GILA! TAPI AKU CINTA!

GILA! TAPI AKU CINTA!
Salah Lawan!


__ADS_3

"Thankss ya Bramm. Gue balik dulu. Bye!". Lisya melambaikan tangan lalu melajukan mobilnya


"Okee. Ati-atiii." Bram membalas lambaian tangan Lisya.


Setelah membantu Lisya, Bram kembali kedalam club untuk mengajak temannya pulang karena dia merasa sudah lelah akibat pekerjaannya yang cukup menguras energi dan pikirannya.


Bramantya Pratama, 23 tahun. Panggilan Bram, teman satu kelas Lisya dan Via. Dia putra sulung dari pemilik Pratama Group yang namanya juga sudah sangat dikenal dikalangan bisnis Indonesia. Pratama Group sukses dalam bidang properti dan juga kontruksi. Pratama Group juga masuk kedalam daftar lima besar perusahaan terbesar di Indonesia. Perusahaan tersebut menduduki urutan ke empat.


Kesuksesan ayahnya tidak membuat Bram tertarik untuk ikut terjun kedalam bisnis Pratama. Karena baginya dia akan lebih bangga jika bisa mendirikan usaha atas kemampuan dan usahanya sendiri. Terbukti saat ini Bram sedang sibuk menjalankan usahanya dibidang fotografi. Dia memiliki sebuah studio foto yang sudah terkenal. Tidak jarang Bram menjadi fotografer model maupun artis untuk pemotretan iklan brand terkenal.


Bram mendapat support penuh dari ayahnya, yang membuat dia semakin semangat untuk menjalankan usahanya. Bagi ayahnya tidak masalah jika Bram tidak ingin menjadi penerus perusahaannya karena sang adik laki-lakinya sejak awal sudah bersedia untuk menjadi penerusnya. Ayahnya tidak ingin menjadi penghalang cita-cita anaknya, asalkan itu baik dan tidak merugikan orang lain, maka akan tetap didukungnya.


Bram mengambil kuliah yang sama dengan Lisya dan Via yaitu di bidang manajemen bisnis karena untuk memenuhi permintaan ayahnya, yang ingin dia supaya sedikit banyak tahu mengenai dunia bisnis, agar usaha yang didirikannya bisa sesukses ayahnya.


Bram laki-laki tampan berkulit sawo matang dengan tinggi yang proporsional membuatnya di gandrungi banyak perempuan di kampusnya. Bahkan tidak jarang modelnya dengan terang-terangan menyatakan cintanya. Namun semua pernyataan itu tidak ada satupun yang diterima karena entah kenapa baginya belum ada perempuan yang membuatnya nyaman kecuali satu orang yang sudah lama dia kagumi secara diam-diam.


** Di parkiran lain Club Malam Jakarta **


"Teo!! Buat perempuan teledor itu kehilangan pekerjaannya.! Jangan tanggung-tanggung, buat dia tidak bisa bekerja di manapun.! Supaya dia tau sedang berurusan dengan siapa!" Perintah Gathan yang sudah kalap.


Saat ini dia sedang duduk disamping kemudi sambil memijat keningnya karena pusing akibat bau bekas muntahan Via dan emosi yang menggebu-nggebu.


"Baik bos.!" Jawab Teo kemudian mulai melajukan mobilnya menuju apartemen Gathan.


Ya,, BR Group memang telah sukses menguasai hampir seluruh bidang bisnis yakni properti, kontruksi, retail, transportasi dan beberapa bidang lainnya. Sehingga tidak heran jika BR Group menempati urutan no satu perusahaan terbesar di Indonesia. Bahkan perusahaan tersebut masuk kedalam daftar sepuluh besar perusahaan terbesar di dunia.


Untuk itu bukan hal sulit baginya jika hanya memblack list nama seseorang.


** Apartemen Belmont Residence **


Setelah memakan waktu 35 menit, mobil yang dikemudikan Teo sampai diparkiran apartemen Gathan.


"Thanks for today Teo!" Ucap Gathan sambil membuka seat Belt.


"You're welcome bos.!" Jawab Teo sambil mengangguk.


"Jangan lupa perintah yang tadi!". Ucap Gathan ketika akan membuka pintu mobilnya.


"Laksanakan bos!" Jawab Teo sambil memberi hormat.


"Good !" Ucap Gathan kembali sambil keluar dari mobilnya.


Teo kembali melajukan mobil Gathan menuju tempat tinggalnya. Ya, atas permintaan Teo sendiri, dia yang akan mengantar jemput bos besarnya itu setiap hari. Karena bagi Teo, bosnya akan lebih aman jika berada didalam jangkauannya. Teo menyadari kesusksesan BR Group akan membuat bosnya selalu dalam bahaya, hal itu dikarenakan banyak saingan perusahaan diluar sana yang ingin menjatuhkan BR Group. Meskipun Gathan pemegang sabuk hitam taekwondo yang sama dengan dirinya, tidak menyurutkan rasa khawatirnya terhadap bosnya itu. Karena baginya Gathan adalah keluarga kedua setelah orang tuanya, apapun akan dilakukannya demi keselamatan mereka.


***********


Gathan yang telah turun dari mobil segera berjalan memasuki area apartemen yang tidak jauh dari tempat mobilnya berhenti. Ditujunya lift dan menekan tombol untuk ke lantai 21. Yaa, Gathan sengaja memilih lantai paling atas untuk menjaga privasinya. Seluruh lantai 21 telah menjadi miliknya. Gathan meminta pihak apartment untuk mendesain seluruh lantai 21 menjadi sebuah rumah dengan segala fasilitas serba mewah.


Beberapa menit kemudian Gathan tiba lantai 21. Dibukanya pintu utama setelah ia menekan tombol password, dinyalakan lah lampu ruangan. Terlihat begitu mewah dan klasik. Warna hitam dan coklat mendominasi apartemen tersebut. Terdapat sofa yang tertata rapi diruang tamu dengan dihiasi lampu gantung nan mewah diatasnya.


Lalu terdapat televisi 70 inch dengan segala perlengkapan lainnya di ruang tengah. Tak lupa sofa panjang tepat berada didepan televisi besar itu yang beralaskan karpet bulu yang super halus dan tebal bewarna coklat.


Dibukanya pintu kamar utamanya. Setelah lampu menyala, terlihat begitu luas dan mewahnya kamar itu. Terdapat tempat tidur king size dan sofa hitam ditengah-tengah ruangan.


Walk in closet yang luas bernuansa hitam dan sedikit aksen putih menjadi tempat penyimpanan barang berharganya. Begitu banyak kemeja, jas, sepatu, jam tangan dan lain sebagainya yang tentu harganya tidak main-main tertata rapi disana.


Karena Gathan sudah sangat lelah, ia dengan segera menuju ke kamar mandi yang juga tak kalah luas.


Dinyalakannya kran air dengan suhu yang hangat untuk mengisi bath up yang panjang dengan desain yang indah. Tak lupa meyiramkan minyak aromaterapi dan sabun beraroma vanila kedalamnya guna menghilangkan bau serta merilekskan tubuh dan pikirannya.


Tak lama Gathan masuk kedalam bath up itu dan berendam sambil memejamkan matanya. Ia sangat menikmati moment itu, hingga beberapa menit ia terdiam tanpa ada pergerakan untuk melepas semua penat.


Namun sialnya ketenangan itu sirna, ketika pikiran lucknutnya menggiring kedalam ingatan saat bertemu dengan perempuan teledor yang sejak tadi siang hingga malam membuatnya sial.


"Shiitt!! Kenapa gue jadi keingat perempuan itu sih!". Umpat Gathan yang langsung membuka matanya dan memukul air yang tenang.


Seketika pikirannya kembali mengingat bagaimana tangannya nangkring dan mengerat pada dua gundukan yang pas ditangannya. Hal itu entah mengapa membuat tubuh Gathan menegang seperti tersengat aliran listrik. Dan secara otomatis membuat batang berurat yang dibawah sana juga menegang.


"Hahhhh. Siall. Kenapa jadi begini!" Umpatnya kembali lalu dengan segera Gathan bangun dari bath up dan keluar menuju ruang bilas yang hanya diberi penyekat kaca transparan. Dinyalakannya shower dengan mode air hangat supaya batang beruratnya segera kembali rileks.


Beberapa menit kemudian Gathan keluar dari kamar mandi dengan tubuh hanya dibalut handuk yang berada di pinggangnya.


Segera ia mencari kostum tidurnya, dan menjalankan ibadahnya kemudian bergegas tidur.


** Kos Terberkahi **


Setelah 30 menit Lisya mengendarai mobil Via, akhirnya tibalah di sebuah pekarangan yang tidak jauh dari kosan . Ya, karena akses masuk ke kosan hanya mampu dilewati satu motor saja, maka mobil Via diparkiran di pekarangan rumah milik ibu kos yang berada di depan. Dengan segera Lisya turun dari tempat kemudi dan membuka pintu mobil bagian penumpang.


"Heeeeii Vi,, sadar dong.. Udah sampai nih!". Ucap Lisya sambil menepuk pipi Via supaya membuka matanya.


"heeeemmmmm.. Gaiiiss aku ngantukk. Ayo pulang!" Racau Via sambil memeluk tubuh Lisya.


"Iyaa ayo!! Aku malah gak hanya ngantuk! Tapi capek ngadepin kamu ini!!" Ucap Lisya sambil cubit pipi Via supaya sedikit sadar.


"Aawwwwww.. Sakitttt! Hiksss!" Teriak Via kesakitan dan lalu menangis pelan.


"Allahuakbar bocah inii ga ada akhlakk!! Berat tau ga badan kamu ini!!" Gerutu Lisya sambil membopong Via.


Tak lama keduanya sampai didepan kamar kosnya. Dengan susah payah Lisya membuka kunci pintunya karena tangan satunya masih membopong Via yang tak sadar juga.


"Alhamdulillah ya Allah. akhirnya aku melihat kasuuurrr!" Ucap Lisya saat pintu sudah terbuka.


Ditaruhnya Via di atas kasur, tak lupa melepas alas kaki dan jaket yang dipakai Via.


Setelah selesai membereskan soal Via, Lisya menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan melanjutkan ibadahnya sebelum tidur.


********************************************


Pagi di hari Minggu

__ADS_1


** Apartemen Belmont Residence **


Kriinggg.. Kriingggg.. Kriiinggg..


Suara dering handphone yang nyaring membangunkan Gathan yang masih terlelap dari tidurnya. Diambilnya handphone itu dengan tangan meraba raba diatas nakas karena matanya seakan masih lengket untuk dibuka.


"Hemm..." Jawab Gathan dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Ia sekilas melihat siapa nama penelpon yang telah mengganggu tidurnya itu.


"............"


"Baguusss!! Selalu pantau dia! Jangan biarkan dia bisa bekerja dimanapun, sampai dia benar-benar datang dan bersujud kepadaku!". Ucap Gathan saat mendengar laporan dari Teo diseberang telpon sana. Tak lama Gathan menutup telponnya kemudian kembali melanjutkan tidurnya. Karena dia tak mau melewatkan hari liburnya.


Ya, penelepon tadi adalah Teo. Sang asisten sekaligus sahabat Gathan. Dia melaporkan jika apa yang diperintahkan bosnya kemarin sudah terlaksanakan.


🌀 Flash Back On 🌀


** Graha Tirta Residence **


Tak lama setelah 20 menit Teo melakukan perjalanan dari apartemen Gathan, kini dia telah sampai dikediaman orang tuanya.


Ya katakanlah Teo masih anak ayah dan ibu. Selain karena dia anak tunggal, Teo juga tidak tega jika harus meninggalkan orang tuanya tinggal dirumah mewah itu sendirian. Rumah yang mewah dan luas itu adalah pemberian dari Gathan 3 tahun yang lalu sebagai bentuk terimakasihnya karena telah bekerja dengan baik. Gathan selalu puas dengan Kinerja Teo yang dengan cepat dan tanggap saat melakukan apapun tugasnya tanpa harus mengeluh. Seolah Teo juga sangat mengerti segala maksud hati dan pikirannya Gathan tanpa harus menjelaskan secara rinci apa maunya.


Sebelum Teo dan orang tuanya tinggal dirumah mewah itu, Mereka tinggal di rumah sederhana yang berada di tengah perkampungan. Namun karena Gathan yang suka risih jika saat dirinya tengah menjenguk kedua orang tua Teo, karena selalu menjadi bahan omongan tetangga. Akhirnya dia berinisiatif membelikan rumah untuk sahabatnya itu agar privasi keluarga mereka lebih terjaga.


Setelah mobil terparkir didalam garasi, Teo segera keluar dari mobil dan masuk menuju rumahnya. Karena sudah sangat larut, rumahnya tampak sepi dan gelap karena orang tuanya sudah terlelap dalam mimpi masing-masing.


Teopun segera menuju kamarnya yang terlihat elegan. Kamar yang didominasi warna putih dan abu-abu itu menjadi tempat istirahat ternyaman di tengah pekerjaannya yang tak ada habisnya.


Disandarkan tubuh kekarnya 'meski tak sekekar tubuh Gathan' pada headboard kasur yang empuk bewarna abu-abu dengan permukaan yang bergelombang dan berlubang.


Diambilnya handphone disaku celana samping sebelah kanan, kemudian mencari nama seseorang yang ingin dia hubungi.


Tuuuttt... Tuutttt.... Tuuttt....


Suara sambungan telpon disebarang sana yang tak lama terdengar suara khas orang bangun tidur diseberang telponnya.


"Halo selamat malam pak Ronald, Maaf jika saya telah mengganggu waktu istirahat anda.


Saya ingin meminta bantuan anda saat ini." Ucap Teo karena dia tau jika orang yang tengah ditelponnya itu tadi sudah terlelap dalam tidurnya.


Ya,, Pak Ronald adalah Direktur utama dari brand parfum tempat dimana Lisya bekerja.


"...................."


"Saya ingin bapak untuk sementara waktu memecat salah satu SPG event anda yang bernama Qaleesya Humaira. Jangan biarkan perempuan itu bekerja sampai ada perintah dari saya!.".


"....................."


"Tidak perlu kan saya harus menjelaskan alasannya kepada anda! Anda harus ingat saya bisa mencabut izin brand anda di semua cabang BR market jika anda tidak melakukan permintaan langsung dari pemilik BR Group ini!" Ucap Teo dengan wajah datar.


"......................"


"......................."


"Baik, terimakasih atas kerjasamanya. Sekali lagi saya mohon maaf karena telah membangunkan anda. Selamat beristirahat kembali." Ucap Teo kemudian menutup sambungan telponnya.


"Hahhh.!!" Teo menghela nafas panjang. Karena dirinya telah melakukan hal yang membuat dirinya tak nyaman. Yaa, sebenarnya Teo tak tega dengan perempuan itu. Dia masih memiliki rasa simpati yang besar terhadap orang-orang sekitarnya. Namun apa mau dikata jika bosnya yang menginginkannya.


"Kau salah memilih lawan 'Qaleesya Humaira!". Ucap Teo sambil melihat kembali name card yang dia pegang.


Benda itu dia temukan di ruang meeting mall tempat bosnya dan perempuan itu berdebat. Teo mengambil name card yang tergeletak dilantai itu tanpa sempat mengembalikan kepada sang pemilik, karena entah pergi kemana. Lalu name Card itu ia simpan didalam saku celana samping sebelah kiri. Dan siapa sangka, penemuan benda itu ternyata menjadi penolongnya untuk mencari identitas perempuan yang saat ini menjadi korban kemarahan bosnya.


Diletakkannya name card tadi diatas nakas lalu entah kenapa seketika Teo teringat sesuatu yang membuat bibirnya tersenyum tipis.


" Setelah liat foto perempuan itu, kenapa gue jadi teringat temannya yang mabok tadi ya. Lucu..!!" Ucapnya karena teringat muka Via yang hitam sebelah akibat abu rok*k.


"Laahh gue kenapa jadi keinget dia ya." Gerutu Teo sambil menggelengkan kepalanya.


Dengan cepat dia bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan pikirannya, lalu setelahnya dia merebahkan tubuhnya pada kasur king size nya. Kemudian tak lama Teo pun terlelap didalam mimpi.


🌀 Flash Back Off 🌀


** Kos Terberkahi **


"Hoaaaaammmmmm!!!" Lisya menguap sambil merentangkan kedua tangannya dan menggeliat.


Plakkk...


"Awwwww!!". Suara Via yang langsung terbangun karena kesakitan akibat siku Lisya mengenai kepalanya.


"Eheheheheh sorry Vi, ga sengaja 'kesikut'! Jawab Lisya asal dengan raut muka tak bersalah.


"Hissssssshh kamu ini!! Sakit tau.. Udah kepala nyut- nyutan!" Gerutu Via sambil memijat kepalanya yang sakit karena bekas sikutan dan mabok semalam.


"Siapa suruh sok-sokan mabuk kayak kemarin.!! Udah maboknya resek!. Kamu tauu, apa yang kamu lakukan semalam?" Ucap Lisya sembari bangun dari tidurnya dan duduk dikasur.


"Apaa?? Jangan bilang aku bikin ulah semalam!" Ucap Via penasaran dan ikutan bangun dari tidurnya lalu duduk menghadap Lisya.


Lisya menceritakan apa yang terjadi semalam. Kejadian saat Via muntah tidak sengaja di tubuh bos gila menurut nya itu hingga mereka sampai di kosan dengan selamat.


"Haaaaa.. Sumpaah!! Gilaaaa Aku !! Kok bisa kebetulan gitu ya Sya!!" Ucap Via panik karena telah melakukan hal yang memalukan.


"Entahlaah , Aku juga ga habis pikir kenapa sial banget aku kemarin!" Timpal Lisya sambil mengambil hpnya diatas nakas tempat tidurnya untuk mengecek group chatt dan melihat jadwal jaganya di mall mana dia akan ditugaskan hari ini.


"Gue nangkring di toilet dulu sya. Bentar kok!" Ucap Via yang terburu-buru turun dari kasur dan masuk kamar mandi. Via tau jika Lisya akan segera mandi untuk bersiap-siap kerja.


"Hmmm" Jawab Lisya singkat. Karena dia masih fokus melihat jadwal yang sudah di share oleh manajemen di group chatt nya itu.


"Aaaaaaaaahhhhhhh!! Vaalaaakkk!!!" Teriaak Via didalam kamar mandi hingga terdengar oleh Lisya.

__ADS_1


Lisya yang kaget dengan teriakan Via membuat handphone yang dipegangnya jatuh dari genggamannya.


"Astagaaaaaa!!!!!!!! Bocah itu kenapa sih!!" Kesal Lisya dan beranjak dari kasur lalu menggedor-gedor pintu kamar mandi. Dia juga takut jika Via terpleset di dalam.


Ceklekkk...


"Syaaaa,, ada Valakkk!! Aku takuttt!" Teriak Via panik sambil memeluk Lisya saat pintu nya sudah terbuka.


"Valak!? Maksud nya Valakor??" Tanya Lisya heran sambil mengintip kearah kamar mandi.


"Ko Valakor sih Sya.. Bukaaann!! Itu Valak yang di film-film horror!" Tangannya menunjuk kearah cermin kamar mandi.


Lisyapun akhirnya masuk ke kamar mandi dengan ragu-ragu untuk memastikan kebenarannya.


"Manaa sih Via. Kamu tu aneh-ae ae.! Ck..!" Lisya berdecak kesal saat melihat cermin hanya ada bayangannya yang agak buram karena terkena embun.


Via membuntuti Lisya dari belakang dan ikut melihat lagi cermin itu.


"Huaaaaahh!!!! Itt.. Itttuuuuuu Syaa. Valaknya muncul lagi!" Teriak Via lagi sambil nunjuk bayangan cermin dengan mata terpejam


"Haa??" Lisya mendekat kearah cermin lalu membersihkan embun agar bayangannya terlihat lebih jelas.


"Buaaahahahahahah, maksud mu Valak buluk ini!." Tawa Lisya pecah saat dirinya tersadar jika bayangan yang dikira Valak oleh Via adalah bayangan Via sendiri.


" What Thee..!! Iii iiinii mukaku!!!! Kenapa jadi kayak valak gini mukaku Syaa!! Apa yang terjadi!? Ga mungkin kan aku kena azaab gara-gara aku abis mabok Sya??!!" Tunjuk Via pada wajahnya sendiri setelah dia membuka matanya dan melihat dengan jelas apa yang ada didepannya itu.


Saat akan nangkring di toilet, seperti biasa Via akan menoleh ke cermin yang ada di kamar mandi karena takut jika ada penampakan seperti yang ada di film-film horor yang pernah dilihatnya. Dan betapa kagetnya, seperti yang ditakutkan. Via melihat penampakan buram seperti seseorang perempuan dengan muka hitam sebelah, gincu mbeleber kemana-mana dan rambut juga acak-acakan yang menurutnya seperti Valak yang tak berhijab. Membuatnya reflek berteriak keras dan keluar dari kamar mandi.


Lisya akhirnya keluar dari kamar mandi setelah menjelaskan kejadian kemarin. Kejadian saat Via terkena abu bekas rok*k dan kemudian karena muntah, gincunya jadi mbleber kemana-kemana.


Lisya kembali duduk dipinggiran kasur sambil melihat lagi jadwal yang belum selesai ia baca tadi.


Kok namaku ga ada ya dijadwal ini. Ini sudah jam 8 padahal. Apa keselip ya namaku??


Gumam Lisya dalam hati.


Karena penasaran akhirnya Lisya menelfon manager yang sudah dikenalnya dari lama.


"Halloo selamat pagi pak Dimas?? Saya mau tanya pak, Kok ini saya tidak menemukan nama saya di jadwal jaga hari ini ya pak? Apa terselip nama saya?" Tanya Lisya To The Point.


"................................."


"Haa..? Oh baik pak. saya akan segera ke kantor menemui bapak. Selamat pagi pak." Ucap Lisya setelah itu mematikan sambungan telponnya.


Ya, Lisya diminta sang manager untuk menemuinya di kantor karena ada yang ingin dibicarakan secara langsung dengannya.


"Viiiiaaaaaaa!!! Cepetannnn.! Aku buru-buru iniii!" Teriak Lisya sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.


"Seeeebb.. beennn.. taarrrhh!! Ahhhh!!!" Jawab Via ditengah-tengah aktivitas nya yang berusaha mengeluarkan apa yang ingin dikeluarkan dibawah sana.


Tak lama Via keluar dari kamar mandi dengan wajah berbinar karena merasa lega. Meski mukanya masih acakadul dia tidak peduli.


Karena terburu-buru, dengan segera Lisya masuk kedalam kamar mandi.


"Hhhmmmmmbbbttttt Viaaa bauukk.!! Bom atom kamu busuk banget?! Ga disiram apa tadi,!!" Teriak Lisya dari kamar mandi karena bau gas berasal dari bom atom Via belum sepenuhnya hilang.


"Buahanahahahahah, Rasaaiin.


Sapa suruh usik kenikmatan ku!". Via tertawa sambil kembali tiduran dikasur dan memainkan handphone nya.




Setelah 15 menit kemudian, Lisya sudah siap untuk berangkat menuju kantor.



"Viaaa, aku berangkat duluu. Assalamualaikum." Pamit Lisya sambil keluar dan segera menaiki motor sc\*\*py abunya.



"Ati-ati seyeeenggghh! Waalaikumsalam". Jawab Via yang masih tak bergeming dari kasurnya.



 



\-- Annyeong pembaca yang budiman 💕--


\-- Sampai sini dulu yaaa episode kali ini.


Kasihaan deh Lisya, kira-kira bagaimana ya dia akan menghadapi hukuman sang CEO kejam itu?? --



\-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! 🙏 supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --



\-- Mohon maaf jika author up nya telat, karena sudah kembali fokus di kehidupan nyatanya.--



Salam cium dan peluk jauh. 🤗


__ADS_1


Eiiittsssss sebentar lagi Visualnya akan author keluarin, supaya semakin mantap halunya. hihi.


__ADS_2