GILA! TAPI AKU CINTA!

GILA! TAPI AKU CINTA!
Jaga Pandanganmu!


__ADS_3

** Mansion Utama Keluarga Barra **


"Jaga istriku seperti halnya kamu menjaga nyawamu.!" Perintah Gathan dalam mode serius. Saat ini ia, Teo dan supir pribadi Lisya sedang berada di ruang kerja barunya yang ada di lantai dua.


"Jangan sampai kamu membuatku menyesal karena telah membayarmu mahal!" Ucap Gathan kembali.


"Baik tuan. Saya pastikan jika nona Qaleesya akan selalu aman selama bersama saya." Jawab supir pribadi Lisya yang bernama Ujang.


"Ingat! Jaga pandangan mu.! Jangan pernah kamu memandang istriku lebih dari dua detik.! Apalagi menyentuhnya.!" Gathan memperingatkan supirnya itu dengan mata yang menajam.


"Siap tuan. Laksanakan." Jawab Ujang tegas.


"Satu hal lagi, kamu harus selalu melaporkan kepadaku atau Teo, tentang apapun yang dilakukan istriku saat bersama mu.! Jangan biarkan dia berdekatan dengan laki-laki manapun! Juga, dimana pun kalian berada, kirimkan lokasi kalian padanya!" Pesan Gathan sambil menunjuk ke arah Teo yang saat ini berada disampingnya.


"Baik tuan." Ucap Ujang patuh.


Setelahnya ketiganya keluar dari ruang kerja itu. Teo dan Ujang turun ke lantai satu untuk menunggu majikannya bersiap-siap, sedangkan Gathan kembali ke lantai tiga untuk menemui Lisya yang tadi sedang mandi saat dirinya menemui Ujang bersama Teo.


"Sudah siap sayang?" Tanya Gathan sambil mengecup kening Lisya.


"Eh,,, Su-sudah kak." Jawab Lisya malu-malu, lalu kembali memoles bibirnya dengan lip tint di depan kaca riasnya.


"Oh ya Ra, nanti siang setelah menghadiri acara peresmian rumah sakit, sesuai yang aku katakan kemarin, aku dan Teo akan berangkat ke Bandung untuk mengurus persiapan pembangunan cabang rumah sakit disana. Mungkin selama dua hari an. Lalu lanjut ke Lombok untuk survei lokasi sekalian meeting, untuk membahas persiapan pembangunan resort disana." Jelas Gathan sambil menarik Lisya kedalam pelukannya saat Lisya berdiri dari kursi yang ada didepan meja riasnya.


"Di Lombok berapa hari kak?" Tanya Lisya, yang entah mengapa hatinya serasa kehilangan.


"Kurang tahu sayang, mungkin lebih dari tiga hari, karena disana aku juga harus menghadiri beberapa undangan kolegaku. Tapi akan aku usahakan untuk pulang secepatnya ya." Jawab Gathan sambil mengecup puncak kepala Lisya.


"Emmmm, begituu." Ucap Lisya tak bersemangat.


"Maaf ya sayang jadwalku benar-benar padat selama satu minggu ini. Kamu tahu sendiri kan selama dua minggu lebih, aku telah meninggalkan pekerjaanku." Sesal Gathan karena pekerjaannya yang menumpuk disaat dirinya ingin selalu bersama istrinya.


"Iya kak, aku mengerti. Aku minta maaf ya, gara-gara kakak ikut menjaga ayah saat sakit, jadi pekerjaannya terbengkalai." Ucap Lisya dengan rasa bersalah.


"Heiiii, kamu tak perlu minta maaf. Ayah Hasan sudah menjadi tanggung jawabku sebelum atau bahkan setelah menikah. Jadi sudah sepatutnya aku meninggalkan segala urusanku demi beliau dan juga tentu demi kamu yang sekarang telah menjadi memilikku seutuhnya." Jelas Gathan sambil menguraikan pelukannya. Bibirnya tersenyum lebar.


Pipi Lisya merona, bibirnya tersenyum tipis.


"Kamu ikut saja denganku ya? Sekalian kita bisa melanjutkan honeymoon kita yang kedua kalinya di Lombok." Seringai licik kembali muncul di bibir Gathan.


"Ehh,, Kan aku kemarin sudah cerita ke kakak, kalau aku harus fokus untuk mengejar ketertinggalanku di kampus. Minggu depan sudah ujian akhir semester soalnya. Terus lanjut urus persiapan untuk magang. Jadi aku tidak bisa sering-sering izin lagi. Maaf ya kak." Ucap Lisya. Ia sebelumnya pernah bercerita kepada Gathan.


"Iya sudah, aku tidak akan memaksamu untuk ikut denganku. Karena aku tidak akan menghalangimu untuk menuntut ilmu. Tapi ingat, kamu harus jaga diri baik-baik. Jaga kepercayaanku. Selesai kuliah, harus segera kembali ke mansion. Jika ada kondisi darurat yang mengharuskan pulang telat, kamu harus menghubungiku terlebih dahulu. Dan satu lagi,! Saat ini kamu bukan lagi karyawan keong racun itu! Jadi kamu tidak perlu datang ke studionya! Kamu hanya boleh kesana, saat bersamaku!" Ucap Gathan penuh peringatan.


"Iya kak. Aku mengerti kok." Jawab Lisya sambil mengangguk pelan.


"Good. Ya sudah, kita sarapan dulu dibawah ya." Ajak Gathan.


Keduanya turun ke lantai satu untuk sarapan. Gathan mengajak Teo yang menunggunya di ruang utama untuk bergabung dengannya. Sedangkan Ujang yang sedari tadi sudah berada diluar, menyiapkan mobil yang akan ia kendarai untuk mengantarkan istri kesayangan majikan barunya.


Tak lama Gathan, Lisya dan Teo keluar setelah selesai sarapan. Lisya masuk kedalam mobil yang dikendarai Ujang. Sedangkan Gathan masuk kedalam mobil yang dikendarai oleh Teo. Setelahnya, kedua mobil mewah yang berbeda tujuan itu keluar dari mansion.


** Mobil yang dikendarai Teo **


"Teo, sudahkah kamu pasang GPS dan CCTV di mobil yang ditumpangi istriku?" Tanya Gathan memecah keheningan.


"Sudah bos. Anda bisa mengakses rekaman CCTV itu secara online. Ini bos." Jawab Teo yang sudah berjaga sebelumnya, Ia memberikan tab miliknya kepada Gathan yang saat ini duduk disampingnya.


Gathan menerima tab itu, lalu melihat apa yang terlihat di layar tab yang dipegangnya. Disana terlihat jelas rekaman CCTV yang menunjukkan dari depan, wajah supir pribadi Lisya dan Lisya yang berada di kursi penumpang. Gathan juga dapat mendengar dengan jelas suara keduanya.


"Kerja bagus Teo." Gathan tersenyum puas.

__ADS_1


"Ck, kenapa dia lebih dulu memperkenalkan diri pada si supir itu sih!" Ucap Gathan saat mendengar suara Lisya yang sedang memperkenalkan dirinya.


"Kenapa juga dia tersenyum manis seperti itu.! Hahh,, tidak bisa dibiarkan!" Ucap Gathan yang kemudian mengambil benda pipih di sakunya.


Hah,, Baru juga pisah beberapa menit bos, Udah kebakaran jenggot gitu! Belum juga keluar kota dan keluar pulau. Hah,,, Sudah dipastikan diriku yang tak berdaya ini akan lebih sibuk akibat sikap absurdnya nanti. Gustii,, gustiii..ckckck


Gumam Teo dalam hati melihat sikap posesif bosnya kepada istrinya.


**Mobil yang Dikendarai Pak Ujang**


"Salam kenal ya pak. Saya Qaleesya. Panggil aja Lisya." Ucap Lisya memecah keheningan.


"Iya non. Panggil saja saya Ujang non. Tak perlu pak." Jawab supir itu yang tetap fokus melihat jalanan depan. Tanpa memandang Lisya memalui kaca spion, karena ia sudah berjanji untuk tidak memandang istri majikannya itu lebih dari dua detik.


"Eh, Jangan dong pak. Tidak sopan." Ucap Lisya sambil memiringkan tubuhnya agar bisa menatap supirnya itu.


"Tak apa non. Saya justru merasa tidak enak jika dipanggil pak." Jawab supir itu kembali.


"Yasudah, aku panggil mang Ujang aja ya. Tak ada penolakan. Oke.!" Ucap Lisya kemudian tersenyum manis.


Drt,, Drt,, Drt,,,


Suami Tercinta


Ponsel baru pemberian dari Gathan akibat ponsel lamanya yang begitu jadul, tiba-tiba berdering. Saat dirinya mengambil ponselnya yang berdering didalam tasnya itu, bibir nya tersenyum tak percaya, karena melihat nama penelpon yang seingatnya ia tidak pernah menyimpan nama itu sebelumnya. Ia yakin, jika nama itu Gathan lah yang menyimpannya.


"Ha-haallo kak.?" Jawab Lisya malu-malu.


"Sayang! Jangan pernah menunjukkan senyumanmu sedikitpun selain denganku! Dan ingat, jangan terlalu dekat-dekat dengan supir itu.! Jaga pandanganmu!" Ucap Gathan diseberang telepon dengan suara yang tegas.


"Ehh, Kakak tau darimana kalau aku senyum-senyum?" Tanya Lisya yang terkejut.


"I-iya kak. Iyaaaaaa" Ucap Lisya patuh, ia tak ingin berdebat dengan suaminya itu.


"Good. Kabari aku jika sudah di kampus." Ucap Gathan kembali, Entah meski ia bisa memantaunya, ia ingin Lisya lebih terbuka dengannya.


"Iya kak, pasti." Jawab Lisya. Lalu menutup sambungan teleponnya.


Setelah beberapa puluh menit, Lisya sampai di kampusnya. Ia sangat bersemangat hari ini, karena akhirnya dirinya bisa bertemu dengan Via sang sahabat, yang sudah beberapa hari tidak bertemu dengannya.


Betapa bahagianya Via, saat melihat Lisya memasuki kelas.


"Seyengggggnya akuu. Akhirnya kita kembali bertemu." Teriak Via sambil merentangkan tangannya.


"Iissshh, jangan teriak-teriak bocah! Yang lain pada ngeliatin tuh!" Ucap Lisya yang malu karena menjadi pusat perhatian teman-teman sekelasnya.


"Bodo amat. Aku rinduu kamyuuu!!" Ucap Via yang segera memeluk sahabatnya itu.


"Emmmmm, Aku juga rindu bocah geblekku." Ucap Lisya sambil membalas pelukan Via.


"Gimana malam pertama kalian?? Mantaps gak? Atau hmmbbbbtt..."


"Sssttt,, ni mulut bisa gak sih gak angger njeplak (Asal Ucap)! Jaga mulut omesmu ini!. Aku gak mau yang lain dengar, trus tahu statusku!" Ucap Lisya sambil membungkam mulut Via. Sedangkan Via hanya bisa mengangguk pelan.


"Sorry,, hehehe. Abisnya aku penasaran banget." Ucap Via saat tangan Lisya sudah melepaskan bungkamannya.


"Sstttt,,, Gak waktunya bahas itu. Sekarang mana aku pinjam catatan kamu. Dan tugas apa aja yang diberikan selama aku gak ngampus." Ucap Lisya mengalihkan topik pembicaraannya karena malu jika mengingat moment panas yang berakhir trigis bagi suaminya itu.


"Aku bakal kasih, tapi janji kamu harus ceritakan kepadaku. Bagaimana anuu kalian, dan bagaimana sekarang hubungan kalian?" Pinta Via yang tak ingin menyerah. Ia ingin memastikan jika sahabatnya itu tidak hidup dalam tekanan bos gila yang sekarang menjadi suaminya itu, karena Via tahu jika sahabatnya menikah dengan bos gila itu karena sebuah ancaman. Meski Via yakin, jika bos gila alias Gathan akan mampu menjadi suami yang baik untuk Lisya, Ia tetap ingin memastikan kebahagiaan sahabatnya itu


"Iyaa iyaaa.. Nanti aku ceritakan saat sudah pulang karena ceritanya panjang." Lisya pasrah karena tahu Via tidak akan mudah menyerah untuk membuat dirinya bercerita.

__ADS_1


"Yasudah, ntar kamu pulang bareng aku aja. Pasti kamu tadi diantar mas brew kamu kan. Ntar suruh aja mas brew jemput di kos. Kita cerita-cerita dulu disana. Kamu gak kangen sama motor dan kosanmu?" Ajak Via.


"Emmm, anuu Vi. Kayaknya gak bisa kalau ke kos. Aku sekarang bener-bener dijaga ketat sama kak Gathan. Soal motor, bakal aku jual nanti." Jawab Lisya tidak enak karena menolak ajakan Lisya. Sebenarnya ia sangat ingin main ke kosannya dulu, tapi apa boleh buat. Ia harus menuruti perintah suaminya yang pasti demi kebaikannya. Meski saat ini, ia merasa risih karena belum terbiasa.


"Ehhh,,, kenapa?? Kamu gak diapa-apain kan sama mas brew itu?" Tanya Via khawatir.


"Egak lah, kamu tenang aja. Pokoknya ceritanya panjang. Makanya kamu sabar. Ntar aku kasih tahu semuanya. Sekarang aku mau fokus kerjain tugas yang belum aku kerjakan." Jelas Lisya.


"Oke lah.. Nih, bawa aja catatanku yang khusus aku bikin buat kamu. Disitu juga aku uda list tugas beserta nama dosennya yang kasih tugas selama kamu izin." Ucap Via sambil menyodorkan buku bindernya.


"Ya ampun. To twet, makasih sayangku." Lisya memeluk Via.


"Eh, Kok gak kelihatan Bram ya? Dimana dia? Aku mau ucapin maaf karena uda gak bisa kerja sama dia." Ucap Lisya sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang kelasnya. Gathan yang meminta supaya Lisya tidak bekerja. Suaminya itu tidak ingin jika Lisya bersusah payah mencari nafkah, karena saat ini itu sudah menjadi tanggung jawabnya.


"Tadi dia kirim pesan ke aku, katanya dia ada pemotretan di Lombok selama satu minggu." Jelas Via


"Oh begituu. Yasudah ntar coba aku kirim pesan ke dia deh." Ucap Lisya yang tidak begitu fokus dengan tempat pemotretan Bram yang telah disebutkan Via.


Tak lama mata kuliah di jam pertamanya dimulai. Semua mahasiswa/i diam secara teratur, karena dosen yang terkenal killer itu telah memasuki kelas.


Epilog


Tukang Ancam


"Apa?? Jadi dia menyimpan nomerku dengan nama ini?" Ucap Gathan saat mengecek namanya diponsel Lisya.


"Aku ganti jadi apa ya??." Gumam Gathan pelan sambil meletakkan handphone itu di bawah bibirnya. Matanya menatap langit kamar, memikirkan nama yang tepat.


Kakak Ganteng


"Ah Nanti dia lupa lagi sama nama asliku." Gathan menghapus ketikannya.


Kakak Gathan


"Ck,, Gak ada bedanya dong sama kakak adik" Gathan kembali menghapus ketikannya.


Sayang


"Terlalu biasa" Hapus lagi.


Suami


"Sepertinya ini pas. Tapi kok kurang bagus ya dilihatnya." Masih mikir.


"Ahh, aku tahu. Aku yakin nama ini juga bisa jadi doa, supaya kita saling cinta. hohoho". Gumam Gathan pelan. Wajahnya berbinar.


Suami Tercinta


"Ini baru benar-benar pas. Perfect. " Wajah Gathan bahagia.


Gathan segera meletakkan ponsel Lisya saat melihat istrinya itu keluar dari kamar mandi.


To Be Continued 🖤


 


- Annyeong pembaca yang budiman 💕-


-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! 🙏 supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --


Salam cium dan peluk jauh. 🤗

__ADS_1


__ADS_2