
"Selamat ya seyengg! Akhirnya sahabatku ini laku juga! Ututututu" Ucap Via sambil memeluk Lisya yang berdiri disebelah Gathan setelah semua prosesi selesai.
Para keluarga dekat dan tetangga Lisya yang hadir telah meninggalkan ruang pak Hasan untuk pulang. Sedangkan kedua orang tua Gathan dan Lisya masih saling berbincang manis di tempat yang berbeda, namun masih didalam satu ruangan.
"Iih, selama ini bukannya gak laku ya. Tapi aku memang menutup hati." Elak Lisya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Menutup hati untuk menungguku kembali?" Potong Gathan sambil menaik turunkan alisnya kepada Lisya.
"Sok Tau!" Jawab Lisya dan Via bersamaan. Lalu serentak keduanya menutup mulutnya karena keprucut melawan Gathan.
"Ppffftt hmmmmm" Suara tawa Teo tertahan yang berhasil menarik perhatian Lisya, Gathan,Via dan Bram saat itu. Ya, Bram ikut nimbrung bersama mereka. Sedangkan anak buahnya sudah lebih dulu pulang sesuai penerbangan yang telah disiapkan oleh Gathan.
"Ahh, maaf." Ucap Teo salah tingkah
"Kamu menertawakanku?" Tuduh Gathan dengan sinis.
"Maaf sedikit keprucut bos." Jawab Teo yang tidak bisa berbohong.
"Apa yang kamu tertawakan?? Lihatlah wajah, leher dan tanganmu!" Ucap Gathan sambil tersenyum sinis.
"Buahahahaha" Tawa Lisya dan Bram pecah, ketika melihat wajah Teo yang biasanya rapi dan tampan berubah dengan penuh plester akibat luka disekitar leher belakang, pipi, mata, bibir, dan punggung tangannya.
"Jaga pandangan kamu Aira!" Potong Gathan dengan tatapan tajam saat tahu jika Lisya melihat Teo lebih dari beberapa detik.
"Iisshhh iya.. iya.." Jawab Lisya patuh karena ia sadar bahwa baru saja statusnya sudah berubah menjadi istri Gathan yang tandanya mau tidak mau harus menuruti perkataan suaminya.
"Maaf." Ucap Via lirih saat ditatap tajam oleh Teo yang disampingnya.
"Kenapa loe minta maaf Vi? Tanya Bram penasaran. Karena ia belum mengetahui cerita sebenarnya. Bram juga belum meninggalkan tempat karena dilarang oleh Lisya, karena Lisya merasa tidak enak jika temannya pergi begitu saja saat sudah membantu acaranya.
"Ck, loe mending diem aja deh Bram. Gue lagi malu dan merasa bersalah banget nih." Bisik Via kepada Bram yang memang berada disamping kirinya.
"Loe gak diapa-apain kan sama dia?" Timpal Bram yang juga ikutan berbisik, namun masih terdengar oleh Teo yang berada disamping kanan Via.
"Justru saya yang diapa-apain." Ucap Teo datar menahan amarah jika mengingat kejadian tadi subuh.
đ Flashback On đ
** Kos Terberkahi **
Tok.. Tok.. Tok..
Teo mendatangi kos Via dan Lisya saat subuh menjelang. Karena belum juga ada sahutan dari sang pemilik kamar kos, Teo tiada henti mengetuk pintu itu hingga terdengar Via menyahuti dari dalam dengan malas.
__ADS_1
" Siapa?" Tanya Via sambil mengintip dari balik tirai jendela. Ia ingin memastikan jika bukan orang jahat yang mengetuk pintu itu.
"Hemm, bukannya itu mas cute?" Gumam Via pelan saat ia melihat Teo berdiri didepan pintu kamar kosnya.
Ceklek.
"Mas cute?? Gak salah kesini malam-malam seperti ini?" Ucap Via dengan suara khas orang bangun tidur.
"Ehemm, maaf nona. Saya ingin nona Via ikut saya sekarang juga." Jawab Teo dengan wajah datarnya, namun dalam hati berdegup kencang karena tidak tahu apa yang akan dilakukannya setelah ini itu benar atau salah.
"Eh, mau kemana? Mas cute gak lagi mabuk kan?" Ucap Via yang merasa aneh dengan tingkah laku Teo.
"Saya sadar nona, Jadi dengan penuh kesadaran saya minta anda ikut saya sekarang juga. Karena ada yang ingin saya tunjukkan dengan anda." Jawab Teo kembali.
"Ehh,, Memang hal apa yang mau mas cute kasih tunjuk ke aku segelap ini. Ini masih malam loh! " Ucap Via yang masih belum menyadari waktu.
"Ini bukan lagi malam nona Via. Sekarang sudah pagi menjelang subuh. Soal yang mau saya tunjukkan ke anda, itu tidak bisa saya katakan disini. Anda harus melihatnya sendiri nanti." Jelas Teo dengan wajah yang semakin gusar karena sesuai dugaannya jika Via tidak akan dengan mudah mengikutinya.
"Ha?? Subuh?? Trus mas cute se pagi ini mau ngajak aku kemana? Egak ah.! Aku gak mau! Ya meskipun mas cute emang cute dan ganteng, tapi aku kan belum kenal sepenuhnya dengan mas cute. Jadi, mending mas cute pulang deh. Lagian kalau memang ada hal penting, kasih tahu aja disini. Gak perlu ajak aku keluar kos.!" Ucap Via yang mulai curiga dan takut.
"Hah , saya mohon nona Via. Anda percaya sama saya, saya tidak akan berbuat macam-macam dengan anda! Jadi ayo segera ikut saya. Jam penerbangan akan segera tiba." Jelas Teo yang berusah menarik tangan Via.
"Eh, Tunggu.. Tunggu.. Penerbangan? mas cute mau bawa aku kemana kok sampai melakukan penerbangan? Mas cute mau berbuat satu macam yang iya-iya sama aku? No.. Aku bukan perempuan seperti itu ya! Aku ini sama seperti Lisya yang tidak akan menjual kehormatan kita untuk siapapun kecuali suami kita kelak! Mau aku aduin Lisya, biar mas cute dihukum sama mas Brew? Aneh sekali gak ada angin ga ada hujan masa iya mas cute mau ajak aku 'iya-iya'!" Racau Via tidak jelas sambil menepis tangan Teo.
"Maaf nona, saya tidak bisa menjelaskan ini semua. Tapi,,, saya pastikan apa yang ada dipikiran nona Via itu tidak ada dalam pikiran saya."Jelas Teo yang masih ingin memberi pengertian lagi agar tidak melakukan rencana lainnya. Teo ingin jika bisa, membawa Via dengan cara yang wajar. Bukan dengan cara yang memalukan.
"Tapi aku gak bisa percaya begitu saja mas cute! Mending mas cute pulang deh. Aku masih ngantuk." Ucap Via yang langsung ingin menutup kembali pintu kamarnya karena takut, lalu lagi-lagi ditahan oleh Teo.
"Hah, terpaksa saya harus melakukan ini. Karena penerbangan sudah siap." Gumam Teo pelan namun masih terdengar oleh Via. Teo berjalan mendekati Via yang mulai berjalan mundur masuk kedalam kamarnya karena takut dengan tatapannya yang menajam.
"Me-melakukan apa?" Ka-kamu jangan macam-macam! Atau aku akan teriak!" Ucap Via yang sangat ketakutan.
"Saya tidak akan macam-macam. Saya akan melakukan satu macam kepada anda. Yaitu membawa anda pergi dari sini. Karena penerbangannya sudah siap." Jawab Teo lalu menarik tangan Via dan menggendongnya dengan cepat seperti mengangkat karung beras.
Setelah berhasil mengangkat Via yang tubuhnya memang lebih kurus dari Lisya, dengan cepat Teo mencabut kunci kamar Via dari dalam. Lalu ia keluar dari kamar tersebut dan menutup kembali pintu kamar itu, kemudian ia kunci rapat lalu berjalan menuju mobil yang terparkir di pekarangan rumah ibu kos.
Via yang diangkat Teo dengan tiba-tiba, sangatlah terkejut. Ia berteriak minta tolong karena takut jika akan diculik oleh Teo. Tangannya memukul-mukul punggung Teo dengan keras, namun itu tak membuat Teo melepaskan gendongannya.
"Aahh, Tolong... Tolong Bu Rodiah. Markonah! Siti!! Maimuna!" Teriak Via sambil memanggil nama ibu kos dan teman-teman kos lainnya.
"Percuma anda teriak sekeras mungkin, mereka tidak akan mendengarnya. Karena mereka semua tidak ada disini.!" Jelas Teo dengan senyum sinisnya. Ia tidak percaya jika telah melakukan hal konyol seperti yang dilakukan bosnya akhir-akhir ini. Teo rela menyewa kamar hotel semalam untuk ibu Rodiah, dan seluruh teman kos Via agar ia bisa melakukan aksi yang memalukan itu. Teo tidak ingin jika ada yang melihat aksinya, karena itu akan menyebabkan kesalahpahaman kepadanya.
"Huhuhu, dasar! Jangan jamah aku!! Aku memang suka lihat wajah mas cute, tapi aku tidak akan mau jika mas cute mengajakku begitu-begitu tanpa ada ikatan pernikahan. Huhuhu!" Tangis Via pecah yang semakin membuat Teo menggelengkan kepalanya. Ia tak habis pikir kenapa perempuan yang sedang digendong paksa itu bisa berpikir sejauh itu.
__ADS_1
"Cepat turunin aku! Jangan salahkan aku, jika aku mengeluarkan kuku pencakar langitku ya!" Ancam Via ditengah tangisnya.
"Aawww, awww." Racau Teo saat merasakan ada benda tajam menancap di leher belakangnya. Namun tidak membuatnya melepaskan gendongannya.
"Nih aku tambahin! Rasakan!" Via semakin mencengkeram leher Teo karena hanya itu yang bisa dijangkaunya. Ya, Via menyerang Teo dengan kuku panjangnya yang baru saja ia bawa ke salon kuku tadi siang.
"Aa-aawwww.. Sial!" Gumam Teo pelan sambil memejamkan matanya sebentar untuk menahan rasa sakitnya.
"Hah ternyata ada gunanya juga kuku cantik ini, masih belum mau turunkan aku? Ha??" Racau Via kesal.
Tit. Tit.
Ceklek.
Teo menjatuhkan tubuh Via di kursi samping kemudi. Dengan cepat Via bangun dari posisinya, langsung mencakar kembali ke arah wajah Teo sekenanya supaya bisa turun dari mobilnya. Serta punggung tangannya pun juga tak luput dari cakaran Via saat hendak menutup wajahnya.
"Minggir, turunkan aku. Huhuhu.. Rasakan ini." Ucap Via sambil memberontak.
"Sial..!" Gumam Teo karena merasakan perih dibagian wajahnya.
"Nona Via, please tenang lah. Hah.. hah.. hah." Ucap Teo sambil memegang erat tangan Via agar berhenti mencakarnya. Teo mengatur nafasnya karena kualahan menghadapi Via.
"Saya pastikan anda akan tetap aman bersama saya. Saya tidak akan menyentuh anda secara paksa seperti tadi jika anda menurut dengan saya." Jelas Teo sambil menatap lekat mata Via. Membuat Via seperti dihipnotis.
"Saya terpaksa melakukan ini, karena saya tidak ingin membuat pihak penerbangan yang sudah standby sejak tadi menunggu terlalu lama. Dan..... Saya menjemput paksa anda hanya untuk melaksanakan tugas saja." Jelas Teo yang sudah kehabisan kata-kata.
"Sekarang, anda duduklah disini dengan tenang. Nanti anda akan tahu kemana saya akan mengajak anda pergi. Dan saya yakin, anda nanti pasti akan berterimakasih kepada saya karena saya telah mengajak anda ketempat itu." Ucap Teo kembali.
Akhirnya Via menuruti ucapan Teo, karena ia melihat kesungguhan dari mata laki-laki yang didepannya. Teo dengan cepat memasuki mobil dan melajukannya dengan kecepatan tinggi. Tak berapa lama akhirnya mereka sampai dibandara dan segera menuju pesawat yang telah siap mengantarkannya.
Setelahnya, Teo meminta pramugari yang bertugas menyiapkan obat-obatan untuk mengobati luka cakar yang disebabkan oleh kucing garong yaitu Via. Via yang tidak enak hati karena melihat hasil cakarannya ternyata begitu banyak, akhirnya membantu Teo untuk mengobatinya.
đ Flashback Off đ
To Be Continued đ¤
-- Annyeong pembaca yang budiman đ--
Maafkeun othor yang baru sempat update lagi, karena baru saja selesai pindahan dari Lombok.
Setelah ini othor bakal fokus di kehidupan rumah tangga Lisya dan Gathan. Kira-kira seperti apa ya kehidupan mereka?? Othor juga gak sabar buat ngehalu waktu 'iya iya' nya yang tentu dinantikan juga sama readers kan. đ
-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! đ supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --
__ADS_1
Salam cium dan peluk jauh. đ¤