GILA! TAPI AKU CINTA!

GILA! TAPI AKU CINTA!
Cemburu?


__ADS_3

🌀 Flashback On 🌀


Enam Belas Tahun yang Lalu.


** Rumah Lisya di Surabaya **


"Ayaahhhh,, ayah mau berangkat kerja?" Tanya Lisya yang baru saja selesai mandi.


"Iya sayang, ayah mau kerja." Jawab pak Hasan sambil berjongkok menyamai tinggi anak sulungnya itu.


"Ayah pasti kerumah kakak ganteng kemarin ya??" Tanya Lisya sambil senyum-senyum.


"Iya nak, kan memang tempat kerja ayah disana." Jawab pak Hasan kembali sambil mengelus rambut Lisya lembut.


"Aira ikut dong yah.. Aira bosan dirumah. Kan Sekarang sedang libur sekolah." Pinta Lisya dengan wajah memelas. Ya, saat itu sedang libur tahun baru Imlek sehingga kegiatan sekolah diliburkan.


"Wahh, maafin ayah nak. Ayah tidak bisa jika harus mengajak kamu saat ayah bekerja. Nanti saja ya kalau ayah sudah pulang, kita jalan-jalan." Jelas pak Hasan yang kasihan dengan Lisya.


"Yaaaaaaa,, Ayah ga asikkkk. Kan aku pengen ketemu sama kakak ganteng itu!" Ucap Lisya kembali sambil mencebikkan bibirnya.


"Besok akan ayah ajak lagi den Gathan ke panti yaa. Biar kalian bisa main bareng. Den Gathan katanya juga suka jika main disana." Jelas pak Hasan supaya Lisya tidak bersedih lagi.


"Aiiiraaaa anak ibuk yang cantik, Yuk kita ke panti aja. Biar kamu ga bosan." Ajak Ibu Umaira yang menghampiri Lisya sambil menggendong Nino adik Lisya.


"Haaahhhh.. tapi Aira bosan kalo main sama adik-adik... Ujung-ujungnya Aira terus yang harus mengalah." Ucap Lisya kesal.


"Nakkkkk......" Ucap pak Hasan terhenti.


Tring.. Tring.. Tring..


"Hallo assalamualaikum tuan?" Ucap ayah Hasan saat menjawab teleponnya.


Ya, sang penelepon itu adalah majikannya pak Hasan. Tuan Barra,, daddy Gathan.


"................"


"Maaf... Belum tuan. Sa-sayaaa akan segera berangkat sekarang." Ucap pak Hasan terlihat gugup


"................"


"Ehh,, Oh begitu. Apa benar tidak apa-apa tuan?"


Raut wajah pak Hasan berubah menjadi senang.


"................"


"Ahh iya baik tuan, terimakasih banyak. Saya akan mengajak keluarga saya. Tuan hati-hati dijalan".


"............."


Tutt..


Panggilan telepon sudah berakhir.


"Aira dan istriku tersayang... Sekarang kalian ganti baju yaa. Kalau bisa bertema merah atau putih." Ucap pak Hasan kepada anak dan istrinya.


Keduanya yang mendengar perkataan pak Hasan tiba-tiba menatap bingung. Lisya dan ibu Umaira masih tak bergeming dari tempatnya berdiri.


"Loh, kok masih diam aja sih. Ayo buruan masuk, ganti baju. Ayah tunggu disini." Ucap pak Hasan kembali.


"Memang mau kemana mas?" Tanya ibu Umaira heran.


"Oh ya Allah. Ayah lupa belum menjelaskan ke kalian yaa.. Barusan tuan Barra telepon. Katanya beliau ga perlu di jemput. Karena katanya mau berangkat berdua sama den Gathan ke kantor. Nah berhubung dikantor ada acara Imlek, Tuan Barra meminta ayah untuk mengajak kalian untuk ikut merayakan tahun baru Imlek juga disana pakai mobil itu!" Jelas pak Hasan kemudian menunjuk mobil BMW hitam yang berada didepan teras rumahnya.


"Horeeee!!!! Akhirnya Aira ketemu sama kakak ganteng lagi.!" Teriak Lisya kegirangan.


Kemudian, mereka segera bersiap-siap untuk berganti baju. Saat itu, mereka memilih tema baju berwarna putih. Setelah beberapa menit, pak Hasan sekeluarga akhirnya berangkat menuju kantor majikannya.


** Gedung BR Group Surabaya **


Setelah dua puluh menit, mobil yang ditumpangi pak Hasan dan keluarganya sampai di parkiran gedung BR gruop. Mereka segera melangkahkan kakinya menuju kantor tempat dimana acara itu dimulai.


"Kakak ganteng!!!" Sapa Lisya dengan heboh saat ia melihat Gathan yang sudah berada dikantor terlebih dahulu.


"Kakak ganteng, kita ketemu lagi. Hehehe." Lisya tersenyum manis saat menghampiri Gathan yang sedang duduk termenung sendirian.

__ADS_1


"Ehh peri kecil, kamu disini juga??" Ucap Gathan, wajahnya langsung berubah bahagia saat melihat senyum manis milik Lisya. Tangannya mengusap kepala Lisya lembut. Entah mengapa baginya senyum Lisya membuat hatinya ayem (adem).


"Iyaa, aku diajak ayah kesini. Tuh mereka!" Ucap Lisya sambil menunjuk keberadaan keluarga nya yang saat itu sedang berbicara dengan daddy Barra.


Gathan hanya mengangguk pelan.


"Eh ini to yang namanya Aira.. Cantik sekali kamu nak." Ucap daddy Barra yang sudah tahu dari cerita Gathan. Daddy bersyukur akhirnya anaknya bisa membuka hatinya kembali setelah beberapa minggu berdiam diri di rumah. Dan itu berkat Gathan bertemu dengan gadis ceria itu.


"Peri kecil, ini daddy aku. Namanya daddy Barra." Jelas Gathan saat melihat Lisya yang sedang bingung.


"Hallo om, aku Aira.. " Jawab Aira riang.


"Aira sayang, yang sopan.. Kok panggil om sih. Panggil tuan Barra.!" Ucap pak Hasan panik, saat putrinya dengan entengnya memanggil majikannya dengan sebutan 'om'.


"Sudah tidak apa, namanya juga anak kecil. Yuk sini biar om foto berdua sama kakak ganteng." Ucap daddy Barra, yang entah mengapa baginya moment ini akan menjadi hal yang spesial.


Lisya yang sudah berdiri disamping Gathan yang masih duduk dikursi merasa senang, Karena bisa berfoto dengan kakak gantengnya. Ia menarik Gathan untuk segera berdiri disampingnya. Namun karena Lisya terlalu bersemangat menarik Gathan, kakinya kepleset akibat sepatunya yang licin terkena lantai kantor. Gathan yang melihat Lisya hendak jatuh kebelakang, dengan cepat bediri lalu menahan tubuh Lisya dengan menangkap punggung Lisya dengan tangannya.


Daddy Barra yang sudah siap memegang kamera sedari tadi, langsung memotret pose tak sengaja yang menurutnya bagus itu. Yang kemudian akan ia cetak dan disimpan di album foto yang akan menjadi kenangan sang putranya suatu hari nanti.


Jadi foto ini itu hasil jepretan daddy Barra.



🌀 Flashback Off 🌀


** Apartemen Belmont Residence **


"Kalau begitu, akan aku buat bibir kita menjadi benar-benar tidak ting ting lagi!" Ucap Gathan seketika mendekatkan wajahnya kepada wajah Lisya. Ya, karena saat dimobil tadi, Gathan hanya menempelkan bibirnya, tanpa melakukan apapun.


Lisya yang melihat pergerakan Gathan, langsung menghentikan tawanya. Raut mukanya berubah menjadi serius. Kedua mata mereka saling bertemu dan saling tatap untuk beberapa saat.


Puk!


"Dasar Mesum!" Ucap Lisya sambil memukul bibir Gathan pelan lalu duduk menjauh dari Gathan.


"Aku jadi semakin ragu, kalo kamu itu kakak gantengku dulu.! Benar-benar beda banget!".


Ucap Lisya kembali.


Entah mengapa, sudah berkali-kali tubuhnya merespon cepat saat bersentuhan dengan Lisya. Sedangkan sebelumnya, ia akan muak dan jijik jika ada perempuan secantik dan seseksi apapun yang sengaja mendekatinya. Bahkan tubuhnya pun seakan menolak untuk berdekatan dengan perempuan mana pun. Bahkan hasrat yang menggebu-gebu tidak pernah ia rasakan selama ini. Mungkin itu dikarenakan kebenciannya terhadap perempuan sudah mendarah daging.


Hal itu dikarenakan Gathan masih trauma atas apa yang telah dialaminya dulu. Ia menganggap jika semua perempuan itu sama. Sama-sama makhluk menyeramkan yang tak berperasaan. Namun kenyataannya sekarang berbeda, jika bersama dengan perempuan yang saat ini berada didekatnya, seolah justru tubuhnya lah yang meminta untuk mendekati perempuan itu.


"Antar aku pulang sekarang juga! Ini sudah menjelang malam.!" Ucap Lisya sambil berdiri dari duduknya.


"Yasudah, kamu bersihkan dirimu dulu. Baru aku antarkan pulang. Ganti bajumu itu!. Jangan sekali-kali memakai baju seksi itu lagi diluaran sana!" Ucap Gathan sambil berdiri lalu setengah berbisik ditelinga Lisya. Sontak membuat bulu kuduk Lisya berdiri.


"Apa kamu bilang!" Lisya menjauhkan tubuhnya dari Gathan sambil menutup bagian dadanya dengan kedua tanggannya yang menyilang.


"Cihh,, kenapa baru sekarang kamu menutup bagian itu. Sedangkan tadi kamu begitu lihai berlenggak lenggok didepan kamera. Kamu gak sadar banyak sekali keong racun yang melihat mu disana??!" Ucap Gathan sambil tersenyum sinis. Dadanya sesak jika mengingat kejadian tadi siang saat distudio.


"Haahh!!? Tap-tapiii.. I-iituu karena aku menjalankan tugasku." Ucap Lisya malu karena memang benar jika tadi berpose seksi karena sudah terbawa suasana.


"Jangan pernah sekali lagi kamu menjadi model temanmu itu! Kalau tidak aku akan melenyapkan studio nya.!" Ucap Gathan penuh penekanan, sambil berjalan perlahan mendekati Lisya.


"Kenapa tidak menjawab?? Kamu menikmati moment itu? hah??" Gathan menatap tajam Lisya. Ia geram, karena Lisya tak menjawab ucapannya.


"Rupanya kamu memang ingin studio temanmu itu benar-benar lenyap.! Teo.....!!" Teriak Gathan memanggil Teo.


"Ck... Ternyata benar perkataan ku, kamu memang laki-laki pengecut yang hanya berani bersembunyi dibalik kekuasaanmu dan asistenmu itu!" Ucap Lisya tak kalah geram, karena baginya Gathan melakukan apapun semaunya karena merasa memiliki kekuasaan dan asisten yang dapat diandalkan. Tanpa memikirkan perasaan orang yang akan terkena imbasnya nanti. Seperti yang telah ia rasakan sebelumnya.


"Apa kamu bilang!" Ucap Gathan semakin emosi karena perkataan Lisya kembali melukai harga dirinya.


"Ada apa bos??" Ucap Teo yang masih setengah sadar sambil berjalan ke ruang tamu, karena tadi sempat tertidur di ruang tengah.


"Diam kamu! Kembalilah ketempatmu lagi!". Teriak Gathan tanpa melihat kearah Teo. Ia masih fokus menatap Lisya yang juga tak kalah tajam menatapnya.


Sontak membuat Teo terperanjat kaget. Nyawanya langsung kembali penuh didalam raganya.


Hahhh... Memang benar kata nona Lisya, dia memang bos sableng!


Gumam Teo dalam hati, sambil kakinya diarahkan ke Gathan yang saat ini membelakanginya, seperti gerakan yang akan menendang. Lalu ia kembali berjalan ke ruang tengah dengan malas.


"Kamu pikir, apa yang dengan mudahnya kamu lenyapkan itu juga dengan mudah mereka dapatkan sebelumnya?!". Ucap Lisya saat melihat Teo sudah kembali ke ruang tengah.

__ADS_1


"Jika kamu memang ingin menghancurkan ku, hancurkan saja aku. Jangan kamu bawa-bawa orang lain!" Ucap Lisya kembali dengan mata yang sudah berkaca-kaca karena menahan emosi.


" Hahhh....... Bodoh sekali!! Apa aku bilang kepadamu jika aku ingin menghancurkanmu?!" Jawab Gathan dengan nada yang mulai turun, sambil menghela nafas, karena seolah emosinya mereda saat melihat mata Lisya yang sudah ingin menangis itu.


"Terbukti kan, kalau kamu selalu menghalangi pekerjaan ku!. Kamu lupa, kalau kamulah dalang yang membuat aku kehilangan pekerjaan ku sebelumnya. Dan tadi, kamu menyeretku paksa dari tempat kerja baruku! Dan sekarang...... Kamu melarangku melaksanakan tugasku walau itu hanya sebagai pengganti dadakan, dengan mengancam akan melenyapkan studio Bram! Apa itu kalau bukan ingin menghancurkanku!" Jelas Lisya yang sudah menitihkan air matanya, ia teringat kembali saat dirinya susah payah mencari pekerjaan part time nya dan tidak bisa pulang, karena malu belum memberikan uang kepada orangtuanya.


"Hahhh... Please jangan menangis!" Ucap Gathan sambil mendekati Lisya dan reflek ingin menghapus air matanya. Namun tangannya langsung ditepis oleh Lisya.


"Okee,, Aku minta maaf atas semua perlakuanku kepadamu saat itu. Aku juga terbakar emosi saat itu... Tanpa memikirkan kesulitan yang akan kamu hadapi setelahnya. Aku janji tidak akan melakukan itu lagi kepadamu! Dann.. soal barusan, i-ituu... bukan karena aku ingin menghalangi mu apalagi menghancurkanmu.. Ta-tapii aku.." Ucap Gathan yang tiba-tiba terhenti sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kamu kenapa!?" Tanya Lisya penasaran sambil tangannya mengelap air mata yang telah melintas dipipinya.


"Hahhhh... Entahlah.!" Jawab Gathan sambil melengos ke arah samping karena bingung terhadap perasaannya.


"Cihh. Bullshit, bilang aja emang masih dendam terhadapku!" Ucap Lisya kecewa dengan jawaban Gathan.


"Aku bilang bukan, ya bukan Ra.!!! Saat aku tahu jika kamu adalah Aira, peri kecil yang cengeng. Aku langsung terbang ke Surabaya, untuk menemui pak Hasan demi mencari kebenaran tentang informasi yang aku dapat. Dan setelah aku mengetahui semuanya, semakin membuatku merasa bersalah, karena telah membuatmu susah. Apalagi saat melihat senyum pak Hasan, Membuatku menyesali semuanya." Jelas Gathan dengan muka sendunya.


"Apaaaaa!!!??????? Ka-kamu ke Surabaya untuk menemui ayahku??" Tanya Lisya yang benar-benar terkejut mendengar pengakuan Gathan.


Gathan mengangguk pelan dengan mata sendu yang masih menatap Lisya.


"Hah.. duduklah, aku akan menceritakan semuanya dari awal. Aku tidak mau kita ada salah paham lagi setelah ini.". Ucap Gathan pasrah, sambil menghampiri Lisya lalu menuntunnya kembali kearah sofa empuknya.


Setelah itu Gathan menceritakan semua tanpa terkecuali. Tentang saat ia mendapat petunjuk dari pencairan cek yang dilakukan Lisya hingga kedatangannya di panti asuhan Bina Bakti, yang kemudian bertemu dengan pak Hasan sang mantan supirnya sekaligus ayah dari Lisya.


Lisya yang mendengar cerita Gathan benar-benar tidak menyangka atas apa yang terjadi diantara mereka. Ia tidak habis pikir ternyata ada kejadian yang serba kebetulan seperti itu. 'Dan nyatanya ada, karena kalian hidup didunia kehaluannya othor wkwk'


"Tutup mulutmu! Iler udah netes itu!" Ucap Gathan memecah lamunan Lisya.


Sontak membuat Lisya mengelap area bibir dan sekitarnya menggunakan tangannya. Gathan hanya tersenyum geli melihat tingkah konyol Lisya. Seolah ia benar-benar melihat kembali sosok peri kecilnya dulu.


"Kalau begini, kamu benar-benar peri kecilku yang cengeng dulu!" Ucap Gathan sambil mengacak-acak rambut Lisya.


Hal itu membuat Lisya tersipu malu, Entah mengapa ia merasakan hangat saat melihat Gathan tersenyum sambil mengacak rambutnya seperti itu.


"Terus? Kenapa kamu menyeretku dari studio itu?? Kamu tau sendiri kan aku sedang kerja?!" Tanya Lisya karena kembali teringat dengan perkataan Gathan sebelumnya yang tidak ada hubungannya dengan cerita Gathan barusan.


"Aku gak terima lihat kamu jadi bahan tontonan keong racun itu, apalagi dengan pakaian seperti itu!" Ucap Gathan spontan tanpa sadar.


"Ga terima??? Kamu cemburu? Karena peri kecilmu yang cengeng dulu dilihat para keong racun itu??" Ledek Lisya sambil tersenyum mengejek.


"Ehh.. Ah itu.... Emm... Entahlah..!! Pokoknya jangan pakai pakaian seksi lagi diluaran sana! Dan jangan mau lagi jadi model temanmu itu walau cuma pengganti dadakan.! Ingat, aku mengawasimu!" Ucap Gathan panik. Lalu mengalihkan pembicaraannya.


"Mengawasiku?? Memangnya kamu orang tuaku!?"


"Aku kakak gantengmu!" Jawab Gathan cepat.


Blush!


Pipi Lisya terasa memerah mendengar kata 'kakak gantengmu' dari mulut Gathan. Jantungnya entah mengapa juga berdegup kencang.


"Pak Hasan sendiri yang menitipkan mu padaku, jadi aku harus melakukan amanatnya." Jelas Gathan yang sedikit berlebihan.


"Ayah bilang gitu kepadamu,?" Tanya Lisya tak percaya


"Tentu saja, Pak Hasan tau jika kamu akan aman jika menitipkannya padaku.!" Jelas Gathan kembali.


"Aman katamu?? Kamu lupa, kamulah perebut keperawanan ini dan ini ku! Dan kamu tidak bertanggungjawab malah membuatku dipecat!" Jelas Lisya kesal sambil menunjuk dada dan bibirnya.


"Hahh,, Baiklahh. Seperti yang kamu minta saat dikantorku dulu, Aku akan bertanggungjawab karena telah merebut keperawananmu itu. Menikahlah denganku.!" Ucap Gathan lantang.


Lisya yang mendengar penuturan Gathan, kembali dibuat terkejut. Matanya membulat, bibirnya terbuka lebar.


Ekspresi Lisya saat mendengar ajakan Gathan



To Be Continued. 🖤


-- Annyeong pembaca yang budiman 💕--


Waw Gathan main ajak kewong aja.. Mauuu mauuu..! Othor maauu kok bangg mbebs. 😍


-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! 🙏 supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --

__ADS_1


Salam cium dan peluk jauh. 🤗


__ADS_2