
"Hoooaaaaammm" Via menguap selebar-lebarnya tanpa menutupi mulutnya. Tangannya ia rentangkan seluas mungkin sambil tubuhnya menggeliat kekanan dan kekiri.
"Nyenyak tidurnya nona??" Tanya Teo sambil duduk manis didepan kasur yang ditiduri Via, kaki kiri ia silangkan diatas kaki kanannya. Sedangkan tangannya ia lipat didepan dada bidangnya.
"Ha,? Sepertinya ada suara?" Gumam Via pelan, tubuhnya mematung, ia mengerjapkan mata saat mendengar suara Teo. Via belum menyadari akan keberadaannya.
"Bodoh amat ah!! Hmmmmmmmm nyamannya." Via kembali menggeliat karena merasa suara yang tadi ia dengar hilang begitu saja. Via tak ambil pusing, tubuhnya miring sambil memeluk guling yang ada disampingnya.
"Adudududuh......" Via memegangi perutnya.
Bruuuutttt
"Aahhh,, leganyaaaaa!. Kentut dipagi hari memang niqmat." Via mengeluarkan bom meriamnya sambil kembali memejamkan mata.
"Eemmmbt, shit!" Teo menutup hidungnya saat bau yang semerbak menggelitiki penciumannya.
"Perempuan ini benar-benar.!" Umpat Teo kesal.
"Eh, ada suara lagi..?" Via kembali membuka matanya saat mendengar umpatan Teo samar karena kesadarannya belum sepenuhnya pulih.
"Tunggu sepertinya aku kenal dengan suara tadi?" Gumam Via pelan.
"Iyaaa, dan orang itu adalah saya!" Teo sudah sangat kesal melihat kelakuan absurd Via. Ia tak habis pikir mengapa ada perempuan yang benar-benar gesrek seperti Via.
Via segera menoleh ke arah sumber suara itu. Betapa terkejutnya saat matanya menangkap sosok manusia imut didalam kamarnya.
"Oh my God.! My Eyess,, Sejak kapan ada malaikat dikamarku?" Via mengucek matanya untuk memastikan apa yang dilihatnya.
"Sejak anda masih memejamkan mata, lalu menggeliat dan...... mengeluarkan gas yang begitu menyengat.!" Teo berdiri dari duduknya, lalu mendekati Via. Rasanya ia ingin segera membawanya keluar dari apartemen bosnya itu. Ia tidak ingin semakin sial pikirnya.
"Loh mas cute???!!!" Via membelalakkan matanya saat baru menyadari jika sosok yang dikira malaikat itu adalah Teo.
"Ma-mas cute kenapa bisa ada dikamarku!? Dan apa tadi?? mengeluarkan gas?? Be-berarti mas cute????" Tanya Via takut sekaligus malu.
"Ya, apa yang anda lakukan tak luput dari pandangan, pendengaran, dan penciuman saya.!" Ucap Teo penuh penekanan sambil berdiri memandang lekat Via.
"Whatt, turun pamorku dihadapan mas cute" Gumam Via pelan sambil menunduk dan matanya terpejam sesaat, menahan malu.
"Tunggu..! Bagaimana bisa mas cute ada dikamarku! Ja-jangan bilang mas cute memata-matai aku!? Atau jangan-jangan mas cute mau culik aku lagi seperti yang sebelumnya??" Tuduh Via sambil jarinya menunjuk kearah Teo.
"Eh, Bajuku? Kenapa jadi seperti ini?" Ucap Via saat baru menyadari lengan bajunya robek akibat tarikan Teo kemarin malam.
Sontak Via kembali mengingat kejadian semalam saat ia pergi party di club favoritnya, lalu pulang diantar oleh temannya dalam kondisi mabuk. Dan,, bayangan samar terlintas di ingatannya saat dirinya melihat Teo masuk kedalam lift, lalu menggendongnya. Tanpa mengingat kejadian sebelumnya.
__ADS_1
Dengan cepat mata Via kembali menatap tajam ke arah Teo.
"Ma-mas cute apain aku ha!?? Baju ini pasti karena ulah mas cute kan!" Tuduh Via sambil berkaca-kaca.
"Mas cute! Kenapa diam aja? Jawab aku!" Bentak Via.
"Nona,,,, "
"Mas cute kenapa tega sekali!? Mas cute memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan kan! Mas cute sengaja gendong aku buat maksa mantap-mantap sama aku kan!" Potong Via, lalu menitihkan air matanya penuh drama.
"Pantas saja sepagi ini mas cute sudah ada dikamar ku! Huhuhu,,,,, a-aku tak percaya ternyata aku sudah tak ting ting.!" Via merapatkan selimutnya hingga menutupi bagian dadanya.
"Segitu tergodanya kah mas cute sama aku? Hingga tak bisa ngempet (tahan) untuk merebut kesucianku??" Racau Lisya yang semakin tak masuk akal.
Sedangkan Teo, bibirnya hanya komat kamit kesal karena sama sekali tak diberikan kesempatan untuk berbicara oleh Via.
"Mas cute kalau tertarik sama aku, harusnya bilang aja! Aku bakal dengan senang hati menerimanya. Jangan asal main paksa gini. huhu!" Racau Via kembali.
"Mas cute,,,,,,,,"
"Cukup nona! Berhenti berpikiran yang tidak tidak-tidak!" Potong Teo dengan tatapan yang menajam, karena merasa kupingnya panas mendengar suara cempreng Via.
"Silahkan lihat rekaman cctv itu, Anda akan tahu semua jawabannya.!" Jelas Teo sambil melemparkan Tab miliknya.
Pagi harinya, Teo meminta pada pihak keamanan apartemen, untuk mengirimkan rekaman cctv di jam saat ia dan Via didalam lift. Teo yakin, jika Via akan histeris saat bangun dari tidurnya. Untuk itu, ia sudah menyiapkan segala kemungkinannya.
"Ingat, tidak pakai lama! Karena saya harus segera menjemput bos Gathan!" Teo berjalan meninggalkan Via yang masih terheran-heran.
Via melihat jam yang ada di tab Teo. Betapa terkejutnya saat menyadari jika waktu sudah menunjukkan jam 11 pagi.
"Satu lagi, Silahkan anda lihat sekitar anda! Apa benar anda sedang berada di kamar anda?! Tolong buang jauh-jauh pikiran kotor anda itu!" Ucap Teo kembali. Ia menghentikan langkahnya, kemudian berbalik menatap Via.
Sedangkan Via, segera mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamar. Ia kembali dikejutkan dengan desain interior yang begitu luas dan asing baginya.
"What?? I-ini dimana? Ini bukan kamarku!" Gumam Via pelan.
Teo kembali melanjutkan berjalan, namun baru beberapa langkah, untuk kedua kalinya Teo menghentikan langkahnya.
"Sebaiknya nona jangan pernah mabuk lagi! Karena saya kasihan dengan orang yang akan menjadi korban anda selanjutnya! Oh ya, Jangan lupa cek, apa benar ada tanda ditubuh anda, yang menunjukkan jika anda sudah tidak ting-ting lagi!" Ucap Teo tanpa menatap Via. Lalu ia benar-benar meninggalkan kamar tamu itu. Bibirnya tersenyum sinis, karena membayangkan ekspresi Via saat tahu kebenarannya.
"Ko-korban?? Maksudnya apa? Aku ngapain? Bukannya aku yang jadi korban? Ah benar tanda???" Gumam Via heran sambil kembali memeriksa pakaiannya, yang ternyata masih lengkap.
Lalu dengan cepat Via melihat rekaman cctv yang diberikan Teo.
"What the,,,,?????? I-ini aku??" Via begitu tak menyangka saat melihat kelakuan dirinya di rekaman cctv itu. Ia benar-benar malu dengan tingkah absurdnya. Apalagi untuk kedua kalinya ia telah salah paham dan menuduh yang tidak-tidak kepada Teo.
__ADS_1
"Waaaaaaahhhhhhh, Sontoloyo kamu Via!! Bisa-bisanya sih kamu ceroboh gitu." Via berteriak saat melihat dirinya yang meraba dada bidang Teo, lalu tak sengaja bibirnya bertemu dengan bibir Teo. Ia menyembunyikan wajahnya dikasur. Sambil posisinya menungging tidak jelas karena salah tingkah.
"Bibirku??? Aaaahhh my first kiss was gone! Kenapa gak estetik banget caranya!!!" Racau Via yang malah fokus dengan first kissnya.
Kembali Via melanjutkan melihat rekaman cctv itu, untuk kesekian kalinya ia dibuat terkejut dan malu saat melihat dirinya telah mengeluarkan isi perutnya ke arah sepatu Teo dengan wajah tak bersalahnya.
"B*doh kamu Via.. b*doh.!! Aaaaaaahh malu aku. Tiwas aku ke GR an. Ternyata aku yang bikin ulah ke mas cute! " Via memukuli kepalanya pelan.
"Ta-tapi ini kamarnya siapa? Aku harus segera menanyakannya ke mas cute." Via segera beranjak dari posisinya, lalu menuju ke kamar mandi.
.
.
"Maaf mas cute!" Via menunduk malu, saat keluar dari kamarnya. Saat ini Via sudah berganti baju sesuai yang telah disiapkan Teo. Tangan kanannya menyodorkan tab tanpa berani menatap seseorang yang ada dihadapannya. Sedangkan tangan kirinya memegang pakaian kotornya.
"Hah,, sudah lah, lupakan saja nona. Mari kita segera keluar dari sini." Ucap Teo sambil menyodorkan bingkisan makanan yang telah dipesannya untuk Via. Kemudian Teo berjalan meninggalkan Via.
"Ta-tapi ini kita dimana?" Tanya Via sambil berlari kecil menyusul langkah kaki Teo. Saat ini ia masih berjalan di belakang Teo.
"Apartemen bos Gathan." Jawab Teo datar.
"What?? Mas Brew?? Kok bisa?" Tanya Via yang masih penasaran.
Brukk
"Aawww,,," Via mengusap jidatnya karena menabrak punggung Teo.
"Hissh, kabar-kabar kek kalau mau berenti!" Gumam Via kesal.
"Nona, saya sudah sangat kesiangan. Jadi,,, jangan membuat saya semakin terlambat hanya untuk menjawab pertanyaan anda! Anggap saja kejadian kemarin tidak pernah terjadi. Yang jelas, saya tidak melakukan apapun kepada anda! Niat saya hanya mengamankan anda! Tatapan Teo menajam saat berbalik ke arah Via.
"I-iya maaf." Via menciut saat melihat tatapan Teo.
Tak lama, keduanya telah keluar dari apartemen Gathan. Mereka masuk kedalam lift dengan tujuan yang berbeda tentunya. Sama sekali Teo tak menanyakan dimana unit Via berada. Karena saat ini ia hanya fokus dengan ocehan bosnya yang meminta segera dijemput untuk diantarkan ke rumah sakit bersama Lisya.
To Be Continued đ¤
- Annyeong pembaca yang budiman đ-
Si Via emang pikirannya kotor terus yaa kalau sama Teo. wkwkw.
-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! đ supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --
__ADS_1
Salam cium dan peluk jauh. đ¤