GILA! TAPI AKU CINTA!

GILA! TAPI AKU CINTA!
Benar-Benar Milikku Seutuhnya!


__ADS_3

🌡️WARNING.!! PART INI UNTUK PASANGAN YANG TELAH MENIKAH. HARAP DENGAN BIJAK MEMILIH BACAAN YA.


UNTUK YANG MASIH DIBAWAH UMUR,ATAU JOMBLO AKUT, SILAHKAN DI SKIPP AJA!


From : Istriku Tercinta


Lagi dimana kak? Sedang apa?


Gathan tersenyum lebar, saat baru sempat membuka pesan singkat dari Lisya. Kemarin adalah hari yang paling melelahkan buat Gathan, karena jadwalnya begitu padat hingga malam hari.


Karena begitu sibuk, Gathan tak menyadari jika ponselnya kehabisan baterai. Saat berniat menunggu baterai ponsel terisi beberapa persen, Gathan ketiduran begitu saja karena tubuhnya yang begitu lelah.


Saat ini Gathan tengah melakukan sarapan dengan Teo di restoran hotel Lombok, tempat ia menginap.


"Teo, Apa saja jadwalku setelah ini? Adakah undangan yang masih harus aku hadiri disini?" Tanya Gathan sambil terus menatap pesan singkat dari istrinya.


"Tinggal beberapa pertemuan di Jakarta saja bos. Tidak ada bos, jadwal anda disini sudah terlaksana semua." Jawab Teo setelah membuka catatan yang ada di tabnya.


"Baguss. Segera siapkan kepulangan kita setelah ini." Gathan tersenyum penuh arti. Rasanya saat ini, ia ingin segera memeluk istrinya yang sudah lama ia tinggal di Jakarta itu.


"Baik bos." Jawab Teo patuh.


Gathan sengaja tak memberi tahukan kepulangannya, karena ingin memberi kejutan kepada Lisya. Ia ingin membuat supaya istrinya itu semakin merindukannya.


** Bandara Soekarno Hatta, Jakarta **


Dengan hati yang bahagia, serta semangat empat lima, Gathan segera turun dari pesawat jet pribadinya. Ingin rasanya ia segera kembali ke mansion untuk menyambut kepulangan istrinya dari kampus.


Namun, niat itu ia urungkan karena telah mendapati tamu penting di kantor pusat yang datang secara mendadak. Karena tidak enak, Gathan dan Teo akhirnya mampir terlebih dahulu ke gedung BR Group.


Tak terasa hari semakin siang, tamu penting yang ia temui tadi sudah meninggalkan BR Group. Namun karena sudah terlanjur di kantor, Gathan sekalian meneruskan pekerjaannya sambil menunggu jam kepulangan Lisya.


"Bos, pesan dari Ujang." Ucap Teo, saat masuk ke ruangan sambil menunjukkan ponselnya ke Gathan.


"Haaaa!!! Istriku sakit?!"


"Cepat cari tahu obat apa yang dia beli! Dan, kita pulang sekarang!" Gathan dengan segera berdiri dari kursi kebesarannya, lalu meninggalkan aktifitasnya di kantor begitu saja dan segera menuju mansionnya.


~~


"Pak San, istriku sakit?! Kenapa anda tak memberitahuku!!" Gathan menelpon pak San dengan emosi yang menggebu-gebu.


"........"


"Apa anda tak mengecek setiap apapun yang akan dikonsumsi istriku?!" Sentak Gathan.


"......."


" Kumpulkan semua pelayan yang ada di mansion! Sebentar lagi aku akan tiba disana!" Pinta Gathan dengan mata memerah karena perasaannya campur aduk.


"Bos, ternyata nona Lisya tidak sakit." Ucap Teo saat melihat Gathan telah memutus teleponnya dari kaca spion.


"Apa maksudmu?" Tanya Gathan heran.


"Silahkan anda lihat bos." Teo menyerahkan ponselnya dengan salah satu tangannya, karena ia masih memegang kemudi.


Hah,, kenapa anda mencari masalah dengan singa lapar nona.


Gumam Teo, saat sebelumnya sudah membaca pesan dari Ujang.


"Apa!!!!! Pil penunda kehamilan!??" Mata Gathan terbelalak tak percaya.


"Teo, ini benar obat yang dibeli istriku??" Tanya Gathan memastikan.


"Benar bos." Jawab Teo singkat. Ia tak ingin salah bicara disaat bosnya sedang emosi.


"Apa-apaan kamu Ra!!? Kenapa kamu membeli obat ini ha?! Kamu tak ingin mengandung anakku?!!" Racau Gathan dengan mata memerah karena menahan amarah serta kekecewaannya.

__ADS_1


"Teo, berikan tab mu padaku!" Gathan ingin melihat apa saja yang dilakukan istrinya melalui rekaman CCTV yang ada didalam kamar utamanya.


Keberadaan CCTV yang ada didalam kamar utamanya, hanya Gathan yang mengetahui dan dapat mengaksesnya. Karena bagi Gathan kamar utama adalah privasi dirinya dan Lisya. Ia sengaja memasang CCTV di kamarnya, hanya untuk berjaga-jaga saja, apabila ada kondisi yang mendesak. Seperti saat ini misalnya.


Gathan kembali dikejutkan saat melihat rekaman CCTV itu. Dalam rekaman itu, menunjukkan jika Lisya tengah meminum pil yang tadi ia beli. Betapa marahnya Gathan saat melihat istrinya itu melakukan hal diluar batas kewajarannya. Hatinya memanas, tangannya mengepal erat.


"Teo, lebih cepat lagi! Aku ingin segera sampai!" Perintah Gathan.


"Baik bos." Teo segera menambah kecepatan mobilnya.


** Mansion Utama Keluarga Barra **


"Tuan,,,,,,," Perkataan pak San langsung terhenti saat tangan Gathan memberi isyarat, jika ia tidak ingin diganggu. Dengan segera Gathan menuju lantai dimana letak kamar utamanya berada. Dan meninggalkan semua pelayan yang sudah berjajar menyambutnya pulang.


Sedangkan Teo, menunggu bosnya itu di ruang utama mansion, sampai mendapat perintah kembali.


~~


** Kamar Utama Mansion **


"Sekarang aku yang tanya kepadamu, Apa maksudnya kamu membeli obat ini? Hahhh,, katakan Ra.!" Mata Gathan kembali menajam, saat tangannya menunjukkan obat yang dipegangnya dihadapan Lisya.


Apaaaa?? Kak Gathaan kok bisa tahu obat itu? Mamp*s akuu!!


Gumam Lisya dalam hati sambil memejamkan matanya sesaat.


"Katakan Ra! Apa maksud kamu membeli dan bahkan meminum obat ini??!!"


"A-aku,,,,,," Lisya bingung harus dari mana menjawabnya.


"Apa??!!! Segitu benci dan tak percayanya kah kamu padaku?! Sampai kamu tak ingin mengandung anakku nanti?" Tuduh Gathan.


"Maaf kak, akuu....."


"Kamu minta waktu supaya aku tak menyetubuhimu saat itu, tapi sekarang kamu malah mengkonsumsi pil itu!" Potong Gathan.


"Apa!! Jadi benar dugaanku, kakak menikahiku hanya untuk mendapatkan mahkotaku saja kan!" Tuduh Lisya yang tersinggung dengan perkataan Gathan. Ia bangun dan duduk di atas kasurnya.


"Selama ini ternyata kakak hanya terobsesi padaku! Bukan cinta! Kakak pasti akan meninggalkanku setelah berhasil mendapatkan apa yang kakak mau kan!" Tuduh Lisya kembali.


"Apa! Se b*jing*n itu kah aku di matamu Ra!" Ucap Gathan membalikkan tubuhnya memandang Lisya dengan tatapan emosi.


"Ya, terbukti kan dari perkataan kakak barusan!" Jawab Lisya yang semakin memancing amarah Gathan.


"Jadi kamu hanya percaya dengan perkataan ku barusan?! Setelah apa yang telah aku lakukan dan jelaskan selama ini? " Ucap Gathan.


"Baik, kalau kamu mamandangku sebagai laki-laki b*jing*n, akan aku tunjukkan kepadamu seberapa b*jing*nnya aku, jika aku mau!" Ucap Gathan dengan emosi yang semakin memuncak. Dengan segera ia berjalan menuju pintu kamar, kemudian menguncinya dari dalam.


Setelahnya Gathan mematikan sambungan CCTV kamarnya, lalu menghampiri Lisya yang masih terduduk di atas kasur king size nya dengan tatapan yang menajam.


Lisya yang melihat Gathan mengunci pintu, lalu menghampirinya dengan raut muka yang menyeramkan, membuat ia perlahan mundur dari duduknya.


"Ka-kamu mau apa kak? Hah.?!!" Tanya Lisya yang semakin ketakutan.


"Membuatmu semakin percaya jika aku memang laki-laki b*jing*n seperti yang kamu pikirkan!" Ucap Gathan, kemudian tangannya menarik tengkuk Lisya.


Diciumnya bibir mungil yang sebenarnya sudah sangat amat ia rindukan selama beberapa hari ini. Namun karena emosi yang mendominasi, membuat cium*nnya menjadi kasar.


"Emmmmbbbbb,,," Lisya berusaha melepaskan pagutan bibirnya yang terasa begitu kasar.


Namun semua itu sia-sia. Gathan justru semakin memperdalam cium*nnya dengan rakus.


Setelah puas mencium dan meggig*t bibir, Gathan menindih tubuh Lisya, kedua tangannya memegang erat kedua tangan Lisya yang sedari tadi ingin menolak, dibawanya tangan itu ke arah samping kepala istrinya. Lalu dengan segera ia turun ke area leher, dan meninggalkan tanda kepemilikannya.


"Aaaww,, kak... Lepasiin. Please, jangan gini!" Racau Lisya kesakitan.


Gathan yang sudah kalap dan mulai terbawa suasana, tak memperdulikan racauan Lisya. Justru ia terus melanjutkan aksinya hingga turun ke area gunungnya.

__ADS_1


Dibukanya baju Lisya dengan paksa, sehingga robek tak berbentuk. Dengan cepat, Gathan membuka br* milik Lisya, lalu memainkan spot favoritnya itu. Tak lupa ia juga meninggalkan tanda kepemilikan begitu banyak, agar sang istri ingat, jika ialah pemilik sesungguhnya.


"Kak,, hikss hikss. Aku mohon jangan gini!" Lisya mulai menangis.


Sama sekali Gathan tak menghiraukan ucapan Lisya. Tangannya masih terus bermain ditempat yang memang sudah menjadi spot favoritnya sebelumnya, namun karena masih emosi, tangan itu bermain dengan kasar.


Setelah puas, Gathan turun menyusuri tiap inchi tubuh yang berisi nan mulus milik istrinya tanpa ada yang terlewat.


"Kakk.. Hikkss, Maafkan aku!" Lisya menyesali perbuatan dan perkataannya tadi. Ia sadar jika dirinya lah yang salah. Bukannya ia menjelaskan, malah justru memancing emosi suaminya dengan mengatakan hal yang tidak seharusnya. Sehingga membuat suaminya itu kalap hingga berani melakukan hal semacam itu secara paksa.


Gathan menghentikan aksinya disaat mendengar permintaan maaf dari mulut Lisya. Ia mendongakkan kepalanya, mamandang lekat wajah istrinya yang sudah dipenuhi dengan keringat dan air mata. Matanya memandang penuh arti.


"Akan aku maafkan, setelah aku benar-benar membuktikan ucapanmu tadi!" Ucap Gathan dengan nafas yang parau menahan amarah dan gair*hnya yang sudah mulai memuncak.


Gathan melepaskan semua pakaiannya, tanpa rasa malu sedikitpun. Lisya terperanjat kaget, Matanya melebar saat melihat aset Gathan sudah on begitu sempurna. Lisya tak menyangka jika aset suaminya itu terlihat begitu besar dan panjang. Ia benar-benar takut, dan tak siap.


Seakan tahu apa yang akan dilakukan suaminya itu kepadanya, Lisya semakin menangis dan menutup wajahnya karena tak biasa melihat pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


"Kak, aku mohon. Hikss, hikss,, Jangan lakukan sekarang. Aku belum siap kak. Hiks hiks hikss." Ucap Lisya dengan posisi yang masih menutupi wajahnya.


"Kenapa?? Bukankah karena sudah siap, sehingga kamu berani meminum pil itu!! Harusnya kamu tak perlu takut jika aku melakukannya sekarang kan! Bukankah kamu tak akan hamil?!" Ucap Gathan kemudian melepaskan pakaian bawah Lisya dengan cepat hingga terlihat benar-benar polos.


Tanpa banyak bicara, Gathan langsung fokus menyusuri area yang sudah membuatnya penasaran selama ini.


"Aww... Kakak.. Hiks hikss. Berhenti kak. Aku mohon." Lisya berusaha bangun dari posisinya saat sedikit merasakan sakit dibagian bawahnya karena Gathan melakukannya dengan kasar. Namun dengan cepat Gathan menahan tubuh Lisya,, hingga kembali ke posisi semula.


"Ini hukuman, karena berani mengecewakanku! Akan aku buktikan, jika suamimu ini memang b*jing*n, supaya kamu tak berani macam-macam denganku lagi!" Ucap Gathan tersengal ditengah aktifitasnya. Lalu kembali ia mengarahkan asetnya ke tempat yang seharusnya.


"Maaf kak, aku salah. Aku janji tak akan membuat mu kecewa lagi, dan aku,,,,, Aaaaaah.!! huuhuhuhu Sakiittthh !!!" Ucapan Lisya terpotong merasakan sakit yang teramat sangat di bawah sana. Ia teriak sekencang-kencangnya.


Aset Gathan berhasil menembus hanya dengan sekali hentakan yang begitu keras. Benar-benar Gathan merasakan, jika asetnya itu telah membuat lapisan didalam sana robek. Gathan juga mendengar samar suara robekan itu saat asetnya berhasil masuk dengan paksa.


"Huhuhuhu,, sakiiitth. Kakak jahat! huhuhu!" Lisya semakin menangis dengan keras.


Emosi yang sedari tadi menyelimuti pikiran dan nafsunya seolah hilang begitu saja. Gathan yang baru tersadar melihat Lisya tengah menahan sakit, serta wajahnya yang begitu penuh dengan keringat dan air mata, dengan cepat menurunkan tubuhnya lalu mencium kening Lisya lembut dengan posisi masih saling menyatu.


"Maaf,. Karena aku telah melakukannya dengan kasar." Sesal Gathan menatap lekat mata Lisya. Tangannya mengusap keringat dan air mata istrinya itu dengan lembut.


"Aku terbawa emosi. Aku benar-benar kecewa saat melihatmu nekat meminum pil itu. Juga rasa ingin benar-benar menjadikanmu milikku seutuhnya, begitu kuat saat mendengar perkataanmu tadi." Jelas Gathan dengan nafas yang masih tersengal.


Gathan kembali mencium bibir Lisya, karena istrinya itu hanya terus menangis. Namun kali ini cium*nnya berubah begitu lembut. Ia terus mencium bibir mungil itu dengan penuh rasa kasih, agar Lisya lebih rileks.


Saat Gathan melihat Lisya sudah lebih rileks, Gathan mencoba melanjutkan aksinya dengan sangat pelan dan hati-hati.


Gathan bangun dari posisinya, lutut ia jadikan sebagai tumpuan tubuhnya, sedangkan tangannya menahan kaki Lisya agar semakin terbuka lebar. Gathan melihat istrinya itu semakin terbawa suasana. Lalu dengan cepat dan gencar ia menggerakkan apa yang ada dibawah sana.


Keduanya terdengar saling bersautan mengeluarkan suara nikmat yang memenuhi ruangan kamar. Semakin lama gerakan Gathan semakin cepat dan lebih keras saat ia merasa ingin mengeluarkan lahar panasnya.


"Emmhhh" Gathan mengerang, dan tubuhnya men*g*ng saat lahar panasnya ia semburkan didalam sana. Matanya terpejam menikmati sesuatu yang ternyata rasanya sangat luar biasa.



"Hah,, hah,, hah,," Nafas Lisya tersengal.


"Terimakasih sayang." Gathan limbung kearah tubuh Lisya, karena merasa lemas. Namun tangannya masih mampu menahan tubuhnya. Bibirnya mengecup singkat bibir Lisya.


Sedangkan Lisya, hanya diam tak merespon perkataan Gathan, karena ia merasakan tubuhnya remuk redam. Tenaganya habis tak bersisa.


Keduanya saling berebut oksigen dan matanya saling pandang dengan tatapan penuh arti .


To Be Continued. 🖤


- Annyeong pembaca yang budiman 💕-


Akhirnya babang Gathan unboxing juga. Maafkan othor jika tidak sesuai ekspektasi readers ya karena sudah tidak lulus review berkali-kali Heheh. 🙏


-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! 🙏 supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --

__ADS_1


Salam cium dan peluk jauh. 🤗


__ADS_2