
"Kita berdua harus bisa saling terbuka kak." Jawab Lisya malu-malu karena teringat ciumannya yang menurutnya begitu panas.
"Terbuka??" Tanya Gathan heran. Matanya menatap lekat tubuh Lisya dari atas sampai bawah.
"A-anu kak, maksud aku.. Kita harus sering-sering komunikasi. Contohnya, saling berbagi tentang masalah apapun yang kita alami. Mengungkapkan apapun yang kita rasakan satu sama lain. Meminta pendapat kepada pasangan ketika hendak memutuskan segala sesuatu, dan masih banyak hal deh."
" Karena terbiasa berkomunikasi, membuat kita bisa saling terbuka, dan nyaman kak. Jika sudah saling terbuka dan nyaman, secara perlahan akan membuat kita merasakan bahwa pentingnya adanya kehadiran dan peran pasangan dalam hidup kita. Dan jika kita sudah merasakan hal seperti itu, maka akan timbul rasa saling membutuhkan satu sama lain." Jelas Lisya panjang lebar. Gathan yang mendengar hanya mengangguk mengerti.
"Jika kita bisa merasa saling membutuhkan, maka kita akan merasa hampa, dan tak sempurna jika berjauhan atau bahkan kehilangan. Saling berkorban untuk melakukan apapun demi kebahagiaan pasangan kita agar kita tak kehilangannya tanpa memikirkan kepentingan diri kita sendiri, itu tanda bahwa kita sudah sangat mencintainya." Jelas Lisya dengan tersenyum manis, membuat Gathan yang melihatnya begitu gemas.
"Oke aku mengerti Ra. Mulai saat ini dan seterusnya aku akan terbuka denganmu. Aku akan melakukan semua contoh yang kamu sebutkan tadi. Dan, kamu juga harus melakukan hal yang serupa kepadaku. Supaya kelak, kita bisa saling mencintai." Ucap Gathan tersenyum sambil membelai rambut Lisya. Lisya yang mengerti dengan permintaan Gathan ikut tersenyum dan mengangguk.
"Tapi tungguu.... Kamu bisa paham teori mengenai suatu hubungan seperti itu dari mana Ra, bukankah katanya kamu belum pernah menjalin suatu hubungan dengan siapapun sebelumnya?"Tanya Gathan menyelidik.
"Jangan-jangan kamu pernah menjalin kasih sama keong racun diluar sana ya?? Siapa itu? Wah,, jangan bilang si Bram kampret itu!" Tuduh Gathan sambil menatap tajam Lisya.
"Iiihh,, apa an sih kak. Aku sama si Bram itu hanya temanan aja. Gak ada hubungan lebih. Jadi jangan mikir yang macam-macam. Dan, memang aku itu gak pernah pacaran sama siapapun karena aku belum siap membagi waktu dan pikiranku untuk hal-hal yang belum pasti nantinya." Jelas Lisya dengan jujur. Karena memang selama ini, ia menutup hati karena ingin fokus dengan pendidikan, dan orang tuanya terlebih dahulu.
"Pokoknya mulai sekarang, kamu tidak boleh dekat dengan pria manapun. Apalagi Bram, meski dia temanmu jangan pernah kalian bersentuhan. Jika sampai kamu melanggarnya, tangan dia akan aku patahkan." Ancam Gathan.
"I-iiyaa iya kak. Sekarang kan aku sudah beda status, jadi aku akan menjaga sikap diluaran sana." Jawab Lisya yang sedikit takut dengan ancaman Gathan.
"Bagus... Jadi kamu tahu dari mana?" Tanya Gathan kembali sambil tersenyum lega.
"Aku tuh sering kak baca-baca buku tentang tips agar membuat suatu hubungan langgeng, trus tips agar pasangan semakin mencintai kita, pokoknya berbau gitu lah. Jadi ya sedikit banyak aku tahu teorinya kak. Meski belum pernah praktek secara langsung sama pasangan, aku sudah praktekkan sama Via. Terbukti, hubungan persahabatan kita semakin dekat. Karena kita saling terbuka satu sama lain, ya meski dalam 'konteks' yang berbeda tapi intinya sama." Jelas Lisya panjang lebar.
"Tapi kamu tidak memiliki perasaan lebih kan dengan teman perempuan mu itu?" Tanya Gathan curiga.
"Hisshh,, Aku masih normal kak. huh." Elak Lisya kesal.
"Normal?? Berarti sama aku, kamu mau kan??" Goda Gathan.
"Ehhhh,, I-ituuu... Kan, ki-kitaa sudah sepakat kak. Tunggu aku sudah siap. Dan tunggu kita menyadari perasaan kita masing-masing kan?." Jawab Lisya terbata.
"Iya-iya aku tahu kok. Aku hanya menggodamu saja." Gathan terkekeh. Sedangkan Lisya hanya mengerucutkan bibirnya.
"Emmm,,,, Ngomong-ngomong soal terbuka, setahuku dari ceramah pak ustadz kalau hubungan sudah halal itu, sentuhan fisik juga bisa membuat kita bisa saling terbuka loh Ra." Ucap Gathan dengan senyum tipis. Kali ini, teori itu berasal dari otak pintar sekaligus liciknya. đ
"Ehhh, Se-sentuhan fisik?? kok bisa?" Tanya Lisya heran dan malu.
"Iya, semakin kita sering melakukan sentuhan fisik akan membuat kita terbiasa dengan pasangan kita. Hal itu juga bisa menumbuhkan perasaan nyaman satu sama lain loh. Bukankah menurut teori yang kamu sampaikan tadi, cinta tumbuh bermula dari perasaan nyaman kan." Jelas Gathan percaya diri karena yakin jika teori yang muncul dari otaknya itu sangatlah akurat.
__ADS_1
"Memangnya sentuhan fisik yang seperti apa yang kakak maksud?" Tanya Lisya kembali.
" Emmm,, sentuhan fisik yang sederhana saja. Seperti bergandengan tangan, pelukan dan.... ciuman." Sebut Gathan enteng.
"Ci-ciuman?? Jadi maksud kakak kita harus membiasakan ciuman?" Ucap Lisya sambil membelalakkan matanya.
"Tentu saja, bukankah itu adalah hal biasa yang dilakukan oleh pasangan yang sudah halal?." Jawab Gathan tersenyum.
"Seperti ini nih." Ucap Gathan kembali karena tak mendapat jawaban dari Lisya. Kemudian ia mendekatkan wajahnya lalu..
Cup.
Cup.
Cup.
Gathan mengecup kening, pipi, dan bibir Lisya singkat dengan lembut.
Blush.
Pipi Lisya langsung merona, ia masih malu jika mendapat perlakuan lembut dari Gathan. Entah mengapa, hatinya selalu berdebar saat Gathan menciumnya, apalagi secara tiba-tiba.
"Bukankah tadi aku sudah bilang, supaya kita bisa lebih nyaman dan.....ehhhhmmmmmhhh." Ucap Gathan terpotong karena tubuhnya meremang, saat mendapat hembusan nafas Lisya di lehernya. Apalagi Lisya tak henti menggerak-gerakkan kepalanya di leher Gathan membuat sang empu semakin tergelitik.
"Raa,, jangan memancingku.!" Ucap Gathan terpejam karena menahan gairah yang mulai bergejolak di bawah sana.
"Eh,, aku? kenapa kak?" Lisya mendongakkan kepalanya, dengan raut muka yang tak bersalah.
"Jangan buat aku terpaksa bermain dengan sabun untuk kedua kalinya malam ini!" Ucap Gathan dengan mata masih terpejam.
"Sabun?? Kakak tadi main sabun? Kakak suka main gelembung sabun?" Tanya Lisya polos yang masih tak mengerti arah pembicaraan Gathan.
"Haahhh,, kenapa polos sekali.! Nihh, kepala dan nafasmu itu menggelitik leherku!." Jawab Gathan sambil membuka matanya kemudian melihat Lisya.
Lisya yang baru menyadari maksud Gathan, langsung mundur dari posisinya.
"Maaf kak, aku tidak sengaja." Ucap Lisya tidak enak.
"Dengar ya Ra, selama kamu belum siap untuk berperang keringat denganku, jangan sekali-kali memancingku kembali dengan perilaku polosmu itu. Aku ini laki-laki normal yang tentu bisa saja menyerangmu kapanpun" Jelas Gathan sambil memegang wajah Lisya agar memandangnya lekat.
"Maaf kak. Kan kakak sendiri yang mancing buat menciumku duluan tadi, jadi bikin aku salah tingkah." Jelas Lisya yang memang benar.
__ADS_1
"Salah tingkah?" Tanya Gathan sambil mengerutkan dahinya.
"Ehhh, a-anu ituu.. Akuu..." Ucap Lisya terbata.
"Kamu salah tingkah karena menikmati setiap ciumanku yaa Ra.?" Potong Gathan untuk menggoda Lisya.
"Haa? E-egaaakkk. I-itu tidak benar! Kakak ngawur ih." Elak Lisya kemudian membelakangi Gathan karena malu.
"Heheheheh, sudah jujur aja." Ucap Gathan sambil menowel punggung Lisya.
"Iihh apaan sih kak. Aku mau tidur. Ngantuk." Jawab Lisya yang semakin malu.
"Yasudah, karena aku ingin terbuka, aku aja deh yang jujur. Aku menikmati ciuman kita tadi kok. Apalagi bibir kamu itu, rasanya manis banget." Bisik Gathan tepat ditelinga Lisya. Membuat pipi Lisya kembali merah merona dan beganti tubuhnya meremang akibat mendapat gesekan jambang Gathan ditelinganya.
"Eemmmmmmbbhh" Sebuah lenguhan tak sengaja keluar dari bibir Lisya.
"Kakkk, me-menjauhlah dari situ." Ucap Lisya terbata dan matanya terpejam.
Gathan yang mendengar lenguhan Lisya yang entah baginya terdengar seksi, membuat tubuhnya seperti tersengat aliran listrik. Seolah suara seksi itu telah membangunkan kelakiannya. Sontak Gathan membalik tubuh Lisya menjadi terlentang, dan dengan cepat ia menindihnya sehingga tubuh Lisya berada dalam Kungkungannya.
Keduanya saling pandang beberapa detik, mengatur ritme nafasnya yang sama-sama sedang tidak beraturan.
Tatapan babang Gathan yang menahan gairah. đ
Ekspresi Lisya saat tubuhnya meremang.
To Be Continued đ¤
Â
- Annyeong pembaca yang budiman đ--
- Kalau pengantin baru mah, bawaannya kesetrum terus yaa kalau kesentuh dikit. đ
-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! đ supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --
Salam cium dan peluk jauh. đ¤
__ADS_1