
Keesokan Harinya.
Waktu menunjukkan pukul 6 pagi. Lisya yang sudah bangun terlebih dahulu, sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Jika dulu sebelum menikah, Lisya tidak pernah membuat sarapan karena ia terbiasa makan saat siang hari. Jika akan berangkat kuliah, Lisya hanya mengganjal perutnya dengan susu.
Berbeda dengan hari ini, karena ia menyadari jika saat ini statusnya sudah berbeda, Lisya berusaha menyiapkan segala keperluan suaminya sebelum melakukan aktivitasnya.
Karena baru pertama kali Lisya berada di dapur yang baginya yang tak kalah luas dengan kamar suaminya itu, membuat dirinya bingung. Beberapa belas menit ia habiskan hanya untuk mempelajari peralatan dapur yang ada disana.
Kemudian, Lisya membuka lemari es yang ada di dapur. Ia hanya menggelengkan kepalanya karena ternyata tidak ada bahan makanan sama sekali. Dalam lemari es itu hanya ada roti dan susu. Alhasil Lisya hanya membuat roti bakar dan menyiapkan dua gelas susu untuk dia dan suaminya.
"Heeeiiii, Aku mencarimu kemana-mana. Apa yang sedang kamu lakukan sayang?" Peluk Gathan dari belakang saat mendapati Lisya sedang menata roti bakar dan susu yang sudah disiapkannya diatas meja makan.
"Menyiapkan sarapan buat kakak." Ucap Lisya yang terkejut karena Gathan dengan tiba-tiba memeluknya.
"Sayang, kamu gak perlu repot-repot menyiapkan ini semua buatku." Ucap Gathan kemudian Kepalanya ia sandarkan pada bahu istrinya itu.
"Tak apa kak, ini sudah menjadi kewajibanku sebagai istri. Maaf cuma bisa siapin ini. Karena aku tidak menemukan bahan makanan lainnya." Ucap Lisya.
"Dengar sayang,,,,," Gathan membalikkan tubuh Lisya agar menghadap padanya.
"Kewajibanmu cukup melayani ku saat di kamar, dan dampingi aku selalu, disaat senang maupun susah." Ucap Gathan enteng.
Blush.
Lagi-lagi pipi Lisya memerah. Ia malu saat mendengar perkataan Gathan.
"Urusan makanan dan lainnya sudah menjadi pekerjaan para pelayan yang ada di mansion nanti." Ucap Gathan kembali yang mampu membuat Lisya menatapnya heran.
"Mansion? Ini kan apartemen kak?" Tanya Lisya heran.
"Iya saat ini kita memang sedang di apartemen. Tapi setelah ini kita akan ke mansion utama milik keluarga Barra." Jelas Gathan.
Lisya masih belum mengerti dengan penjelasan Gathan.
"Mansion utama itu dulu sengaja dibuat daddy Barra untuk anak dan cucunya nanti. Beliau ingin keluarga besarnya tinggal di mansion khusus itu agar privasi dan keamanannya terjaga. Mansion itu telah lama beliau siapkan saat dulu aku masih kecil dan kita masih tinggal di Surabaya. Tapi karena ada masalah dikeluarga kita, akhirnya daddy memberhentikan sementara proses pembangunan mansion itu. Sampai akhirnya aku kembali ke Indonesia saat aku masih SMA, daddy kembali melanjutkan pembangunan mansionnya itu. Beliau menyiapkan mansion itu untukku agar aku bisa hidup lebih aman selama di Indonesia. Namun, aku menolaknya." Ucap Gathan terhenti.
"Karena mansion itu mengingatkanku kepada mommy. Tapi,,,,, karena sekarang ternyata aku sudah menikah, daddy memintaku untuk mengajakmu tinggal disana. Karena daddy tidak ingin jika kamu tinggal disini sendirian. Akhirnya aku pun menyetujuinya, karena aku tak bisa egois, aku harus memikirkan keamanan mu." Jelas Gathan panjang lebar.
Lisya yang perlahan mulai mengetahui lebih banyak mengenai kehidupan suaminya itu hanya mengangguk mengerti.
"Tapii,,, kan sekarang aku tinggal sama kakak. Bukan sendirian." Tanya Lisya penasaran.
"Sayang, sekarang memang aku bisa menemanimu. Tapi setelah ini aku akan pergi ke luar kota untuk mengurus segala persiapan pembangunan beberapa cabang rumah sakit baru milik BR Group. Jadi, kamu pasti sendirian di sini. Maka dari itu, kamu akan jauh lebih aman jika berada di sana. Jadi mulai hari ini kita akan tinggal di mansion utama itu." Jelas Gathan lagi.
"Trus, aku disana sama siapa kak? Dan, apa aku boleh berangkat sendirian saat kuliah?" Tanya Lisya.
"Disana sudah ada pelayan yang akan melayani segala keperluanmu. Dan aku tidak akan pernah mengizinkan mu keluar sendirian dari mansion itu selama aku tak disampingmu. Kamu akan diantarkan oleh supir yang khusus mengantarkanmu kemanapun kamu pergi." Jelas Gathan.
"Apa??? Ta-tapii kak. Aku..." Elak Lisya.
__ADS_1
"Tak ada kata tapi saat aku sudah memutuskan. Ini semua demi keamananmu.!" Tatapan Gathan berubah tajam.
"Ka-kalau aku kesepian bagaimana kak? A-apa aku boleh mengunjungi Via??" Tanya Lisya terbata karena terkejut melihat tatapan Gathan.
"Tidak!" Jawab Gathan.
"Tapi kak, Via adalah sahabatku satu-satunya." Ucap Lisya tak terima.
"Kamu tidak boleh mengunjunginya, biar temanmu itu yang mengunjungimu! Tapi ingat, khusus temanmu itu! Tidak boleh ada orang lain yang masuk bahkan mengetahui mansion utama kita kecuali temanmu itu dan Teo.!" Ucap Gathan penuh peringatan.
Daddy Barra sengaja memilih kawasan untuk mansion utamanya di tempat khusus.
Orang asing tidak akan mudah masuk dalam kawasan mansion itu karena dijaga ketat oleh beberapa bodyguard pemegang sabuk hitam. Hal itu dilakukan daddy Barra, demi keamanan dan kenyamanan keluarga besarnya nanti.
"Iya kak. Pasti. Sahabatku hanya Via saja kok." Jawab Lisya dengan mata berbinar.
"Good." Ucap Gathan dengan tatapan yang kembali melembut.
"Ayo kak, diminum dan dimakan dulu, keburu dingin nanti." Ajak Lisya, kemudian keduanya duduk di meja makan dan makan bersama.
~~
Setelah hampir satu jam, Gathan dan Lisya sudah siap untuk pergi ke Mansion utama yang akan menjadi tempat tinggal barunya. Tak lama, keduanya menuju ke tempat tujuan dengan diantar Teo.
Setelah hampir empat puluh menit, mobil yang dikendarai Teo masuk di dalam kawasan yang masih sangat asri. Terlihat disepanjang jalan terdapat hamparan yang sangat luas dan hijau. Daddy Barra sengaja mendesainnya untuk digunakan sebagai lahan bermain golf saat berkumpul dengan keluarganya nanti.
Sebelum sampai pada mansion yang dituju, mereka harus melewati beberapa kilo meter dari pintu masuk kawasan mansion itu.
Lima belas menit kemudian, ketiganya sampai didepan gerbang mansion utama Barra.
Gerbang yang super mewah telah terbuka secara otomatis. Di sana sudah ada penjaga yang memang sudah di dipekerjakan oleh daddy Barra sejak tiga tahun lalu. Mansion yang bergaya eropa klasik itu terlihat sangat megah dan luas.
Kedatangan tuan mudanya itu disambut hangat oleh seluruh pelayan yang bekerja disana. Mereka semua sengaja dipekerjakan daddy Barra untuk mengurus mansion mewah itu meski tuannya tidak menempatinya. Beliau yakin, jika suatu saat putra semata wayangnya akan bersedia menempati mansion itu bersama anak dan istrinya kelak. Dan sekaranglah keyakinan itu terbukti.
Para pelayan berjajar rapi menyambut kedatangan Gathan, Lisya dan Teo. Semuanya menunduk hormat kepada ketiganya. Sebelumnya daddy Barra memerintahkan kepada pak Santoso, yang biasa dipanggil pak San selaku penanggung jawab dari seluruh pelayan yang ada di mansion untuk menyiapkan segala keperluan putra dan menantunya, karena keduanya akan mulai tinggal disana.
"Selamat datang tuan muda Gathan, dan nona." Sambut pak San yang sebelumnya sudah sangat mengenal keluarga Barra sebelumnya.
"Pak San. Lama kita tidak berjumpa." Ucap Gathan yang kemudian memeluk pak San.
"Iya tuan muda, Selamat atas pernikahan anda. Saya sangat bahagia saat mendengar kabar pernikahan anda dari tuan besar Barra." Jawab pak San membalas pelukan Gathan.
"Terimakasih pak." Gathan mengurai pelukannya.
"Oh ya, salam kenal semuanya. Terimakasih atas sambutan kalian. Karena saya baru menginjak mansion ini, saya akan memperkenalkan diri terlebih dahulu. Perkenalkan, saya Gathan. Yang disamping saya ini istri saya, namanya Qaleesya. Sedangkan laki-laki ini saudara sekaligus tangan kanan saya, namanya Teo." Ucap Gathan lantang. Sedangkan Lisya dan Teo yang disebut menundukkan kepalanya singkat.
"Tugas kalian disini, selain mengurus mansion, kalian harus melayani istri saya dengan maksimal selama dia berada disini. Dan,, tolong jaga dia selama saya sedang berada di luar kota. Apapun yang menyangkut istri saya, harus menunggu persetujuan dari saya. Jika kalian lalai, saya tidak akan segan-segan untuk memecat kalian semua. Mengerti??" Ucap Gathan dengan lantang sehingga suara baritonnya itu menggelegar di seluruh ruang utama mansionnya.
"Mengerti tuan." Ucap seluruh pelayanan dengan menundukkan pandangannya karena mulai merasakan kekejaman tuan mudanya yang baru mereka temui.
Wahhhh, gilaa. Benar-benar gilaa nih suamiku. The real sultan kalau ini mah. Udah seperti ratu aja aku disini. Ngapain juga pakai dilayani, gak tau apa kalau aku juga dulu hanya kaum rengginang yang melempem. ckckck
__ADS_1
Gumam Lisya dalam hati. Ia masih tak percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya.
"Kalau begitu, kalian semua bisa bubar. Dan lanjutkan pekerjaan kalian masing-masing." Perintah pak San saat setelah mendapat perintah dari Gathan untuk membubarkannya.
"Baik pak San." Jawab pelayanan serentak dengan patuh. Kemudian semuanya bubar barisan.
"Silahkan tuan muda, saya antarkan ke kamar utama anda dan nona." Ucap pak San.
Kemudian Gathan dan Lisya mengikuti pak San. Begitu juga dengan Teo, atas perintah Gathan, ia mengikuti langkah bosnya itu.
Kamar utama yang dimaksud pak San berada di lantai 3. Ketiganya di dampingi oleh pak San masuk kedalam lift. Tak lama, pintu lift terbuka, dan mereka menuju ke kamar utama. Dibukanya pintu kamar yang dari luarnya saja sudah terlihat mewah.
Waaaahhhhhhhhhh, MashaAllah. Apa pantes diriku yang biasa seperti kaum dhuafa ini tidur di kasur berkelas itu. Gak sanggup aku bayangin berapa mahal harga kasur itu. Jadi sayang kalau mau nidurin. ckckck
Gumam Lisya dalam hati saat melihat kamar utamanya. Ia tiada henti kagum dengan kemewahan yang ada di mansion suaminya itu. Padahal baru kamar utama yang dilihatnya, belum lain-lainnya. đ
"Segala pakaian serta keperluan tuan Gathan dan nona Lisya sudah kami siapkan semua. Jika ada yang diperlukan lagi, silahkan beritahu saya tuan." Ucap pak San.
"Terimakasih banyak pak San. Anda selalu melakukan yang terbaik untuk keluarga kami." Ucap Gathan.
Ya, pak San dulunya pernah menjadi penanggung jawab segala keperluan dan urusan di mansionnya saat di Surabaya. Karena kepindahannya ke Amerika, membuat pak San diberhentikan oleh daddy Barra sementara. Namun setelah mansion di Jakarta telah siap huni, pak San diminta kembali untuk menjadi penanggung jawab mansion barunya itu sejak tiga tahun yang lalu. Dan pak San menerima tawaran itu dengan senang hati. Meski usianya yang tak lagi muda, namun tenaga dan pikirannya masih mampu mengemban tanggung jawabnya.
"Teo, supir pribadi untuk istriku sudah kamu dapatkan?" Tanya Gathan.
"Sudah bos, mulai besok pagi dia sudah bisa bekerja disini." Jawab Teo cepat.
"Bagus. Pastikan supir itu mampu bela diri dengan baik, dan satu hal yang terpenting, tidak jelalatan!. Suruh dia menemuiku sebelum menjalankan tugasnya besok.!" Perintah Gathan.
"Jangan khawatir bos, semua sesuai permintaan anda." Jawab Teo mantap.
"Pak San, pastikan keamanan istriku, saat aku tak ada di mansion ini." Pinta Gathan.
"Baik tuan." Jawab pak San.
Lisya yang mendengar perintah Gathan hanya menggelengkan kepalanya. Ia tak habis pikir begitu ketatnya suaminya itu menjaganya.
Setelah melihat kamar utama, pak San mengajak Gathan, Lisya dan Teo untuk mengelilingi mansion itu agar semakin paham dengan letak tiap-tiap ruangan yang ada didalamnya. Tak lupa mereka juga mengelilingi lahan yang ada di luar mansion menggunakan golf cart.
To Be Continued đ¤
Â
- Annyeong pembaca yang budiman đ-
Hayoook siapa yang makin ngehalu pengen punya suami sultan.?? (Othor angkat tangan, maju paling depan đ)
-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! đ supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --
Salam cium dan peluk jauh. đ¤
Â
__ADS_1