GILA! TAPI AKU CINTA!

GILA! TAPI AKU CINTA!
Jadi Pacar?


__ADS_3

** Katamaran, Hotel and Resort Lombok **



"Waaaahhhh, Sumpah.!! Gini ya rasanya punya temen yang jadi istrinya sultan!. Sering-sering ya Sya ajak kita jalan-jalan!." Racau Via sambil menatap takjub pemandangan yang ada di sekitaran resort itu.


"Hissh, Dikasih ati minta jantung kamu tuh!" Lisya menoyor pelan kepala Via.


"Heheh, yakin gak bakalan bangkrut dah si mas brew kalau sering bantu kaum dhuafa kayak aku.!" Celoteh Via.


"Kaum dhuafa kok mainnya shopping!" Saut Bram yang sedari tadi fokus mengambil gambar disekitaran resort. Sebenarnya bukan kali pertama Bram ke resort itu. Namun karena sudah begitu lama, Bram melihat banyak perubahan dengan resort itu. Semakin indah dan menakjubkan, katanya. Sehingga tangannya gatal untuk tidak mengambil gambar sebanyak-banyaknya.


Ya, saat ini Lisya, Via dan Bram sudah berada di salah satu resort mewah di Lombok Barat. Ketiganya berjalan-jalan menikmati keindahan pemandangan laut lepas yang ada didalam resort itu. Sedangkan Gathan dan Teo, masih berbincang manis dengan pemilik resort yang juga masih kolega bisnis BR Group.


Tak lama, Gathan dan Teo menghampiri Lisya, Via dan Bram yang saat ini sedang sibuk berfoto ria.


"Jangan berpose seksi seperti itu ditempat umum begini!" Bisik Gathan sambil menarik pinggang Lisya.


"Eh, seksi? Kan cuma pose biasa kak." Elak Lisya.


"Bagiku semua yang ada pada tubuhmu itu sangatlah seksi! Jadi pasti banyak keong racun yang akan tertarik padamu!" Ucap Gathan sambil melirik tajam pada Bram yang tadi begitu fokus memotret Lisya dan Via.


Sedangkan Bram yang menyadari jika sedang di lirik tajam oleh Gathan, hanya mendengus kesal. Ia tak habis pikir kenapa suami sahabatnya itu masih saja mencurigainya.


Lalu, mereka semua masuk kedalam kamar masing-masing untuk meletakkan barang-barangnya dan beristirahat jika perlu.


-


-


Saat ini dari pada harus berjalan-jalan menikmati keindahan yang ada disekitar resort, Gathan lebih memilih menikmati keindahan yang ada pada istrinya. Karena keindahan itu mampu memberinya kenikmatan yang tiada tara. 😂


Begitu juga dengan Lisya, awalnya ia menolak karena masih ingin mengeksplor tempat yang bisa dipakai untuk spot foto. Namun berkat permainan Gathan yang jauh lebih menggoda, membuat Lisya lebih memilih untuk mengeksplore sesuatu yang panjang dan besar namun bukan tongkat baseball. Entah apa itu, hanya Lisya dan readers yang tahu. 🤔


Gathan lebih bersemangat untuk menanamkan bibit unggulnya, karena tahu jika hasil dari analisa beberapa hari yang lalu menunjukkan hasil yang normal. Yang menandakan jika Gathan maupun Lisya tidak memiliki kendala apapun. Dengan kata lain, istrinya itu sudah siap untuk dibuahi. Untuk itu, sama sekali Gathan tak memberikan cela untuk Lisya berpakaian saat hanya berdua dikamar. Agar apa yang sudah ditanamnya lebih cepat berbuah, pikirnya. 😂


-

__ADS_1


Berbeda dengan Via, saat ini perempuan itu sangat bersemangat untuk berfoto ria bersama Bram. Berbagai pose ia tunjukkan pada Bram, sedangkan Bram begitu sabar dan telaten mengikuti bahkan ikut mengarahkan gaya yang cocok untuk Via.


Gerak-gerik kedua insan yang sedang asyik berfoto ria itu tak luput dari pandangan sosok laki-laki yang berdiri dari balkon kamarnya yang terletak di lantai 2. Mata itu menatap intens setiap pose demi pose sang perempuan yang beberapa kali membuatnya sial, namun justru berhasil menarik perhatiannya.


"Cih,, Bisa-bisanya berpose seperti itu didepan dia!" Gumam Teo pelan. Ya, laki-laki itu adalah Teo.


Saat hendak menikmati kopi sambil melihat pemandangan yang ada disekitar, mata Teo justru melihat Via yang sedang berpose seksi di dekat kolam renang yang ada dibawah. Teo semakin melebarkan matanya, saat melihat Bram yang begitu asyik memotret Via dari berbagai sisi. Entah mengapa melihat kedekatan antara Via dan Bram, membuat hatinya sedikit tidak nyaman.


--


Malam pun tiba.



Lisya dan yang lainnya sedang makan malam bersama. Perbincangan ringan melengkapi makan malam mereka, yang tentu Via dan Lisya lah yang mendominasi perbincangan itu.


Setelah selesai makan malam, Lisya meminta Gathan untuk menemaninya berjalan-jalan di sekitaran resort. Karena sudah dipastikan suaminya itu akan mengajaknya perang keringat jika langsung kembali ke kamarnya. Begitu juga dengan Via yang tak mau kalah. Ia mengajak Teo dan Bram untuk ikut menemaninya berjalan-jalan sambil kembali berfoto ria, pikirnya.


"Mas cute? Kita jalan-jalan yuk, sama lo juga Bram. Kita jalan bareng-bareng. Masak kalah sama pasangan bucin itu." Ajak Via antusias. Sambil dagunya menunjuk ke arah Lisya dan Gathan yang sudah berjalan meninggalkan mereka sambil bergandengan tangan.


"Yah, mas cute gak seru ih!" Via menahan tangan Teo yang hendak meninggalkannya.


"Udah.. Sama gue aja! Kalau kita bertiga, berarti yang satunya adalah Setan." Ucap Bram penuh penekanan sambil melirik Teo. Tangannya melepaskan tangan Via yang sedang menahan tangan Teo.


"Hisshh, ngawur lo Bram! Maksudnya si mas cutenya yang setan??" Ucap Via yang justru memperjelas ucapan Bram. Bram hanya tersenyum sinis.


"Saya permisi nona." Teo tak ingin berdebat dengan Via, apalagi dengan Bram.


"Ta-tapi mas cute...."


"Sudah biarin aja! Ikut gue sekarang!. Ada yang mau gue omongin ke lo.." Bram menarik tangan Via lalu mengajaknya pergi dari meja makannya.


Teo yang berjalan berlawanan arah dengan arah perginya Via dan Bram, tiba-tiba menghentikan langkahnya. Entah mengapa ucapan Bram yang masih didengarnya tadi, mampu membuatnya penasaran dengan apa yang akan dikatakan laki-laki itu pada Via.


Teo menggelengkan kepalanya, menyadarkan apa yang ada dipikirannya.


"Kenapa gue jadi penasaran sama mereka berdua sih?? Hah, gak benar ini!" Teo kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya.

__ADS_1


Dilain tempat, Bram terus menggandeng tangan Via hingga akhirnya tiba di suatu tempat yang pemandangannya langsung menghadap ke laut lepas.


"Ada apa Bram? Apa yang mau lo omongin ke gue?" Tanya Via penasaran. Entah mengapa baru kali ini tatapan Bram terlihat begitu serius saat bersamanya.


"Lo mau gak jadi pacar gue?" Ucap Bram tiba-tiba dengan tatapan yang dapat membuat jantung Via berdegup kencang.



Deg,


Degub jantung Via seolah berhenti sesaat. Lalu kemudian berganti berdegup sangat kencang saat melihat tatapan Bram yang begitu serius.


Bibirnya kaku, matanya berkedip-kedip memikirkan sesuatu.


"Vi?? Hello? Lo denger gue kan?" Tangan Bram melambai-lambai, berusaha menyadarkan Via.


"Ehhh i-iyaa." Via tersadar dari pikirannya, kepalanya mengangguk cepat karena salah tingkah.


"Lo denger ucapan gue barusan?" Tanya Bram memastikan.


"A-apa? Bisa lo ulangi" Tanya Via semakin salah tingkah.


"Sivia Pradika, maukah lo jadi pacar gue?" Ucap Bram kembali dengan mantap dan jelas.


To Be Continued 🖤


 


- Annyeong pembaca yang budiman 💕-


Huaaahhh,, Si Bram tiba-tiba nembak si Via??!! Dapet wangsit dari mana ya kira-kira, kok sampai Bram berani ajak Via pacaran?


Kira-kira apa ya jawabannya si Via?🤔


-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! 🙏 supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --


Salam cium dan peluk jauh. 🤗

__ADS_1


__ADS_2