
"Sekarang tinggal kamu pilih menikah denganku, dengan cara baik-baik atau dengan cara yang lebih heboh?" Tanya Gathan dengan senyum kemenangannya.
Namun senyum itu hilang seketika, disaat Lisya terlihat lemas dan tubuhnya mulai limbung. Dengan cepat Gathan menangkap Lisya yang hendak jatuh.
"Airaa, kamu kenapa? Hey,, Kamu sakit?" Tanya Gathan dengan wajah tidak bersalahnya sambil tangannya terus menepuk pelan pipi Lisya.
"Kenapa kamu jahat sekali sama aku bos gila! Salah apa ayahku padamu, hingga kamu jadikan beliau alat untuk mengancamku?" Racau Lisya dengan suara yang lemas dan pandangan kosong.
"Maafkan aku Ra, ini semua terpaksa aku lakukan agar kamu segera jadi milikku." Ucap Gathan sambil memeluk tubuh Lisya, karena ia sangat merasa bersalah.
"Hikss, hikss,, hikss Kenapa aku bersedih disaat seharusnya merasa bahagia ketika dilamar laki-laki, seperti halnya perempuan lain diluar sana??" Tangis Lisya pecah, karena bingung dengan perasaannya.
Disatu sisi sebenarnya akhir-akhir ini Lisya mulai nyaman dengan Gathan, namun ia masih belum siap jika harus menikah dengannya. Karena Lisya belum merasakan jatuh cinta pada Gathan. Apalagi Gathan juga mengatakan bahwa ia belum mengetahui perasaan yang sesungguhnya, sehingga membuatnya merasa ragu dengan perasaan Gathan. Apakah itu benar perasaan cinta atau hanyalah obsesi semata.
"Maaf, maafkan aku Aira. Aku janji akan membuatmu bahagia." Pelukan Gathan semakin erat.
"Aku tidak siap kehilangan perempuan yang sangat berarti untuk kedua kalinya Ra. Maka dari itu, aku ingin menjagamu supaya kamu tidak direbut oleh laki-laki lain. Kamu kan yang minta aku punya hak lebih kepadamu. Jadi menikah adalah jalan satu-satunya." Jelas Gathan.
"Aku tidak pernah memintamu untuk memiliki hak lebih kepada ku kak! Waktu itu aku hanya bilang kalau kamu itu tidak punya hak lebih untuk melarang-larang aku." Bela Lisya.
"Justru karena perkataanmu itu lah yang menyadarkanku, bahwa aku harus menjadikanmu milikku seutuhnya agar aku bisa melarangmu untuk berdekatan dengan keong racun diluaran sana" Jawab Gathan kembali yang selalu tidak mau kalah.
"Aku gak mau kamu larang-larang kak!" Ucap Lisya sambil menguraikan pelukan Gathan.
"Yasudah, berarti kamu lebih memilih menikah dengan cara heboh.!" Ucap Gathan kemudian hendak melangkah meninggalkan Lisya.
"Gathan gila!!! Aku tidak bilang begitu! Please jangan kamu sakiti ayahku.. Huhuhuhu." Teriak Lisya sambil kembali menangis.
"Kalau begitu, terima lamaranku dengan baik-baik Ra!" Pinta Gathan setelah kembali dihadapan Lisya.
"Tapi aku belum cinta sama kamu kak. huhuhu" Ucap Lisya masih menangis. Ia tidak menyangka jika nasib percintaannya akan berakhir seperti ini.
"Maka dari itu, tolong beritahu aku bagaimana cara mencintaimu dengan benar. Agar kamu bisa melihat bahwa apa yang aku katakan didepan ayahmu itu semuanya tulus." Ucap Gathan.
__ADS_1
"Aku ingin kita sama-sama belajar untuk saling mencintai Ra. Karena aku benar-benar buta dengan yang namanya cinta. Aku tidak peduli jika kamu belum mencintaiku saat ini, karena akupun masih belum mengerti dengan perasaanku yang menggebu-gebu ini."
"Tapi tidak seperti ini kak caranya! Huhuhuhu" Jawab Lisya.
"Lalu dengan cara apa lagi?? Pacaran?? Aku tidak mau itu Ra. Aku ingin belajar mengenal arti cinta disaat kita sudah halal. Agar kita bisa merasakan saling memiliki seutuhnya." Jelas Gathan.
"Hahh, Ba-baiklah.. Aku tidak ingin jika ayah menjadi korban kelicikanmu! Jadi aku terpaksa menerima lamaran kakak! Tapi kalau kakak ingin aku menikah dengan kakak, dan mau aku ajari bagaimana cara mencintaiku dengan benar, Aku ingin pendapat ku juga didengar oleh kakak mulai sekarang atau bahkan saat setelah menikah nanti!" Ucap Lisya pasrah sambil mengusap air matanya.
" Baiklah aku setuju." Jawab Gathan cepat.
Akhirnya setelah dengan sekuat tenaga dan pikiran Gathan meyakinkan dengan ditambah sedikit bumbu ancaman, akhirnya Lisya dengan terpaksa menerima lamaran Gathan. Keduanya kembali kedalam ruangan untuk menyampaikan kepada kedua orangtuanya, jika Lisya telah menerima lamaran Gathan. Tak lupa Lisya juga meminta restu kepada ibu Umaira dan adiknya Nino saat keduanya datang di sore hari. Dan betapa bahagianya para orang tua saat mendengar jawaban dari Lisya.
Setelah dilakukan pembicaraan antara kedua belah pihak keluarga, akhirnya telah diputuskan bahwa pernikahan Gathan dan Lisya akan dilaksanakan tiga hari lagi.
Namun karena kondisi pak Hasan yang belum pulih sepenuhnya dan masih membutuhkan terapi di rumah sakit tersebut. Membuat Lisya meminta acara ijab qobul nya dilaksanakan di rumah sakit, tempat dimana ayah Hasan dirawat.
Lisya juga tidak ingin pernikahannya di gelar dengan mewah seperti permintaan daddy Barra. Begitupun dengan Gathan, ia sependapat dengan permintaan Lisya.
Keesokan Harinya.
Gathan meminta bantuan Rudi untuk membantu mengurus beberapa dokumen yang dibutuhkan untuk proses pernikahannya dengan Lisya. Sedangkan Teo, diperintahkan Gathan untuk segera kembali ke Surabaya agar bisa menjadi saksi pernikahannya nanti.
Ibu Umaira yang sangat bahagia, dengan antusias memilih kebaya dan jas yang berada dalam foto koleksi butik langganan Gathan yang memiliki cabang di Surabaya.
Lalu daddy Barra sibuk mencarikan tempat honeymoon untuk anak dan menantunya nanti. Karena Gathan dan Lisya tidak ingin menggelar acara yang mewah, sehingga daddy Barra ingin memberikan hadiah yang spesial untuk mereka. Daddy Barra berharap, mereka berdua bisa menikmati masa honeymoon nya nanti supaya keduanya bisa menyadari perasaan masing-masing.
Berbeda dengan Lisya, yang hanya pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh Gathan dan para orang tuanya. Ia sama sekali tidak antusias dengan persiapan pernikahannya.
Lisya justru asyik membalas pesan dari Via yang tiap hari tidak pernah absen menanyakan kabarnya dan pak Hasan. Ya, sejak pak Hasan dirawat di rumah sakit, Via selalu menelpon Lisya setiap hari hanya untuk menanyakan kabar. Ia khawatir jika sahabatnya itu akan bersedih berlarut-larut karena melihat kondisi ayahnya yang belum juga kembali pulih sampai saat ini.
Terlebih saat ia pertama kali mengetahui kabar buruk itu dari Bram. Bram mengatakan jika Lisya di bawa paksa oleh Gathan karena ada kondisi darurat mengenai ayahnya. Dengan segera Via menelpon Lisya untuk memastikan kabar itu, dan betapa terkejut dan khawatirnya saat ia mendengar kondisi ayah Lisya yang sebenarnya. Via sebenarnya ingin segera menyusul Lisya ke Surabaya namun apa dikata, ia tidak bisa meninggalkan kelasnya karena sang dosen yang sangat killer.
Sampai saat ini Lisya belum berani menceritakan soal pernikahan paksanya dengan Gathan. Karena sudah dipastikan jika sahabatnya itu akan heboh dan marah, tapi ia juga tidak tega jika sahabatnya itu tidak ikut menyaksikan pernikahannya yang meski karena paksaan. Lisya teringat akan kesepakatannya bersama Via, yang akan menghadiri pernikahan satu sama lain dimanapun dan kapanpun.
__ADS_1
Akhirnya Lisya meminta tolong kepada Gathan yang saat ini sedang sibuk memilih jas dengan ibu Umaira.
"Kak,, Aku boleh minta tolong gak?" Ucap Lisya ragu-ragu.
"Tentu saja. Selama aku bisa, apapun akan aku lakukan Ra." Jawab Gathan setelah mengalihkan pandangannya pada Lisya. Sedangkan Ibu Umaira yang mendengarnya hanya tersenyum tipis. Ia sangat bersyukur ternyata anaknya akan segera menikah dengan orang yang tepat.
"Emmm, aku ingin Via, sahabatku datang di hari pernikahan besok. Bisa tidak dia berangkat bareng Teo? Bukankah Teo juga akan berangkat ke sini besok?" Ucap Lisya dengan pelan.
"Tentu saja sangat bisa Ra,, Pas banget. Dengan begitu Teo tidak akan kesepian selama di perjalanan." Gathan tertawa jahat karena tahu jika Teo akan sangat tidak nyaman jika bersama dengan perempuan yang tidak begitu ia kenal. Apalagi perempuan itu seperti Via yang tiada henti melontarkan kalimat-kalimatnya yang aneh. Gathan sangat senang jika nanti sang asistennya itu menderita selama diperjalanan.
"Tapi bilang ke Teo ya kak, Jangan beritahukan berita pernikahan ini ke Via terlebih dahulu. Biar aku yang akan menjelaskan secara langsung saat dia sudah ada disini." Pinta Lisya.
"Baiklah. Apapun yang kamu minta." Ucap Gathan sambil mengusap puncak kepalanya dengan senyuman yang hangat.
Deg. Deg. Deg.
Waahh, kenapa nih jantungku. Kok deg deg an gini.
Gumam Lisya dalam hati sambil menggelengkan kepala serta mengatur nafasnya untuk menetralisir jantungnya.
"Eh,, kamu kenapa Sya??" Tanya Gathan yang melihat Lisya geleng-geleng.
"Enggakk apa-apa." Jawab Lisya kemudian segera izin keluar ruangan untuk menyembunyikan wajahnya yang merona.
To Be Continued đ¤
Â
-- Annyeong pembaca yang budiman đ--
-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! đ supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --
Salam cium dan peluk jauh. đ¤
__ADS_1