
Keesokan Harinya,
Via heboh menelpon sahabatnya yang saat ini masih bergelung manja didalam selimut bersama sang suami. Tentu saja karena keduanya terlalu lelah setelah melakukan perang keringatnya semalaman.
Lisya memiringkan tubuhnya hingga sampai di tepi kasurnya. Tangannya meraba-raba ke arah nakas untuk mengambil ponselnya yang terus-menerus berbunyi.
Karena terasa masih lengket, Lisya sedikit membuka matanya untuk mengintip ke arah ponselnya dan melihat siapa yang telah mengganggu tidur nyenyaknya.
"Hemmmm, ada apa pagi-pagi gini telpon? Aku masih ngantuk Vi." Lisya berbicara dengan suara seraknya. Matanya kembali terpejam.
"Hiss, ni sudah jam 9.! Bukan pagi lagi bocah! Makanya jangan lembur teruus.!" Racau Via dari seberang telepon.
"Suka-suka kita. Enak kok!" Jawab Lisya asal karena sedang malas berdebat. Nyawanya belum sepenuhnya kembali.
"Hah, terserah kamu deh Sya.! Dengerin baik-baik ya. Aku gak mau tahu, kamu masih ngantuk apa enggak.! Pokoknya aku mau kasih tahu ke kamu,,, kalau semalam Bram nembak aku! Dia minta aku jadi pacarnya!" Ucap Via menggebu-nggebu.
"Whatttt????"
Gedebugh,
"Aaawww..!! Ssshhh Sial!" Lisya begitu kaget, hingga terjatuh dari atas kasur. Dahinya mencium lantai kamar begitu keras.
Suara tubuh jatuh yang begitu keras, berhasil membangunkan Gathan dari mimpinya.
"Loh, sayang?? Kamu ngapain tiduran dibawah sana.??" Gathan mengangkat kepalanya, tubuhya miring menghadap Lisya. Nyawanya belum sepenuhnya kembali, matanya menyipit karena masih terasa lengket.
"Cari tomket!" Jawab Lisya asal. Sambil tangannya masih memegang dahinya yang mulai terlihat benjol.
"Sya??? Kamu kenapa? Hei?? Jangan bilang kamu skidibabab lagi sama mas Brew!" Tuduh Via yang merasa trauma mendengar desahan Lisya. đ
"Skidibabab pala lo!" Jawab Lisya kesal, lalu berdiri dari posisinya, dan kembali tiduran disamping Gathan yang masih menatapnya heran.
"Via sayang, ini Via!." Ucap Lisya yang paham dengan tatapan penuh tanya Gathan. Lalu Gathan hanya mengangguk ria tanda mengerti. Kemudian melanjutkan tidurnya sambil tangannya memeluk, bukan, memegang salah satu gunung gantung milik Lisya yang sudah menjadi spot favoritnya.
Melihat Gathan yang kembali tidur dengan tangannya yang seenaknya nangkring di gundukannya, membuat Lisya menggelengkan kepalanya, sambil bibirnya berkomat kamit.
"Sya?? Kamu kenapa si?" Via semakin penasaran dari seberang telepon sana.
"Nggelundung! Gara-gara kaget dengar ucapan absurdmu tadi!" Jawab Lisya kesal.
"Hahaha Sorry. Tapi itu bener Sya. Aku gak bohong. Aku mau cerita dan minta saran sama kamu! Karena aku janjiin Bram, kalau bakal kasih jawaban hari ini." Jelas Via menggebu-nggebu.
"Seriusan! Aku masih gak percaya! Tunggu aku di kamarmu.! Aku mau mandi dulu, setelah itu aku kesana! Ceritain semuanya secara langsung. Oke.!" Pinta Lisya. Karena tidak afdol jika mendengarnya melalui telepon.
"Oke oke." Jawab Via lalu menutup teleponnya.
Lisya mengalihkan tangan Gathan dengan perlahan. Namun dengan cepat Gathan semakin mengeratkan pegangannya pada gundukan Lisya.
"Aww, kak. Sakit." Keluh Lisya. Entah mengapa ia merasa jika gunungnya saat ini begitu nyeri dan terasa lebih padat dari sebelumnya.
"Maaf sayang. Habisnya ini kamu terasa semakin padat. Aku jadi gemas." Jawab Gathan enteng. Matanya mulai terbuka.
"Iya, tapi gak keras-keras juga pegangnya kak." Lisya mencebikkan bibirnya. Lalu ingin beranjak dari tidurnya.
__ADS_1
"Kamu mau kemana sayang? Loh, jidat kamu kenapa?" Tanya Gathan penuh selidik, lalu berubah panik. Tangannya menahan tubuh Lisya.
"Kejedot lantai. Abis nggelundung tadi." Jelas Lisya.
"Hahaha makanya kalau tidur jangan banyak tingkah." Tuduh Gathan yang tidak tahu kejadian sebenarnya. Lisya kesal karena bukannya turut sedih, malah menertawakannya.
"Hissshhh. Biarin!" Lisya kembali ingin beranjak dari tempatnya.
"Maaf sayang. Jangan marah ya.!" Gathan masih menahan tubuh Lisya.
Cup,
"Dah,, bentar lagi sembuh." Gathan mengecup benjolan di dahi Lisya.
Lisya tersipu malu, lalu dengan cepat bangun dari posisinya.
"Mau kemana sih? Masih marah??" Tanya Gathan menahan tangan Lisya.
"Mandi kak. Aku mau ke kamar Via setelah ini. Sebentar aja. Ada urusan perempuan yang harus dibicarakan segera." Ucap Lisya meminta izin.
"Urusan apa??" Gathan menautkan alisnya karena penasaran.
"Nanti aku ceritakan kalau sudah tau cerita lengkapnya. Aku mandi dulu. Via sudah menungguku." Lisya mengalihkan tangan Gathan.
"Tunggu....." Gathan menahan tangan Lisya.
"Kenapa lagi sih kak?" Tanya Lisya kesal.
"Aku ikut." Gathan bangun dari posisinya, ia turun dari kasur, lalu membuka tangannya didepan Lisya dengan senyum penuh arti.
Ya, keduanya menuju kamar mandi untuk menghilangkan segala noda dan keringat akibat pergumulan panasnya tadi malam. Kali ini Gathan dan Lisya benar-benar mandi. Bukan mandi-mandian seperti yang readers inginkan.
Tak berapa lama, keduanya telah menyelesaikan sesi mandinya. Setelah berganti baju dan memoles berbagai skincare pada wajah dan tubuhnya, Lisya pamit menuju kamar Via.
"Sayang, ingat! Hanya lima belas menit saja!. Setelah itu kita sarapan. Lanjut traveling." Ucap Gathan sambil duduk santai menonton tv.
"Siap sayang." Lisya masih malu jika memanggil Gathan dengan sebutan sayang.
"Morning kiss, please.!" Gathan memajukan bibirnya.
"Hish,, Sudah bukan pagi lagi ini kak." Namun Lisya tetap memberikan beberapa kali kecupan pada bibir suaminya itu.
Dengan cepat Lisya menjauhkan wajahnya sebelum tengkuknya benar-benar di tahan oleh Gathan. Gathan yang melihat Lisya seolah paham dengan jalan pikirannya, justru terkekeh geli saat melihat ekspresi kesal istrinya.
Tanpa berdebat, Lisya benar-benar meninggalkan kamarnya dan suaminya untuk sesaat......
--
** Gili Nanggu, Lombok Barat **
Setelah menyelesaikan segala kegiatannya di resort tempatnya menginap, saat ini Lisya dan yang lainnya sudah berada di gili Nanggu. Lisya dan Via begitu antusias saat melihat keindahan pulau itu. Keduanya berlarian ke sana kemari sambil sesekali bermain air di bibir pantai. Sedangkan para lelaki, hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah absurd kedua perempuan cantik itu.
__ADS_1
Setelah puas berlarian di sekitaran bibir pantai, Via mengajak untuk snorkeling, karena ia tahu jika disana terkenal dengan pemandangan bawah lautnya. Begitupun dengan Lisya, yang juga sejak awal ingin snorkeling bersama Gathan. Awalnya Gathan benar-benar tak mengizinkan istrinya itu untuk snorkeling, namun karena Lisya ngambek dan mengancam malamnya akan tidur dengan Via, akhirnya Gathan terpaksa menurutinya. Ia tidak mau jika harus bermain solo, pikirnya.
Akhirnya saat ini Gathan, Lisya, Via dan Bram sudah berada di tempat snorkeling. Ya, Teo tidak ikut. Ia memutuskan untuk duduk santai di tepi pantai sambil sesekali menyeruput kopi yang dipesannya. Entah apa yang dipikirkannya saat ini, hingga membuat Teo terlihat tidak begitu bersemangat.
Di lain tempat, Gathan benar-benar menjaga Lisya selama sesi snorkeling berlangsung. Gathan melarang istrinya itu untuk tidak terlalu capek agar kakinya tidak kram.
Sedangkan Via, ia begitu bersemangat saat menyusuri keindahan bawah laut yang ada di pulau kecil itu. Sehingga Bram kualahan untuk mengikutinya.
Setelah sesi curhatnya dengan Lisya tadi, membuat pikiran Via terbuka. Ia memikirkan semua perkataan Lisya, sehingga membuatnya merasa canggung saat bersama Bram. Untuk itu, Via ingin menghilangkan rasa canggung itu dengan cara ber snorkeling bersama. Dengan begitu, sejenak ia akan melupakan apa yang sedang terjadi di antara dirinya dan Bram.
Setelah hampir dua jam mereka berempat melakukan sesi snorkeling, Gathan meminta Lisya untuk segera mengakhirinya. Dan Lisyapun menuruti suaminya, karena ia juga merasa sudah lelah.
Melihat Lisya dan Gathan mengakhiri sesi snorkelingnya, Bram mengajak Via untuk ikut mengakhirinya juga. Karena Bram melihat tangan Via sudah pada keriput.
Gathan menggendong tubuh Lisya, selama berjalan menuju tepi pantai. Karena Gathan melihat jika istrinya itu kelelahan. Bahkan bibirnya terlihat pucat karena kedinginan. Dengan cepat, Gathan membawa Lisya kedalam ruang ganti yang ada disana setelah dirinya sampai di tepi pantai.
Sedangkan Bram dan Via terlihat masih berjalan beriringan menuju tepi pantai. Kebersamaan kedua insan itu tak luput dari pandangan Teo yang saat ini masih setia duduk di tepi pantai. Namun, matanya terbuka lebar, saat melihat Via kesakitan di depan sana.
Dengan cepat Teo berdiri dari posisinya, lalu lari menghampiri Via yang saat ini sudah menangis menahan rasa sakit.
"Awww!!! Bram! Kaki gue!! " Via menahan tangan Bram, saat merasakan kakinya tengah menginjak benda tajam dibawah sana.
"Via?? Kaki lo kenapa?" Tanya Bram panik saat melihat Via meringis kesakitan.
"Huaaaahh sakitt. Panas Bram!" Via menangis, dan tak mampu berdiri.
Bram melihat kaki Via.
"Ya ampun. Bulu babi!" Bram syok saat melihat bulu babi telah menancap pada kaki kanan Via.
Dengan cepat Bram menggendong tubuh Via ala bridal, lalu berlari secepat mungkin agar segera sampai di tepi pantai.
"Nona? Nona Via kenapa tuan Bram?!" Tanya Teo sambil kembali berlari ke arah tepi pantai mengimbangi langkah Bram.
"Terkena bulu babi tuan!" Jawab Bram panik.
"Astaga! Biar saya bantu......"
"Tak perlu tuan, saya bisa sendiri!" Bram menatap Teo sekilas, dengan tatapan tajamnya.
"Huhuhu, Bram! Cenut-cenut ini!" Via semakin menangis saat merasakan kakinya semakin nyut-nyutan.
"Tahan sebentar lagi Vi." Bram semakin berlari cepat, meninggalkan Teo yang diam membisu.
"Hah, ada apa dengan gue?! Kenapa gue begitu panik? Sudah jelas-jelas ada tuh bocah. Kenapa gue masih nekat mau gendong perempuan itu tadi! Hah.... Sial!" Teo mengusap wajahnya kasar. Lalu kembali berlari menyusul Bram yang sudah meninggalkannya. Mau bagaimanapun, Teo masih ingin memastikan kondisi Via.
To Be Continued. đ¤
Â
- Annyeong pembaca yang budiman đ-
Lagi-lagi babang Teo terlihat menyedihkan ya di episode ini. Uuuuh tayangggg, othor jadi pengen puk-puk in. Sabarr yaaa đ
__ADS_1
-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! đ supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --
Salam cium dan peluk jauh. đ¤