
** Rumah Sakit Xxx Surabaya **
"Aira, lebih baik sekarang kamu pulang ya sama ibu Umaira dan Nino. Biar disini aku yang jaga. Kasihan ibu Umaira pasti lelah. Kamu temani ibu kamu dirumah ya. Besok pagi kamu bisa kesini lagi." Ucap Gathan setelah kembali memasuki ruangan.
"Tapi kak,, Aku...." Ucap Lisya terpotong.
"Sudah, kamu juga butuh istirahat. Jangan sampai kalian juga sakit karena kurang istirahat. Biar setelah ini kalian diantar oleh Rudi. Besok pagi jika kamu sudah siap kesini, akan dijemput lagi." Tutur Gathan lembut.
"Ibu Umaira, maaf bukannya saya mengatur. Tapii,, saya tidak ingin Aira, apalagi ibu jadi kelelahan. Bukannya ibu Umaira juga masih tahap pemulihan ya?" Jelas Gathan.
"Iya den, ibu tahu kok maksud aden baik. Tapi,, saya tidak enak den, jika harus merepotkan den Gathan. Biar Nino saja yang jaga disini. Aden istirahat dulu." Ucap Ibu Umaira tidak enak.
"Tidak apa-apa bu. Saya sama sekali tidak merasa direpotkan. Ijinkan saya membantu kalian disaat seperti ini. Justru saya akan merasa bersalah jika saya tidak bisa membantu apa-apa." Jawab Gathan meyakinkan.
"Kakak udah bantu kita banyak kok. Aku udah tau semua dari mas Ari kemarin. Ini semua berkat kepedulian kak Gathan sejak awal kan? kita juga tidak tahu bagaimana kondisi ayah, jika kak Gathan tidak meminta dokter Roy menangani ayah secara langsung. Jadi biar aku aja kak yang jaga ayah. Kakak istirahat saja." Sela Nino yang sebelumnya sudah mengetahui semua bentuk kepedulian Gathan selama ini dari Ari.
Saat itu, Nino penasaran bagaimana bisa Gathan yang tidak berada di Surabaya dengan cepat mengetahui kondisi ayahnya. Sedangkan ia dan ibu Umaira baru diberi tahu tentang kondisi ayahnya saat pak Hasan sudah berada dalam ruang operasi. Kemudian saat ia hendak memberi kabar kepada kakaknya yaitu Lisya, justru Ari memberi tahu jika kakaknya itu sudah dalam perjalanan menuju Surabaya bersama anak dari mantan majikan ayahnya yaitu Gathan.
Meski Nino dan ibu Umaira sebelumnya sudah mendengar cerita dari ayah Hasan bahwa Gathah telah mengunjunginya di panti asuhan, namun mereka tidak mengetahui jika Lisya sudah bertemu dengan Gathan sebelumnya.
Akhirnya, Ari pun menceritakan bagaimana mulanya ia bekerja di panti itu, hingga bagaimana bisa kakaknya Lisya berada dalam perjalanan bersama Gathan.
"Sudah,, ayo kalian pulang saja dulu. Aku gapapa kok Nino. Kamu jaga ibu Umaira sama kakak kamu ya. Nanti akan aku kabari jika ada perkembangan dari pak Hasan." Ucap Gathan menuntun ketiganya keluar ruangan.
Akhirnya mereka pun menuruti perintah Gathan. Karena jika Gathan sudah memutuskan sesuatu akan susah mengubahnya.
"Rudi, Teo, tolong kalian antarkan mereka bertiga pulang ya. Setelah itu kalian berdua bisa langsung istirahat di hotel." Perintah Gathan.
"Tapi bos, anda..??" Tanya Teo bingung.
"Biar aku jaga pak Hasan sendiri disini. Besok kamu balik kesini bawakan aku baju ganti. Dan tolong handle semua pekerjaan yang ada dikantor pusat. Aku akan tetap berada di Surabaya sampai kondisi pak Hasan membaik." Jelas Gathan panjang lebar.
"Baik bos.!" Jawab Teo singkat, Karena ia tidak ingin menolak perintah Gathan.
"Kak Gathan, titip ayah ya. Kabarin aku kalau ada apa-apa. Terus emmmm... jangan lupa istirahat. Besok aku akan kesini pagi-pagi biar bisa gantiin kak Gathan." Ucap Lisya.
"Iya Ra,, Kamu jangan khawatir. Sekarang kamu pulanglah." Ucap Gathan sambil tersenyum tipis.
"Iya kak.. Terimakasih kak Gathan." Ucap Lisya sambil tersenyum manis.
Deg.. Deg.. Deg.
Ahhh, jantung gue... Senyum itu kenapa bisa seperti amunisi ku disaat lelah begini sih.
__ADS_1
Gumam Gathan dalam hati. Untuk kesekian kalinya, dirinya telah dibuat klepek-klepek oleh senyuman manis itu.
"I-iiyaaaa sama-sama." Jawab Gathan sambil tersenyum kembali lalu mengacak rambut Lisya. Justru hal itu membuat pipi Lisya bersemu merah.
Lisya yang sudah salah tingkah, dengan cepat membalikkan badannya, kemudian menarik tangan ibunya dengan cepat supaya berjalan meninggalkan Gathan.
"Ayo buk, kita pulang. Sudah malam." Ucap Lisya salah tingkah.
Akhirnya ketiganya pulang dengan diantar Rudi dan Teo. Setelahnya Teo diantar Rudi di salah satu hotel milik BR Group di Surabaya. Sedangkan Rudi lebih memilih pulang ke rumah pribadinya karena disana telah ada anak dan istri yang menunggunya pulang.
Keesokan Harinya.
Ceklek
"Assalamualaikum kak Gat........" Ucapan Lisya terhenti saat melihat Gathan yang tengah tertidur dengan posisi duduk di samping brankar ayahnya, lalu kepalanya diletakkan pada samping lengan pak Hasan. Sedangkan tangannya memegang tangan ayahnya yang berada diatas perut.
Ya Allah, kasihan sekali. Pasti karena kelelahan. Kenapa dia begitu peduli sama keluarga ku?
Jika saat tidur begini, sama sekali tidak terlihat kalau dia adalah bos yang songong dan kejam seperti yang aku lihat saat pertama kali bertemu.
Gumam Lisya dalam hati saat melihat Gathan yang terlelap disamping ayahnya. Ia kemudian berjalan mendekati Gathan. Lalu tidak sengaja matanya melihat satu helai bulu mata Gathan yang jatuh di pipinya sehingga ia reflek mengambil bulu mata itu.
Gathan yang merasa seperti ada tangan yang menyentuh pipinya, dengan cepat memegang tangan itu, kemudian ia membuka matanya tanpa beranjak dari posisinya.
Gathan yang melihat Lisya limbung, dengan cepat menarik tangan Lisya hingga membuat Lisya jatuh di pangkuannya.
Keduanya kembali terdiam untuk beberapa detik karena masih syok.
Tok.. Tok.. Tok..
"Bos,,, Ini......" Ucap Teo terpotong saat melihat Bosnya yang sedang memangku Lisya.
Gathan dan Lisya segera menoleh kearah sumber suara itu.
Krikk.. Krikk. Krikk..
"Ah maaf... Saya tidak melihatnya kok. La-lanjutkan." Ucap Teo kikuk,,lalu menutup kembali pintu yang tadi dibukanya.
"Ahh kak Teo.!!" Ucap Lisya yang hendak berdiri dari pangkuan itu namun ditahan oleh Gathan.
"Bango! Kenapa masih juga panggil 'kak Teo'?" Ucap Gathan dengan suara khas bangun tidur. Sambil tangannya memeluk tubuh Lisya dari belakang.
"Maaf kak, aku masih belum terbiasa. A-aku panggil 'Teo' saja ya daripada 'bango'?" Tawar Lisya.
__ADS_1
"Terserah asal jangan 'kakak'." Jawab Gathan dengan mata terpejam karena menikmati aroma tubuh Lisya yang entah mengapa membuat dirinya begitu nyaman.
"Ya-yasudah.. Ka-kalau begitu biarkan aku turun kak." Ucap Lisya gugup sambil hendak berdiri lagi karena ia merasa tidak nyaman dengan posisinya.
"Tunggu, biarkan seperti ini sebentar saja. Aku mengantuk.". Ucap Gathan.
" Rasanya nyaman sekali." Gumam Gathan pelan sambil tangannya semakin mengeratkan pelukannya sedangkan matanya masih tetap terpejam.
Lisya sebenarnya tidak nyaman, tapi ia juga kasihan dengan Gathan, Akhirnya dengan terpaksa menuruti permintaan itu. Ia tidak tega melihat Gathan yang sepertinya sangat kelelahan.
Entah mengapa semakin lama Lisya juga merasakan nyaman, saat tangan kekar itu memeluknya dengan erat. Ia kembali merasakan kehangatan dari seorang kakak gantengnya dulu yang sudah lama tidak ia temui.
Lima Menit...
Sepuluh Menit...
"Kak,, Kakak sebaiknya tidur disofa itu deh. Kak Gathan pasti capek kan. Kalau tidurnya diposisi gak nyaman gini, badan kakak bisa sakit semua." Ucap Lisya memecah keheningan. Ya, karena Gathan ternyata benar-benar kembali tertidur dengan posisi kepalanya ia sandarkan pada punggung Lisya.
" Aku nyaman kayak gini Ra." Jawab Gathan dengan suara yang masih parau.
"Iya, tapi kaki kakak ini nanti yang bakal kesemutan." Ucap Lisya lalu segera beranjak berdiri saat berhasil membuka tangan kekar Gathan yang bertengger di perutnya.
"Sini kak, ikut aku." Lisya menarik tangan Gathan, yang kemudiaan sang empunya ikut berdiri mengikuti Lisya dengan langkah gontai.
"Udah tidur sini gih. Ntar aku bangunin kalau waktunya sarapan." Ucap Lisya kembali saat berada didekat sofa yang ada didalam ruangan itu.
"Jam berapa sekarang Ra?" Tanya Gathan yang sudah mulai membaringkan tubuhnya diatas sofa.
"Masih jam setengah 6 pagi kak. Mungkin jam 8 nanti aku bangunin kakak untuk sarapan." Jawab Lisya sambil memasang selimut ditubuh Gathan.
"Makasih Ra." Ucap Gathan yang kemudian lanjut memejamkan matanya karena sejak semalaman ia belum tidur.
Lisya hanya mengangguk pelan sambil masih tersenyum memandangi Gathan yang sudah mulai terlelap.
Kemudian Lisya menghampiri Teo yang pasti masih setia menunggu didepan pintu. Ia yakin jika kedatangan Teo untuk mengantarkan baju ganti bosnya itu.
To Be Continued đ¤
-- Annyeong pembaca yang budiman đ--
- Sweet banget sih mereka berdua. Bikin Othor pingin. đ Suami mana suamiii. -
-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! đ supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --
__ADS_1
Salam cium dan peluk jauh. đ¤