
"Sivia Pradika, maukah lo jadi pacar gue?" Ucap Bram kembali dengan mantap dan jelas.
"Lo... Lo serius Bram?? Lo pasti bercanda kan sama gue?" Via justru kembali bertanya, karena menurutnya, pernyataan Bram begitu tiba-tiba. Sehingga ia tidak bisa mempercayai ucapan Bram begitu saja.
"No.! Gue sama sekali tidak bercanda. Gue serius Vi.!" Jawab Bram dengan tatapan seriusnya.
"Ta-tapi kenapa??" Tanya Via lagi.
"Kenapa?" Bram menautkan alisnya heran.
"Iya kenapa lo tiba-tiba meminta gue buat jadi pa-pacar lo? Bu-bukankah selama ini lo hanya anggap gue sebagai sahabat?" Tanya Via terbata.
"Sudah dua tahun Vi. Bukan tiba-tiba. Gue selama dua tahun ini memendam perasaan sama lo. Itu lah sebabnya selama dua tahun ini gue sama sekali tak menjalin hubungan sama siapapun." Jelas Bram.
"Dua tahun? Perasaan yang bagaimana maksud lo Bram?" Tanya Via yang masih tak mengerti.
"Iya selama dua tahun. Sejak awal gue kenal lo, gue udah kagum sama lo. Gue kagum karena lo adalah perempuan yang selalu terlihat apa adanya, tanpa takut terlihat jelek di mata laki-laki. Perempuan yang mudah sekali membaur dengan teman-teman lainnya sehingga membuat mereka nyaman. Perempuan yang selalu tulus membantu teman-teman yang lain disaat ada masalah, termasuk gue dan Lisya . Dan satu hal lagi, sikap lo yang kelewat absurd itu lah yang semakin membuat gue kagum dan tertarik sama lo. Sikap yang justru selalu berhasil membuat orang bahagia, melupakan sejenak masalahnya." Bram tersenyum manis membayangkan kelakuan konyol Via.
"Selama ini, gue tidak berani mengungkapkannya karena takut jika nanti hubungan kita menjadi renggang Vi."
"Tapi saat melihat lo dan tuan Teo seperti sedang dekat, membuat hati gue jadi tidak tenang. Entah perasaan apa ini, yang jelas gue gak rela jika lo dekat dengan laki-laki lain." Jelas Bram panjang lebar.
"Lo jatuh cinta sama gue Bram?" Tanya Via to the point. đ
"Gue belum tau Vi. Yang jelas, hati gue gak tenang dan gak rela kalau lo dekat dengan tuan Teo." Jawab Bram.
"Jadi, lo gak terima kalau gue dekat dengan laki-laki lain atau gue dekat dengan mas cute!?" Tanya Via memastikan. Yang justru membuat Bram jadi bingung.
"Eh,, kan tuan Teo juga laki-laki lain selain gue Vi!" Jawab Bram bingung.
"Oh iya yaa. Hahaha. Bloon banget gue." Via menepuk jidatnya.
"Maksud gue, lo kan tau selama ini gue beberapa kali dekat sama anak kampus. Nah itu lo biasa aja selama ini? Kenapa saat sama mas cute lo jadi gak rela?" Tanya Via kembali. Jika soal perasaan, Via lah jagonya membolak-balikkan kenyataan. đ
"Karena gue lihat, lo juga tertarik dengan tuan Teo. Berbeda saat bersama anak kampus. Lo hanya menjadikannya hiburan dan teman dekat saja. Tidak lebih!" Jawab Bram jujur.
__ADS_1
Deg,
Eh, masak kelihatan begitu sih?? Tapi siapa juga yang gak bakal tertarik sama manusia imut dan gagah seperti itu. Apalagi sikap sok dinginnya tapi sebenarnya peduli itu, bikin aku makin gemes pengen cubit pipinya. Hahaha
Eh, kok jadi mikirin mas cute sih! Kembali ke topik dong Vi. Fokus ke Bram. Oke? Bram!
Gumam Via dalam hati sambil menggelengkan kepalanya supaya pikiran absurdnya hilang dari otaknya.
"Jadi benar kan Vi? Lo tertarik sama tuan Teo.?" Tanya Bram membuyarkan lamunan Via.
"Emm, Tentu saja. Perempuan mana sih yang tak tertarik dengan laki-laki modelan imut dan gagah seperti itu." Jawab Via jujur.
Bram terlihat kecewa, matanya berubah sayu. Membuat Via jadi merasa bersalah.
"Maaf Bram, gue gak bermaksud mengecewakan lo. Gue hanya berusaha jujur sama lo. Seperti halnya saat ini lo jujur ke gue." Jelas Via. Sedangkan Bram hanya tersenyum getir.
"Emmm,, Bram. Gue boleh tahu gak? Alasan lo minta gue jadi pacar lo itu apa? Sedangkan lo masih belum tahu tentang perasaan lo ke gue." Tanya Via untuk kembali memastikan.
"Alasan utamanya, karena gue gak mau keduluan sama tuan Teo disaat gue udah nunggu lo selama dua tahun."
" Kedua, gue ingin memastikan perasaan gue ke lo. Jika status kita jelas, maka gue tidak akan canggung untuk mengekpresikan perasaan gue ke lo. Dengan begitu, seiring berjalannya waktu, gue pasti bisa meyakini perasaan gue."
Via salah tingkah, pipinya merona setelah mendengar penjelasan Bram. Ia tak menyangka jika ternyata laki-laki dihadapannya itu memiliki perasaan lebih kepadanya. Hanya saja, laki-laki itu belum bisa memastikannya.
Jika boleh jujur, tentu Via juga sangat nyaman saat bersama Bram. Namun, perasaan nyaman itu sama sekali tak diartikannya sebagai perasaan cinta.
Tunggu, kok sepertinya aku pernah dengar cerita seperti ini ya. Punya perasaan lebih, tapi belum bisa memastikan apakah itu cinta atau bukan.
Tapi,, dengar dari siapa ya?? Emmmm siapa?
Ha iya,, Mas Brew!! Dan si Lisya! Benar mereka berdua! Gue harus minta saran sama si Lisya.
Gumam Via dalam hati. Kasusnya mengingatkannya pada dua insan yang saat ini sudah saling bucin.
"Emmmm,,, Bram, maaf gue belum bisa menjawabnya sekarang. Gue butuh waktu untuk memikirkannya. Besok gue bakal kasih jawabannya ke lo. Gue janji." Pinta Via karena ia ingin meminta saran kepada Lisya yang terlebih dahulu pernah berada di posisinya. Ia tak ingin terlalu tergesa-gesa.
__ADS_1
"Baiklah. Gue gak akan memaksa lo untuk kasih jawabannya sekarang. Gue akan menunggunya." Bram tersenyum manis sambil mengacak rambut Via. Membuat Via semakin salah tingkah.
Entah mengapa, setelah mendengar pengakuan Bram, Via merasa sikap Bram mendadak berubah menjadi sangat muanis. Mungkin dirinya baru melihat sisi Bram sebagai laki-laki, bukan sebatas sahabat seperti selama ini.
Hari semakin malam, angin semakin berhembus kencang. Bram mengajak Via untuk kembali ke kamarnya masing-masing, supaya tidak masuk angin, pikirnya.
Kepergian Via dan Bram tak luput dari pandangan Teo yang justru saat ini sedang bersembunyi dibalik pohon kelapa dekat tempat keduanya berbincang.
Ya, karena saking penasarannya, Teo menghentikan langkahnya saat hendak kembali ke kamarnya. Ia berbalik arah membuntuti Bram yang masih setia menggandeng Via hingga ketempat yang tak jauh dari persembunyiannya.
Entah, Teo benar-benar merutuki kebodohannya. Ia tak habis pikir, mengapa dirinya harus melakukan hal absurd seperti itu.
"Sial! Kenapa gue jadi buntutin mereka berdua sampai harus bersembunyi begini sih!" Teo mengusap wajahnya kasar. Tak mengerti dengan jalan pikirannya.
Namun seketika hatinya berdenyut saat mendengar Bram tengah mengajak Via untuk menjadi kekasihnya. Tangannya yang ia sandarkan pada pohon, semakin mengepal erat saat mendengar Bram mengungkapkan isi hatinya pada Via. Entah mengapa tubuhnya terasa panas, padahal angin disekitarnya berhembus begitu kencang. Serta mengapa ia merasa telah kehilangan sesuatu, namun bukan kehilangan sepasang sendal.
Teo mendengar semua perbincangan serius antara Via dan Bram. Ia juga mendengar, saat Via mengakui telah tertarik padanya. Ada perasaan senang saat mendengar pengakuan itu, namun gelenyar aneh tetap menghinggapi hatinya saat tahu jika Via tidak langsung memberikan jawabannya.
Melihat Via dan Bram telah meninggalkan tempat, tak lama Teo juga segera kembali ke kamarnya dengan perasaan anehnya.
Aduh,, Ekspresimu bang. Othor jadi gak tega. đ
Â
To Be Continued đ¤
- Annyeong pembaca yang budiman đ-
Oohh, babang Teo!!! Mengapa nasibmu begitu anyep? đ
Ini semua gara-gara kamu thor! Jawabnya. đ¤Ł
Eheheh,, Iya, iya maapin othor. Othor lagi sensi sama kamu bang. Sabar yak.
__ADS_1
-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! đ supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --
Salam cium dan peluk jauh. đ¤