GILA! TAPI AKU CINTA!

GILA! TAPI AKU CINTA!
Menggemaskan


__ADS_3

"Maaf ya kak. Lagi-lagi aku mengecewakan kakak." Ucap Lisya saat keduanya sudah menyelesaikan ritual masing-masing akibat melakukan kegiatan panas yang berujung cenut-cenut. πŸ˜…


"Tak apa sayang. Ini bukan salah kamu." Ucap Gathan mengusap lembut puncak kepala Lisya.


Kemudian Lisya yang tadinya duduk di tepi tempat tidur, beralih berjalan menuju meja rias untuk memakai serentetan skincarenya setelah usai mandi. Betapa terkejutnya saat ia melihat banyak sekali tanda merah di area lehernya.


Ia mengira jika tanda kepemilikan yang diciptakan suaminya itu hanya ada di bagian gunungnya. Saat pertama kali melihat tanda merah di area gunungnya ketika di kamar mandi, Lisya begitu terkejut. Karena baru pertama kali ini ia melihat tanda itu, ia tak menyangka jika suaminya itu begitu beringas.


Namun keterkejutannya berlanjut saat ia kembali melihat tanda itu di area lehernya yang jumlahnya begitu banyak. Lisya begitu malu, pipinya memanas saat kembali mengingat kegiatan panasnya tadi. Sambil tangannya meraba kearah tanda merah yang ada di lehernya.


"Kamu mikirin apa?? Hem?" Tanya Gathan sambil memeluk Lisya dari belakang.


Gathan melihat bayangan istrinya itu dari cermin yang ada didepannya. Sehingga ia tahu, jika saat ini pipi istrinya sedang merah merona.


"Ehh,, Enggak kak. Aku gak mikirin apa-apa kok." Ucap Lisya sambil mengalihkan pandangannya karena merasa tertangkap basah.


"Itu adalah tanda bahwa kamu telah menjadi milikku seutuhnya sayang." Ucap Gathan sambil mengecup pipi Lisya dari belakang. Membuat yang dicium meremang.


"Next time, akan aku buat tanda kepemilikanku lebih dari ini." Ucap Gathan dengan seringai licik sambil matanya menatap bayangan Lisya di cermin.


"Apa sih kak. Minggir deh, a-aku mau pake skincare dulu." Ucap Lisya yang semakin salah tingkah karena ia memikirkan apa maksud ucapan suaminya itu.


Tanda kepemilikan lebih dari ini?? Apa coba?? Yang ini aja udah merah-merah seperti ini. Bagaimana kalau lebih?


Gumam Lisya dalam hati.


"Aku akan menantinya sayang. Siap-siap lah." Bisik Gathan kemudian meninggalkan Lisya yang sedang mematung. Gathan tertawa jahat karena berhasil mengerjai istrinya. Ia menganggap itu sebagai balasan, karena istrinya telah mengerjai juniornya berulang kali. πŸ˜…


Kemudian obrolan absurd mereka berakhir saat tuan Amar mengunjungi kamarnya. Beliau menawarkan kepada Gathan dan Lisya untuk mengajak keliling pulau itu menggunakan kapal cepat milik tuan Amar.


Tuan Amar tahu, jika tamu agungnya itu sudah akan meninggalkan resortnya esok pagi. Untuk itu, beliau ingin memberikan kesan yang tak terlupakan untuk pasangan pengantin baru itu dengan menunjukkan keindahan pulau yang belum banyak orang tahu.


Ya, Gathan dan Lisya sudah harus kembali ke Indonesia besok pagi, karena keduanya harus kembali fokus dengan kegiatannya di Jakarta yang sudah lama mereka tinggalkan.


Gathan harus menghadiri acara peresmian rumah sakit di Jakarta. Karena rumah sakit itu merupakan rumah sakit pertama milik BR Group, sehingga tidak dapat diwakilkan. Sedangkan Lisya, ia harus segera kembali ke kampus karena sebentar lagi akan ada ujian akhir semesternya. Lisya masih harus mengejar ketertinggalan materi perkuliahannya untuk persiapan ujiannya itu.


Akhirnya Gathan dan Lisya menyetujui ajakan tuan Amar. Terutama Lisya, ia sangat antusias menerima ajakan itu. Lalu tak menunggu waktu lama, mereka bergegas menuju kapal cepat milik pribadi tuan Amar.


Selama hampir tiga jam lebih, mereka berkeliling pulau kecil nan indah itu. Setelah puas, Gathan dan Lisya kembali ke kamar untuk beristirahat.


Keesokan Harinya.


Gathan dan Lisya sudah diantarkan oleh tuan Amar dan bodyguardnya ke Bandara MalΓ©, Maldives.


"Terimakasih banyak atas pelayanannya selama kami di sini tuan Amar." Ucap Gathan sambil menjabat tangan tuan Amar yang diikuti oleh Lisya.


Namun, baru sedikit tangan Lisya menyentuh tangan tuan Amar, Gathan berpura-pura menggandeng tangan Lisya itu supaya terlepas dari tangan tuan Amar.


Tuan Amar yang menyadari keposesifan Gathan terhadap istrinya, hanya tersenyum tipis. Beliau memaklumi sikap Gathan, karena beliau juga seperti itu jika dengan istrinya.


"Sama-sama pak Gathan. Kami tunggu kedatangannya kembali bersama personil juniornya." Ucap tuan Amar sambil tersenyum senang.


Gathan dan Lisya yang paham dengan arah pembicaraan tuan Amar, menanggapinya dengan malu-malu.


"Aamiin. Pasti itu. Kalau begitu kami pamit tuan Amar. Sekali lagi terimakasih." Pamit Gathan. Lalu ia berjalan menuju pesawat jetnya dengan tangannya masih setia menggandeng tangan Lisya.

__ADS_1


Tak lama pesawat yang ditumpangi Gathan dan Lisya lepas landas menuju negeri tercintanya yaitu Indonesia.




\*\* Jakarta, Indonesia \*\*



Gathan dan Lisya telah sampai di Jakarta pada dini hari. Kali ini perjalanannya lebih cepat dari saat berangkat. Teo menjemput kedua majikannya itu dari Bandara Soekarno Hatta menuju apartemen Gathan yang sebelumnya sudah pernah Lisya datangi.



Setelah beberapa puluh menit, mobil yang dikemudikan Teo telah sampai di Apartemen Belmont Residence. Keduanya segera menuju ke unit yang ada di lantai 21. Sedangkan Teo langsung kembali pulang karena hari sudah larut malam. Ia tak ingin mengganggu waktu istirahat majikannya itu. Meski keduanya tidak keberatan jika Teo ikut bermalam di sana.



Tak lama, Gathan dan Lisya sampai di lantai 21. Dengan segera Gathan menggandeng Lisya untuk masuk kedalam kamar utamanya, agar bisa segera istirahat.



Lisya begitu terpana saat melihat desain kamar Gathan yang begitu mewah. Ia baru pertama kali ini melihat kamar yang begitu luas.



![](contribute/fiction/1949029/markdown/17720916/1615995660065.jpg)




"Kamar seluas ini isi apa aja kak?" Gumam Lisya pelan.



"Bukannya kakak tidur sendirian ya,,kenapa harus seluas ini?" Ucap Lisya lagi.



" Kali ini gak sendirian lagi. Dan,, semakin luas, semakin tak terdengar desahan kamu dari luar nanti." Bisik Gathan yang sekarang begitu gemar menggoda istrinya itu.



"Eh,, Desahan?" Gumam Lisya pelan sambil pipinya kembali memerah.



"Sudah, mandi dulu sana gih. Mikir kotornya besok aja kalau sudah waktunya." Ucap Gathan memecah pikiran kotor Lisya. Tangannya mengacak lembut rambut Lisya karena gemas melihat ekspresinya. Ia terkekeh karena berhasil mengerjai istrinya sedari tadi.



"Iihhhhh,, kakak usil." Ucap Lisya sambil mencebikkan bibirnya.


__ADS_1


Cup.



"Abisnya kamu menggemaskan." Ucap Gathan setelah mengecup singkat bibir Lisya.



"Yasudah mandi dulu gih. Apa perlu kita mandi bareng??" Goda Gathan lagi.



"Aahhh,, egaaakkkkk.!" Teriak Lisya lalu meninggalkan Gathan.



Gathan yang melihat Lisya salah tingkah semakin tertawa puas.



"Kenapa balik lagi? Jadi mau mandi bersama?" Goda Gathan kembali. Ia tahu jika Lisya pasti tidak tahu dimana letak kamar mandinya. Karena ini baru pertama kalinya Lisya masuk ke kamarnya.



"Enggaakk,, Anuu itu,, kamar mandinya sebelah mana kak?" Tanya Lisya malu-malu. Gathan yang melihat semakin gemas.



"Ehh, kakk.. Turunin. emmbbhhht ." Teriak Lisya saat tubuhnya tiba-tiba digendong ala bridal style oleh Gathan. Kemudian bibirnya dibungkam oleh bibir Gathan.



"Jangan memancingku dengan sikap polosmu itu Ra." Ucap Gathan setelah mencium singkat bibir Lisya. Lalu ia lanjutkan mencium bibir mungil itu kembali sambil terus berjalan ke arah kamar mandi dengan posisi masih menggendong Lisya.



*To Be Continued πŸ–€*



\- Annyeong pembaca yang budiman πŸ’•--



Masa haminunnya dilanjut di Jakarta aja ya, karena ladangnya masih lampu merah. πŸ˜…



\-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! πŸ™ supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --



Salam cium dan peluk jauh. πŸ€—


__ADS_1


Β 


__ADS_2