GILA! TAPI AKU CINTA!

GILA! TAPI AKU CINTA!
Eksekusi Sekarang!


__ADS_3

"Teo, kali ini kamu benar-benar boleh beristirahat dengan tenang! Karena aku tidak akan keluar kamar hingga besok pagi!" Gathan menyeringai, lalu segera melangkahkan kakinya menuju lift yang ada di mansionnya.


"Baik bos." Teo akhirnya paham dengan gelagat bos absurdnya itu,, lalu segera berbalik arah dan berniat kembali ke kantor. Karena tidak mungkin Teo meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Meski Gathan memintanya istirahat, kali ini ia tidak akan mudah percaya dengan iming-iming bosnya. 😀


"Selamat datang tuan muda Gathan. Anda sudah pulang?" Pak San membungkuk hormat.


"Iya pak San. Karena ada yang harus ditaklukkan sekarang juga.!" Gathan benar-benar memasuki lift.


** Kamar Utama Mansion **


Brak!


"Sayang, dermagaku!" Gathan masuk dengan menggebu-gebu. Karena sedari tadi senjatanya tak berhenti memberontak.


"Kamu dimana sayang?? Kapalmu sudah datang ini!." Gathan melepas seluruh jas dan kemejanya, hingga hanya menyisakan kaos dalamnya saja.


Tak ketinggalan, celana panjangnya juga ia lepas dan lemparkan begitu saja hingga menyisakan kol*r warna soft pink, pilihan Lisya. Ya, Lisya sangat suka dengan warna soft pink, sehingga sengaja meminta pak San untuk menyediakan celana kol*r bewarna itu saat Gathan masih bertugas di luar pulau kemarin. Baginya, Gathan akan terlihat seksi saat memakai warna itu.


Sedangkan Gathan, awalnya benar-benar menolak. Namun karena tak tega saat melihat istrinya itu bersedih, akhirnya dengan terpaksa Gathan memakainya. Bahkan sekarang, dirinya sudah mulai nyaman dengan warna itu. 🤣 . Dasar Lisya gak punya akhlak, kata readers.


Sret,


Gathan membuka bad cover yang terlihat seperti menutupi sesuatu.


"Sayang???" Wajah Gathan berbinar.


"Loh, guling? Kemana dia?" Gathan clingukan karena ternyata yang ditemukan hanyalah sebuah guling.


"Sayang??? Kamu dimana?" Gathan menuju kamar mandi.


Ceklek,


Pruuuuuttt,,


"Uhh, leganya." Ucap Lisya disela aktivitas ngedennya sambil memejamkan mata.


"Sayang, Kamu,,,,,, Emmpphhh." Gathan dengan cepat menutup hidungnya karena telah mencium bau yang begitu semerbak.


"Aaaahhh, Kakak. Tutup lagi pintunya!" Lisya berteriak kaget, karena ternyata suaminya itu telah pulang. Bahkan lebih parahnya lagi, suaminya itu melihat pemandangan dan suara yang tidak seharusnya.


"Maaf sayang. Oke aku tutup lagi! Embbhhhh" Suara Gathan berubah bindeng, karena masih setia menutup hidungnya sambil menutup pintunya kembali.


"Hah, sial,, sial!! Kenapa gatot gini sih surprisenya!" Umpat Lisya kesal, karena rencananya gagal total.


Segala simulasi pose demi pose yang dilakukannya tadi untuk persiapan menyambut kedatangan Gathan benar-benar sia-sia.


Bahkan segala wewangian yang telah melekat pada tubuhnya tak berfungsi pada waktunya.


Ya, bukan wangi Vanila yang tercium oleh indera penciuman Gathan saat pertama kali melihatnya, namun justru wangi perpaduan antara bau pete dan jengkol yang menjadi penyambut kedatangan suaminya.😂


Lisya benar-benar merutuki kebodohannya. Ia lupa tak mengunci pintu kamar utamanya dan pintu kamar mandinya. Karena saking gugupnya menanti kedatangan Gathan, Lisya merasakan mules di perutnya. Hingga akhirnya ia menghentikan simulasinya untuk membuka pintu utama dengan pose sok seksinya, lalu lari terbirit-birit meninggalkan pintu kamar utama itu menuju kamar mandi, tanpa menguncinya terlebih dahulu.


-


Tak lama,, Lisya akhirnya keluar kamar mandi dengan wajah tertunduk malu. Ia keluar dengan balutan handuk kimononya. Rasanya ia ingin membatalkan saja semua rencana surprisenya tadi.


"Hey, kamu kenapa sayang?" Tanya Gathan heran. Ia menghampiri Lisya yang berdiri mematung di depan kasurnya. Lalu Gathan membawanya agar duduk di sofa depan kasur king sizenya.


"Sayang?? Kamu kenapa begini?" Gathan mengangkat dagu Lisya.


"Mana dermagaku yang najkal tadi?" Goda Gathan.


"A-aku malu kak. Hiks, Rencananya gatot. Padahal aku sudah menyiapkan semuanya. Eh ternyata kakak datang di waktu yang tidak tepat.!" Tangis Lisya pecah karena kesal.


"Tidak tepat bagaimana? Bukankah kamu yang memintaku untuk segera pulang?" Tanya Gathan sambil menautkan kedua alisnya.


"I-iyaa,, tapi gak harus pas aku lagi nangkring di WC juga kak. Apalagi kakak main terobos masuk kesana.!"


"Aku kan malu! Masak harusnya kakak lihat pemandangan indah waktu masuk kamar, eh malah lihat aku yang lagi ngeden gitu. Huhuhu. Gak estetik tau gak sih kak.!" Lisya meluapkan kekesalannya.


"Harusnya kan, kakak itu ketuk pintu dulu.! Gak asal masuk. Udah lihat pemandangan yang tidak indah, kakak juga jadi mencium sesuatu yang tidak sedap kan!" Lisya masih terus meracau.

__ADS_1


"Semua ini salah kakak! Rencanaku jadi gatot semuanya! Huhuhu." Lisya semakin menangis.


Dih,,kok malah jadi gue yang salah? Siapa yang nangkring, siapa yang lupa ngunci pintu? Eh malah gue yang jadi tersangkanya.


Gumam Gathan dalam hati sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Semua gairah yang tadi memuncak seolah hilang begitu saja. Ya, saat ini senjata Gathan seperti ilmu padi. 'Semakin berat, semakin menunduk kebawah'.


"Ya-yasudah. Kita ulang dari awal yaa??" Pinta Gathan yang tak kalah absurd. Mana ada yang dikasih surprise malah minta ulang.🤣


"Ulang bagaimana??" Lisya menghentikan tangisnya sambil mengelap air matanya.


"Ya kita ulang, seolah-olah aku belum pulang sayang. Jadi lakukan sesuai rencanamu." Rayu Gathan agar ia tetap bisa mendapatkan hadiah surprisenya. Ia tak mau rugi karena telah meninggalkan rapat pentingnya.


"Mana bisa begitu kak! Udah kadung (terlanjur) kakak lihat semuanya, masak bisa diulang. Huhuhu." Lisya kembali menangis.


"Kenapa tidak bisa? Kan aku memang belum lihat apa yang kamu rencanakan sayang.? Anggap saja, tadi itu improvisasi."


"Improvisasi?" Lisya heran.


"Iya, kan semua yang aku lihat, dengar dan bau, itu tidak ada di script kamu kan!? Panggilan alam itu memang tidak bisa dihindari sayang." Jelas Gathan


"Benar juga sih." Lisya bergumam pelan.


"Nah, setelah ini aku cukup keluar dari kamar, terus aku akan mengetuk pintu, seolah-olah aku baru datang. Dan kamu bisa deh melanjutkan rencanamu." Ucap Gathan dengan seringai liciknya.


"Gak apa-apa kalau begitu?? Kakak masih merasa dapat surprise?" Tanya Lisya polos, sambil kembali megusap air matanya.


"Tentu saja tidak apa-apa sayang. Apapun yang kamu berikan padaku, selalu menjadi kejutan buatku!" Gathan membelai lembut, dan ikut menghapus air mata dipipi Lisya.


Pipi Lisya memerah, ia semakin menundukkan wajahnya. Membuat Gathan semakin gemas, dan ingin menerkamnya, tanpa pakai reka ulang seperti yang akan dilakukannya.


"Ayo! Aku keluar ya? Kamu siap-siap sekarang." Rayu Gathan kembali.


"Ya-yasudah, kakak keluar dulu. Aku kasih kode kalau nanti aku sudah siap." Ucap Lisya malu-malu.


"Oke sayang." Gathan senyum penuh kemenangan.


Cup.


Brak,


Suara pintu kamar tertutup pelan, menandakan jika Gathan sudah keluar kamar. Dengan segera Lisya berdiri dari duduknya, lalu melepaskan handuk kiomononya. Ia menatap dirinya didepan cermin, lalu kembali memoleskan make up di wajahnya yang telah hilang terkena air mata.


Sedangkan diluar kamar, Gathan benar-benar berdiri mematung karena ternyata saat keluar kamar, bersamaan dengan pak San keluar dari lift untuk menuju ke kamarnya.


Gathan awalnya biasa saja, namun berubah luar biasa, ketika melihat pak San sama sekali tak berkedip menatap bagian bawah Gathan karena begitu tak percaya.


Gathan menunduk kebawah, melihat apa yang dilihat pak San.


Doeng!


Matanya terbelalak, Gathan salah tingkah, ia menyilangkan tangannya ke bawah menutup bagian depan dan belakangnya seolah ingin menutupi kol*r warna soft pink yang dipakainya. Namun usahanya sia-sia karena kenyataannya, tangannya tak mampu menutupi kol*r seksinya itu.


Gathan merasa harga dirinya telah sirna. Karena telah membiarkan pak San melihat jati diri yang sesungguhnya saat bersama sang istri.


"Oh maaf tuan muda. Saya kembali saja kalau begitu." Pak San juga salah tingkah saat melihat tuan mudanya salah tingkah.


"Ekheeemmm,,,,, tak apa pak San. Ada perlu apa?" Gathan berusaha berdiri tegap, memasang wajah sok coolnya tanpa memperdulikan kol*r soft pinknya. Suaranya di buat setenang mungkin.🤣


"Saya hanya ingin memberitahukan jika makan siang telah siap tuan. Maaf, tadi saya mencoba telepon namun tidak ada jawaban." Pak San menundukkan pandangannya.


"Antarkan makanannya ke kamar, disaat saya memintanya. Karena saat ini kami belum terlalu lapar." Perintah Gathan lalu segera masuk kedalam kamar karena sudah tak kuasa menahan malu.


Brak!


Gathan menutup pintu dengan sedikit keras karena kesal, hingga ia lupa jika saat ini sedang memainkan reka ulang untuk merayu istrinya.


"Kakak!! Kan aku belum kasih kode! Kok sudah masuk sih!" Lisya berdecak kesal, sambil menyilangkan kedua tangannya menutupi bagian dadanya. Entah mengapa justru nyalinya menciut saat didepan suaminya . Berbeda saat dirinya memancingnya tadi.


Gathan yang sedari tadi merasa kesal, langsung mengindahkan tatapannya ke arah sumber suara. Matanya terbelalak melihat pemandangan indah secara langsung, yang tadi sempat dilihatnya hanya dari foto.


"Dermagaku,!" Ucap Gathan berbinar bahagia.

__ADS_1


Nyuuutttt,


Gathan merasakan nyut-nyutan pada senjatanya. Bagian bawah yang tadi sempat menunduk kebawah, dengan cepat bangun kembali dan mendongak keatas.


Kakinya melangkah mendekati istrinya yang berubah menunduk malu karena panggilannya yang terdengar sangat seksi. Tatapannya masih setia menatap lekukan tubuh mulus nan padat milik sang istri. Berulang kali Gathan menelan salivanya dengan susah payah, saat melihat tombol di dua gunung gantung Lisya menjiplak dibalik kostum seksinya.


"Kapal siap bersandar di dermaga!" Bisik Gathan tepat ditelinga Lisya. Tangannya berhasil menarik pinggang Lisya hingga menempel pada tubuhnya.


"Ta-tapi kak,, Kata kakak pakai reka ulang?" Lisya belingsatan, Bulu kuduknya berdiri akibat bisikan Gathan.


"Tak perlu reka ulang, yang penting eksekusinya sekarang.!" Gathan menggendong tubuh Lisya ala bridal sambil bibirnya ******* bibir mungil Lisya yang sangat dirindukannya.


Dibawanya tubuh istrinya itu pada kasur king sizenya. Hingga saat ini tubuh Lisya berada dibawah kungkungannya. Matanya menatap mata Lisya dengan penuh arti.


" Terimakasih karena telah memberikanku surprise. Terimakasih karena sudah siap." Gathan merapikan rambut Lisya, lalu ia selipkan dibelakang telinga Lisya.


Lisya hanya tersipu malu mendengar ucapan dan merasakan perlakuan lembut Gathan.


" Kali ini aku akan melakukannya dengan sangat pelan." Bisik Gathan lalu kembali mel*mat bibir mungil milik istrinya itu.


Cecapan demi cecapan memenuhi seluruh ruangan kamarnya. Tangan najkal Gathan sudah mulai mengeksplor seluruh tubuh Lisya. Satu persatu kostum seksi Lisya ia lucuti secara perlahan. Hingga akhirnya tubuh mulus nan seksi itu terpampang nyata didepan matanya.


Tanpa basa-basi Gathan memainkan spot favoritnya itu. Spot yang sungguh padat dan terasa kenyal. Setelah puas, Gathan semakin turun dan turun hingga tiba didepan gerbang yang penuh kenikmatan. Tak lupa Gathan meninggalkan jejak kepemilikannya disetiap lekuk tubuh istrinya itu.


"Aahhh,Emmmhhh" Lenguhan Lisya lolos dari bibirnya saat Gathan mulai mencecap gerbang kenikmatan itu dengan penuh gairah, namun masih lembut. Sang empu begitu belingsatan dan sesekali mengangkat kepalanya saat Gathan semakin menenggelamkan wajahnya di bawah sana.


Saat Gathan sudah merasakan gerbang nikmat milik Lisya sangat basah, Gathan melepaskan seluruh pakaiannya hingga terlihat benar-benar polos.


"Kak, Besar! Lebih besar dari kemarin!" Lisya terbelalak saat melihat senjata Gathan yang sudah on. Saat ini selang milik Gathan terlihat jauh lebih besar dari yang dilihatnya kemarin. Untuk itu, Lisya reflek membuka matanya, karena penasaran.


"Tentu saja! karena kamu telah membangunkannya. Dan,, dermaga ini lah yang harus menaklukkannya .!" Gathan tersenyum penuh arti, sambil membelai gerbang milik Lisya.


"Emmmmhh,," Lenguhan dari kedua bibir suami istri itu lolos, saat senjata Gathan mulai mencari jalan yang belum sepenuhnya terbuka, karena baru satu kali dilewatinya.


"Kakhhh, Aku takut." Ucap Lisya pelan, dengan mata sayunya karena mulai terbawa gairah.


"Tenangh sayanghh, Aku akan pelan-pelanh." Jawab Gathan dengan nafas tersengal.


Gathan kembali mel*mat bibir Lisya, supaya lebih rileks dan sejenak melupakan rasa sakitnya.


"Aaahhhhh,,Emmbbbbhh" Desahan Lisya lolos saat senjata Gathan berhasil masuk didalam gerbang kenikmatan Lisya. Lalu Gathan kembali membungkam dengan bibirnya.


"Love you sayanghh" Bisik Gathan disaat ia mulai menggerakkan senjatanya.


"Love u too." Lisya memejamkan matanya, lalu menikmati setiap sentuhan tangan Gathan yang mencari pegangan kemana-mana.


Kali ini benar-benar Gathan melakukannya dengan sangat lembut. Gathan menggerakkan senjatanya dengan begitu pelan hingga setelah beberapa menit, keduanya terbawa suasana menikmati gelenyar yang begitu memabukkan. Gathan semakin mempercepat gerakannya saat merasa ingin mengeluarkan sesuatu. Hingga akhirnya lahar panasnya itu berhasil ia semburkan didalam gerbang milik Lisya. Gathan mengerang beberapa kali, disela semburannya didalam sana.


Seperti kucing yang kelaparan, Gathan melanjutkan aktivitas panasnya berkali-kali. Karena nyatanya, Lisya justru semakin bersemangat, rasa sakit yang sebelumnya menghantui pikirannya, berubah menjadi rasa nikmat yang membuatnya candu. Bahkan saat Gathan meminta Lisya untuk berada diatasnya, Lisya menurutinya dengan antusias. Meski awalnya masih sama-sama kaku, namun keduanya saling mengimbangi.


Hingga akhirnya, keduanya limbung dan saling berebut oksigen untuk menetralkan debaran jantungnya. Gathan memeluk tubuh polos Lisya sambil sesekali mencium singkat pundak putih milik istrinya itu


"Terimakasih sayang." Gathan mengecup kening Lisya yang dipenuhi peluh.


"Sakit?" Tanya Gathan. Lisya menggeleng pelan karena sudah begitu lemas akibat pergumulan panasnya.


Setelah hampir satu jam lebih Gathan dan Lisya berperang, keduanya merasa sangat lapar. Sehingga Gathan meminta pak San untuk mengantarkan makanannya didepan pintu kamar.


Tak lama keduanya pun makan bersama didalam kamar dengan diselingi pembicaraan ringan antar keduanya.


Tak terasa hari sudah berganti malam, keduanya masih tak beranjak dari tempat tidurnya. Karena setelah makan, keduanya masih melanjutkan kembali aktivitasnya hingga beberapakali keduanya mencapai puncaknya.


Makan malampun tetap mereka lakukan didalam kamar, hingga akhirnya keduanya benar-benar terlelap akibat olahraga panas yang melelahkan namun memabukkan.


To Be Continued 🖤


- Annyeong pembaca yang budiman 💕-


Lembuur, lembuurr. Pantang tidur sebelum lembuur. 😂


-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! 🙏 supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --

__ADS_1


Salam cium dan peluk jauh. 🤗


__ADS_2