GILA! TAPI AKU CINTA!

GILA! TAPI AKU CINTA!
Kakak Ganteng?


__ADS_3

** Apartemen Belmont Residence **


Setelah dua puluh menit menempuh perjalanan dari Bram's Studio, Akhirnya mobil yang dikendarai Teo sampai pada apartemen Gathan.


Tak lama setelah mobil terparkir sempurna, ketiganya turun dari mobil lalu berjalan kearah lift terdekat, untuk menuju ke lantai 21.


Lisya yang menyadari bahwa lantai yang dituju sangatlah jauh, ia sedikit ragu dan menjauhkan tubuhnya dengan mundur beberapa langkah dari Gathan.


Gathan yang menyadari pergerakan Lisya, dengan segera menoleh kearahnya...


"Kamu tidak usah takut, Bukankah aku sudah berjanji padamu, kalau aku tidak akan macam-macam padamu.!" Ucap Gathan lalu kembali menarik lengan Lisya. Kemudian dibawanya masuk kedalam lift yang sudah terbuka itu.


Setelah beberapa menit, Mereka sampai di lantai 21, tempat unit Gathan berada. Dengan segera Gathan membukakan pintunya agar dirinya, Lisya dan asistennya bisa segera masuk kedalam.


Dengan ragu Lisya masuk kedalam apartemen mewah itu. Langkah kakinya terhenti saat menyadari betapa besar dan mewahnya apartemen itu. Ia berfikir bagaimana jika benar ia diapa-apakan oleh bos gila itu. Pasti sekuat apapun ia berteriak tak akan ada yang mendengar bahkan menolongnya.


Jimbiiiiiittt, Emang kalo sultan dari masih berbentuk zigot kayak gini yaa! Ruang tamu nya aja udah segede 15 kamar kosanku. Ini gimana kalo aku diapa-apain sama orang sableng itu yaa.! Teriak pake toa pun ga bakal ada yang denger. Ya Allah lindungilah hambamu ini.


Gumam Lisya dalam hati sambil matanya masih melihat sekitaran ruang tamu yang luas dan mewah itu.


Ruang Tamu Apartemen Gathan



Gathan yang kembali menyadari bahwa Lisya tidak ada disampingnya, dengan segera menoleh ke belakang. Terlihat Lisya yang msih berdiri mematung didepan pintu apartemennya.


Gathan yang melihat pun hanya menghela nafas karena sebenarnya tubuhnya juga sudah mulai lelah akibat drama yang ia lewati setengah harian itu. Belum lagi saat ia harus menenangkan Lisya ketika masih dalam perjalanan tadi. Gathan melangkahkan kakinya untuk menghampiri Lisya.


"Kamu ngapain seperti patung selamat datang disini?" Tanya Gathan saat sudah dekat dengan Lisya.


"Ayo, kamu mau tinggal disini?" Tanya Gathan menggoda.


"Ora sudii!!!!" Jawab Lisya cepat sambil menggelengkan kepalanya.


"Makanya, ayo.! Kamu duduk dulu disana, biar aku ambilkan bukti yang aku maksud tadi. Kamu ingin tahu ceritanya kan??" Tanya Gathan, sambil tangannya menarik tangan Lisya dengan lembut.


Kemudian Lisya duduk di sofa yang baginya terasa sangat empuk, melebihi empuk nya kasur di kosannya.


Sedangkan Gathan, berlalu kedalam kamar utamanya untuk mengambil sesuatu yang dimaksud sedari tadi. Lalu tak berapa lama, ia keluar dari kamar dengan membawa sebuah album foto yang sedikit usang.


Gathan duduk disebelah Lisya yang masih satu sofa dengannya, kemudian Teo duduk di sofa sampingnya.


"Teo, tolong kamu kasih tunjuk, foto masa kecil kemarin. " Perintah Gathan.


"Baik bos." Jawab Teo sambil mengeluarkan tab yang ia letakkan didalam tas kerjanya.


"Ini anda kan nona Lisya?". Ucap Teo sambil menunjukkan foto yang ada didalam tabnya.


"Haaa.!!! . Kalian dapat dari mana foto ini?" Ucap Lisya terkejut saat melihat foto dirinya yang masih kecil.


"Tidak penting dari mana aku dapatkan foto itu. Sekarang yang penting, apa kamu ingat siapa laki-laki kecil itu? Teo, Selanjutnya.". Jawab Gathan , kemudian kembali memberi perintah kepada Teo.


"Kakakkk ganteng!" Gumam Lisya pelan, tetapi masih terdengar oleh Gathan dan Teo.


Seketika mata Lisya langsung berubah menjadi sayu saat melihat laki-laki yang berada difoto itu.


"Rupanya kamu masih mengingatnya." Ucap Gathan dengan raut yang begitu bahagia. Ya, sebenarnya alasan terbesar Gathan tidak ingin memberitahukan kepada Lisya dengan cepat adalah karena ia takut jika peri kecilnya itu tidak mengingatnya. Hal itu akan membuatnya terlihat seperti laki-laki yang tak berwibawa karena telah dilupakan sebelum berperang. Padahal, sebenarnya ia telah kehilangan wibawa itu akibat ketidaksadarannya atas perasaannya sendiri. 🙈


"Tentu saja aku mengingatnya. Karena hanya dia kakak ganteng yang aku punya.! Hanya dia yang bisa mengalah sama aku dulu, dia jadi kakak pelindung ku!" Ucap Lisya cepat.


" Eh tunggu.. tungguu..! Trus apa hubungannya kamu dengan kakak ganteng ini? Kamu mengenalnya.?" Tanya Lisya yang baru menyadari adanya kejanggalan.

__ADS_1


"Kamu tau nama kakak ganteng mu itu.?" Tanya Gathan dengan senyum masih bertengger di bibirnya.


"Tentu saajjaaaaa.............." Ucap Lisya menggantung.


"Eh siapaa yaaa???" Gumam Lisya pelan namun masih terdengar oleh kedua laki-laki yang sedang bersamanya.


"Kalau namaku kamu tahu?" Tanya Gathan kembali.


"Bos gil.....a kan?" Jawab Lisya dengan lantang, namun seketika berubah pelan saat dirinya menyadari berbicara dengan siapa saat ini.


"Huhh..!! Ternyata kebiasaan mu itu tidak berubah!" Ucap Gathan kesal.


"Kebiasaan?? emang apa kebiasaan ku" Tanya Lisya heran.


"Kebiasaan mengganti nama orang sesuka hati!" Jawab Gathan kesal dan mencebikkan bibirnya.


"EGP! Kembali ke topik! Apa hubungannya kakak ganteng ini dengan kamu, trus dari mana kamu tau nama panggilanku dirumah?!" Tanya Lisya dengan tatapan tajamnya.


"Hahh.. Kenapa kamu tidak mengingat nama laki-laki kecil itu? Sedangkan aku yang memanggilmu 'peri kecilku' saja mengingat namamu." Jelas Gathan santai tanpa rasa bersalah, sedangkan sebenarnya itu tidak sepenuhnya benar. Gathan juga melupakan nama gadis kecil itu. Ia baru mengingatnya kembali saat mendapat informasi dari Teo.


"Haaa...? Peri kecil? kamu tadi bilang kalo kamu dulu panggil aku peri kecil..??" Tanya Lisya masih tak percaya.


Gathan hanya mengangguk pelan sambil tersenyum. Ia tak sabar melihat bagaimana reaksi si gadis kecilnya dulu itu saat mengetahui bahwa dirinya adalah 'kakak ganteng' yang katanya selalu mengalah dan menjadi pelindungnya.


"Ma-maksudnya... kamu adalah bos gilaaa....!!"


Ucap Lisya terhenti. Membuat Gathan mengerutkan dahinya karena tidak sesuai yang diharapkan.


"Daann bos gilaaa didepanku ini adalah kakak ganteng di foto ini ???" Lanjut Lisya sambil jari telunjuknya menunjuk wajah Gathan, kemudian beralih ke foto. Dan itu ia lakukan berulang kali.


Matanya beralih ke bawah melihat foto yang ada dipangkuannya dan kesamping melihat wajah Gathan yang duduk disampingnya. Ia melakukannya berulang kali sampai ia benar-benar yakin. Dan benar saja, semakin lama ia melihatnya, keduanya semakin terlihat mirip.


Pantas saja, tadi saat dimobil aku merasa pernah melihat senyuman songongnya itu. Ternyata dia adalah kakak ganteng itu.


"Heiiii,, kamu kenapa Ra??" Tanya Gathan sambil menepuk bahu Lisya untuk membuyarkan lamunannya.


"Aaahhhhh,,,, Egakk egakk... Gak mungkin kan!" Teriak Lisya saat tersadar dari lamunannya.


"Hah... Sudah aku duga, pasti kamu tidak akan mempercayainya jika hanya foto ini yang aku tunjukkan kepadamu." Jelas Gathan sambil mulai membuka album foto yang dibawanya tadi.


"Ini adalah album foto lamaku, yang sengaja disimpan oleh daddy sebagai kenang-kenangan."


" Ini fotoku, dan sama kan seperti yang ada disitu." Ucap Gathan sambil menunjuk foto yang ada di tab Teo.


Foto masa kecil Gathan.




"Dan, apa kamu mengingat moment ini??" Tanya Gathan kembali sambil menunjukkan foto lainnya..



"Bukankah ini kamu.? Ini adalah saat kali pertama kamu ikut pak Hasan ke kantor daddy saat ada acara imlek di sana." Jelas Gathan.


"Dan ini kedua kalinya kamu ke kantor daddy, karena aku yang mengajak mu kesana. Dan baju ini juga aku yang meminta pada daddy untuk membelikan couple denganmu. Apa kamu masih ingat?" Tanya Gathan.


Lisya hanya mengangguk pelan. Ia juga masih mengingat moment-moment itu. Ia tak menyangka bos gila itu yang tak lain dan tak bukan adalah kakak ganteng nya dulu, masih menyimpan foto masa kecilnya dengan rapi.


__ADS_1


"Saat aku mendapat informasi jika kamu adalah Aira, dan kita sama-sama di Jakarta, aku mencoba mencari album foto ini digudang belakang untuk memastikan apa aku juga punya koleksi foto bersamamu. Karena seingatku dulu, aku pernah meminta daddy untuk mencetak foto bersama mu. Dan ternyata benar, foto ini masih ada disini."


"Foto ini juga , menurut ku akan menjadi bukti pendukung saat moment ini terjadi. Daan ternyata moment itu adalah saat ini.". Jelas Gathan panjang lebar dengan senyum hangatnya.


"Ta-tapiii,, kenapa harus kamu versi dewasanya kakak gantengku ini!?" Ucap Lisya lemas.


"Haaa... apa maksud kamu?" Tanya Gathan heran..


"Harusnya jangan kamu versi dewasanya. Aku ga terima! "


"Apa tidak ada orang lain lagi ya Allah selain dia!". Ucap Lisya tak berdosa.


"Sial!" Umpat Gathan. Karena benar ,, tidak sesuai bayangannya yang berakhir dengan romantis seperti yang dinovel-novel.


"Pfftttt... Buahahahahahahha" Teo tertawa keras karena sudah tak kuasa ia menahannya sejak Lisya tidak mempercayai kenyataannya tadi.


"Teoo!!!! Rupanya kamu sudah bosan hidup!" Ucap Gathan menohok kepada Teo. Karena serasa harga dirinya jatuh didepan Lisya.


"Maaf bos. huahahah..... eheeemmmm!" Ucap Teo sembari membenarkan posisi duduknya kembali.


"Jaga ucapan mu peri cengeng!" Ucap Gathan tegas kepada Lisya.


"Apa katamu! Cengeng?? Aku bukan perempuan cengeng sekarang!" Bela Lisya Tegas.


"Hah.. Buktinya sudah berapa kali kamu nangis didepan ku" Ucap Gathan yang memang benar kenyataannya


"Ck,, dari pada kamu, Kakak Mesum!" Ejek Lisya.


"Apa kamu bilang???" Tanya Gathan sambil menatap Lisya tajam.


"Iyaaa,, mesumm! Terbukti kamu mencuri keperawanan gunung gantung ku, daaann.. Bibirku ini!" Ucap Lisya malu-malu.


"Haahh?? Bibir kamu benar masih perawan.?" Tanya Gathan mengejek.


"Emang kenapa kalo benar,!?" Tanya Lisya kesal.


"Karena sama sepertinya... ! Ehhh maaf bos keprucut." Potong Teo. Kemudian menutup mulutnya omesnya.


"Teooo! Benar kali ini kamu aku pecat! Cepat pergi dari sini!". Ucap Gathan kesal. Kemudian Teo meninggalkan mereka berdua ke dalam ruang tengah karena tidak mungkin jika Gathan benar-benar mengusirnya. Ia ingin sekalian merebahkan tubuhnya yang sudah lelah menghadapi sikap bosnya yang sungguh unik akhir-akhir ini.


Ruang tengah apartemen Gathan



*******


"Buaaahahhahaa... Seorang bos angkuh gini ternyata bibirnya masih ting ting?? Ga laku bos?" Ejek Lisya ganti sambil masih tertawa terbahak-bahak.


Gathan kembali dibuatnya geram.


"Kalau begitu, akan aku buat bibir kita benar-benar menjadi tidak ting ting lagi!" Ucap Gathan seketika mendekatkan wajahnya kepada wajah Lisya.


Lisya yang melihat pergerakan Gathan, langsung menghentikan tawanya. Raut mukanya berubah menjadi serius. Kedua mata mereka saling bertemu dan saling tatap untuk beberapa saat.


To Be Continued. 🖤


-- Annyeong pembaca yang budiman 💕--


Sampai sini dulu yaa, sampai jumpa di next episode. Othor mau istirahat dulu. Besok lanjut di kehidupan nyata soalnya.


-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! 🙏 supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --

__ADS_1


Salam cium dan peluk jauh. 🤗


__ADS_2