GILA! TAPI AKU CINTA!

GILA! TAPI AKU CINTA!
Selalu Membuat Sial!


__ADS_3

** Brams Studio **



Cekrek


Cekrek


"Yaps, cantik banget."


Cekrek


Cekrek


"Oke, ganti agak serong sedikit. Sip, Tahan."


Cekrek


Cekrek


"Eh bos??" Salah satu karyawan Bram yang sedang sibuk melakukan pemotretan, menghentikan aktivitasnya untuk menyapa Bram yang baru saja datang.


"Lanjut saja bro." Ucap Bram santai.


"Bram, tuan Gathan sudah di atas. Segala persiapan pemotretannya sudah aku dan tim lainnya siapkan. Kamu segera siap-siap gih." Ucap Bella, karyawan kepercayaan atau bisa disebut asisten Bram. Namun karena Bella adalah kakak seniornya yang membantunya sejak awal merintis Brams Studio, Bram tak ingin Bella memanggilnya bos, ataupun pak. Namun cukup namanya saja.


"Oh, oke thanks kak. Aku siap-siap dulu." Bram menuju kamar pribadinya untuk mengganti pakaiannya.


Sedangkan Via, sejak awal Bram menempatkannya pada bagian administrasi yang kebetulan sedang kosong saat itu. Supaya Via bisa sekalian belajar, pikirnya. Ruang administrasi tempat dimana Via bekerja, terletak di lantai dua sebelah ruang VVIP.


Via yang juga datang bersamaan dengan Bram, langsung melangkahkan kakinya di lantai dua. Namun langkahnya terhenti saat matanya saling bertatapan dengan sosok laki-laki imut bertubuh gagah yang di kaguminya. Sosok yang sudah ia buat menderita beberapa kali.


Laki-laki itu baru saja keluar dari ruang VVIP dan hendak menuruni anak tangga. Via terpaksa menyapa laki-laki itu dengan senyum kakunya karena jujur ia masih malu jika mengingat kejadian malam itu. Namun nyatanya, laki-laki itu hanya melewatinya begitu saja tanpa memperdulikan Via yang menyapanya. Lagaknya seolah sama sekali tak mengenalnya, padahal jelas sekali kedua mata itu saling bertemu.


"Hissshh, Sombong amat!" Umpat Via kesal sambil menoleh ke arah Teo yang sudah turun melewatinya.


Ya, laki-laki itu adalah Teo. Saat ini ia berada di dalam Brams Studio tentu saja karena sang bosnya juga berada disana. Kalau kata othor, dimana ada Gathan, maka disitulah ada Teo.


Teo turun dari lantai dua ke lantai satu karena hendak mengambil berkas yang tertinggal di dalam mobilnya. Namun siapa sangka ternyata dirinya dipertemukan kembali dengan perempuan yang selalu membuatnya sial, menurutnya.


"Jauh jodoh tau rasaa!" Umpat Via kesal sambil salah satu kakinya ia gerakkan ke arah laki-laki yang sudah berada dibawahnya, seolah-olah ia ingin sekali menendangnya.

__ADS_1


Namun siapa sangka justru flat shoes yang dipakainya malah terlepas dan melayang begitu saja. Entah mungkin saking terlalu bersemangatnya Via menggerakkan kakinya, hingga akhirnya flat shoes itu terlepas dan mendarat tepat di kepala Teo.


Pluk,


"Aww,shitt!" Umpat Teo pelan. Tangannya mengelus puncak kepalanya yang terkena flat shoes Via.


Teo menundukkan kepalanya, melihat benda apa yang telah jatuh menimpanya.


"Hah? Flat shoes??" Gumam Teo lirih sambil berfikir sesaat. Lalu tatapannya menajam saat baru menyadari siapa pemilik sepatu itu.


Teo mendongak ke arah Via yang saat ini membelalakkan matanya, sambil menutup mulutnya tak percaya.


"Kamuuuuu!!" Ucap Teo kesal sambil mengeratkan giginya.


Sebelumnya, Teo tak menghiraukan umpatan kesal Via karena tak ingin berdebat dengan perempuan absurd itu ditempat umum. Namun karena tidak hanya umpatan yang dilayangkan perempuan itu kepadanya, malah justru menambahnya dengan melayangkan flat shoes nya, membuat Teo tak bisa tinggal diam.


"So-sorry mas cute! Gak sengaja!" Via membalikkan tubuhnya dan berniat kabur meninggalkan Teo.


Namun belum sempat Via melangkahkan kakinya, Teo menahan tangan Via. Karena Teo menahannya dengan tiba-tiba, justru membuat keseimbangan Via jadi hilang. Sehingga Via limbung menimpa tubuh Teo yang ada dibawahnya.


Teo reflek menangkap tubuh langsing Via hingga membuat keseimbangannya juga hilang.


Bruk,


Ya, Teo dan Via jatuh dari tangga. Saat ini tubuh Via berada diatas tubuh Teo. Tanpa sadar, Teo semakin mengeratkan pelukannya saat juga merasakan nyeri di bagian pinggangnya.


Kejadian dramatis itu di saksikan oleh semua karyawan yang ada di dalam studio. Tak terkecuali Bram dan Lisya.


Jatuhnya Via dan Teo bersamaan dengan Bram yang keluar dari kamarnya, serta Lisya yang baru saja tiba di studio.


"Ya Ampuuuunn! Via, Teo!?" Lisya terkejut lalu berlari menghampiri keduanya berniat untuk menolongnya.


"Via!!!!!" Bram juga berlari menghampiri Via.


Sedangkan karyawan yang lain, juga menghampiri Via dan Teo dengan panik. Karena takut jika terjadi hal yang tidak diinginkan pada keduanya.


Via yang syok dan Teo yang masih belum sepenuhnya sadar karena merasa kesakitan, langsung mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya saat mendengar suara riuh di sekitarnya.


"Hah?? Mas cute??" Via baru menyadari posisinya, dan melihat Teo yang sedang kesakitan. Dengan cepat ia ingin bangun dari posisinya. Namun ia kesusahan, karena Teo masih memeluknya.


"Via! Kamu gak apa-apa??" Bram menarik tubuh Via dari dalam pelukan Teo.

__ADS_1


Teo yang mendapat perlakuan kasar dari Bram, membuat kesadarannya kembali.


"Sini saya bantu tuan." Ucap salah satu karyawan Bram sambil membantu Teo duduk dari posisinya.


"Via! Teo! Kalian gak apa-apa??" Lisya memegang tubuh Via, lalu mengedarkan pandangannya kepada Teo.


Sedangkan Teo, masih diam membisu. Rasanya saat ini tidak hanya pinggang dan kepalanya yang sakit, namun harga dirinya juga terluka. Ia benar-benar merasa malu karena telah membuat kehebohan ditempat umum. Dan itu gara-gara perempuan yang sangat di hindarinya tadi.


Teo mendongak menatap tajam ke arah Via. Sedangkan Via yang ditatap, menciut seolah dikuliti hidup-hidup oleh Teo.


"Ma-maafkan aku mas cute." Ucap Via pelan sambil menunduk. Via benar-benar merasa bersalah kali ini.


"Teo! Panggil saya Teo nona!" Teo berdiri dari duduknya dan menatap tajam ke arah Via. Tanpa memperdulikan yang lainnya.


"I-iya maaf mas cu, eh mas Teo!" Via menunduk sambil menepuk pelan bibirnya sendiri.


"Selalu saja anda membuat saya sial!" Bentak Teo yang sudah tak dapat menahan emosinya. Ia mendekat ke arah Via.


Sedangkan Via, mundur dan semakin menundukkan kepalanya karena takut.


"Sudah cukup tuan Teo! Tolong jangan buat keributan lagi di studio saya!" Bela Bram yang tiba-tiba berada didepan Teo, menutupi tubuh Via.


"Semuanya bubar, lanjutkan pekerjaan kalian!" Ucap Bram pada seluruh karyawannya. Tak lama karyawannya meninggalkan bos dan tamu VVIP nya itu.


"Cih, justru nona Via lah yang memancing keributan dengan saya! Jadi, tolong anda jangan ikut campur!" Teo menatap tajam Bram.


"Tentu saja saya harus ikut campur! Karena Via adalah karyawan saya saat ini! Dan, anda lupa? Anda sedang berada di studio saya!" Tatapan Bram tak kalah tajam.


"Bram! Teo! Cukup!, Jangan ribut disini.! Kalian apa gak malu sama karyawan lainnya?" Lisya mencoba menengahi.


"Jika urusannya belum selesai, lebih baik dibicarakan ditempat yang aman! Jangan disini!" Ucap Lisya lagi karena melihat Via mulai menangis.


"Tak perlu nona! Anggap saja apa yang nona lihat tadi, tidak pernah terjadi! Dan,,, saat ini, saya sama sekali tidak ada urusan dengan teman anda! Jadi saya permisi!" Teo menunduk kepada Lisya karena masih menghormatinya sebagai istri bosnya. Lalu Teo berlalu meninggalkan Lisya dan teman-temannya untuk melanjutkan tujuannya.


Bram menoleh ke arah Via yang sedang menangis sesenggukan karena takut dan merasa bersalah. Bram memeluk Via karena tidak tega melihatnya, tanpa mempedulikan Lisya dan yang lainnya.


"Sudah Vi, ayo kita ke atas!. Ceritakan semuanya padaku. Apa yang sebenarnya terjadi." Lisya ikut mengelus punggung Via.


Bram melepaskan pelukannya, Lisya menggandeng Via dan dibawanya ke ruang kerja Via yang ada di lantai dua. Karena sebelumnya Lisya sudah hafal dengan tata letak studio Bram.


Lisya meminta Via untuk menunggu di ruang kerjanya, karena Lisya harus setor muka dulu pada suaminya yang sedari tadi sudah menelponnya. Tak lama setelah mendapat izin dari suaminya yang saat ini sedang sibuk di make up, Lisya menemui Via untuk menanyakan cerita yang sebenarnya.

__ADS_1


To Be Continued 🖤


__ADS_2