
"Permisi, Assalamualaikum." Ucap Teo saat berada didepan pintu.
"Waalaikumsalam. Silahkan masuk." Jawab salah seorang bapak-bapak yang sudah mulai menua dengan jalan yang sedikit tertatih.
Sontak Gathan yang melihat kondisi bapak-bapak itu membelalakkan matanya, seolah hatinya tersayat melihat orang yang dulu menyayanginya sudah begitu tua. Dengan cepat Gathan menghampiri dan memeluknya dengan erat.
Β
Bapak-bapak yang dipeluk Gathan itu terkejut dengan apa yang dilakukan orang asing baginya. Ia benar-benar tidak mengenali siapakah orang yang memeluknya saat ini.
"Pak Hasan. Lama tidak bertemu pak." Ucap Gathan masih dalam posisi yang sama sambil menyeka air matanya yang mulai menetes.
Ya, bapak-bapak itu adalah pak Hasan yang merupakan salah satu pengurus panti asuhan Bina Bakti saat ini. Yang juga merupakan mantan supir pribadi keluarga Barra. Serta merupakan ayah dari Qaleesya Humaira.
"Ma-maaf, anda siapa yaa?" Ucap pak Hasan mencoba mengurai pelukan Gathan.
"Apa pernah bertemu sebelumnya.?" Tanya pak Hasan dengan wajah bingung. Karena setelah melihat dari dekat, sepertinya beliau mengenalnya.
"Saya Gathan pak. Putranya daddy Barra. Apa bapak masih mengingatnya?" Jawab Gathan dengan suara yang bergetar karena menahan tangis.
Pak Hasan yang mendengar jawaban dari Gathan pun terkejut dan langsung kembali memeluk seperti yang telah dilakukan Gathan sebelumnya.
"Allahuakbar,, Den Gathan. Ya Allah den. Aden uda se dewasa ini. Maafkan bapak, yang pangling sama penampilan aden." Ucap pak Hasan dengan suara yang sama sama bergetarnya karena menahan tangis.
"Oohh mariii masuk den, pak,.. silahkan duduk dulu.". Ucap pak Hasan setelah beberapa menit saling berpelukan, lalu mengurai pelukannya sambil mengusap air mata yang tak bisa dibendungnya.
"Terimakasih pak." Ucap Gathan yang kemudian duduk dikursi ruang utama panti asuhan diikuti Teo dan Rudi.
"Sebentar den, saya ambilkan minum dulu. " Ucap pak Hasan yang hendak pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Tidak perlu pak Hasan. Kami tidak ingin merepotkan bapak." Ucap Gathan sungkan.
"Ah tidak apa-apa den. Tidak sopan, jika ada tamu malah tidak dilayani dengan baik." Ucap Pak Hasan kembali , lalu meninggalkan mereka bertiga untuk meminta bantuan kepada pembantu panti.
Tidak lama kemudian, pak Hasan kembali dengan ditemani pembantu panti yang sudah membawa nampan berisikan minuman untuk ketiganya.
"Silahkan diminum, den, pak!" Ucap pak Hasan setelah minuman diletakkan diatas meja.
"Iya pak, terimakasih." Ucap ketiganya bersamaan lalu menyesap teh hangat yang ada didepannya.
"Bagaimana kondisi pak Hasan saat ini? Sehat pak?" Tanya Gathan saat setelah meletakkan minumannya.
"Alhamdulillah den, bapak sehat.. ya meskipun jalan sudah sedikit susah karena semakin menua.." Ucap pak Hasan dengan tersenyum.
Mendengar penjelasan pak Hasan membuat hati Gathan terenyuh. Ia tidak menyangka bahwa orang yang dulu dengan gagah menjaganya, sekarang terlihat sedikit rapuh.
"Aden sendiri bagaimana? Sehat?" Tanya pak Hasan memecah lamunan Gathan
"Alhamdulillah seperti yang bapak lihat. Saya sehat pak." Jawab Gathan sambil membuka tangannya seolah menunjukkan tubuhnya yang sehat. Tak ketinggalan senyum tipis dibibirnya terlihat jelas.
"Alhamdulillah den." Ucap pak Hasan sambil mengangguk dan tersenyum.
"Emm kalau boleh tau ini......? Loh. bapak bukannya yang kemarin?" Tanya pak Hasan sesaat setelah melihat Teo, kemudian terkejut saat melihat Rudi, beliau baru ingat jika dirinya kemarin telah bertemu dengan laki-laki yang sudah berumur namun masih terlihat muda itu.
__ADS_1
"Iya pak, saya Rudi. Yang kemarin datang kesini menemui bapak. Dan ini adalah pak Teo, asisten kepercayaannya tuan Gathan." Jelas Rudi seolah paham maksud dari pertanyaan pak Hasan.
"Oh begitu, Bukankah pak Rudi kemarin mengatakan jika den Gathan berada di Jakarta? Sungguh kemarin saya tidak menyangka jika ternyata den Gathan masih mengingat bapak dan panti ini. Dan sekarang, saya dikejutkan kembali dengan kedatangan aden disini. Apalagi dengan penampilan yang sama sekali tidak saya kenali. Sungguh suatu kehormatan bagi saya dan panti karena telah dikunjungi oleh aden dan bapak-bapak ini. Sekali lagi saya sangat berterima kasih atas donasi yang aden berikan untuk panti ini. Semoga aden dan bapak-bapak disini dilancarkan selalu rejekinya. Dan selalu dalam lindungan Allah Amiin.". Ucap pak Hasan panjang lebar, karena ia masih tak menyangka atas apa yang ada dihadapannya sekarang.
Gathan yang tidak tahu menahu dengan apa yang terjadi, hanya mengangguk pelan sambil tersenyum tipis. Lalu tak lama kemudian, ia mengerti jika semua yang diucapkan pak Hasan tak lepas dari kerja keras Teo dan Rudi.
π Flash Back On π
Pada saat Rudi menerima perintah langsung dari Teo saat itu, Ia segera mendatangi panti asuhan yang telah disebutkan Teo.
Saat tiba di panti asuhan Bina Bakti, Rudi secara langsung disambut hangat oleh salah satu pengurus panti yang kebetulan sedang membersihkan taman depan.
Rudi mengatakan bahwa ia berencana akan memberikan donasi dari kantor tempat ia bekerja untuk panti tersebut. Lalu, dengan dalih sebagai formalitas yang diminta kantor, Rudi meminta izin untuk meminta daftar struktur organisasi beserta data lengkap jumlah anak asuh yang ada pada panti asuhan tersebut terlebih dahulu.
Lalu dengan senang hati pengurus panti itu memberikan apa yang diminta calon maupun donaturnya. Karena memang sudah menjadi kewajiban pengurus untuk terbuka kepada setiap donatur mengenai struktur, maupun pelaporan hasil donasi yang telah mereka terima.
Setelah mendapatkan data yang diminta, Rudi segera pamit undur diri dari panti. Kemudian meminta bantuan kepada anak buahnya untuk mencari biodata lengkap dari seluruh anggota pengurus panti asuhan Bina Kasih yang telah ia dapatkan.
Esoknya, Rudi telah menerima biodata lengkap dari anak buahnya sesuai yang diminta. Dengan segera ia mengirimkan biodata tersebut beserta bukti foto bangunan panti asuhan kepada Teo. Tak berapa lama, Rudi kembali mengirimkan data tambahan mengenai riwayat pekerjaan dari masing-masing pengurus yang baru saja ia terima dari anak buahnya.
Tanpa basa basi, Teo kembali meminta Rudi untuk menemui salah satu pengurus panti yang bernama Hasanuddin, untuk menyampaikan salam dari bosnya yaitu Gathan dengan memberikan donasi yang jumlahnya 'M M an ' kepada panti tersebut. mbuh iku duite akeh e sepiro, othor ga sanggup bayangin π€
Entah mengapa Teo memiliki keyakinan, jika bosnya mempunyai kenangan baik bersama pak Hasanuddin itu. Terlebih lagi dengan anaknya yang bernama Qaleesya Humaira. Untuk itu, maksud perintah Teo itu adalah mencari tahu secara detail bagaimana hubungan bosnya dengan keluarga pak Hasanuddin, terutama dengan perempuan yang bernama Qaleesya di masa lalu. Teo yakin jika Rudi sangat mampu mencari informasi tersebut. Mengingat Rudi sangat pandai menggali informasi sama seperti dirinya.
Dengan cepat, saat itu juga Rudi mendatangi kembali panti asuhan Bina Bakti untuk melaksanakan misinya. Karena memang ia sudah sangat paham akan maksud dari perintah Teo.
Tak berapa lama, Rudi sampai di Panti Asuhan Bina Bakti. Tanpa basa-basi, Rudi mengatakan bahwa ingin menemui pengurus panti yang bernama Hasanuddin.
"Assalamualaikum, permisi pak. Anda mencari saya?" Sapa pak Hasan, saat menemui Rudi yang sudah menunggu di ruang utama.
"Iya betul pak. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya pak Hasan kembali.
"Saya Rudi pak. Jadi begini pak, maksud kedatangan saya disini adalah ingin memberikan donasi ini untuk panti asuhan Bina Bakti." Ucap Rudi sambil memberikan cek sejumlah 'MM an' tadi yang sebelumnya telah Teo kirimkan pada rekeningnya.
"MashaAllah Alhamdulillah pak. Ini banyak sekali. Terimakasih banyak pak." Ucap Pak Hasan sambil memegang tangan Rudi dengan mata yang berkaca-kaca karena terkejut melihat nominal yang ada didalam cek tersebut.
"Iyaa pak. Sama-sama.. Tapi saya hanyalah sebagai perwakilan dari tuan Gathan, pewaris tunggal BR Group selaku donatur sesungguhnya. Jadi bapak tidak perlu berterima kasih yang berlebihan kepada saya." Ucap Rudi to the point sambil tersenyum. Ia sengaja mengucap nama bosnya untuk memancing ingatan pak Hasan
" Maaf pak, Siapa nama donaturnya?" Tanya pak Hasan memastikan karena serasa tidak asing mendengar nama donatur yang disebut oleh Rudi.
"Tuan Gathan pak. Nama lengkapnya Gathan Galuh El Barra. Yang sekarang menjadi CEO dari BR Group." Jelas Rudi supaya pak Hasan kembali mengingatnya.
"Maksud bapak den Gathan anak dari Tuan Barra?" Ucap pak Hasan sambil membelalakkan matanya setelah beliau mengingat marga Gathan yaitu Barra. Beliau juga masih mengingat nama BR Group yang sempat jatuh saat beliau masih bekerja di keluarga Barra.
"Betul sekali pak. Beliau sekarang sedang berada di Jakarta. Beliau juga mengatakan ingin menyumbangkan sebagian rejekinya itu untuk panti ini. Karena sebagai bentuk terimakasih beliau kepada bapak dan panti ini tentunya." Jelas Rudi yang sudah paham harus berkata apa.
"Ya Allah, den Gathan. Sudah berapa tahun kami tidak bertemu. Saya tidak menyangka ternyata den Gathan masih mengingat saya dan panti ini." Ucap pak Hasan dengan mata berkaca-kaca karena terharu dengan kebaikan mantan majikannya.
"Memangnya tuan Gathan pernah mengunjungi panti ini sebelumnya pak?" Tanya Rudi yang mulai menjalankan aksinya.
"Dulu saat saya masih bekerja dengan Tuan Barra, sering sekali den Gathan saya ajak kesini. Dan tak disangka den Gathan ternyata nyaman disini dan menjadikan panti ini sebagai rumah keduanya.." Jelas pak Hasan.
Kemudian berlanjut menjadi cerita mengenai masa lalu Gathan saat berada di panti asuhan itu. Tak terkecuali kedekatan antara putra majikannya itu dengan putri sulungnya. Yang akhirnya berujung dengan Rudi yang meminta foto kenangan bosnya dulu dengan dalih ia penasaran seperti apa wajah tuannya saat kecil. Ya, akhirnya Rudi berhasil menjalankan misinya.
__ADS_1
Tak lama akhirnya Rudi pamit undur diri dari panti asuhan Bina Bakti, kemudian dengan segera ia melaporkan informasi yang telah didapat kepada Teo melalui sambungan teleponnya.
π Flashback Off π
** Ruang Utama Panti Asuhan **
"Aamiin. Iya benar saya berada di Jakarta pak. Dan kebetulan saya ada keperluan di Surabaya. Jadi sekalian saya mampir kesini karena sudah sangat lama kita tidak bertemu. Jujur saya sangat merindukan pak Hasan.." Jelas Gathan yang tidak sepenuhnya jujur karena tidak ingin pak Hasan tau bahwa kedatangannya karena selain rindu akan mantan supir daddynya itu, ia juga penasaran dengan kebenaran peri kecilnya yang berubah menjadi perempuan teledor itu.
"MashaAllah.. Bapak juga rindu dengan den Gathan. Bapak seneng ternyata den Gathan sehat-sehat aja. Oh ya bagaimana kabar Tuan Barra?" Ucap pak Hasan menggebu-gebu.
"Alhamdulillah daddy sehat pak. Emm.. Maafkan kami ya pak, jika selama ini kami tidak pernah menghubungi bapak." Ucap Gathan dengan ekspresi bersalahnya.
"Tidak apa den. Saya tau kalau Tuan Barra dan aden pasti sibuk. Oh ya Tuan Barra tinggal di Jakarta juga den?" Tanya Pak Hasan.
"Oh tidak pak. Daddy sekarang tinggal di Amerika. Beliau fokus urus perusahaan yang ada disana. Makanya saya bantu urus perusahaan yang ada disini." Jelas Gathan.
"Oh begitu, sampaikan salam saya ke Tuan Barra ya den." Ucap pak hasan lalu dijawab anggukan oleh Gathan.
"Oh ya ngomongin Jakarta, anak saya Aira juga kuliah di Jakarta den. Emm apa den Gathan masih ingat sama Aira? Dia juga sudah beranjak dewasa den, itu fotonya." Tanya pak Hasan kemudian menunjukkan foto Aira alias Lisya yang terpampang jelas di ruang utama panti.
Pak Hasan memajang foto Lisya di ruang utama panti, karena atas permintaan Lisya sendiri. Lisya meminta hal itu agar adik-adik panti tidak melupakannya saat dirinya sedang hidup di kota lain.
Gathan yang melihat foto itu, Sontak membuat tubuhnya menegang. Seolah dirinya telah tertangkap basah melakukan kejahatan, jantungnya berdegup kencang tak karuan saat mendengar nama gadis kecilnya dulu disebut langsung oleh sang ayah kandungnya apalagi fotonya terpampang nyata di atasnya. Seolah foto itu ingin mengadu ke sang ayah atas apa yang telah dilakukannya disana.
Rasa penasarannya terjawab sudah. Namun yang ada bukan perasaan lega, melainkan perasaan bersalah dan takut yang bergelung dihatinya. Ya, untuk pertama kalinya sang CEO Gathan merasa bersalah dan takut kepada orang lain.
Melihat ekspresi bosnya berubah, Teo sang asisten berniat mengerjainya.
"Ehemm.. Maaf bos, pak. Kami permisi keluar sebentar." Ucap Teo membuyarkan ketakutan Gathan.
"Saya gak ikut-ikut bos. Silahkan selesaikan sendiri. kikikikikik" Bisik Teo kepada Gathan sambil tersenyum mengejek.
Rudi kamu ikut saya." Ucap Teo kembali.
Gathan yang mendapat bisikan dari Teo, sontak menajamkan matanya ke arah Teo. Namun tak digubris oleh sang asisten itu.
Gathan semakin panik, karena ia tidak tahu harus menjawab apa setelah ini. Sedangkan Teo sang asisten yang biasanya akan menyelamatkannya malah meninggalkannya seorang diri.π
Seperti ini lah ya kiraΒ² ekspresi Gathan takut dan panik.
To Be Continued π€
Β
-- Annyeong pembaca yang budiman π--
-- Setelah ini kembali ke kehidupan di Jakarta yang tentunya makin bikin gemes sama kelakuan Gathan--π
-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! π supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --
__ADS_1
Salam cium dan peluk jauh. π€