panggilan Spesial


__ADS_3

Tok.. Tok.. Tok.


Ceklek.


"Ooh myyyyyy eeeyyyyyeeessss...! Mas kyuuuuttttt!" Ucap Via dengan mata berbinar.


"Kyuuuttttt?" Tanya Teo Heran.


Ya, laki-laki yang sedang mengetuk pintu kos di pagi hari itu adalah Teo. Ia baru saja kembali dari Bandung, dan langsung menghampiri kos tersebut. Hal itu sudah dapat dipastikan jika Teo datang bukan karena maunya sendiri, melainkan karena seongok bos yang saat ini sedang duduk santai didalam mobil yang terparkir didepan pekarangan rumah ibu kos.


"Iya kyuutttt , Cu-Te mas.. Cu-Te.. kan bacanya kyut." Jawab Via sambil tersenyum yang entah mengapa bagi Teo sangat menggemaskan.


"Ehemmm... Nona Lisya nya ada?" Tanya Teo cepat untuk mengalihkan isi pikirannya.


"Oh, Adaa. Si mas brew pasti yang nyari yaaa?" Tanya Via sambil mengerlingkan matanya.


"Bisa dipanggilkan nona Lisya nya?" Ucap Teo tanpa menjawab pertanyaan Via.


"Hisssss,, dasarr ga sopan deh mas kyut,!. Lagiaan ngapain sih bertamu pagi-pagi??" Tanya Via karena kesal pertanyaannya tak dijawab Teo.


"Bukankah sudah ada aturan ini?" Jawab Teo sambil menunjuk papan yang tertempel di dinding luar kamar kos.


"Ckkk, Iya juga sih!. Jadi itu sebabnya kalian datang kesini pagi-pagi? Karena tahu kalau ada larangan terima tamu dimalam hari?" Tanya Via kembali.


Teo hanya diam tak bergeming, matanya fokus menatap Via dengan tatapan datarnya karena malas menjawab pertanyaan Via yang tiada habisnya itu. Membuat yang ditatap menelan salivanya dengan susah, dan salah tingkah.


"Siapa Vi?" Teriak Lisya saat selesai memakai riasan tipisnya.


"Aahh,,, ehhh.. Ii-iniii.." Jawab Via gelagapan.


Mampus,, ini tatapane opo-opo an to..! Ko guanteng pol ngene! Salting aku mas!


Gumam Via dalam hati saat matanya masih fokus melihat tatapan Teo.


"Heii.. Kamu tuh ditanya malah ah eh ah eh.. Lohh, kamu kan asistennya bos gil..." Ucap Lisya saat matanya berganti melihat Teo


"Bos Gathan non namanya. Dan nama saya Teo." Potong Teo sambil tersenyum, karena ia tahu jika Lisya akan memanggil bosnya dengan sebutan bos gila.


Tring. Tring. Tring.


"Hallo bos?" Ucap Teo, saat menerima panggilan telepon dari bosnya yang tak lain adalah Gathan


"Awas aja! Jaga bibirmu! Jangan genit-genit dengan dia!." Ancam Gathan dibalik telepon,,karena entah mengapa ia merasa Teo akan tebar pesona dengan Lisya.


"Baik bos." Jawab Teo singkat


"Ingat.!! Jaga pandangan mu. Jangan melihatnya lebih dari 5 detik. Jika melanggar, aku congkel matamu!" Ancam Gathan kembali.


Ya, Gathan saat ini sedang menunggu Teo didalam mobilnya. Ia enggan masuk kedalam kawasan kos Lisya karena jalannya yang sangat sempit. Serta dirinya merasa lelah setelah melakukan perjalanan dari Bandung. Namun justru itu membuat dirinya tak tenang, karena memikirkan jika saja Teo akan menggoda bahkan terpesona dengan gadis kecilnya itu. Untuk itu, ia menelpon Teo untuk melontarkan beberapa ancamannya tadi supaya pikirannya tenang.


Tut.


"Hahh... bisa-bisanya!" Gumam Teo pelan, setelah sambungan teleponnya terputus.


"Ehem.., kak Teo?? Ada perlu apa ya?? Ah iya aku panggil kak aja ya biar nyaman." Tanya Lisya saat melihat Teo sudah tidak menerima teleponnya.


"Ahh begini nona Lisya, Anda sudah ditunggu oleh bos Gathan di mobil. Mobilnya ada didepan. Soal panggilan ituu,, terserah anda nona, asal bos saya menyetujui nya." Jelas Teo


"Ha?? Mau ngapain dia pagi-pagi begini kesini?" Tanya Lisya terkejut.


"Saya kurang tahu nona, Anda bisa menanyakannya langsung dengan beliau." Jelas Teo.


Hiiiihh,, baru juga kemarin aku rasani, tumben ga ada baunya tu orang. Eh sekarang muncungul lagi.. Pagi-pagi begini lagi. Hahh.. Sudah dipastikan hari-hari ku ga bakal tenang lagi ini!


Gumam Lisya dalam hati.


"Maaf kak, tapi aku sama Via lagi ada kelas pagi ini! Jadi sampaikan saja kalau.." Ucap Lisya terpotong


"Biar aku antar! Nanti pulang nya aku jemput!" Potong Gathan yang berjalan menuju kamar kos Lisya dan Via. Setelah sedari tadi dirinya gelisah dengan pikiran su'udzonnya terhadap Teo.

__ADS_1


"Ha?? No! Gausah.!" Jawab Lisya singkat


"Ehh, kenapa gak mau sih Sya?? kan lumayan dapet tumpangan gratis?" Ucap Via asal.


"Ck, Diem kamu Vi!" Jawab Lisya kesal


"Aku tidak terima penolakan! Nanti siang aku akan pemotretan di tempatmu bekerja! Jadi sekalian saja. Ayo berangkat sekarang!" Ucap Gathan seenaknya sambil menarik tangan Lisya.


"Eh,, mulai dehhh bos gila ini! Bisa gak sih gak main tarik-tarik orang begini!" Ucap Lisya sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Gathan


"Kamu ikut denganku, atau aku buat semua penghuni kos ini terbangun supaya bisa melihatmu saat aku gendong!" Ancam Gathan.


"Hah!! Dasarrr bos gila, bos sableng!" Racau Lisya


"Rupanya kamu masih berani memanggilku dengan sebutan itu ya! Mau aku gendong lagi Hah?! Teo.. buat kegaduhan supaya....." Ucap Gathan terpotong


"Iya.. Iyaaa aku minta maaf,.! Tunggu aku mau ambil tasku dulu didalam! Lepasin dulu tanganmu ini." Ucap Lisya, kemudian dengan langkah gontai memasuki kamarnya lalu mengambil tasnya yang tergeletak di atas kasurnya.


"Vi, kamu aku tinggal dulu ya. Gapapa kan? Ingat jangan pulang malam-malam! Tuh baca aturan!" Pamit Lisya kepada Via, yang sedari tadi hanya melongo melihat adegan yang baginya seperti drama romantis yang sering ia tonton.


Via hanya mengangguk pelan sambil matanya masih fokus melihat mas brew yang baginya sangat jantan itu.


Kemudian Lisya, Gathan, dan Teo berjalan menuju mobil yang terparkir didepan pekarangan ibu kos.


Dengan cepat Gathan menarik tangan Lisya yang hendak membuka pintu mobil bagian samping kemudi. Lalu ia menuntun Lisya untuk masuk kedalam kursi penumpang setelah pintu mobil berhasil ia buka. Lisya yang malas berdebat, hanya menuruti perintah Gathan. Kemudian Gathan berjalan memutar ke arah belakang mobil lalu membuka pintu mobil sisi satunya. Sehingga Gathan dan Lisya duduk bersebelahan di kursi penumpang. Sedangkan Teo duduk di samping supir pribadi BR Group. Tak lama kemudian mobil itu melaju ke arah kampus Lisya, yang pasti sudah diketahui oleh Teo sebelumnya.


"Kamu sudah makan?" Tanya Gathan memecah keheningan.


"Heii.. Aku bertanya kepada mu!" Ucap Gathan kesal saat Lisya tak menjawabnya.


"Oh.. aku kira kamu tanya sama kak Teo, atau bapak supir itu." Jawab Lisya enteng karena dirinya memang tidak merasa ditanya.


Mampus jum, tuh ngapain si nona Lisya nyebut gue pake sebutan 'kak'! Jelas gue jadi sasaran bos absurd itu sebentar lagi!


Gumam Teo dalam hati sambil memejamkan matanya. Seolah paham bagaimana respon bosnya setelah ini.


"Ck,, Sakit telinga ku nih! Aku bilang aku kira kamu tanya sama kak Teo, atau bapak supir itu!" Ucap Lisya kesal sambil memanyunkan bibirnya


"Teo.!!!!!! Kamu aku potong gajimu 50% selama enam bulan!" Ucap Gathan dengan geram menatap punggung Teo.


"Maaf bos. I-itu bukan saya yang minta." Jelas Teo, sesuai dugaannya.


"Jelas pasti kamu menggodanya kan saat sebelum aku turun tadi!" Ucap Gathan tak mau menerima alasan.


"Sungguh bos, sama sekali tidak!" Jelas Teo kembali.


"Ck,, Ingat! Gajimu tetap aku potong,! Kamu lagi,,,Bisa-bisanya kamu panggil dia dengan sebutan 'kak' sedangkan kamu memanggilku 'bos gila, bos sableng'! Apa istimewanya Teo dimatamu hah!" Tanya Gathan kepada Lisya dengan wajah yang merah padam.


"Hahh.. Ya Allah gusti.... Cum..." Ucapan Lisya terhenti saat matanya tidak sengaja melihat kearah spion atas yang ada di bagian kemudi. Ia melihat Teo yang sedang menatapnya dengan tatapan memohon untuk menyelamatkan dia dari amukan bos absurdnya supaya gajinya tetap aman. Teo meletakkan telunjuknya di dekat bibirnya, menandakan bahwa berhati-hati lah jika akan menjawab.


Lisya yang tidak tega dengan tatapan Teo, dan sadar memang sebenarnya itu karena ulahnya, akhirnya ia berusaha mengendalikan emosinya yang sempat menggebu-gebu tadi supaya bisa menjawab pertanyaan bos gila itu dengan santai.


"Huffffffffff, hah." Lisya mngatur nafasnya sejenak


"Tidak ada yang spesial kok, aku panggil 'kak' karena spontan aja. Dan kalo 'kak' itu kan supaya lebih akrab aja." Jawab Lisya tanpa berfikir panjang karena belum mengetahui sifat Gathan yang akan selalu mempermasalahkan setiap kata jika sudah emosi.


"Apa kamu bilang! Akrab?? Jadi kamu mau lebih akrab dengan Teo, dibanding denganku,!" Teo.........!!!" Ucap Gathan yang semakin emosi namun terpotong.


"Aaahhhh...!! Kamu bisa diam dulu ga sih! Kalo tidak, Aku keluar nih dari mobil!!" Teriak Lisya memotong ucapan Gathan karena geram dengan sikapnya yang menurutnya kekanak-kanakan. Tangannya yang sudah siap memegang handle pintu mobil serta matanya menatap tajam kearah Gathan.


Gathan yang mendapat sentakan dari Lisya mendadak njelulu, tubuhnya langsung mematung. Bibirnya terkunci rapat. Otaknya berhenti sesaat. Tanpa berfikir jika Lisya tidak akan bisa keluar jika pintu mobil itu tidak terbuka kuncinya.


Sedangkan Teo, dan sang supir, jangan ditanya lagi. Keduanya terkejut dengan teriakan mendadak dari Lisya yang membuat kedua telinga mereka berdengung. Keduanya juga tidak menyangka jika bosnya yang dikenal kejam itu langsung terdiam tak berkutik saat mendapat ancaman yang tidak masuk akal dari Lisya.


"Bisa tidak jangan sedikit-sedikit sebut asisten mu itu! Dia itu tidak salah!! Bukannya aku membelanya! Tapi memang panggilan itu murni spontan aku ucapkan dari mulut ku tanpa asisten mu itu minta! Ngerti.!" Jelas Lisya terjeda karena nafasnya memburuh. Ia kembali mengatur nafasnya supaya tidak semakin emosi.


Gathan yang ditanya hanya mengangguk pelan, tanpa bersuara, seoalah dirinya terkena hipnotis dari suara Lisya.


"Daann,, aku minta maaf atas panggilan ku ke kamu sebelum-sebelumnya. I-itu karena aku terbawa emosi sejak pertama kali kita ketemu. Jadi akhirnya mulut ini terbiasa memanggilmu dengan sebutan itu."

__ADS_1


"Please, kamu jangan marah. Kamu mau aku sebut apa sekarang? Mau aku sebut 'kakak' juga seperti dulu?" Tanya Lisya dengan nada yang lebih lembut karena ia berusaha mencairkan suasana.


Bagaimana Gathan?? Jangan ditanya lagi, pipinya merona. Hatinya berbunga-bunga, pikirannya melayang kemana-mana, Bibirnya melebar memperlihatkan senyumnya.


Heng,,, wes too, njelulu kan? 🤔



"I-iyaaa,, terserah kamu saja." Jawab Gathan malu-malu sambil kepalanya mengangguk pelan.


Lisya yang menyadari jika bos gila itu mulai tenang, akhirnya dia juga menunjukkan senyum manisnya itu kepada Gathan. Ia baru tahu, jika orang disampingnya itu akan mudah mereda emosinya, apabila ditanggapi dengan ucapan lembut.


"Yasudah, aku panggil kak Gathan yaa? Biar aku gak lupa dengan namamu. heheh." Ucap Lisya sambil tersenyum memperlihatkan gigi putihnya.



Deg.. Deg.. Deg.. Jediar. Jediarrr


Jantung Gathan berdegup dan meletup kencang saat melihat senyuman Lisya yang entah mengapa baginya sangat muwaniisssss itu.


Ahhh.... Jantung gue kenapa ini. Kenapa berdegup kencang gini saat lihat senyumnya. Sitik tapi muaaniiss (dikit tapi muaniis).


Gumam Gathan dalam hati, karena telah membuatnya salah tingkah.


Buahahahaha ckckckckckck boss.. bosss. baru juga kena omongan sama senyuman lembut dari nona Lisya udah ngelag


Gumam Teo dalam hati sambil menertawakan bosnya yang berubah lulut (jinak) saat ia melihat sekilas dari kaca spion diatasnya.


"Tapi jangan panggil dia kakak juga! Aku tidak sudi jika panggilanku sama dengan dia!" Ucap Gathan sambil menunjuk Teo dengan wajah merajuk seperti anak kecil


Teo yang disebut-sebut kembali, dengan cepat merubah wajahnya dalam mode serius dan kemudian menggelengkan kepalanya tanpa sepengetahuan bosnya.


"Hah,, iya iya.. trus aku panggil apa dong?" Jawab Lisya mengalah karena tak ingin kembali berdebat.


"Panggil dia 'Bango'.!" Ucap Gathan asal


"Hah? Kenapa jadi nama kecap?" Tanya Lisya heran. Apalagi yang punya nama, jangan ditanya lagi bagaimana sekarang ekspresinya. Teo menggerutu tidak jelas karena tidak terima dengan panggilannya.


"Iyaa pokoknya panggil itu aja! Ingat, panggilannya harus lengkap 'bango', Aku tidak terima penolakan.!" Ucap Gathan dengan senyum sinisnya karena berhasil menang dari Teo.


Ya, 'bango' sebenarnya singkatan dari Bang Teo. Karena menurut Gathan panggilan itu lebih keren darinya jika dipisah, akhirnya ia meminta Lisya untuk memanggil Teo dengan singkatannya saja.


"Hah... Iyalah Bango!" Jawab Lisya mengalah


"Good,, !"


"Ehm mumpung bahas panggilan, kenapa kamu jadi dipanggil Lisya sih? Setauku kan nama kamu Aira?." Tanya Gathan penasaran.


"Emm itu karena nama depan ku kan Qaleesya, jadi temen-temanku sekolah sampai kuliah sekarang pada panggil nama depan ku itu biar gampang. Kalo Aira itu diambil dari nama belakang ku Humaira, Jadi ayah lebih suka panggil aku Aira, karena namanya sama dengan ibu." Jelas Lisya dengan panjang lebar.


Gathan yang melihat Lisya menjelaskan dengan panjang lebar itu tersenyum tipis. Ia seolah melihat 'peri kecilnya' dulu yang sangat semangat jika bercerita.


Tak terasa mobil Gathan telah sampai pada halaman depan kampus Lisya. Dengan segera Lisya turun dari mobil itu, namun tangannya ditahan oleh Gathan.


"Nanti jangan berani meninggalkan kampus, sebelum aku menjemputmu! Kalau tidak..." Ucap Gathan kembali terpotong.


"Iyaa.. iyaaa gausah main ancam lagi. Makasihh tumpangannya.!" Ucap Lisya, kemudian ia keluar dari mobil itu dan segera berlari menuju kelasnya karena takut terlambat.


Gathan tersenyum senang saat melihat kepergian Lisya, entah mengapa keputusannya untuk menemui Lisya pagi ini tidak lah salah. Karena berkat Lisya, rasa lelahnya sejak kemarin malam serasa sirna begitu saja. Apalagi saat mendengar ucapan lembut Lisya, dan yang lebih membuatnya bahagia, Lisya kembali memanggil dirinya dengan panggilan di masa kecilnya, yang dibubuhi dengan nama aslinya. Menurutnya itu adalah panggilan spesial untuknya.


To Be Continued 🖤


-- Annyeong pembaca yang budiman 💕--


Maaf kalau updatenya masih suka telat yaa. Othor masih fokus sama kehidupan nyatanya .


-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! 🙏 supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --


Salam cium dan peluk jauh. 🤗

__ADS_1


__ADS_2