GILA! TAPI AKU CINTA!

GILA! TAPI AKU CINTA!
Jantungku Berdegup Kencang


__ADS_3

"Dokter,, Dok,, tangan ayah saya bergerak dok.!" Teriak Lisya pada dokter Roy yang sedang berjalan ke arah ruang rawat pak Hasan.


"Permisi, biar saya periksa terlebih dahulu." Ucap dokter Roy saat sudah sampai di ruangan pak Hasan. Sedangkan Lisya menunggunya diluar ruangan karena tidak ingin menganggu.


"Bagaimana dok kondisi ayah saya?" Tanya Lisya dengan antusias setelah dokter Roy keluar ruangan.


"Alhamdulillah pak Hasan sudah sadar mba. Kondisinya juga semakin membaik. Hanya saja beliau masih belum bisa berbicara dengan jelas. Nanti akan saya persiapkan untuk perpindahan beliau ke rumah sakit aaa agar mendapatkan perawatan yang lebih intensif sesuai dengan perintah pak Gathan." Jelas dokter Roy.


"Alhamdulillah ya Allah. Sekarang boleh saya masuk dok?" Tanya Lisya pada dokter Roy.


"Boleh mba, silahkan. Saya tinggal untuk mengurus pemindahan pak Hasan ya mba. Saya permisi." Ucap dokter Roy.


"Iya dok, terimakasih banyak." Jawab Lisya kemudian segera masuk kedalam ruangan.


"MashaAllah ayahh.. Huuhuhuhu, Lisya kangen. Alhamdulillah ayah sudah sadar. huhuhu" Tangis Lisya pecah saat melihat ayah Hasan sudah membuka matanya. Ia sangat bahagia akhirnya ayahnya sadar setelah hampir tiga hari hanya tidur terbaring lemah diatas brankar.


"A-aanakk ku.." Ucap pak Hasan pelan, bahkan hampir tidak terdengar karena bibirnya miring akibat gejala stroke yang beliau alami. Pak Hasan juga ikut meneteskan air matanya karena merasa tubuhnya sebagian susah digerakkan.


"Iyaa yaah, Aira disini.. Alhamdulillah ya Allah." Jawab Lisya sembari memeluk ayahnya.


Tok.. Tok.. Tok..


"Assalamualaikum,, "Suara bariton memecah keharuan didalam ruangan itu.


"MashaAllah.. Pak Hasan? Pak Hasan sudah sadar Ra? Sejak kapan?" Tanya Gathan sambil berlari kecil mendekati Lisya dan pak Hasan saat dirinya melihat pak Hasan yang sudah membuka matanya.


Ya, pemilik suara bariton itu adalah Gathan. Ia baru saja kembali setelah menjemput daddy Barra di hotel tempat daddy Barra beristirahat. Daddy Barra sampai di Indonesia tepatnya Surabaya kemarin malam bersama uncle Jo asistennya. Karena Gathan tidak ingin daddy Barra terlalu kelelahan akibat perjalanannya yang sangat jauh, akhirnya ia meminta daddynya untuk beristirahat di hotel milik BR Group yang sama dengan tempat ia dan Teo menginap. Dan baru pagi ini ia menjemput daddynya saat Lisya sudah datang untuk bergantian menjaga pak Hasan.


Selama hampir tiga hari semenjak ayah Hasan dirawat, Lisya dan Gathan bergantian untuk menjaga pak Hasan. Lisya akan berjaga saat pagi hingga malam, sedangkan Gathan akan berjaga dari malam hingga pagi. Namun meski begitu, hampir 24 jam Gathan menghabiskan waktunya di rumah sakit. Karena ia tak ingin meninggalkan Lisya sendirian disana. Ia selalu mengurus pekerjaannya secara online di ruangan tempat pak Hasan dirawat. Sehingga, sudah dipastikan sejak saat itu hubungan keduanya terlihat semakin dekat karena selalu menghabiskan waktu bersama.


"Baru beberapa menit yang lalu kak." Jawab Lisya yang masih fokus melihat ayah Hasan dengan tatapan harunya.


"Assalamualaikum, ini nak Aira ya?" Ucap daddy Barra saat sudah berdiri di belakang Lisya.


"Waalaikumsalam. I-iiyaaa. Maaf,, a-anda??" Tanya Lisya ragu-ragu.


"Iya Ra, beliau ini daddy aku. Daddy Barra. Apa kamu masih ingat?" Jelas Gathan.


"Ya Allah, masiih. Bagaimana kabarnya om? Eh Tuan.." Tanya Lisya kemudian mencium tangan daddy Barra.


"Sudah panggil saja saya daddy nak, gak perlu om ataupun tuan. Anggap saja saya ini daddy kamu. Oh ya Alhamdulillah daddy sehat." Jawab daddy Barra dengan senyum menggoda yang ditujukan kepada Gathan.


Gathan yang paham dengan maksud senyum daddynya langsung merasa malu dan salah tingkah. Ia ingat jika kedatangan daddy Barra karena selain ingin menjenguk pak Hasan, juga karena permintaannya yang ingin melamar, bahkan menikahi Lisya pada saat pak Hasan sudah sadar. Dan sepertinya tuhan mengijinkan niat baiknya itu,, terbukti saat daddy Barra sudah sampai, ternyata pak Hasan juga sudah sadar.


"Ehh,, saya tidak enak tuan." Ucap Lisya.


"Sudah, tidak usah merasa tidak enak begitu. Sebentar lagi juga kamu akan panggil saya dengan sebutan itu kok nak. heheh. Oh ya bagaimana kabar kamu?" Tanya daddy Barra.


"Alhamdulillah baikk." Lisya menjawab dengan senyum kakunya, karena bingung dengan perkataan daddy Barra.

__ADS_1


" Rupanya sudah dewasa ya kamu nak, semakin cantik pula. Pantas saja anak saya semakin tertarik denganmu." Ucap daddy Barra yang jelas semakin membuat Lisya bingung.


"Ehhh,, I-iiyaaa terimakasih tuan,, Ehh,," Jawab Lisya dengan salah tingkah, kemudian menutup mulutnya karena salah sebut lagi.


"Sudah tidak apa, wajar karena belum terbiasa." Ucap daddy Barra sambil tersenyum. Sedangkan Lisya dan Gathan semakin salah tingkah.


"Tu-aaannnn." Ucap Pak Hasan sambil tangannya dinaikkan keatas seolah ingin menjabat tangan mantan majikannya itu, namun karena kondisinya yang belum normal, beliau hanya mampu mengangkat tangannya sedikit saja kemudian kembali lemas diatas brankarnya.


"Pak Hasan,, Sudah bapak jangan terlalu banyak bergerak dulu. Bapak istirahat aja. Ucap daddy Barra yang sebelumnya sudah tahu akan kondisi pak Hasan dari cerita Gathan.


"Saya sengaja pulang ke Indonesia karena ingin menjenguk pak Hasan. Sebelumnya saya sangat senang saat mendengar cerita dari putra saya, jika dia kembali bertemu dengan anda. Rasanya saat itu juga saya ingin segera ke Indonesia untuk menemui bapak karena memang sudah belasan tahun ternyata kita tidak bertemu. Tapi karena urusan saya yang belum bisa ditinggal, jadi saya tunda.


" Eh tidak tahunya saya malah mendengar kabar, jika bapak sedang dirawat di rumah sakit. Saya menyesal, justru saya kesini disaat pak Hasan sedang sakit seperti ini. Saya turut bersedih ya pak." Jelas daddy Barra panjang lebar dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Ti-dakk apa-apa tu-an" Ucap pak Hasan pelan sambil mengangguk.


Tok.. Tok.. Tok.


"Permisi pak Gathan, Eh,, tuan Barra. Pak Hasan siap untuk dipindahkan di rumah sakit aaa." Ucap dokter Roy sambil membungkukkan badannya tanda hormat pada daddy Barra. Ya, siapa yang tidak kenal daddy Barra, sang pemilik BR Group yang namanya sudah dikenal hampir di seluruh negeri.


"Oh,, silahkan." Ucap Gathan yang sudah tahu maksud ucapan dokter Roy, karena memang itu adalah perintahnya.


Akhirnya pak Hasan dipindahkan pada rumah sakit aaa yang secara kualitas lebih bagus. Beliau dipindahkan pada rumah sakit tersebut untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif Karena pak Hasan masih membutuhkan terapi untuk mengembalikan kelumpuhan di sebagian tubuhnya akibat gejala stroke yang dialaminya.


** Rumah Sakit Aaa Surabaya **


Setelah pak Hasan mendapatkan perawatan yang intensif di rumah sakit aaa, kondisinya semakin membaik. Meski tangan dan kakinya masih belum bisa kembali normal, namun pak Hasan sudah bisa berbicara lebih jelas dari saat pertama kali sadar.


Selama lima hari itu, Gathan dan Lisya masih tetap setia menjaga, bahkan menemani pak Hasan saat menjalani terapi. Sedangkan Teo, ia diperintahkan oleh Gathan untuk kembali ke Jakarta karena ada beberapa pertemuan yang tidak bisa di batalkan. Lain dengan daddy Barra, yang juga masih tetap berada di Surabaya. Beliau hampir setiap hari menjenguk mantan supirnya itu. Tidak jarang, jika keduanya sering berbincang berdua saat Gathan dan Lisya sedang keluar untuk makan siang.


Sedangkan ibu Umaira dan Nino, juga setiap sore hari datang ke rumah sakit, karena selain ibu Umaira yang tidak bisa terlalu kecapekan, Nino yang masih harus sekolah di pagi hingga menjelang sore hari.


Tok.. Tok.. Tok..


"Assalamualaikum" Ucap Lisya dan Gathan bersamaan. Keduanya baru saja kembali dari makan siang.


"Waalaikumsalam." Jawab daddy Barra dan pak Hasan bersamaan.


"Dad, ini Gathan bawakan makanan kesukaan daddy. Makanlah dulu." Ucap Gathan sambil menyodorkan bungkusan nasi padang kesukaan daddynya.


"Emmmmm, tunggu bentar, Daddy sama pak Hasan mau berbicara sebentar dengan kalian berdua." Ucap daddy Barra.


Deg.


Apa daddy sudah bicara dengan pak Hasan soal keinginan ku kemarin?


Gumam Gathan yang seolah paham arah pembicaraan daddynya


"Duduk sini nak." Ucap pak Hasan kepada Lisya sambil menunjuk kursi sebelahnya yang bersebrangan dengan daddy Barra. Sedangkan Gathan duduk disebelah daddynya.

__ADS_1


"Ada apa ini yah?" Tanya Lisya penasaran.


"Begini nak, ayah langsung saja yaa. Tuan Barra ini meminta kamu untuk menjadi menantunya, dengan kata lain menjadi istri dari den Gathan. Apa kamu bersedia?" Tanya pak Hasan sambil membelai lembut rambut Lisya.


"Apaaaa????" Ucap Lisya kaget. Lalu ia dengan cepat menutup mulutnya karena merasa tidak sopan.


"Iya nak, daddy ingin kamu jadi menantu daddy. Karena ternyata hanya kamu perempuan yang diinginkan putra saya ini." Jelas daddy Barra sambil menepuk bahu Gathan.


"Bukan begitu son?" Tanya Daddy Barra kepada Gathan yang sedari tadi hanya diam saja.


Gathan yang mendengar ucapan pak Hasan dan daddynya seketika merasa gugup. Jantungnya berdegup kencang. Ia tak menyangka ternyata moment saat melamar seorang perempuan didepan orang tuanya akan sangat mendebarkan. Berbeda saat ia mengucapkan secara langsung didepan Lisya waktu dikampusnya dulu.


"Huuuuffff,,, Iya dad." Gathan menghela nafas terlebih dahulu untuk menghilangkan kegugupannya. Lalu matanya menatap Lisya.


"Aira, seperti yang aku ucapkan saat dikampus kamu waktu itu, Aku tidak bercanda dengan ucapanku.. Aku serius ingin menikahimu. Aku ingin kamu menjadi milikku seutuhnya. Aku ingin memiliki hak sepenuhnya atas dirimu."


"Apalagi, saat melihat kalian sekeluarga bersedih karena pak Hasan terbaring lemah kemarin, hatiku ikut merasakan apa yang kalian rasakan. Aku ingin melindungi kamu beserta keluarga mu, aku ingin menjadi orang yang bisa kamu sekeluarga andalkan." Jelas Gathan dengan tatapan serius pada Lisya.


"Jika kamu tanya bagaimana perasaanku saat ini padamu, jawabannya aku tidak tahu, aku belum bisa mengartikannya. Yang aku tahu, saat ini aku hanya ingin menjagamu. Karena entah mengapa hatiku seolah tidak terima jika melihat kamu peri kecilku dulu didekati laki-laki lain diluaran sana. Apa kamu juga tidak ingat, dulu kamu yang selalu meminta aku untuk jadi pelindung mu, yang selalu ada untukmu, dan terus menjadi kakak ganteng mu!" Jelas Gathan kembali.


Lisya yang mendengar ucapan Gathan mengenai masa lalunya, seketika membuat dirinya malu. Karena memang benar apa yang dikatakan Gathan. Ia samar-samar mengingat semua perkataannya kepada kakak gantengnya dulu.


"Aku seumur hidupku tidak pernah merasakan perasaan yang menggebu-gebu seperti ini selain denganmu. Untuk itu, aku tidak tahu arti dari perasaanku ini. Yang aku tahu hanyalah, jantung ini selalu berdegup kencang saat bersamamu. Jadi menikahlah denganku Aira, agar keong racun diluar sana tidak bisa mendekati mu." Ucap Gathan yang membuat daddy Barra dan pak Hasan tertawa pelan.


"Bagaimana nak,? Kamu pasti tahu betul arti dari perasaan putraku. Asal kamu tahu, Gathan memang tidak pernah menjalin hubungan dengan perempuan manapun. Sehingga dia tidak paham akan perasaannya. Gathan enggan dekat dengan siapapun, karena ia memiliki trauma dengan yang namanya perempuan akibat tragedi di masa lalunya. Hal itu membuatnya tidak ingin menikah dengan perempuan manapun. Namun, daddy sangat terkejut dan bahagia, saat putra daddy ini tiba-tiba meminta daddy melamarkan kamu untuknya." Jelas Daddy Barra.


Trauma?? Apa yang terjadi sebenarnya?


Gumam Lisya dalam hati.


" Bagaimana nak?" Tanya pak Hasan membuyarkan lamunan Lisya.


"Emmmm, Kalau ayah bagaimana??"Tanya Lisya.


"Kalau ayah apa kata kamu nak. Ayah tidak ingin memaksamu. Hanya saja ayah sangat merasa terhormat saat menerima lamaran dari orang hebat seperti tuan Barra dan den Gathan ini. Ayah tahu betul bagaimana den Gathan, sehingga ayah sangat mempercayai perkataannya barusan. Ayah yakin, den Gathan pasti akan sangat mampu mempertanggungjawabkan perkataannya. Dan tentunya, jika kamu sudah menikah akan membuat ayah jauh lebih tenang, karena sudah ada yang menjagamu di manapun kamu berada. Siapapun pilihan suamimu kelak." Jelas Pak Hasan yang membuat hati dan pikiran Lisya tersentuh.


"Bagaiman Ra??" Tanya Gathan memohon.


"Emmm, Aku....."


To Be Continued 🖤


-- Annyeong pembaca yang budiman 💕--


-Akankah Lisya menerima lamaran Gathan?? 🤔


-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! 🙏 supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --


Salam cium dan peluk jauh. 🤗

__ADS_1


__ADS_2