GILA! TAPI AKU CINTA!

GILA! TAPI AKU CINTA!
Saling Menyadari Perasaan.


__ADS_3

Gathan mendudukkan tubuh Lisya di samping wastafel dengan pelan. Gathan sama sekali tak mengizinkan Lisya berjalan maupun berdiri walau hanya sebentar saja. Setelahnya, Gathan menghidupkan kran air untuk mengisi bathup. Ia menyetel kran air pada suhu hangat agar Lisya dapat berendam dengan nyaman.


Tak berapa lama, bathup sudah terisi air hangat sesuai yang diinginkan. Tak lupa Gathan meneteskan aroma terapi dan sabun beraroma vanila kesukaannya.


Lalu Gathan menghampiri Lisya yang masih terduduk melihat pergerakannya. Tangannya hendak melepaskan bad cover yang masih terlilit ditubuh istrinya itu.


"Ehh, tu-tunggu. Ka-kakak mau apa?" Tanya Lisya takut, sambil tangannya merapatkan pegangan pada bad cover yang menjadi pelindung tubuh polosnya.


"Tentu saja melepas ini, kamu mau berendam pake bad cover tebal ini" Jawab Gathan enteng.


"Ta-tapi... ." Jawab Lisya terbata.


Aku malu dan aku juga takut, kalau berujung gitu lagi. Ini aja rasanya masih perih banget.


Gumam Lisya dalam hati.


"Aku sudah melihat semuanya sayang. Tak perlu malu." Ucap Gathan sambil tersenyum penuh arti seolah tahu jalan pikirannya.


"Ta-tapi kak,,, Ehh,,,," Ucapnya terpotong.


Gathan segera menarik bad cover itu, lalu menggendongnya kembali. Kemudian diturunkannya Lisya pada bathup agar bagian bawahnya bisa segera rileks dan tak perih.


Gathan berjongkok disebelah Lisya sambil memandangnya penuh kasih. Matanya tak berkedip sedikit pun saat menatap mata yang baru ia sadari, telah membuatnya tertarik sejak pertama kali bertemu. Tangannya membelai lembut rambut istrinya itu.


"Ka-kak,,, Kenapa menatapku seperti itu??" Lisya salah tingkah. Sedangkan Gathan hanya menggeleng pelan, bibirnya tersenyum tipis.


"Le-lebih baik kakak keluar deh, aku mau mandi dulu." Ucap Lisya yang semakin salah tingkah, Ia memalingkan wajahnya karena Gathan tak melepaskan tatapannya. Ia juga masih marah dan kesal jika mengingat perlakuan Gathan yang penuh paksa dan kasar tadi.


Namun Gathan sama sekali tak menanggapi perkataan Lisya. Tangannya menelusupkan helaian rambut Lisya yang jatuh kedepan menutupi sebagian matanya kebelakang telinganya.


"Maaf,,." Bisik Gathan, matanya tiba-tiba berkaca-kaca.


Lisya terdiam masih tetap memalingkan wajahnya.


"Maaf karena membuat mu kesakitan dan pingsan." Tangan Gathan membelai pipi mulus Lisya.


"Jangan marah, percayalah padaku." Gathan memohon.


"Aku mencintaimu." Bisik Gathan tepat ditelinga Lisya.


Lisya yang mendengar kata cinta dari Gathan benar-benar tak menyangka. Matanya terbuka lebar, dengan cepat ia kembali menatap mata sang pemilik suara itu.


"A-apa yang kakak katakan barusan?" Lisya ingin memastikan kembali .


"Aku mencintaimu Qaleesya Humaira El Barra." Ucap Gathan mantap sambil menatap lekat mata Lisya.


"Ka-kak serius? Gak bercanda?" Tanya Lisya masih tak percaya. Gathan hanya menggelengkan kepalanya. Bibirnya tersenyum penuh arti.


"Aku serius sayang." Gathan membelai kepala Lisya dengan lembut.


"Apa yang membuat kakak yakin kalau kakak mencintaiku? Bukankah kakak waktu itu masih bingung dengan perasaan kakak?" Tanya Lisya kembali.


"Semua yang telah terjadi hari ini, membuatku yakin, jika perempuan yang ada didepan ku saat ini, adalah perempuan yang sangat aku cintai. Saking cintanya, sampai-sampai aku kalap dan tak bisa menahan emosi untuk merebut mahkota itu dengan paksa, saat tahu perempuanku ini tak ingin mengandung anakku nanti." Gathan sambil menunjuk bagian bawah Lisya dengan dagunya.


"Semua itu terpaksa aku lakukan, karena aku mengira kamu akan meninggalkanku setelah ini. Jadi sebelum semuanya terjadi, aku ingin membuatmu tak bisa lari dariku. Karena akulah pemilikmu sesungguhnya." Tatapan Gathah memohon. Lisya menggelengkan kepala sebagai isyarat jika apa yang dikatakan Gathan barusan tidaklah benar.

__ADS_1


"Tapi setelah melakukannya, justru tidak membuatku tenang, malah membuat ku takut setengah mati saat melihatmu tak sadarkan diri begitu lama akibat perbuatanku. Aku benar-benar menyesalinya sayang." Air mata Gathan lolos hingga melintasi pipinya.


"Maafkan aku sayang. Aku memang b*doh sampai tega memaksamu melakukan itu tanpa memperdulikan kondisimu. Aku janji, aku tak akan menyakitimu lagi." Gathan memohon sambil memegang tangan Lisya erat.


"Aku bahkan baru menyadari jika ternyata aku telah mencintaimu dari sejak pertama kita bertemu. Jadi aku mohon, jangan pernah kamu berniat untuk meninggalkanku disaat aku baru menyadari perasaanku ini." Gathan mengecup tangan Lisya dengan lembut.


"Sejak pertama bertemu?" Tanya Lisya heran.


"Iya, Teo telah menyadarkanku. Jika ternyata aku sudah jatuh cinta dengan pemilik mata indah ini sejak pertama kali kita bertemu." Gathan mengecup mata Lisya dengan lembut.


"Mata ini lah yang mampu membuatku tertarik dan penasaran sejak awal, hingga akhirnya mampu meluluhkan hatiku yang telah mengeras selama belasan tahun." Gathan tersenyum penuh arti.


Kemudian Gathan menceritakan kepada Lisya tentang sesi curhatnya bersama Teo.


"Apa yang dikatakan Teo itu benar, bahwa semua yang aku lakukan untukmu, bukan hanya karena rasa simpati kepada sosok peri kecilku dulu. Namun semua itu karena aku benar-benar mencintai seorang Qaleesya Humaira." Jelas Gathan kembali.


" Se-sebenarnya,,, beberapa hari yang lalu, Via juga telah membuka hati dan pikiranku kak." Ucap Lisya malu.


"Hati dan pikiranmu?" Tanya Gathan heran.


"Iya, dia bilang jika ternyata aku juga memiliki perasaan lebih ke kakak." Jelas Lisya dengan pipi yang memerah.


"Benarkah?" Tanya Gathan dengan raut wajah gembira. Sedangkan Lisya mengangguk pelan karena menahan rasa malu.


"Lalu? Bagaimana dengan kata hatimu?" Tanya Gathan penasaran.


"A-awalnya aku masih ragu dengan perasaanku kak. Tapi,,, setelah kakak beberapa hari berubah cuek dengan tidak membalas pesanku, yang aku tahu itu pasti karena kakak sedang sibuk."


"Membuatku selama beberapa hari itu, merasa kehilangan sosok yang selama ini selalu ada buatku. Membuatku merasa sepi, trus tak bersemangat jalani hari-hari." Jelas Lisya.


"Foto?" Gathan mengernyitkan dahinya.


"Iya kak." Lisya menceritakan semua kejadian saat sehari sebelum Gathan pulang.


Lisya menceritakan semuanya mulai dari kegalauannya karena tak mendapat balasan pesan dari Gathan, hingga ketakutannya saat melihat berita yang viral di akun 'lambe omes', ditambah kecemburuannya saat melihat foto yang dikirimkan Bram kepadanya hingga akhirnya memutuskan meminum pil penunda kehamilan yang dibelinya.


"Apa!! Rupanya gara-gara keong racun itu, sehingga kamu semakin mencurigaiku! Berani-beraninya bocah itu!" Gathan kembali emosi saat mendengar nama Bram disebut oleh Lisya. Ia bangun dari posisinya hendak mengambil ponselnya yang ada didalam saku celananya.


"Kak,, please. Kali ini aku benar-benar mohon sama kakak. Jangan sangkut pautkan masalah kita dengan orang lain. Bram tidak berniat seperti yang kakak pikirkan!" Cegah Lisya sambil mengusap lembut tangan Gathan.


Gathan yang mendapat tatapan memohon dan perlakuan lembut dari Lisya, membuat hatinya kembali tenang. Ia kembali pada posisi semula.


"Jangan berhubungan dengan Bram lagi! Blokir nomornya, sampai aku mengizinkan untuk membukanya kembali! " Pinta Gathan.


"Iya kak, asal kakak tidak bertindak aneh-aneh kepada Bram, apalagi dengan usahanya." Jawab Lisya patuh. Ia perlahan hafal dengan sifat Gathan.


"Deal." Jawab Gathan singkat. Ia masih mengatur deru nafasnya akibat emosi sesaat yang menghampiri pikirannya.


"Dengar Ra, kemarin aku sedang menghadiri undangan peresmian hotel disana. Mungkin perempuan yang kamu lihat difoto itu adalah pemilik hotelnya. Karena seingatku, hari itu aku tidak berinteraksi dengan perempuan manapun selain dengannya." Jelas Gathan yang hanya menebak, karena belum melihat secara langsung foto yang di maksud Lisya.


"Soal tanganku yang memegang tangannya, itu hanyalah candaan saat proses wawancara. Waktu itu aku disuruh meramalkan bagaimana kesuksesan hotel itu beberapa tahun kedepan, jika melihat dari sudut pandang ku. Nah perempuan itu menyodorkan tangannya agar aku bisa meramalnya. Otomatis aku juga memegangnya. Mungkin saat itu juga, si bocah keong racun itu memfotoku." Jelas Gathan. Dalam hatinya begitu sebal dengan Bram.


"Soal berita viral itu! Kamu jangan takut,aku tidak akan pernah meninggalkanmu seperti dia! Apalagi, aku melihat jelas kalau kamu masih pms saat kita honeymoon, jadi itu bukti nyata jika kamu hamil, itu adalah anak aku. Dan jika ternyata nantinya kamu hamil beneran, Justru aku akan sangat bangga meski aku belum menyadari perasaanku sekalipun." Jelas Gathan sambil menatap lekat mata Lisya..


"Tapi sekarang aku sudah menyadari perasaanku, Aku akan beribu-ribu bahagia dan sangat bersyukur menerima rezeki yang luar biasa itu nantinya. Aku akan menjagamu berkali lipat agar kamu dan kehamilanmu selalu baik-baik saja." Gathan menjelaskan dengan antusias.

__ADS_1


"Jadi aku mohooon banget sama kamu. Jangan pernah melakukan hal yang tidak-tidak sebelum mendapat persetujuanku. Terutama hal ini, aku tidak akan pernah menyetujuinya sebelum kita mendapatkannya. Aku ingin kamu menjadi ibu dari anak-anakku nanti." Pinta Gathan dengan tatapan memohon.


"I-iya kak. Maafkan aku kak. Aku memang salah." Lisya tertunduk.


"Ya sudah, yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Yang penting jangan pernah mengulanginya lagi. Oke?" Lisya mengangguk mantap. Bibirnya tersenyum tipis.


"Jadi????" Tanya Gathan menggoda.


"Jadi apa kak?" Tanya Lisya heran.


"Jadi, kamu juga mencintaiku?" Tanya Gathan memastikan dengan wajah yang berbinar.


"Se-sepertinya begitu kak." Lisya menunduk malu-malu. Sedangkan bibir Gathan tersenyum bahagia.


"Maaf baru bisa memastikan perasaan ini. Hingga membuatmu sempat ragu denganku. Maaf jika aku banyak kekeliruan, karena ini baru pertama kalinya bagiku." Sesal Gathan.


"Iya kak. Aku juga minta maaf, karena berani,,,,,,,,Emmbbbbbbb" Ucapan Lisya terpotong karena bibirnya telah dibungkam oleh bibir Gathan.


Gathan begitu gemas melihat bibir mungil itu dari dekat. Seakan ia tak ingin membuang waktu untuk mengungkapkan kebahagiaannya karena rasa cintanya telah terbalas.


Lisya yang sudah lega setelah mendengar semua penjelasan dari Gathan, ikut membalas ciuman dadakannya.


Semakin lama keduanya semakin larut, lum*tan keduanya begitu menuntut. Suara decapan bibir memenuhi seluruh ruang kamar mandi.


"Emmmmbbbbbh" Lenguhan Lisya lolos saat tangan nakal Gathan turun ke spot favoritnya. Ia memainkan spot itu dengan lincah karena semakin terbawa susana.


"Aahh, kakhh. A-aku masih takut.. Perih." Lisya melepaskan pagutannya karena masih terbayang dengan rasa yang teramat menyiksa bagian bawahnya.


"Shitt.!" Umpat Gathan pelan.


"Maaf sayang, lagi-lagi aku tergoda dengan semua yang ada pada dirimu." Ucap Gathan dengan nafas yang tersengal.


"Kalau begitu, aku tunggu diluar. Jika sudah selesai, panggil aku." Ucap Gathan.


Cup.


Gathan mengecup singkat bibir Lisya, kemudian berdiri dari posisinya.


"Kakak, jangan marah." Lisya menahan tangan Gathan.


"Tidak sayang. Aku mengerti. Ini hukuman buatku karena telah menyakitimu. Aku akan menunggumu sampai kamu benar-benar siap." Ucap Gathan sambil kembali berjongkok, tangannya mengelus pipi Lisya. Bibirnya terus tersenyum karena tidak ingin membuat istrinya merasa bersalah.


Tak lama, Gathan benar-benar keluar dari kamar mandi. Karena ia tidak ingin khilaf untuk kedua kali.


Sambil menunggu Lisya selesai mandi, Gathan membereskan seprei yang ada bekas darah tadi. Ia membawa ke kamar mandi lain untuk membersihkan noda darah yang begitu banyak karena malu jika diketahui oleh pelayannya. Setelahnya, Gathan meminta pak San memanggil pelayan untuk mengganti seprei baru, dan membawa seprei kotor yang sudah bersih dari noda darah.


To Be Continued 🖤


- Annyeong pembaca yang budiman 💕-


Akhirnya keduanya sudah saling menyadari perasaannya masing-masing. Kira-kira bagaimana kelanjutan rumah tangga Gathan dan Lisya yaa??


-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! 🙏 supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --


Salam cium dan peluk jauh. 🤗

__ADS_1


__ADS_2