GILA! TAPI AKU CINTA!

GILA! TAPI AKU CINTA!
Akibat Bulu Babi.


__ADS_3

Bram sampai di gazebo yang ada di dekat pantai. Ia mendudukkan tubuh Via disana. Dengan segera ia berjongkok untuk mencabut beberapa duri yang menancap pada telapak kaki Via. Bram mencabut duri itu menggunakan dua kayu kecil yang dibentuk seperti sumpit dengan sangat hati-hati, karena tidak ingin jika Via semakin kesakitan. Lalu setelah berhasil mencabut durinya, Bram ganti mengambil batu yang lumayan besar disekitarnya. Batu yang permukaannya halus dan tumpul.


"Aw.. Sakiit Bram! Huhuhu!!" Via semakin teriak kesakitan saat kaki bekas tancapan duri dipukul dengan batu. Tubuhnya belingsatan karena tak kuasa menahan rasa nyeri beserta gatal yang dirasakannya saat Bram tak henti memukul lukanya itu.


Hal itu sengaja dilakukan Bram untuk menghancurkan sisa duri yang masi menempel di telapak kaki Via.


"Tahan ya Vi. Ini biar sisa durinya hancur, dan tidak menyebar racunnya." Ucap Bram dengan tatapan tidak tega.


"Linu Bram! Jangan keras-keras!" Racau Via ditengah tangisnya. Tangannya reflek menjambak rambut Bram dengan keras untuk melampiaskan apa yang dirasakannya.


"A-aaaaww! Vi, sakit! Kenapa jadi jambak rambut gue sih! Lepasin!" Salah satu tangan Bram menahan tangan Via supaya tidak semakin menarik rambutnya. Sedangkan satunya masih setia memukul bekas luka Via.


"Lo pikir gue gak sakit lo pukul gitu! Huhuhu!" Racau Via masih dengan aktivitasnya.


"Gue tau, tapi ini demi lo! Aa-awwwww!! Vi!" Bram kembali berteriak saat rambutnya semakin di jambak oleh Via. Kali ini kedua tangan Bram menahan tangan Via.


"Eh,, Via! Bram! Kalian kenapa sih!?" Lisya berlari kecil, saat baru selesai membersihkan tubuh dan berganti baju. Sedangkan Gathan baru saja masuk kedalam toilet yang ada di sana.


Lisya berusaha membantu Bram supaya tangan Via melepaskan cengkeramannya pada rambut Bram. Ia mengira jika keduanya sedang bersitegang karena ajakan Bram pada Via kemarin malam.


"Aaaaawwww!" Teriak Via dan Bram bersamaan dengan mata yang sama-sama terpejam.


Via semakin merasakan nyut-nyutan pada telapak kakinya. Sedangkan Bram kesakitan karena beberapa helai rambutnya rontok ditangan Via saat Lisya dengan paksa menarik tangan sahabat absurdnya itu.


"Kalian ini kenapa sih! Kalau ada masalah itu dibicarakan baik-baik.!"


"Kalau kamu gak mau, jangan main ngejambak gitu dong Vi! Lo juga Bram! Kalau Via gak mau, ya jangan main paksa!" Lisya mendadak menjadi emak-emak yang sedang mengomeli anaknya. Tanpa tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya.


"Eh, dipaksa?" Gumam Bram pelan sambil mengusap kulit kepalanya yang terasa panas. Matanya kembali terbuka saat mendengar penuturan absurd Lisya.


"Ck, kamu ngomong apa sih Sya! Bukan waktunya bahas itu.! Racau Via kesal setelah membuka matanya, ia mencebikkan bibirnya. Sedangkan tangannya ia pakai untuk memegang telapak kakinya yang semakin terasa nyeri dan mulai kaku karena bengkak.


"Terus kalian kenapa sampai bersitegang kayak gitu?" Tanya Lisya heran.


"Niiiihhhhhhh,,!" Via menunjukkan telapak kakinya kepada Lisya.


"Eh, kenapa itu Vi??" Lisya panik saat melihat telapak kaki Via terdapat bintik-bintik hitam bekas tancapan duri bulu babi.

__ADS_1


"Hah,,! Dia terkena bulu babi Sya." Bram menghela nafas, lalu kembali fokus dengan luka Via.


"Sya, tolong pukul luka Via pakai ini. Gue mau minta air hangat ke sana." Bram menunjuk ke arah pedagang yang menjual beberapa makanan di area pantai.


"Iya Bram." Lisya menuruti Bram, karena ia tidak mengerti apa yang harus dilakukan.


"Aaawwwww.. Sya pelan-pelan.! Loro (Sakit) Sya..!" Racau Via lagi saat Lisya memukulkan batu yang dipakai Bram tadi.


"Sorry,, tahan......."


"Maaf nona, biar saya bantu." Potong Teo sambil membawa kotak P3K yang sempat diambil dari dalam tasnya sebelum menghampiri keberadaan Via.


"Eh,, Kamu bawa itu juga Teo?" Tanya Lisya.


"Tentu nona. Jika sedang berpergian ke tempat seperti ini, saya selalu sedia membawa kotak P3K untuk berjaga-jaga." Jelas Teo datar.


Teo berjongkok, memegang telapak kaki Via untuk melihat kondisi lukanya.


"Nona, ini harus direndam dengan air hangat yang dicampur dengan garam atau cuka terlebih dahulu. Supaya durinya ini benar-benar hilang." Jelas Teo yang fokus memperhatikan luka Via.


"Sudah. Bram sedang minta air hangat disana. Sebentar lagi dia juga kembali." Tutur Lisya. Sedangkan Via sudah tak memperdulikan yang lainnya. Ia fokus menahan rasa yang bercampur aduk menurutnya.


Bram kembali dengan tangan kirinya membawa baskom yang berisikan air hangat yang dicampur dengan cuka, sedangkan tangan kanannya membawa kantong kresek yang berisi dua botol air mineral besar. Ternyata pedagang di sekitar sana juga menyediakan cuka untuk berjaga-jaga jika ada yang tertusuk bulu babi seperti wisatawan sbelum-sebelumnya.


Teo yang mendapat tatapan tidak enak, berdiri dari posisinya. Lalu ganti Bram yang berjongkok untuk merendam kaki Via pada baskom yang dibawanya.


"Gimana Vi? Masih sakit?" Tanya Bram setelah beberapa saat dengan raut wajah yang tidak tega. Posisinya masih sama sambil tangannya membersihkan bekas duri yang mulai hancur.


"Agak mendingan, tapi tetep masih nyut-nyutan." Jelas Via sambil meringis kesakitan.


Setelah dirasa air hangatnya sudah mulai dingin, Bram berdiri dari posisinya dan mengambil air mineral yang tadi ia letakkan di sebelah Via.


Bram mengguyur luka itu dengan air mineral supaya lukanya benar-benar bersih dan tidak ada lagi duri kecil yang masih menempel.


"Teo, tolong panggilkan orang yang tadi mengantarkan kita kemari. Kita sebaiknya pulang saja, supaya Via bisa segera dibawa ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut. Aku takut nanti semakin bengkak." Perintah Lisya yang tidak tega dengan Via.


"Baik nona Lisya. Tuan, didalam kotak itu ada cairan antiseptik. Silahkan anda oleskan pada luka nona Via untuk mencegah infeksinya. Saya permisi dulu." Jelas Teo sambil menunjuk kotak P3K yang dibawanya tadi.

__ADS_1


"Baik. Terimakasih tuan." Ucap Bram sambil melirik sekilas ke arah Teo.


Setelahnya Teo membungkukkan badannya sesaat, lalu meninggalkan tempat.


"Ada apa ini sayang?" Ucap Gathan yang baru selesai. Ia menarik pinggang Lisya dan mengecup puncak kepala istrinya itu.


"Via terkena bulu babi kak." Jelas Lisya.


"Apa?? Sejak kapan??" Tanya Gathan, karena setahunya tadi Via dan Bram baik-baik saja.


"Tadi tuan, saat berjalan ke arah tepi pantai. Setelah turun dari perahu." Jelas Bram sambil mengoles cairan antiseptik pada luka Via.


"Kalau begitu, kita pulang saja ya sayang. Supaya teman kamu itu bisa dibawa ke rumah sakit. Aku takut kalau nanti terkena infeksi." Pinta Gathan pada Lisya. Sesekali bibirnya meringis saat melihat telapak kaki Via yang merah dan bengkak.


"Iya kak, Teo sudah aku mintai tolong untuk panggil bapak-bapak yang tadi." Jelas Lisya.


"Good." Gathan mengecup kening Lisya. Sedangkan Lisya tersipu malu. Untung saja kedua makhluk didepannya itu tidak memperhatikannya, pikir Lisya.


Tak lama setelah memberikan pertolongan pertama pada luka Via, Bram berganti baju agar tidak masuk angin. Begitu juga dengan Via, yang dibantu oleh Lisya. Setelahnya mereka semua meninggalkan pulau nan indah itu. Sesampainya didaratan, mobil yang ditumpangi Bram dan Via menuju ke arah rumah sakit terdekat. Diikuti mobil yang ditumpangi Teo, Gathan dan Lisya. Ya, Gathan minta untuk berbeda mobil dengan teman istrinya itu. Karena ia tentu ingin berduaan saja dengan Lisya. Sedangkan Teo, sudah biasa dianggapnya seperti oksigen, yang ada namun tak berwujud. 😀


Setelah sampai di rumah sakit terdekat, Bram kembali menggendong tubuh Via dengan sigap. Sedangkan Via yang sedari tadi digendong oleh Bram, hanya bisa menutupi wajahnya di balik dada bidang Bram. Tangannya semakin ia eratkan pada leher Bram.


Semenjak mendengar ajakan dan ungkapan Bram kemarin malam, membuat Via jadi tersadar. Jika apa yang dilakukan Bram kepadanya selama ini begitu tulus. Namun saat ini Via tidak melihat ketulusan itu dari seorang sahabat, melainkan dari seorang laki-laki yang benar-benar ingin menjaganya.


Pipi Via memerah saat memikirkan jawaban apa yang akan diberikannya nanti kepada Bram, sehingga saat ini Via semakin menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Bram. Namun justru membuat dada Via ikut bergemuruh hebat saat mendengar debaran jantung Bram yang ternyata sudah berdegub begitu cepat.


"Tunggu,, Kenapa detak jantungnya begitu cepat??" Gumam Via pelan yang justru tangannya ikut meraba dada bidang Bram. Membuat sang empu semakin berdebar tak karuan, dan merasakan panas dingin disekujur tubuhnya. Memang bukan kaleng-kaleng Via mesumnya ya. 😂


To Be Continued 🖤


--


- Annyeong pembaca yang budiman 💕-


Mafkeun othor baru mencungul lagi..Karena selama dua hari kemarin sedang sibuk bikin megengan (kalo kata orang jawa). Atau kata lainnya kirim doa kepada keluarga yang sudah alm, menjelang bulan puasa.🙏


-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! 🙏 supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --

__ADS_1


Salam cium dan peluk jauh. 🤗


__ADS_2