GILA! TAPI AKU CINTA!

GILA! TAPI AKU CINTA!
Itu Selang?


__ADS_3

** Mansion Utama Keluarga Barra **


"Teo, pulanglah. Istirahatlah dengan nyenyak setelah ini." Ucap Gathan dengan senyuman penuh arti. Ya, karena hari minggu, Gathan tidak ada jadwal ke kantor. Begitu pula dengan Lisya yang tidak ada jadwal ke kampus.


Teo menautkan kedua alisnya, karena heran dengan ucapan bosnya.


"Baik bos." Ucap Teo setelah menangkap arti senyuman Gathan.


Akhirnya,, Teo pamit pulang ke rumah orang tuanya. Karena ia juga merasa sudah rindu dengan kedua orang tuanya yang sudah tidak ditemuinya selama satu minggu lebih.


Gathan dan Lisya menuju ke ruang makan, karena pak San sudah mempersiapkan makan siang sebelumnya.


Setelah makan siang, keduanya menuju ke kamar utama.


"Masih sakit sayang?" Tanya Gathan setelah keduanya merebahkan tubuhnya diatas kasur king sizenya.


"Apa kak?" Lisya masih belum paham arah pertanyaan suaminya.


"Ini,,,, Bukankah tadi habis dimasukin sesuatu waktu pemeriksaan?" Gathan meraba bagian bawah Lisya.


"Ehh,, Ta-tadi memang awalnya sedikit nyeri kak. Ta-tapi sekarang sudah enggak kok." Lisya tersenyum kaku.


"Syukurlah.." Gathan tersenyum penuh arti. Keduanya saling tatap.


Ni orang, kenapa tatapannya ngeri begini sih.


Gumam Lisya dalam hati.


"Sayang,,," Gathan membelai rambut Lisya dengan lembut.


"I-iyaaa?" Lisya semakin bergidik ngeri.


"Suka anak kecil tidak?" Tanya Gathan.


"Su-suka kak." Lisya menjawab dengan tatapan heran.


"Kalau begitu, kamu bakal senang dong kalau suatu saat ada kehadiran anak kecil yang cantik dan ganteng di mansion ini?" Gathan membelai pipi Lisya dengan lembut.


"Te-tentu saja kak, a-aku akan senang. Dengan begitu aku tidak akan kesepian." Jawab Lisya yang mulai paham dengan arah pembicaraan suaminya.


"Good..." Gathan semakin tersenyum bahagia.


"Apalagi, kalau anak kecil itu mukanya mirip aku sama kamu. Kamu bahagia tidak?" Ucap Gathan kembali, tangannya mengelus bibir Lisya.


Lisya yang ditanya hanya mengangguk pasrah.


"Kalau mau mirip, berarti kita harus menanam bibitnya kan?" Gathan berbisik tepat ditelinga Lisya. Membuat sang empu menggeliat kegelian.


"Ehhh,, I-iyaa" Ucap Lisya sambil berusaha menjauhkan tubuhnya. Namun Gathan semakin menarik kedalam dekapannya. Tatapannya kembali saling bertemu.


"Kamu mau kan jadi ibu dari anak-anakku?" Tanya Gathan masih menatap Lisya dengan tatapan memohon.


"I-iya kak. Aku mau. Ta-piii,,,,"


" Good, kamu masih ingat tidak, sama penjelasan dokter Gritta tadi?" Potong Gathan. Sambil kembali mengecup kening, dan kedua mata Lisya.


"Penjelasan?" Lisya mengerutkan dahinya.


"Iya penjelasan, beliau kan menjelaskan jika ingin segera punya anak kita harus melakukannya dengan rutin." Gathan berganti mengecup kedua pipi Lisya bertubi-tubi.


Gleg!


Lisya menelan salivanya dengan susah. Ternyata dugaannya benar, jika arah pembicaraan suaminya akan menjurus kesana.


"Kamu masih ingat kan?" Tanya Gathan kembali, karena Lisya tidak menjawabnya.


"Ten-tu sajaa!" Lisya menjawab cepat. Dengan senyum kakunya.


"Bukankah sesuai penjelasan dokter Gritta, besok dan tujuh hari kedepan kamu dalam masa subur? Gathan mengecup bibir Lisya singkat.


"Eh,, i-iya kak. Ta-tapi,,,,,, aku belum siap. Jujur, aku masih kebayang sakitnya saat kakak,,,,,," Lisya menggantung ucapannya.


"Bukankah, kakak sendiri yang akan menungguku hingga aku siap lagi?" Ucap Lisya kembali.


Deg!

__ADS_1


Sial! Gue lupa jika pernah mengatakan itu sebelumnya. Hah, jadi boomerang buat gue!


Gumam Gathan dalam hati, rasanya bagian bawah yang tadi sudah menegang, melemas begitu saja.


Bibirnya tersenyum kaku, rencananya yang ingin menghabiskan waktunya didalam kamar dengan kegiatan panasnya bersama istrinya serasa sirna begitu saja. Gatot! Itulah pikirnya. Gathan tak bisa berkata-kata lagi karena ia juga menyadari, jika ketakutan istrinya itu akibat dari pemaksaanya kemarin.


"Yasudah, aku akan menunggumu hingga kamu siap." Gathan bangun dari tidurnya, lalu beranjak ke kamar mandi. Entah apa yang dilakukannya, hanya Gathan yang tahu. Ingin menyegarkan tubuh dan pikirannya mungkin.


Lisya yang melihat perubahan raut wajah Gathan, merasa bersalah. Karena bagaimanapun, Gathan adalah suaminya. Ia tahu jika suaminya itu berhak atas tubuhnya. Ia juga merasa kasihan sebenarnya, karena suaminya itu belum mendapatkan haknya sepuasnya. Namun, ia juga masih trauma dengan rasa sakit yang dirasakannya saat Gathan merebutnya dengan paksa.


Lisya tidak tenang, karena Gathan belum juga keluar dari kamar mandi sejak satu jam yang lalu. Tubuhnya miring ke kanan dan ke kiri memikirkan apa yang terjadi dengan suaminya itu. Setelah hampir dua puluh menit Gathan masih belum keluar juga, akhirnya dengan segala pemikirannya, Lisya bangun dari tidurnya. Lalu berjalan menuju kamar mandi untuk memastikan jika suaminya itu baik-baik saja didalam sana.


Tok,, Tok,, Tok,,


"Kak, Kakak??"


"Kak Gathan baik-baik saja kan didalam?" Lisya setengah berteriak agar suaranya terdengar sampai kedalam.


Karena tidak ada sahutan, Lisya semakin mengeraskan ketukan pintunya.


"Kak, Lama sekali sih didalam! Kakak ketiduran?" Lisya berganti menggedor-gedor pintu kamar mandi karena mulai panik.


"Kakk,, Kakak marah sama aku??? Kak, jangan gini dong! Aku khawatir" Masih setia dengan aktivitasnya yang menggedor pintu.


"Kak, Aku minta maaf kalau belum bisa layani kakak.! Ayo kita bicarakan baik- baik jangan begini!" Lisya semakin berteriak, matanya mulai berkaca-kaca.


Lisya menggedor pintu semakin keras.


"Sayang, kamu kenapa?" Gathan membuka pintunya dengan tiba-tiba.


"Ehh...Eeh!" Tubuh Lisya limbung ke depan karena Gathan membuka pintu secara tiba-tiba.


Tubuh Gathan terdorong karena secara reflek menangkap tubuh Lisya. Hingga saat ini tubuh Lisya berada didalam pelukannya.


"Ahhhh!!! Kak, i-ituu!!!" Lisya berteriak saat berdiri dari posisinya. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, karena ternyata handuk yang dililitkan Gathan hanya sebatas pinggangnya, lepas begitu saja akibat dorongan tubuh Lisya yang begitu mendadak.


"Kamu kenapa sayang?" Gathan panik, masih belum mengerti dengan sikap Lisya.


"I-itu kakk, selangnya kelihatan." Salah satu tangan menunjuk kearah bawah Gathan. Matanya sedikit mengintip pemandangan yang unik baginya disela jari tangannya yang sengaja ia buka.


Sontak Gathan membelalakkan matanya, ia tak menyangka jika handuknya terlepas begitu saja, hingga memperlihatkan senjatanya yang sedang lemas akibat kurang vitamin, entah vitamin apa maksudnya 😂. Seolah kepercayaan dirinya hilang begitu saja karena miliknya terlihat tidak gagah. Namun, ia berusaha setenang mungkin untuk menghadapinya.


"Ehemm, Oh ini??? Bu-bukannya kamu sudah pernah melihatnya?" Ucap Gathan dengan nada selaki mungkin. Tangannya dengan cepat mengambil handuk yang jatuh diatas lantai, lalu melilitkannya kembali seperti semula.


"I-iya,, ta-tapi waktu itu seingatku hadapnya keatas kak. Bu-bukan begitu. Ta-tadi sekilas seperti turun kebawah" Lisya membuka tangan dan matanya, memperlihatkan pipi merahnya.


Sial! Turun harga diri gue depan istri gue sendiri!


Racau Gathan dalam hati. Ia benar-benar malu.


"Ehemm,, i-itu karena dia masih terlelap. Beda lagi kalau sudah bangun." Jawab Gathan asal, kemudian segera mengambil pakaian ganti meninggalkan Lisya. Supaya tidak semakin terlihat salah tingkah.


"Kak, tunggu! kakak marah sama aku?" Lisya membuntuti Gathan dari belakang.


Dug,


"Aw, kenapa berhenti mendadak sih kak?" Racau Lisya sambil mengelus dahinya yang menabrak punggung Gathan.


"Lah, katanya suruh tunggu, ya aku berhenti sayang. Maaf ya, sakit?" Gathan membalikkan tubuhnya, tangannya ikut mengelus dahi Lisya.


"Ya tapi gak mendadak gini." Lisya mencebikkan bibirnya.


"Iya maaf, aku tidak sengaja." Ucap Gathan.


Cup,


Gathan mengecup singkat dahi Lisya yang sakit.


"Udah, sembuh." Gathan tersenyum manis.


"Kakak gak marah sama aku?" Pipi Lisya memerah mendapatkan perlakuan serta melihat senyuman manis suaminya itu.


"Marah kenapa?" Gathan menautkan kedua alisnya, karena heran dengan pertanyaan Lisya.


"Marah, karena aku belum siap." Jawab Lisya sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Hey, siapa yang marah sayang. Aku sama sekali tidak marah." Ucap Gathan menangkup kedua pipi Lisya. Sebenarnya tadi Gathan sedikit kecewa, namun karena sadar jika semua karena perbuatannya yang tidak sabaran, akhirnya ia bisa menerimanya dengan ikhlas.


"Kalau tidak marah, kenapa kakak lama sekali didalam kamar mandi? Hampir satu setengah jam, kakak didalam sana. Aku jadi khawatir! Aku jadi berpikiran yang macam-macam, aku,,,, aku jadi merasa bersalah. Hiks." Tangis Lisya pecah saat mengungkapkan segala pikirannya tadi.


"Hey,, sayang. Dengar! Aku sama sekali tidak marah. Aku tadi ketiduran hahahaha." Gathan tertawa lebar.


"Eh,, ketiduran?" Ucap Lisya pelan.


"Tadi aku hanya berniat berendam karena merasa gerah, eh gataunya malah ketiduran karena nyaman banget sama aroma terapinya. Nah tadi aku benar-benar kaget dengar kamu gedor-gedor pintu sambil teriak-teriak. Dengan cepat aku langsung bilas, terus ambil handuk, memakainya asal hehehe." Jelas Gathan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Dan karena itu, jadi handuknya dengan mudah jatuh.?" Tanya Lisya polos.


"Ehemmm,, I-itu karena kamu mendorongku sayang." Gathan kembali salah tingkah.


"Maaf kak, aku tidak sengaja." Pipi Lisya memerah mengingat selang milik suaminya.


" Tak apa sayang, nanti juga kamu akan terbiasa melihatnya. Tapi, lihatnya pas sudah bangun saja ya!" Gathan tersenyum kaku.


Blush!


Lisya benar-benar malu dengan perkataan Gathan. Ia menunduk menyembunyikan pipi merahnya.


"Jadi,,, kakak beneran tidak marah kan?" Lisya mendongak menatap kembali wajah suami tampannya itu.


"Benar sayang. Sama sekali tidak. Aku akan menunggumu hingga kamu siap." Gathan kembali menangkup kedua pipi Lisya.


"Terimakasih kak." Lisya tersenyum senang.


"Mandilah, aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Supaya tidak bosan." Ucap Gathan sambil tersenyum.


"Eh, benarkah?" Lisya berbinar bahagia.


"Tentu saja. Apapun akan kulakukan demi kebahagianmu." Jawab Gathan.


"Yeeeeyyy, Terimakasih kakak sayang. Ehh,, Hehehe." Lisya melompat-lompat kegirangan. Lalu menutup mulutnya karena menyebut Gathan 'sayang'. Ia masih belum terbiasa menyebutkan kata itu.


Cup.


"Love you kak." Ucap Lisya kemudian berlari meninggalkan Gathan karena malu. Dengan segera ia berlari menuju kamar mandi.


Gathan diam mematung, karena mendengar Lisya menyebutnya 'sayang' dan mengungkapkan 'cinta' tanpa di diminta. Tangannya mengelus bibirnya yang dikecup singkat oleh istrinya.


"Menggemaskan.!" Ucap Gathan pelan sambil menatap punggung Lisya.


Setelah beberapa saat, Gathan kembali tersadar karena mengingat seseorang yang hendak ia hubungi.


Epilog


"Ya bos?" Teo menjawab dengan suara khas bangun tidur.


"Teo, ke mansion setengah jam lagi!" Perintah Gathan diseberang telepon.


"A-apa bos!?" Teo membuka matanya, karena kaget mendengar perintah bosnya.


"Ke mansion setengah jam lagi! Jangan membuatku mengulangi perkataan ku lagi!" Ucap Gathan penuh penekanan.


"Ta-tapi bos? Bukankah tadi anda menyuruh saya beristirahat dengan nyenyak?" Teo tidak habis pikir dengan bosnya.


"Oh,, jadi kamu ingin beristirahat dengan nyenyak seterusnya?? Iya?? Baiklah mulai sekarang kamu saya,,,,,,!"


"Baik bos. Saya kesana sekarang juga!" Potong Teo, lalu beranjak dari tidurnya.


"Good." Gathan mematikan teleponnya.


"Dasar bos ediaannn!! Tuman,,! Tahu gitu lebih baik aku tidur di mansion tadi!" Gerutu Teo sambil mengacak rambutnya.


Dengan segera ia menuju kamar mandi untuk bersiap-siap.


To Be Continued 🖤


- Annyeong pembaca yang budiman 💕-


Yang sabar ya Teo, nasib remahan rengginang mah gitu. 🤭


-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! 🙏 supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --

__ADS_1


Salam cium dan peluk jauh. 🤗


__ADS_2