
Keduanya saling pandang beberapa detik, mengatur ritme nafasnya yang sama-sama sedang tidak beraturan.
"Kak,, Ap-apa yang kakak lakukan? Aku belum siap kak." Tanya Lisya saat nafasnya sudah kembali teratur.
"Haahhhh,, Maafkan aku Ra." Jawab Gathan yang tersadar saat mendengar suara Lisya. Dengan segera ia merebahkan tubuhnya di samping tubuh Lisya yang masih terkejut dengan kejadian barusan. Tangannya ia letakkan diatas matanya yang terpejam karena ia menyesali perbuatannya.
"Entah mengapa mendengar lenguhanmu saja sudah sangat menggodaku." Ucap Gathan pelan sambil masih memejamkan matanya.
"Maaf kak, lain kali aku tidak akan menggoda kakak. Dan,, untuk sentuhan fisik yang kakak maksud tadi, aku tidak keberatan kok. Jika dipikir, apa yang kakak katakan tadi itu memang benar. Kita harus belajar membiasakan diri untuk saling bersentuhan. Meski pernikahan ini terjadi karena paksaan dan ancaman, tapi bagaimanapun juga kita sudah resmi menikah dimata hukum dan agama. Secara otomatis, aku sudah menjadi istri kakak, dan kakak sudah menjadi suamiku. Akan sangat berdosa jika kita tidak melakukan sentuhan fisik sedikitpun. Aku juga sebenarnya ingin bisa terbiasa dengan kakak tanpa ada paksaan sedikitpun." Jelas Lisya saat melihat raut wajah kecewa dari Gathan. Ia tahu jika permintaannya, sangat memberatkan suaminya itu. Ia sadar jika Gathan adalah laki-laki normal yang tentu bisa tergoda jika terus menerus bersentuhan dengan dirinya.
"Tapi aku minta, kakak bisa menunggunya sedikit lagi ya sampai aku bisa memastikan perasaanku pada kakak, dan perasaan kakak terhadapku. Jika boleh jujur, aku tu sebenarnya mulai nyaman sama kakak sejak kakak menemaniku di Surabaya. Sikap kakak yang begitu hangat, begitu perhatian, membuat ku kembali merasakan peran seorang kakak gantengku dulu. Namun, aku belum tahu persis itu perasaan apa? Perasaan nyaman terhadap laki-laki atau hanya sebatas nyaman sebagai kakak saja." Jelas Lisya sambil duduk menghadap Gathan yang masih dalam posisi tidur.
"Alasan itulah yang membuat aku tidak bisa menjawab lamaran kakak dengan cepat waktu itu. Aku hanya tidak ingin kita terlalu gegabah kak, karena pernikahan itu adalah hal yang harus kita pertanggung jawabkan seumur hidup. Kakak tahu, kenapa waktu itu tiba-tiba aku menolak kakak dengan cepat saat kita bicara berdua saja diluar ruang rawat ayah?" Tanya Lisya.
"Kenapa Ra?" Tanya Gathan yang tak kalah penasaran.
"Karena saat itu aku sangat marah, aku merasa kakak itu terlalu posesif kepadaku, terlalu memaksa kehendak kakak kepadaku tanpa memikirkan bagaimana perasaanku, tanpa memberiku waktu untuk memikirkannya dengan baik. Sehingga, membuatku ragu apakah perasaanmu itu perasaan cinta atau hanyalah obsesi semata." Jelas Lisya menggebu-gebu. Karena baru saat ini ia berkesempatan untuk mengungkapkan unek-uneknya kepada Gathan.
"Apalagi saat kakak menggunakan ayah untuk mengancamku, semakin membuatku marah dan tak percaya dengan semua perkataan kakak. Justru semakin membuatku yakin jika perasaan menggebu-nggebu itu semua hanyalah bentuk obsesi kakak kepadaku. Dan rasa itu akan hilang begitu saja saat kakak berhasil mendapatkan ku." Jelas Lisya kembali dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maaf, maafkan aku Ra. Aku tidak bermaksud membuatmu marah saat itu. Aku hanya ingin menikahimu karena memang kata hatiku yang memintaku untuk memilikimu secepatnya. Aku tidak ingin kehilanganmu seperti aku dan daddy kehilangan mommy dulu." Ucap Gathan penuh penyesalan, karena pada kenyataannya apa yang ia lakukan sebelumnya kepada Lisya begitu kejam. Gathan bangun dari tidurnya, lalu memeluk erat Lisya yang hendak menitihkan air matanya.
__ADS_1
"Maafkan aku Ra. Aku janji, aku akan membuatmu bahagia setelah ini. Aku akan selalu mendengar perkataannmu, karena saat ini kamulah prioritas ku, tanggung jawabku. Aku tidak pernah main-main dengan keputusanku. Jujur saja, sejak aku tahu bahwa kamu adalah peri kecilku dulu ditambah melihatmu berpakaian seksi di studio foto waktu itu dan menjadi tontonan keong racun disekitar mu, membuatku ingin memilikimu dengan segera. Aku tak ingin kecantikanmu, dan tubuhmu menjadi tontonan apalagi mudah disentuh oleh sembarangan orang." Jelas Gathan sambil mengusap air mata Lisya yang mulai menetes di pipi mulusnya.
"Aku akan segera memastikan dan membuktikan kepadamu bahwa perasaanku ini bukanlah obsesi semata. Namun aku juga belum bisa bilang kalo perasaan ini adalah perasaan cinta, di saat aku saja belum pernah merasakan sebelumnya. Jadi, aku harap percayalah padaku, tunggulah hingga aku bisa segera memastikan perasaanku kepadamu dengan bukti yang bisa meyakinkanmu nantinya. Soal hakku yang itu, kamu tak perlu merasa bersalah, aku mengerti, aku akan menunggunya dengan sabar. Aku akan memintanya saat kita berdua sudah bisa memastikan perasaan kita yang sebenarnya. " Jelas Gathan sambil menatap lekat mata Lisya.
"Terimakasih kak. Kakak pengertian banget. Maaf, jika aku terlalu jujur dengan perasaanku. huhuhu." Tangis Lisya pecah karena terharu dengan sikap Gathan yang begitu pengertian kepadanya.
"Sama-sama Ra. Bukankah menurut teorimu tadi kita harus mengungkapkan apapun perasaan kita? Jadi dengan begini kita jadi tahu, apa yang akan kita lakukan kedepannya." Jawab Gathan dengan tersenyum tipis.
"Terimakasih karena kamu mau menikah denganku, ya meski pernikahan ini karena terpaksa. Tapi aku yakin, kedepannya kita akan terbiasa. Kita akan bisa menyesuaikan diri dengan peran masing-masing." Ucap Gathan kembali memeluk Lisya.
"Iya kak. Aku juga akan berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk kakak." Ucap Lisya kemudian membalas pelukan Gathan tanpa ragu. Entah mengapa, dirinya menjadi tenang dan yakin saat mendengar perkataan Gathan.
"Sa-sayang??" Ucap Lisya pelan, namun masih terdengar Gathan yang masih memeluknya.
"Iya, kita mulai dari panggilan ya Ra. Aku ingin membiasakan diri untuk memanggil mu dengan sebutan sayang. Supaya bisa membuat perasaan kita semakin jelas." Jelas Gathan yang mulai menguraikan pelukannya.
"I-iya kak. A-aku juga akan berusaha untuk memanggil kakak dengan sebutan sayang. Tapi, mungkin butuh waktu ya kak. Tidak bisa langsung." Ucap Lisya malu-malu.
"Iya. Aku mengerti. Sekarang, ayo kita istirahat. Besok siang kita akan bersiap untuk berlibur ke Maldives kan." Ucap Gathan kemudian menarik Lisya untuk kembali tidur.
"Iya kak." Ucap Lisya yang kemudian menyusul tidur menghadap pada Gathan. Sebenarnya didalam lubuk hatinya ia ingin menanyakan tentang masa lalu suaminya itu, namun ia urungkan karena waktu sudah malam. Ia akan menunggu waktu yang pas untuk kembali menanyakannya.
__ADS_1
"Selamat tidur, mimpi indah sayang. Terimakasih untuk hari ini, terimakasih karena telah bersedia menjadi istriku." Ucap Gathan sambil mengelus pipi Lisya.
"Sama-sama kak. Eh,,, sayang." Pipi Lisya semakin merona.
Cup.
"Aku akan segera memastikan bahwa aku benar mencintaimu." Ucap Gathan sambil tersenyum tipis setelah mengecup kening Lisya dengan lembut.
"Aku akan menantikannya kak." Ucap Lisya yang semakin tersipu malu.
Akhirnya keduanya perlahan terlelap dalam tidurnya. Mereka tidur dalam posisi saling berhadapan, namun tanpa berpelukan.
To Be Continued đ¤
- Annyeong pembaca yang budiman đ--
Akhirnya, keduanya saling terbuka dengan perasaannya satu sama lain. Othor gak sabar bikin keduanya saling bucin. hihi.
-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! đ supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --
Salam cium dan peluk jauh. đ¤
__ADS_1