GILA! TAPI AKU CINTA!

GILA! TAPI AKU CINTA!
Aku Mau!


__ADS_3

"Gimana dokter kaki saya?" Tanya Via saat setelah dokter memeriksa kakinya di ruang UGD.


"Kaki mbak sudah benar-benar bersih dari duri bulu babinya. Untung saja sudah mendapatkan pertolongan pertama, sehingga racunnya tidak menyebar. Jika dibiarkan beberapa menit saja, bisa membuat kaki mbaknya bisa lebih bengkak dari ini dan tentunya akan lebih nyeri." Jelas dokter yang menangani Via.


"Syukurlah." Ucap Via dan Bram lega.


"Apa tidak diresepkan obat dok?" Tanya Lisya yang berada di sebelah Bram.


"Iya. Setelah ini akan saya resepkan obat anti nyeri, dan antiobiotik agar tidak infeksi." Jelas dokter lagi.


"Oh begitu. Baik terimakasih banyak ya dok." Ucap Lisya dengan lega.


"Sama-sama mbak. Kalau begitu saya permisi dahulu. Resep obat akan di antarkan oleh perawat yang berjaga setelah ini." Dokter meninggalkan ketiganya.


"Silahkan dok." Jawab ketiganya bersamaan.


Tak menunggu lama, perawat yang berjaga memberikan resep dokter kepada Bram. Lalu Bram menuju kasir untuk melakukan pembayaran pemeriksaan dan penebusan obat. Setelahnya ia menuju apotek rumah sakit untuk mengambil obat yang telah diresepkan.


Sebenarnya Gathan menawarkan untuk membayar segala biayanya, namun karena Bram yang memaksa untuk menanggungnya, Lisya meminta suaminya itu untuk membiarkannya.


Setelah mendapatkan obat, Via dan lainnya segera pulang menuju resort tempatnya menginap. Dengan formasi yang sama seperti saat berangkat tadi tentunya.


-


"Teo, minta orang resort untuk siapkan makan siang buat kita semua.! Karena sedari tadi kita belum makan siang. Aku tidak ingin kalian semua sakit karena kelaparan. Terutama istriku yang tercinta ini.." Perintah Gathan ditengah perjalanan. Sambil tangannya merangkul pundak Lisya.


"Baik bos." Jawab Teo, lalu menepikan mobilnya untuk melakukan panggilan pada pihak resort.


-


Sedangkan di mobil lain,,,,,


"Masih sakit Vi??" Tanya Bram memecah keheningan sambil masih fokus menyetir. Sedangkan Via hanya menggelengkan kepalanya cepat.


"Lo kenapa? Kok dari tadi diam saja?" Tanya Bram heran. Tidak biasanya perempuan satu itu berubah menjadi pendiam. Bahkan saat berangkat tadi, menurutnya Via masih biasa-biasa saja.


"Mikirin lo. Eh,,,,," Jawab Via cepat dengan tatapan kosongnya. Lalu dengan cepat menutup mulutnya rapat, karena keceplosan.


"Mikirin gue? Eh,, kenapa?" Tanya Bram penasaran.


"Emm, enggak kenapa-kenapa." Jawab Via menundukkan kepalanya. Pipinya memerah.


Bram menoleh sekilas ke arah Via. Ia menautkan alisnya karena heran dengan sikap Via.


Kenapa dia? Kok jadi kikuk begitu.


Gumam Bram dalam hati.

__ADS_1


Lalu kemudian keduanya saling diam, sibuk dengan pemikirannya masing-masing.


"Oke aku mau! Aku akan mencoba jadi pacar lo Bram!" Ucap Via tiba-tiba dengan mantap sambil manggut-manggut, memecah keheningan yang sedari tadi menyelimuti keduanya.


Ciiiiiitttttt...


"Aww,!!! Bram!!!" Pekik Via karena begitu terkejut saat Bram menghentikan mobilnya di pinggir jalan secara tiba-tiba. Hingga kepalanya hampir kebentur pada dashboard mobil. Untung saja jalanan sepi, pikir Via.


"Lo ngomong apa tadi Vi?? Coba ulangi!" Tanya Bram antusias setelah melepas seat beltnya dengan wajah yang berbinar.


"Bram! Lo gila ya berhenti mendadak gini! Gue gak mau ya end sebelum ngerasain skidibabab!" Racau Via karena jantungya masih berdebar cepat karena kaget.


"Sorry. Lo sih suka tiba-tiba kalo ngomong."


"Cepet ulangi perkataan lo tadi!" Pinta Bram.


"Ck, lo kenapa mendadak jadi bolot sih.!" Via mencebikkan bibirnya.


"Bodo amat! Buru ulangi apa yang lo katakan tadi!" Bram menggoyang lengan kanan Via.


"Hahhhh,,,, Gue mau jadi pacar lo." Via menghela nafas panjang untuk menetralisir debaran jantungnya. Kemudian mengulangi ucapannya.


"Gue mau mencobanya, gue mau kasih lo kesempatan untuk memastikan perasaan lo, gue mau lo buktikan semua ucapan lo kemarin, gue,,,,,,"


Grep,,


"Bram,, Lepas! Gue gak bisa nafas!" Ucap Via dengan susah payah.


"Eh, Maaf. Gue terlalu bahagia Vi." Bram melepaskan pelukannya.


"Jadi????" Bram bertanya dengan ambigu.


"Jadi????" Via bertanya balik, menatap Bram heran.


"Ck,,, Jadi kita beneran sudah resmi pacaran ni?" Jelas Bram. Tubuhnya masih miring menghadap Via.


"I-iyaaa,, Aku dan kamu jadi kita." Jawab Via malu-malu.



"Yeeessss..!! Akhirnya ya tuhan,,, Penantian dua tahun gue tidak sia-sia.!" Ucap Bram sedikit berteriak untuk mengungkapkan kebahagiaannya.



"Aku,, Kamu,, Heheheheh." Ucap Bram sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Rasanya masih canggung.


Via benar-benar tidak bisa berkata apa-apa saat ini. Untuk pertama kalinya, dirinya merasa canggung dan malu saat bersama Bram. Ya, baru kali ini Via menjalin suatu hubungan yang spesial dengan laki-laki. Karena selama ini ia tidak mau terikat hubungan dengan laki-laki manapun yang tentu membuatnya tidak bebas kemanapun. Namun entah mengapa, kali ini berbeda. Mengingat semua yang telah dilakukan Bram selama ini, mendengar penuturan Lisya, serta melihat ketulusan Bram ketika membantunya saat terkena bulu babi tadi, membuat Via mantap untuk memberi kesempatan kepada Bram.

__ADS_1


"Aku akan terus berusaha untuk menjadi pacar terbaik yang pernah kamu miliki Vi!" Bram kembali memeluk tubuh Via dengan bahagia.


"Makasih Vi. Aku akan segera memastikan perasaanku padamu." Ucap Bram kembali dengan posisi masih memeluknya.


"Sama-sama Bram. Semoga hubungan kita terus baik-baik saja ya." Ucap Via mulai membalas pelukan Bram.


"Amiin. Semoga." Ucap Bram.


"Tunggu, apa yang membuat kamu mau jadi pacarku? Bukankah kamu hanya menganggap ku sebagai teman selama ini.?" Tanya Bram melepas pelukannya.


"Emmm,,, itu,,, karena,,,A-aku melihat ketulusan di dalam diri kamu Bram." Jawab Via malu-malu.


"Aku baru menyadarinya, justru setelah kamu mengungkapkan perasaanmu. Aku baru sadar jika selama ini kamu lah laki-laki yang selalu membantuku di saat aku kesusahan. Yang selalu berada di sampingku. Bahkan tadi, kamu begitu sigap buat nolongin aku. Meggendongku dari masih di gili nanggu, sampai keluar rumah sakit." Jelas Via.


"Dan,, benar kata Lisya. Kalau perasaan akan timbul seiring berjalannya waktu. Jadi tidak ada salahnya kan, kalau aku memberimu kesempatan untuk memastikan dan membuktikan perasaanmu kepadaku. Lagi pula, sebenarnya jika dipikir-pikir aku juga merasa nyaman selama ini jika didekat mu. Heheh." Jelas Via panjang lebar.


"Lisya tahu hal ini?" Tanya Bram.


"I-iyaaa. Maaf ya aku gak bisa kalau gak cerita sama dia." Via mengangguk ragu karena takut jika Bram tidak suka.


"Heii, kenapa harus minta maaf? Justru aku harus sangat berterimakasih sama Lisya. Pasti berkat wejangan dia juga, kamu jadi mau terima aku. Ya kan? Terus berkat moment liburan ini, aku jadi punya keberanian untuk ungkapkan perasaanku sama kamu." Jelas Bram sambil membelai rambut Via.


Blush.


"I-iyaa. Hehehe. Habisnya kasusnya sama sih kayak dia sama mas Brew dulu." Jawab Via sambil cengar-cengir menahan malu karena perlakuan hangat Bram.


"Iya juga. Mereka berdua kan tanpa pacaran. Pasti nggak mungkin langsung saling jatuh cinta."


"Apa kita juga langsung menikah saja? Jadi kita pacaran setelah menikah. Seperti Lisya dan tuan Gathan." Ucap Bram enteng.


Deg!.......


Menikah???


Gumam Via dalam hati.


Jantung Via berdebar kencang, pikiran mesumnya langsung berlarian didalam otaknya. Suara desahan Lisya yang sempat didengar sekelebat muncul didalam pikirannya. Pipinya merah merona akibat pikiran absurdnya itu. 😀


To Be Continued 🖤


- Annyeong pembaca yang budiman 💕-


Hem,,, Si Bram main ajak kewong aja! Dasar si Via nya yang mesum, ya langsung nyambung aja ke arah sana. 😂


-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! 🙏 supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --


Salam cium dan peluk jauh. 🤗

__ADS_1


__ADS_2